Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
“Mad, kenapa ndak bilang toh kalo bakalan hujan? tahu begitu aku izin ndak masuk ngajar,” ucap Novia yang mengambil kursi dan duduk di depan meja Somad dengan wajah cemburut.
“Kamu ini, hujan dijadiin alasan buat bolos ngajar. Piye toh!” jawab Somad mengambil keripik pisang yang disodorkan Novia, ia menyobek bungkus keripik dengan sekali gerakan lalu menyerahkan kembali pada Novia.
“Yo kalo hujan kayak gini kan, aku bisa mesra-mesraan sama Mas Rudi,” sahut Novia sambil menggoda sahabatnya yang sudah melewati kepala tiga tapi belum juga terpikat dengan wanita.
“Wah! Ngajak ribut! Oke, tak ladeni,” respon Somad dengan merebut bungkus keripik pisang dari tangan Novia. “Ih, curang! Sini balikin. Belum makan siang, nih. Lapar tau,” wajah kesal Novia dengan pipi bakpao dan poni rata di atas alis tidak pernah berubah meski dirinya sudah memiliki dua orang anak. Somad tersenyum lebar melihat reaksi sahabatnya. Namun, perasaan kacau yang berkecamuk di hatinya tidak dapat ia sembunyikan.
“Owalah. Pantas aja cuaca kacau begini. Perasaanmu lagi ndak karuan, toh?” selidik Novia memastikan ucapannya sambil memasukan keripik pisang ke mulutnya dan menatap Somad tajam. Hujan lebat disertai angin kencang di luar sana bukanlah sebuah kebetulan, Novia sangat yakin jika hal tersebut muncul karena dipengaruhi oleh perasaan Somad.
Somad ragu dan hanya menggeleng kepala, ia bingung untuk mengungkapkan apa yang ada di hatinya. Perasaan kacau makin berkecamuk di dalam sana, ada kesedihan mendalam, takut kehilangan, dan marah entah kepada siapa. Novia menatap serius Somad, “Jangan sampai desa kita banjir kaya dulu lagi, yo, Mad. Bahaya!” ingatan Novia kembali saat mereka kelas 6 SD.
Ketika itu ada sekelompok anak merundung dirinya, tak lama Somad datang mencoba menolongnya. Namun, aksi perundungan tersebut malah beralih ke Somad yang diketahui tidak memiliki ayah dan ibu. Somad diolok-olok sebagai anak haram. Mendapati cemoohan dari para perundung membuat kepalan tangan Somad melemah, ia tak mampu membela sahabatnya karena kesedihan seketika menyelimuti dirinya. Spontan hujan lebat turun membubarkan kelompok anak-anak perundung yang membuat mereka lari kocar-koncir. Hujan berlanjut dua hari tanpa reda, membuat sungai meluap dan membanjiri desa mereka. Banjir pertama dan terakhir kalinya yang ada di desa tersebut. Naas, seorang anak menjadi korban karena terbawa arus banjir. Jasadnya ditemukan di belakang sekolah, tempat ia merundung Somad dan Novia.
Menelaah ucapan Novia, Somad mencoba menenangkan hati dan pikirannya. Ia mencoba membuat perasaannya setenang mungkin dengan mengalihkan pikirannya. Perlahan hujan reda. Keriuhan suara para murid yang terjebak hujan di sekolah nyaring terdengar, mereka bersorak dan berhamburan keluar kelas untuk segera pulang.
***
Setelah mengantar Novia pulang, Somad langsung berbelok ke arah rumah neneknya yang hanya berjarak 20 meter. Tiga puluh dua tahun sudah Somad menetap bersama neneknya, jika dulu ia dibesarkan dan dirawat oleh neneknya, sekarang ia yang merawat sang nenek yang sudah satu tahun terbaring sakit di tempat tidur.
Tiba di rumah Somad membuka pintu disertai ucapan salam. “Walaikumsalam,” terdengar suara perempuan menyambut salamnya. Jantung Somad berdegup kencang. Sepanjang tinggal bersama neneknya, tak pernah sekalipun ada suara yang menyambut kepulangannya. Somad mencoba menenangkan dirinya dengan berpikir mungkin ada tamu yang berkunjung. Namun, saat Somad sampai ruang makan, ia terperangah melihat neneknya tengah sibuk menyiapkan makanan di meja makan.
“Mbah udah masak makanan kesukaan kamu, mangut ikan asap. Ayo makan, kamu pasti lapar, kan?” ucap Nenek Somad sambil menyendok nasi yang masih mengepul ke dalam piring. Somad melangkah menuju kursi makan tanpa bicara. Selama ini Somad mengganggap neneknya bisu karena tidak pernah sekalipun ia berbicara, baik dengan dirinya atau dengan para tetangga.
“Kenapa? Kamu kaget Mbah bisa ngomong? Hi-hi-hi ...” ucap dan tawa sang nenek membuat bulu kuduk Somad berdiri. “Mbah sebenarnya bisa ngomong. Tapi omongan Mbah buat sesuatu yang penting saja,” jelas Nenek Somad sambil tersenyum manis menatap Somad yang masih diliputi kebingungan.
“Sekarang kamu makan dulu. Setelah selesai Mbah mau cerita hal penting,” lembut suara Nenek Somad memerintah Somad untuk menyantap hidangan di hadapan mereka. Somad manut dengan melahap tak bersisa makanan yang dimasak nenek untuknya. Sebenarnya saat suapan pertama Somad ingin sekali memuji masakan neneknya, tapi entah kenapa mulutnya rapat terkatup sehingga tidak bisa mengucapkan kalimat yang ada di ujung lidahnya.
“Sekarang Mbah akan ceritakan semua hal yang selama ini menjadi pertanyaan dalam hidup kamu.” Nenek Somad menatap Somad dengan tenang lalu menarik napas panjang sebelum mulai bercerita. Perlahan suara-suara di sekeliling Somad mengecil lalu berubah senyap. Kini hanya terdengar suara neneknya yang mengisi kepala Somad.
***
Tiga puluh dua tahun lalu, Parida diminta oleh Bupati Danau Rawas untuk menurunkan hujan di desa Hulu Rengas. Sudah dua tahun terik menggantung di atas desa yang membuat sungai hampir kering, tanah ladang tak mampu ditanami padi, dan warga desa dicekam panas siang malam. Parida membawa serta Mida, anak gadisnya menempuh perjalanan tiga hari dua malam dari pulau Jawa untuk tiba di tanah Sumatera bagian Selatan. Di sana, Sang Bupati menginapkan Parida dan Mida di rumah kepala desa selama mereka dipekerjakan.
Esok hari setelah berkenalan dengan warga desa, Parida mengamati bagaimana angin membawa awan datang dan pergi di langit Desa Hulu Rengas. Hari berikutnya ia berkeliling desa melihat aktivitas warga desa. Barulah di hari selanjutnya Parida dan Mida melakukan ritual manggil hujan.
Mengenakan pakaian serba putih, Parida merapal doa-doa di hulu sungai ditemani Mida yang bertugas menebar kembang tujuh rupa dan beras kuning. Parida membakar jerami dan kemenyan, kemudian ia memejamkan mata sambil menabuh gendang. Seketika Mida mulai menari, dengan anggun ia menggerakan tangan dan kaki seirama tabuhan gendang yang dimainkan Parida. Semakin kencang tabuhan gendang, semakin lincah tubuh Mida menari, dan semakin membubung pula asap dari perapian menuju langit.
Guntur menggelegar, angin berhembus kencang membawa gelombang awan hitam bergerak menyelimuti langit Desa Hulu Rengas, lalu satu per satu rintik turun ke bumi. Aroma debu menyeruak tajam sesaat sebelum hujan deras menghapus sisa kemarau panjang. Tabuhan gendang akhirnya berhenti. Mida pun berhenti dengan napas naik turun. Di bawah derasnya hujan Parida mengusap wajahnya dengan kedua tapak tangannya, ia lalu menganggukkan kepalanya memberi tanda pada Mida jika ritual sudah selesai dan mengajak Mida pulang.
Dari balik pohon, Somad Jailani memperhatikan Mida sejak ritual dilakukan. Hatinya berdebar kencang seperti tabuhan gendang yang dimainkan Parida. Ia tak menyangka, perintah Ayahnya untuk mengacau ritual Parida memanggil hujan, justru malah membuatnya terlena dengan tarian dan kecantikan paras Mida. Dorongan hasrat yang menggebu di dalam dada membuat Somad tak sadar jika ia melangkahkan kakinya menuju Mida.
Di antara celah deras hujan, samar-samar Mida melihat sosok lelaki berambut ikal yang tertutupi kopiah hitam. Wajah tegasnya dihiasi kumis tebal. Tubuhnya kekar, terlihat jelas dari dada bidang yang tersembunyi di balik kemeja koko basah. Lelaki itu melangkah gagah dan berhenti di hadapannya. Senyum tipis lahir dari wajah Somad tepat ia berada sejengkal dari Mida, seketika itu pula Mida jatuh hati pada Somad. Hujan kian menderas. Somad dan Mida saling terpaku oleh cinta pada pandangan pertama.
***
Setahun berlalu Desa Hulu Rengas perlahan makmur kembali. Mida telah dinikahi Somad dan sedang menunggu kelahiran buah cinta pertama mereka. Namun, pernikahan mereka kurang mendapat restu dari Haji Abdul Jailani, ayah Somad, yang dikenal sebagai kiai terpandang di desa tersebut. Abdul Jailani enggan berbesan dengan Parida yang dianggap sebagai dukun hujan. Alasan lainnya juga dikarenakan Abdul Jailani telah menjodohkan Somad dengan Fatimah, anak sahabatnya. Pernikahan tersebut telah lama ditetapkan dan akan terjadi di bulan ini. Namun, Somad yang sangat mencintai Mida nekat menikahi Mida.
Satu hari sebelum pernikahan Somad dan Fatimah digelar. Somad mengatakan apa yang sebenarnya terjadi pada Mida dan berharap Mida mau dimadu. Hati Mida hancur, ia dirundung kesedihan yang mendalam. Mida lantas memberikan pilihan pada Somad, pergi bersamanya ke tanah Jawa atau mengikuti perintah Ayah Somad dan harus berpisah dengannya. Somad dihadapkan dengan pilihan yang begitu sulit. Namun, sayangnya ia sangat takut dengan petaka anak durhaka.
Ijab kabul Somad dan Fatimah berlangsung tepat saat Mida mengejan sekuat tenaga sampai harus mempertaruhkan nyawanya. Perasaan Mida bercampur aduk saat tangis anak yang diidamkannya pecah. Ia melahirkan sorang anak laki-laki dengan ketampanan persis seperti Somad. Air mata Mida membasahi kepala anaknya yang ia beri nama Somad. Sigap Parida memotong tali pusar dan mengubur ari-ari Somad.
Mida memeluk erat Somad dengan penuh kehangatan, lalu menyerahkan Somad pada Parida dan meminta Ibunya membawa Somad pulang ke kampung halaman mereka. Parida menolak, tapi Mida memohon padanya. Permohonan pertama dan terakhirnya sebagai seorang anak. Parida tak dapat menolak karena selama ini Mida tak pernah menuntut apapun darinya. Parida pun mengemas barang dan membawa pergi Somad setelah menerima pesan terakhir Mida.
Tangis Mida mengering, ia melawan rasa sakit dan memaksakan dirinya berjalan menuju rumah Fatimah yang sedang menggelar syukuran pernikahan. Kala Mida tiba di tengah kemeriahan pesta kecil tersebut, semua mata tertuju padanya. Somad bangkit dan hendak melangkah menghampiri Mida yang terlihat kesakitan, tapi kakinya terhenti oleh telunjuk Abdul Jailani yang memerintahkan untuk diam. Somad hanya dapat memandang Mida dengan kesedihan dan penyesalan, sebaliknya Mida memandang Somad dengan penuh kebencian dan amarah. Tidak ada lagi tatapan cinta seperti pertama mereka bertemu. Mendung yang mengiring Mida kini berubah menjadi awan gelap disertai gemuruh angin kencang yang langsung menghantam atap rumah. Sontak para tamu berlarian menyelamatkan diri, tapi apa daya putaran angin kencang disertai hujan membuat mereka tergulung dan terbang bagai kapas. Pesta porak-poranda ditelan badai.
***
Tiga bulan kepergiannya meninggalkan Desa Hulu Rengas, Parida mendapat kabar jika badai datang tepat setelah ia meninggalkan desa dengan banyak korban jiwa. Tak berhenti di situ, setelah badai usai, hujan deras berhari-hari tanpa reda membuat sungai meluap dan menenggelamkan sebagian desa. Desa Hulu Rengas pun hanya tinggal nama. Seperti halnya Mida, yang kini tinggal nama di hati Parida.
“Kasih ibumu tak sampai, tapi cintanya selalu ada untukmu, Mad.” Ucapan terakhir yang Somad dengar dari cerita neneknya membuat hati Somad menjadi lapang. Perasaan tak karuan yang dirasanya juga hilang entah kemana. Namun, pandangan Somad buram, senyum neneknya perlahan mengabur. Somad terpejam dan terkulai lemas tersandar di kursi makan.
***
Somad membuka mata. Ia menegakan badan dan samar mendapati tubuh neneknya terbujur kaku di tempat tidur. Somad mencoba membangunkan sang nenek, tapi segaris senyum di wajah neneknya menginsyaratkan jika dirinya telah pulang dalam damai. Somad berduka, kesedihan kembali mengisi hatinya karena sang nenek tercinta telah tiada. Namun, kesedihannya kini tak lagi mengubah awan menjadi kelam dan melahirkan hujan.