Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Komedi
Sobat Halu
1
Suka
7
Dibaca

Sebagai seorang jomblo berlisensi SNI yang sudah berkarat alias "lapuk", aku memiliki prinsip hidup yang sangat realistis: Sadar Diri Adalah Kunci Keselamatan Mental.

Meskipun aku sering terpesona melihat cewek-cewek bening yang lewat di Explore Instagram atau FYP TikTok, aku tidak pernah sekalipun memiliki keberanian atau kebodohan untuk menaksir mereka. Bagi remah-remah rengginang sepertiku, mereka hanyalah piksel-piksel indah yang dikirim Tuhan untuk menyegarkan mata, bukan untuk dimiliki. Dibalas DM-nya saja bagiku setara dengan keajaiban Nabi membelah lautan. Mustahil.

Namun, tidak semua orang diberkati dengan "kecerdasan sadar diri" seperti aku.

Perkenalkan, Fahmi. Teman seperjuanganku (baca: teman sesama jomblo akut). Fahmi adalah definisi manusia yang hidupnya dikendalikan oleh tiga pilar kehancuran: Scroll, Judol, dan Pinjol

Tapi belakangan ini, dia menambah satu lagi pilar kehancuran dalam hidupnya: Delusi Cinta Akut.

Kejadian ini memberiku pelajaran berharga bahwa kombinasi antara Quotes galau, Algoritma TikTok, dan rasa tidak tahu diri yang overdosis, adalah resep bencana nuklir bagi kesehatan mental.

Sore itu, di warkop langganan kami yang bau rokok dan kopinya terlalu manis, Fahmi menatapku dengan mata berbinar-binar. Binar yang biasanya hanya muncul kalau dia baru menang Scatter di slot Olympus (walaupun antara depo dan menangya, gedean deponya).

"Yo," panggilnya, suaranya bergetar menahan gejolak asmara. "Kayaknya aku dah nemu."

"Nemu apa? Trik pola gacor lagi? Udahlah Mi, tobat," jawabku malas sambil menyeruput es teh.

"Bukan, woi!! Ini lebih suci. Aku dah nemu jodohku," katanya. Wajahnya berseri-seri, seolah baru saja turun malaikat Jibril memberinya wahyu.

"Oh ya? Di mana?" tanyaku sok penasaran.

Tapi jujur, aku agak curiga. Lingkaran sosial Fahmi itu sempit sekali. Teman wanitanya cuma Ibu Kantin dan Mbak-mbak Alfamart yang selalu bilang "pulsanya sekalian kak?". Tiba-tiba bilang nemu jodoh? Dari mana? Admin Slot?

"Jangan bilang siapa-siapa ya, Yo. Ini rahasia negara. Ini antara aku, kamu, dan Tuhan. Ortuku belum tahu, temen-temen tongkrongan juga belum tahu," bisiknya dramatis, celingukan kanan-kiri seolah ada intel yang mengintai.

Dalam hati aku membatin, 'Gue juga sebenernya gak mau tahu, bambang.'

"Iya... iya... aman. Siapa sih? Anak mana? Tetangga sebelah?" desakku.

Dengan gerakan lambat yang sok misterius, dia mengeluarkan HP retak seribunya, membuka Instagram, lalu menyodorkannya ke depan mukaku.

"Ini dia... Calon makmumku."

Aku menyipitkan mata. Detik berikutnya, mataku terbelalak sampai nyaris keluar dari rongganya. Jantungku berhenti berdetak sesaat.

Di layar HP butut itu, terpampang profil seorang wanita. Bukan wanita biasa.

Bio: Public Figure. Brand Ambassador Skincare Mahal. Hobbies: Golf & Traveling to Europe. Followers: 650 Ribu (Enam ratus lima puluh ribu, Saudara-saudara!). Status: Centang Biru Verifikasi (Bukan yang beli langganan bulanan, tapi asli verifikasi prestasi).

"Lu... lu kenal dia emang?" tanyaku terbata-bata.

Fahmi tersenyum simpul. "Secara tatap muka sih belum, Yo. Tapi ikatan batin kami kuat banget."

"Hah?"

"Aku sering DM dia..."

"DM-mu pernah dibales?"

"Belum pernah sih."

"Pernah di-read?"

"Belum juga. Masih di Request Message kayaknya."

Aku menghela napas panjang, mencoba menahan emosi agar tidak melempar asbak ke jidatnya. "Terus dasarnya lu bilang dia jodoh lu apa?!"

Fahmi menarik HP-nya kembali, menatap foto cewek itu dengan pandangan memuja yang mengerikan.

"Kamu gak ngerti, Yo. Aku selalu love semua postingannya, detik pertama dia upload. Terus aku baca quotes di TikTok dari akun 'Zodiak Cancer Galau', katanya: 'Jika hatimu bergetar saat melihat fotonya, itu tandanya semesta sedang bekerja mendekatkan kalian'. Hatiku bergetar, Yo! Bergetar hebat! Ini pasti sinyal dari Tuhan!"

Otak minimalisku mencoba mencerna logika 'sampah' ini. Dia memutuskan seorang selebgram yang sekali endorse tarifnya bisa buat bayar kosan Fahmi setahun adalah jodohnya hanya karena quotes TikTok dan getaran jantung? Itu bukan getaran cinta, itu getaran aritmia akibat kebanyakan minum kopi sachet dan kurang tidur!

Aku merebut HP-nya lagi. Aku bedah akun Fahmi. Followers: 15 (Isinya: Aku, ibunya, akun kedua dia sendiri, dan 12 akun bot jual peninggi badan). Following: 1.200 (Isinya cewek seksi semua). Foto Profil: Gambar Ikan Cupang resolusi rendah. Feed: Cuma ada 2 postingan. Satu foto pemandangan sawah buram, satu lagi foto motor trondolnya.

Astaga, Akunnya ini lebih mirip akun palsu yang hobi hate komen di postingan artis-artis daripada akun pribadi.

"Lu yakin? Akun lu aja kayak gini"

"Jangan pesimis gitu dong, Yo!" Fahmi membela diri. "Cinta itu butuh perjuangan jalur langit. Aku selalu doain dia tiap sholat. Kumohon pada Tuhan di setiap sepertiga malam terakhir."

Aku melongo. Sepertiga malam ndasmu! Dia sholat hanya saat Jumatan aja, itupun sering masbuk pas tahiyat akhir! Sepertiga malam apaan? Jam segitu lu biasanya baru kelar Lose Streak main Mobile Legends.

"Semenjak ada dia, aku berubah. Semua berawal dari mimpi. Kemarin aku mimpi kita makan bakso bareng. Itu pertanda, Yo! Dia pasti jodohku!" katanya dengan keyakinan seteguh baja.

Itu bukan mimpi Ilahi. Itu efek ketiduran pas laper!

"Ya udah... Good luck deh..." kataku pasrah. Percuma debat sama orang gila.

"Tenang, tunggu aja undangannya hehe," dia nyengir lebar. Gigi kuningnya terekspos. Nyengir halu. Nyengir yang minta ditabok pakai sandal swallow.

 

Sejak hari itu, hidupku berubah menjadi neraka. Fahmi tidak berhenti membahas "Calon Istri"-nya itu.

Setiap hari dia mengirimiku tautan video TikTok tentang ramalan Tarot.

"Liat Yo... Liat!" Dia menyodorkan HP-nya ke mukaku saat aku sedang makan mie ayam.

Di layar, seorang wanita bergaya gipsi palsu dengan filter tebal berkata: "Untuk inisial F... seseorang yang kamu kagumi diam-diam sedang memikirkanmu. Dia malu untuk menghubungimu, tapi energinya sangat kuat."

"Denger kan?!" seru Fahmi histeris. "Inisial F! Itu Fahmi! Dia mikirin aku, Yo! Dia malu nge-chat aku duluan karena gengsi selebgram! Ah, gemes banget calonku."

"Mi, inisial F di dunia ini banyak," bantahku lelah. "Firaun juga F. "

"Ah, kamu mah ngerusak suasana."

Di lain waktu, dia heboh menunjuk baliho iklan e-commerce. "Liat Yo! Angka kembar 11.11! Tadi aku liat jam juga 11.11! Kata manifestation coach di Reels, itu tandanya alam semesta sedang membuka portal energi untuk menyatukan aku dan dia. Manifestasiku akan terwujud!"

"Itu iklan Harbolnas, Fahmi... Itu diskon panci, bukan diskon jodoh!" teriakku frustasi.

Tingkat kegilaannya makin menjadi-jadi. Dia mulai membuat Story Instagram dengan fitur Close Friend. Isinya apa? Quotes galau berlatar lagu Mahalini. Kata-katanya puitis ngenes seperti: "Aku di sini menantimu, meski dunia tak merestui, tapi takdir takkan lari."

Untuk apa? Followernya itu cuma 15 orang! Mau rahasia-rahasiaan dari siapa??

"Mi, lu bikin kode keras gini buat apa? Follower lu Cuma 15" tanyaku.

"Ini namanya afirmasi positif ke alam semesta, Yo. Sinyalnya akan sampai lewat telepati," jawabnya serius.

Aku ingin sekali membawanya ke Ruqyah Syar'iyyah, tapi takut ustaznya yang kesurupan.

Tiga bulan berlalu. Tiga bulan penuh penderitaan bagiku yang harus mendengarkan dongeng 1001 Malam versi Fahmi.

Suatu sore yang mendung, semendung masa depan Fahmi, dia datang ke kosanku. Wajahnya pucat pasi. Bibirnya kering dan bergetar. Matanya kosong seperti ikan mati. Dia terlihat seperti orang yang baru saja melihat hantu atau didatangi Debt Collector pinjol akulaku.

"Kenapa lu?" tanyaku panik. "Kalah judol lagi? Motor lu ditarik leasing?"

Fahmi menggeleng lemah.

"Diteror DC Pinjol? Lu pake nomor darurat gue ya?!" tanyaku mulai emosi.

"Bukan, Yo..." suaranya parau, nyaris tak terdengar.

"Lalu kenapa, Setan?!"

Dengan tangan gemetar hebat, dia menyerahkan HP-nya. Layar itu menampilkan Instagram Story si selebgram pujaan hatinya.

Aku melihatnya. Sebuah foto estetik. Tangan sepasang laki-laki dan perempuan saling menggenggam, memamerkan cincin emas di jari manis. Latar belakangnya pelaminan mewah penuh bunga. Caption-nya: "Alhamdulillah, SAH. To infinity and beyond with my soulmate."

JEDER!

Terima kasih Ya Tuhaaan...!!! Ingin rasanya aku sujud syukur saat itu juga. Akhirnya! Penderitaanku berakhir! Akhirnya drama halu ini tamat!

Namun, sebagai sahabat yang (pura-pura) baik, aku harus berakting. Aku memasang ekspresi sedih termonyong yang bisa kubuat. Aku menepuk pundaknya pelan.

"Yang sabar ya, Fahmi... Tabahkan hatimu..." ucapku dengan nada berduka cita, padahal dalam hati aku sedang menari hula-hula. "Mungkin memang belum jodoh. Biarkan dia bahagia bersama pilihannya."

Dalam hati aku berteriak: 'RASAIN! MAKAN TUH MANIFESTASI! SADAR DIRI WOI! ITU CEWEK LEPELNYA BEDA ALAM SAMA LU!'

Fahmi menunduk, air mata jantan (campuran belek) menetes dari sudut matanya. "Aku... aku gak tahu harus bagaimana, Yo. Aku hancur. Aku sudah berikhtiar sekuat tenaga. Aku sudah like semua fotonya. Aku sudah komen 'Cantik banget kak' di setiap postingannya. Aku sudah manifestasi 11.11. Tapi kenapa? Kenapa hasilnya menyedihkan begini?"

Dia mendongak, menatapku dengan tatapan terluka. "Dia memilih orang lain daripada aku, Yo. Kurangnya aku apa?"

AKU INGIN MENABOK BIJI GINJALNYA. Kurangnya apa? KURANGMU BANYAK! Ikhtiar apaan? Kerjaan lu cuma rebahan, main slot, scroll TikTok, dan nge-like foto! Itu bukan ikhtiar, itu STALKING! Dan kalimat "Dia memilih orang lain daripada aku" itu benar-benar bikin darah tinggiku kumat. HEH! Sadar! Kamu itu bahkan TIDAK PERNAH masuk dalam daftar opsi pilihannya! Namamu tidak ada di kertas suara! Dia bahkan tidak tahu kamu ada di bumi ini!

Tapi, aku menahan semua sumpah serapah itu. Aku takut kalau aku jujur, dia bakal lompat dari jemuran lantai 2.

"Sudah, Mi. Namanya juga takdir. Jodoh gak akan kemana, ini yang terbaik" hiburku.

Fahmi terdiam. Dia mengambil HP-nya kembali, menatap foto pernikahan itu dengan tatapan nanar. "Mungkin Tuhan punya rencana lain yang lebih indah," bisiknya.

"Nah, itu baru bener. Tobat, Mi. Cari yang real-real aja. Tuh, anaknya Bu Kos naksir lu kayaknya," saranku.

Hari-hari berkabung Fahmi berlalu. Selama sebulan, dia menjadi pendiam. Tidak ada lagi cerita soal tarot, tidak ada lagi pamer angka kembar. Aku pikir dia sudah sembuh. Aku pikir dia sudah kembali ke jalan yang benar (walaupun masih main slot, setidaknya tidak halu soal cewek).

Hingga suatu malam...

"Eh, Yo..." Fahmi memanggilku. Nada bicaranya berbeda. Ada semangat yang familiar. Semangat yang membuat bulu kudukku berdiri.

"Kenapa?" tanyaku waspada.

"Aku sudah move on," katanya mantap.

"Alhamdulillah!" seruku lega. "Bagus! Lupakan masa lalu!"

"Iya. Karena aku sadar, selebgram kemarin itu emang bukan jodoh sejatiku. Itu cuma ujian. Dan sekarang... kali ini... aku benar-benar menemukan Jodoh Sejatiku. The Real One. Tulang Rusukku yang hilang."

Jantungku berhenti lagi. "Apa maksudmu...?"

Fahmi tersenyum lebar. Senyum yang lebih mengerikan dari senyum badut Pennywise. "Menurut ramalan Tarot terbaru yang aku tonton tadi pagi, dan berdasarkan hitungan weton primbon Jawa di Google, inisial jodohku adalah C."

Dia menyodorkan HP-nya lagi. Di layar TikTok, seorang wanita cantik sedang menari luwes. Kulitnya seputih porselen. Matanya sipit menawan. Rambutnya pirang estetik. Background videonya adalah rumah mewah di kawasan elite. Seorang Chindo (Chinese-Indo). Seleb TikTok terkenal.

"Liat Yo, dia sering bikin konten cari cowok yang setia dan humoris. Itu aku banget kan? Aku setia (menunggu jackpot), aku humoris (karena hidupku lelucon). Kita cocok banget!"

Fahmi melanjutkan dengan mata berapi-api. "Levelnya emang tinggi, tapi kata motivator di Reels: 'Bermimpilah setinggi langit'. Aku yakin kali ini, Yo. Dia sering balesin komen netizen. Peluangku besar! Aku mau mulai DM dia besok."

Aku menatap Fahmi. Aku menatap layar HP yang menampilkan Selebtok yang mungkin harga tas tangannya setara harga organ dalam Fahmi. Level halunya bukan lagi menurun, tapi meningkat ke level Pro Max Ultra 5G.

Aku menarik napas panjang. Sangat panjang. Sampai paru-paruku penuh oksigen kesabaran.

"Fahmi," panggilku lembut.

"Ya, Yo? Mau dukung aku kan?"

"Boleh aku ngasih kamu satu saran? Saran terbaik sebagai sahabat?"

"Apa itu? Saran strategi DM?" tanyanya antusias.

Aku menatap matanya dalam-dalam, lalu berkata dengan tegas:

"Hapus akun sosmed lu"

 

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Komedi
Cerpen
Sobat Halu
cahyo laras
Flash
Bronze
Siap, Noted, Pak!
Reyan Bewinda
Flash
Kebiasaan Buruk
Impy Island
Cerpen
Lunch Break
razorstfx
Flash
Bronze
The End of Joni Oblong
DMRamdhan
Flash
Iphone & Klepon
I Gede Luwih
Cerpen
Pak Tua Penunjuk Jalan
zain zuha
Cerpen
Bronze
Kopi 3
syaifulloh
Flash
Bronze
Ketemu Mantan di Warteg
Risti Windri Pabendan
Cerpen
Bronze
Begitulah Kelakuan Kawan Kita Si Rohim
Habel Rajavani
Flash
Bronze
Tangan hoki
Yusuf Ahmad
Cerpen
Bronze
Kematian Saudara Kembar
Titin Widyawati
Flash
Bronze
Kamis Mengiris
Arif Holy
Komik
Kartun Tunamuka
Andi Resnadi
Flash
Bronze
Brandal yang tersakiti
penulis kacangan
Rekomendasi
Cerpen
Sobat Halu
cahyo laras
Cerpen
Jangan Ge-Er, Dia gitu ke semua orang
cahyo laras
Cerpen
Belajar Nyetir
cahyo laras
Cerpen
Percaya Mitos Yang Kurang Lengkap
cahyo laras
Cerpen
Sepatu Mangap di Marathon 10k
cahyo laras
Cerpen
Rapat Abadi Tanpa Keputusan
cahyo laras
Cerpen
Tragedi Salah Makam
cahyo laras
Cerpen
Mission Impossible : Protocol Cepirit
cahyo laras
Cerpen
Temen Papah Zone
cahyo laras
Cerpen
Cintaku Bertepuk Sebelah Treadmill
cahyo laras
Cerpen
Korban Prospek
cahyo laras
Cerpen
Jiwa Lelaki Meronta, Otot Minta Pulang
cahyo laras
Cerpen
Kesenjangan yang terlalu senjang
cahyo laras
Cerpen
Dituduh Penculik
cahyo laras
Cerpen
Split Bill, Split Hidup
cahyo laras