Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
"Jangan tempatkan hatimu untuk makhluk yang fana. Tapi, tempatkan hatimu untuk Sang Pencipta yang abadi." — Aisyah Humaira
Di bawah keteduhan pohon taman kota Kairo, sepasang mata Aisyah menyipit hangat. Senyuman tulus terbit di balik kain cadar hitamnya, saat ia menatap lekat-lekat sepucuk surat dengan prangko khas Timur Tengah yang baru saja diantarkan kurir. Surat itu datang dari Medina Miray, sahabat penanya asal Turki. Hubungan unik yang bermula dari media sosial ini, sengaja di jaga lewat surat-menyurat atas permintaan Medina sendiri.
"Biar ada debar rindu yang spesial dan rasa ingin bertemu semakin kuat," tulis Medina dalam lembaran suratnya waktu itu—sebuah alasan yang selalu berhasil membuat Aisyah tersenyum setiap kali mengingatnya.
Angin musim panas berembus pelan di antara pilar batu tua, membawa aroma khas Kairo yang perpaduan rempah kering dan debu gurun. Embusannya sesekali memainkan ujung cadar hitam yang membungkus rapat wajah Aisyah, membuatnya terpaksa mengangkat tangan kiri, untuk merapikan kain tersebut agar tidak menghalangi pandangan.
Bagi sebagian orang di sekitar taman, penampilan Aisyah yang menutup rapat seluruh auratnya mungkin dianggap tidak wajar. Bahkan, tak jarang telinganya menangkap bisikan sinis seperti "sok alim" atau "sok suci" dari keramaian kota yang melintas. Namun, Aisyah memilih bergeming. Ia menarik napas dalam-dalam untuk meredakan dadanya yang sempat bergemuruh, lalu mengalihkan seluruh fokusnya kembali pada kertas di depannya.
Jemarinya kini bergerak lincah di atas secarik kertas pastel yang dijadikan alas di atas pangkuannya. Setelah menekan ujung penanya hingga berbunyi klik, ia tampak begitu khusyuk. Sesekali pena di tangannya tertahan di udara, seolah menimbang kelanjutan untaian kalimat yang lahir dari kepalanya, sebelum akhirnya mulai menggoreskan tinta hitam untuk menulis balasan:
Waalaikumussalam, Sahabat Dunia Akhiratku.
Medina, jemariku gemetar karena bahagia saat membaca suratmu. Rasa rindu yang selama ini membuncah di dada, rasanya menemukan penawarnya seketika.
Wah, benarkah takdir akan membawamu menginjakkan kaki di Kairo? Aku masih hampir tidak percaya saat menatap baris kalimatmu tadi. Sungguh, aku turut bahagia mendengarnya!
Jika nanti ada waktu di antara urusan keluargamu, dan jika takdir berpihak pada kita, tolong luangkan sedikit waktumu untuk kita bertegur sapa secara langsung. Semoga Allah mempermudah langkah kita untuk bertemu dan meluapkan debar rindu ini. Meskipun kutahu, waktu dan keadaan mungkin tidak mudah.
Hati-hati dalam perjalananmu melintasi benua, Medina. Jaga dirimu baik-baik. Aku menunggumu di bawah langit Kairo.
Sahabatmu—Aisyah
"Semoga nanti bisa bertemu langsung jika Allah berkehendak," gumam Aisyah lirih, seolah angin Kairo menyampaikan harapan itu ke seberang sana.
Setelah melipat kertas tersebut menjadi bagian kecil yang rapi, Aisyah bangkit dari bangku taman. Ia mengibas pelan gamisnya yang terkena sedikit debu, lalu melangkah bergegas pergi. Aisyah memutuskan untuk menghentikan angkutan umum yang melintas, untuk mengantarnya menuju Hotel Al-Akya. Hotel berbintang lima itu mengusung gaya klasik dengan interior bernuansa Islami yang kental, tempat pameran busana muslimah yang menjadi tujuan Aisyah hari ini digelar.
Suasana di dalam aula Hotel Al-Akya begitu megah. Lantai marmernya mengilat sempurna, memantulkan cahaya kuning keemasan dari lampu gantung kristal yang mewah. Setelah mengisi buku registrasi tamu, Aisyah melangkah anggun memasuki ruang pameran yang mulai ramai. Beruntung, ia masih bisa mendapatkan tempat duduk kosong di barisan paling depan, tepat di sisi panggung catwalk.
Musik instrumental yang megah mulai mengalun, menggetarkan udara di dalam aula. Satu per satu model melangkah anggun, memamerkan busana muslimah dengan perpaduan warna dan potongan yang memukau mata. Riuh rendah bisik kekaguman perlahan terdengar dari para tamu yang hadir. Dari balik cadarnya, Aisyah memperhatikan setiap detail jahitan dan keindahan payet dengan mata berbinar kagum.
"Baiklah, hadirin sekalian," suara lantang MC seketika memecah perhatian hadirin melalui pengeras suara. "Kita sambut desainer termuda yang menunjukkan busana Islami terbaik tahun ini ... Medina Miray! Berikan tepuk tangan yang meriah!"
Suara lantang pembawa acara melalui pengeras suara seketika memecah keriuhan aula. Mendengar nama itu disebut, Aisyah tersentak. Ia langsung menegakkan punggungnya, yang semula bersandar rileks pada kursi. Jantungnya seolah berhenti berdetak sejenak, sebelum akhirnya berpacu liar, bersamaan dengan gemuruh tepuk tangan penonton yang membahana. Dengan mata membelalak tak percaya, jemarinya meremas kuat pinggiran sandaran kursi, mencoba meyakinkan diri bahwa telinganya tidak salah dengar.
Medina Miray? Nama itu ... Apakah mungkin Medina sahabatku?
Dari balik tirai beludru, seorang wanita muda yang sangat modis melangkah keluar. Ia mengenakan gamis berwarna peach dengan detail renda mewah yang menjuntai indah, dipadukan dengan hijab panjang dan cadar berdesain unik.
Namun, fokus Aisyah mendadak teralih pada sosok pria yang berjalan di samping desainer itu. Pria bertubuh tegap dalam balutan setelan jas rapi itu, melangkah dengan penuh wibawa. Wajahnya tegas, dengan rahang kokoh yang terekspos jelas di bawah siluet lampu panggung.
"Tampan sekali, astagfirullah," gumam Aisyah pelan, dengan cepat membuang muka dan menundukkan pandangannya sedalam mungkin.
Kedua tangannya meremas khimar biru langitnya sendiri dengan gugup. Aisyah beristighfar berkali-kali di dalam hati, merutuki kekhilafannya yang sempat terpaku dan mengagumi lekuk wajah lelaki yang bukan mahramnya.
Medina melangkah mendekati stan mikrofon yang berdiri di tengah panggung catwalk. Ia membetulkan posisi mikrofon sejenak, lalu mengedarkan pandangan hangatnya ke seluruh aula.
"Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh," suara lembut sang desainer bergema, mengalun jernih melalui pengeras suara aula.
"Wa'alaikum salam, warahmatullahi, wabarakatuh," jawab penonton serempak.
"Terima kasih sudah datang di acara fashion show pertamaku," suara Medina mengalun jernih melalui pengeras suara, disambut riuh tepuk tangan pelan dari para undangan. Ia menangkupkan kedua tangan di dada dengan sopan. "Yang pasti, aku berterima kasih kepada Allah yang telah memberikan bakat luar biasa ini. Kepada orang tuaku juga, Mom dan Dad."
Medina menjeda kalimatnya. Sepasang matanya yang indah melirik jenaka ke arah pria berwibawa di sebelahnya. "Dan tak lupa, untuk seseorang yang berdiri di sampingku saat ini, yaitu kakakku, Yusuf Arasya. Terima kasih atas dukungannya yang luar biasa," ucapnya, sebelum akhirnya sedikit condong ke arah mikrofon dengan nada berbisik, "Semoga cepat dapat jodoh, ya, Kak? Hehe."
Tawa riuh penonton seketika pecah mendengarkan candaan tersebut. Aisyah ikut tersenyum di balik selembar kain cadarnya. Namun, alih-alih mereda, rasa penasarannya justru semakin membuncah hebat.
Apakah dia benar-benar Medina-ku?
"Karena ini acara yang sangat spesial," lanjut Medina sembari memeluk buku tamu tebal di dadanya dengan senyum yang kian lebar, "aku akan memberikan salah satu busana pengantin eksklusif sebagai rasa terima kasihku. Hadiah ini ditentukan berdasarkan daftar tamu yang hadir hari ini."
Medina membuka dan membalik halaman buku tersebut. Langkah kakinya yang hendak berjalan menyusuri panggung, tiba-tiba terhenti. Jemarinya bergerak kaku, terpaku pada satu baris nama di atas kertas. Sepasang matanya berbinar, dipenuhi keterkejutan yang amat nyata. Ia menoleh cepat pada Yusuf, membisikkan sesuatu yang membuat pria berjas itu ikut menaikkan sebelah alisnya, lalu melempar pandangan tajam, menyapu deretan kursi penonton barisan depan.
"Wah, aku tidak menyangka. Akhirnya aku akan bertemu dengan sahabatku ini. Mungkin Allah telah menakdirkan kami untuk bertemu hari ini," suara Medina terdengar serak, bahkan tangannya yang memegang mikrofon sedikit gemetar. "Jadi, pemenang untuk busana pengantin dari Daira Fashion adalah ... Aisyah Humaira!"
Aisyah seketika membeku. Perlahan, ia membawa telapak tangannya ke dada, menyentuh detak jantungnya sendiri dengan penuh ketidakpercayaan. Di balik selembar kain cadar hitamnya, sepasang mata Aisyah membelalak lebar, terpaku lurus ke arah panggung.
"Aku? Serius?" gumam Aisyah sambil menunjuk dirinya sendiri.
Yusuf yang sejak tadi menyapu pandangan ke sekeliling aula, langsung menangkap gerak-gerik aneh seorang gadis bergaun biru langit yang tampak kebingungan di baris depan. Ia menunduk sedikit, mendekatkan bibirnya ke telinga Medina, lalu mengarahkan dagunya lurus ke posisi Aisyah duduk.
"Kamu yang memakai baju biru langit dan ditutupi cadar ... Kamu Aisyah Humaira, kan?" tanya Medina, memastikan lewat mikrofon dengan tatapan lurus .
Aisyah terdiam sejenak, lalu menganggukkan kepala sebagai jawabannya.
"Silakan naik ke atas panggung!" seru Medina riang.
Dengan lutut yang masih terasa lemas, Aisyah melangkah menaiki undakan panggung. Setiap tapak kakinya terasa begitu berat, terlebih karena ia bisa merasakan sorot mata tajam Yusuf yang mengawasinya dengan intens dari atas sana.
Namun, begitu Aisyah berhasil menapakkan kaki di hadapan Medina. Tanpa aba-aba, desainer muda itu langsung menghambur dan memeluknya dengan sangat erat.
"Akhirnya aku bertemu denganmu, Aisyah," bisik Medina dengan suara bergetar haru.
"Kamu ... benar-benar Medina?" Aisyah memastikan.
"Masa kamu lupa dengan sahabat penamu sendiri?" Medina perlahan melepas pelukannya, lalu menatap Aisyah dengan wajah cemberut yang dibuat-buat.
Tawa haru Aisyah seketika pecah. Mereka kembali berpelukan erat di hadapan ratusan pasang mata yang menyambut momen hangat itu dengan tepuk tangan riuh yang menggema di dalam aula.
Setelah acara penutupan selesai, Medina langsung menarik lembut pergelangan tangan Aisyah menuju ruang privatnya di belakang panggung. Sementara itu, Yusuf berjalan tenang mengiringi di belakang dengan langkah tegas.
"Kok aku ikut ke dalam?" tanya Aisyah heran. Ia sedikit terseret, mencoba menyamakan langkah kaki Medina yang cepat.
"Ya kamu harus ikutlah, kan mau lihat busana pengantinnya," sahut Medina tanpa menoleh. Tangannya tetap menarik Aisyah dengan penuh semangat.
"Tapi kan, aku belum mau menikah."
"Aku tahu."
"Aku belum ada calonnya."
"Aku juga tahu. Memangnya, kalau belum ada calon tidak boleh bersiap-siap?" kelakar Medina dengan kerlingan jenaka.
Aisyah memanyunkan bibirnya di balik cadar. "Tapi kan, masih lama."
"No, kamu sebentar lagi akan menikah. Aku yakin," ucap Medina dengan keyakinan penuh.
Medina menghentikan langkahnya tepat di depan sebuah manekin besar di sudut ruangan yang tertutup kain penutup, lalu membalikkan badan menatap Aisyah lekat-lekat.
Aisyah mengeryitkan dahi. "Keyakinan dari mana itu?"
"Lihat saja nanti," sahut Medina misterius seraya mengedipkan sebelah matanya ke arah Aisyah, lalu melirik sekilas ke arah Yusuf yang baru saja menutup pintu ruangan dari dalam.
Namun, sebelum Aisyah sempat memprotes keyakinan aneh yang baru saja dibisikkan sahabatnya itu, sepasang mata Aisyah seketika terpaku pada mahakarya yang terpajang anggun di hadapannya.
Sebuah gaun akad nikah bersiluet A-line longgar yang tampak sangat anggun. Kain utamanya menggunakan pure silk berwarna putih semu yang jatuh dengan lembut tanpa mencetak lekuk tubuh. Di bagian luar, gaun itu dilapisi oleh kain tulle halus berhiaskan bordir buatan tangan bermotif suluran daun ivy yang sangat tipis dan elegan.
Yang paling memikat mata Aisyah adalah detail di bagian manset lengan dan lingkar dada. Di sana, payet mutiara mikro dan kristal Swarovski berukuran kecil dijahit dengan sangat rapi, menangkap cahaya ruangan dan memantulkan kilau samar yang indah.
Gaun itu juga dilengkapi dengan khimar panjang senada yang menjuntai pas hingga ke lutut, lengkap dengan cadar dua lapis berhias mutiara kecil di sepanjang talinya. Desain itu tampak luar biasa mewah, namun tetap memegang teguh prinsip kesopanan yang syari.
"Kamu menyukainya?"
Sebuah suara bariton yang berat mengejutkan Aisyah dari arah belakang. Ia membalikkan badan dengan cepat dan mendapati Yusuf sudah berdiri di sana, melipat kedua tangan di dada dengan tatapan lurus ke gaun itu.
"Eh? Ah ... iya. Indah sekali. Busana yang terlihat mewah, namun sederhana," jawab Aisyah gugup sambil menatap ke lantai marmer.
"Oke, kamu pakai yang itu," ucap Yusuf datar tanpa ekspresi.
Aisyah mengerutkan kening di balik cadarnya. "Pakai? Sekarang?"
"Bukan, tahun depan. Sekarang," ulang Yusuf. Kali ini nadanya terdengar sedikit lebih santai, beriringan dengan kilat geli di matanya yang tajam.
Aisyah mendengus tipis. "Ngelawaknya tidak lucu, nih, si Abang," bisiknya nyaris tidak terdengar.
"Medina," panggil Yusuf. "Tolong pakaikan busana akad ini untuk Aisyah," tunjuknya ke gaun yang ada di depan.
Aisyah menoleh, lalu membelalakan matanya. "Ah?! Serius?"
"Siap, Bos! Yuk, Aisyah, kita makeover kamu pakai busana ini!" Medina dengan cekatan menarik pergelangan tangan Aisyah ke bilik ganti, mengabaikan keterkejutan sahabatnya yang hanya bisa pasrah dituntun ke sana kemari.
Beberapa saat kemudian, ia sudah berdiri diam di depan cermin besar yang menjulang tinggi. Begitu gaun akad itu melekat pas di tubuhnya, Aisyah seketika terperangah. Ia terpaku menatap pantulan dirinya sendiri dengan tatapan tak percaya. Sosok di dalam cermin itu tampak begitu berbeda, sangat cantik dan menawan. Kain sutranya yang putih semu terasa sejuk menyentuh kulit, jatuh dengan anggun tanpa sedikit pun mencetak lekuk tubuh. Potongan yang longgar sama sekali tidak membatasi ruang geraknya, tetapi secara menakjubkan, mahakarya Medina itu telah berhasil menyulap penampilannya hingga nyaris tak dikenali lagi.
"Ya Allah, cantik sekali kamu, Aisyah!" teriak Medina yang mendadak masuk membawa beberapa jarum pentul untuk merapikan sedikit lipatan khimar sahabatnya.
"Busananya, Medina. Bukan akunya. Rasanya aku tidak pantas memakai ini," ujar Aisyah rendah. Ia mendadak merasa rendah diri melihat pantulan dirinya yang tampak terlalu megah di dalam cermin.
"No, no, no. Kamu cantik sekali. Busana ini cocok untuk princess seperti kamu. Yuk, kita perlihatkan kepada kakakku. Pasti dia terpesona," goda Medina sembari menuntun Aisyah keluar dan berdiri tepat di depan tirai pembatas ruangan.
"Kalian berdua, tolong buka tirainya," perintah Medina kepada dua staf di dekatnya.
Perlahan, tirai beludru tebal yang membatasi bilik ganti itu bergeser terbuka.
Di sofa seberang ruangan, Yusuf yang semula fokus menatap layar tabletnya seketika mendongak, begitu mendengar derit halus geseran kain. Pandangannya seketika terkunci, tertuju pada sosok Aisyah yang baru saja melangkah keluar. Tablet di tangannya perlahan diletakkan ke atas meja. Ada jeda beberapa detik di mana ruangan itu mendadak menjadi sangat hening. Yusuf hanya terpaku, menatap Aisyah dengan tatapan dalam yang sulit diartikan. Kristal-kristal kecil di gaun Aisyah seolah menangkap cahaya, memantulkan kembali binar kekaguman yang terpancar nyata dari sepasang matanya.
Aisyah yang ditatap seperti itu langsung meremas jemarinya sendiri dengan gelisah. Ia menunduk dalam, merasakan pipinya memanas hebat di balik selembar kain cadar.
"Bagaimana, Kak? Kok diam saja?" protes Medina, tidak puas melihat kakaknya hanya diam terpaku bak patung. "Cantik, kan?"
Yusuf berdeham kecil. "Iya, cantik," ucapnya sambil membuang muka sesaat, lalu kembali menatap Aisyah dengan lekat.
Hanya satu kalimat singkat dari Yusuf, membuat pertahanan Aisyah runtuh. Di balik kain cadar hitamnya, wajah Aisyah mendadak memanas hingga kedua kelopak matanya bergetar pelan. Bersamaan dengan itu, sensasi menggelitik yang asing mulai merayap di rongga dadanya, memaksa jantungnya berdegup kencang dalam keheningan yang mendebarkan
"Jadi," Medina senyum penuh arti, "Kakak fix, kan, mau mengkhitbah Aisyah lusa?" tanyanya.
Aisyah tersentak hebat. Ia menatap Medina dengan tatapan tak percaya. "Ah? Khitbah?" Kalimat itu lolos begitu saja dari bibirnya yang mendadak kelu.
Detik berikutnya, dengan gerakan kaku, pandangan Aisyah beralih sepenuhnya pada pria yang duduk di sofa seberang ruangan. "Kak Yusuf?"
"Hehehe. Aku tinggal dulu, ya. Selebihnya, tanya Kak Yusuf langsung, Aisyah. Bye-bye!" Medina tertawa renyah, perlahan melangkah mundur ke arah pintu keluar.
Tanpa kata, Medina bergegas menyelinap keluar ruangan dan menutup pintu, meninggalkan Aisyah dalam kecanggungan yang luar biasa. Atmosfer ruangan mendadak senyap, hanya menyisakan deru napas Aisyah yang tertahan.
Di tengah keheningan itu, langkah kaki yang tegas perlahan berjalan mendekat. Yusuf kini berdiri tepat di hadapannya, menyisakan jarak aman yang tetap menjaga batasan syari. Ia memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana, menyembunyikan tangannya yang terasa dingin karena kegugupan yang sedang i tutupi.
"Jadi, bagaimana, Aisyah?" tanya Yusuf lembut.
Aisyah memberanikan diri mendongak tipis, menatap sepasang mata di hadapannya. "Bagaimana ... apanya?" tanyanya heran.
"Maukah kamu menikah denganku?" tanya Yusuf dengan raut wajah serius, tanpa ada keraguan sedikit pun yang membayang di matanya.
Pertanyaan lugas itu bak petir di siang bolong. Aisyah mendadak kelu, lidahnya seolah terkunci, sementara tangannya secara refleks meremas kain khimar biru langitnya.
"Tapi ... Kak ... Aku tidak kenal Kakak."
"Aku tahu."
"Aku ... Aku tidak tahu semua tentang Kakak."
"Aku tahu."
Aisyah menggigit bibir dalamnya dengan bimbang. "Ini kenapa adik dan kakak kepribadiannya sebelas dua belas, sih?" batinnya berucap gemas.
"Ini pertama kalinya aku dekat dengan laki-laki," bisik Aisyah, suaranya tercekat di tenggorokan.
Yusuf mengambil napas dalam, menatap Aisyah dengan keyakinan penuh. "Aku tahu. Justru karena itulah, aku ingin mengkhitbahmu hari ini."
Yusuf melangkah lebih dekat, namun tetap menjaga jarak. "Bagi sebagian orang, taaruf harus dilakukan sebelum menikah. Tapi bagiku, saling mengenal setelah ijab adalah hal yang jauh lebih indah. Saat itu, kita bisa saling berbagi diri apa adanya, tanpa ada lagi jarak atau rahasia yang perlu ditutupi."
Kata-kata itu menghujam langsung ke lubuk hati Aisyah, meruntuhkan benteng keraguannya. Ada ketulusan dan tanggung jawab besar dalam setiap tutur kata Yusuf. Ia menunduk, larut dalam pergolakan batinnya yang paling dalam.
Ya Allah, apakah penantian ini adalah buah manis dari usahaku untuk memperbaiki diri di jalan-Mu?
Aisyah kembali menatap mata Yusuf, mencari celah keraguan. Namun, yang ia temukan hanyalah keyakinan yang meneduhkan. Dengan napas yang diembuskan perlahan, ia menundukkan kepala, membiarkan rasa malu menyelimuti wajahnya di balik cadar.
"Baiklah," bisik Aisyah.
"Apa?" Yusuf memiringkan kepalanya sedikit, ingin memastikan pendengarannya tidak salah dengar.
"Aku ... menerima lamaranmu," ucap Aisyah dengan nada yang jauh lebih yakin, meski pipinya sudah merah merona.
Meski sebagian wajah Yusuf tertutup ekspresi tegasnya, Aisyah bisa melihat binar lega yang membuncah dan senyum tipis yang tulus terukir di wajah pria itu.
"Yuhuuuuu! Akhirnya Aisyah jadi kakak iparku! Selamat, ya!"
Suara pintu yang tersingkap kasar bersama teriakan nyaring Medina seketika mengejutkan keduanya. Ternyata gadis itu sejak tadi mengintip dari pintu.
Medina berlari masuk dan kembali memeluk Aisyah dengan sangat riang, hingga tubuh Aisyah sedikit terhuyung ke belakang. Aisyah hanya bisa tertawa pasrah, mendekap balik tubuh sahabat penanya yang menggemaskan itu di bawah tatapan hangat Yusuf.
"Medina, tolong telepon Mom dan Dad sekarang," perintah Yusuf, kembali dengan mode tegasnya yang berwibawa. Namun, kali ini ada nada riang yang samar-samar tertahan di dalam suaranya. "Beri tahu mereka, besok kita pergi menemui orang tua Aisyah."
"Siap, Bos!" Medina melakukan gerakan hormat ala tentara dengan jenaka, lalu segera merogoh ponsel dari tasnya, dan berjalan sedikit menjauh ke sudut ruangan.
Di tengah ruangan, kecanggungan kembali menyelimuti Aisyah. Ia menatap gaun pengantin yang masih melekat pas di tubuhnya, lalu melirik Yusuf yang kini sedang memperhatikan jemari tangannya sendiri, seolah sedang memperkirakan ukuran cincin yang pas untuk dilingkarkan di jari manis Aisyah nanti.
"Kak Yusuf," panggil Aisyah lirih, memberanikan diri memecah keheningan.
Yusuf menoleh, menaikkan sebelah alisnya yang tebal. "Ya?"
"Apakah ... apakah ini tidak terlalu terburu-buru? Maksudku, orang tuaku di Indonesia belum tahu apa-apa tentang hal ini. Aku takut mereka terkejut," Aisyah meremas kain gaun indahnya dengan cemas. Pikiran tentang bagaimana reaksi sang ibu di rumah mulai membayangi benaknya.
Yusuf membalikkan badannya, menghadap Aisyah sepenuhnya. "Aisyah, mengkhitbahmu bukan berarti kita langsung menikah hari ini. Aku sangat menghormati orang tuamu. Besok, aku dan keluargaku yang akan menghubungi secara resmi via panggilan video, memohon izin dengan cara yang baik, sebelum kami benar-benar datang ke Indonesia untuk menemui mereka langsung," ucapnya sembari menatap Aisyah dengan lembut, seolah meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Yusuf mengembuskan napas pelan. "Aku tidak ingin berlama-lama dalam hubungan tanpa ikatan yang jelas. Ketika aku melihatmu, dan mendengar semua cerita kebaikanmu dari Medina selama setahun terakhir ini, hatiku sudah menetapkan pilihan. Bagiku, menjaga dirimu dalam ikatan halal adalah prioritas utamaku sekarang."
Mendengar penjelasan yang begitu runut dan penuh penghormatan terhadap orang tuanya, kecemasan Aisyah perlahan hilang, digantikan oleh rasa hangat yang menjalar di dalam dadanya. Di balik selembar kain cadarnya, Aisyah tersenyum tulus.
"Terima kasih, Kak," bisik Aisyah. Ia kembali menundukkan pandangannya karena tak kuat menatap mata Yusuf yang begitu teduh dan mengunci hatinya.
"Kak Yusuf! Aisyah!" Medina tiba-tiba setengah berlari kembali ke arah mereka dengan mata berbinar-binar dan ponsel yang masih menyala di tangannya. "Mom dan Dad histeris! Mereka bilang akan langsung memesan tiket penerbangan pertama malam ini juga untuk menyusul kita ke Kairo!"
Yusuf menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan adiknya yang super heboh, namun ia tidak bisa menyembunyikan senyuman di wajahnya. "Baguslah kalau begitu. Aisyah, kurasa kamu harus segera mengganti pakaianmu kembali, sebelum Medina menyeretmu ke masjid sekarang juga."
"Ih, Kak Yusuf kok tahu saja isi pikiranku!" protes Medina sambil memanyunkan bibirnya.
Aisyah tidak bisa menahan tawa renyahnya, namun rasa penasaran yang sejak tadi membuncah membuat ia menahan lengan Medina perlahan. "Tunggu dulu, Medina ... aku masih benar-benar tidak menyangka. Bagaimana bisa kamu ada di Kairo sekarang? Bukankah kamu bilang minggu depan?"
"Memangnya kenapa? Kamu tidak senang aku di sini?" Medina menghentikan tawa jenakanya, lalu menatap Aisyah dengan kerlingan usil.
"Bukan begitu," sahut Aisyah cepat, meremas gaun pengantin yang masih dipakainya. "Tapi di surat terakhirmu yang baru kubaca tadi pagi di taman, kamu bilang akan berkunjung ke Kairo untuk urusan keluarga. Makanya aku tadi sempat berdoa agar aku bisa bertemu dengan kamu, dan aku sama sekali tidak mengira kalau desainer muda di pameran Kairo ini adalah kamu!"
"Surat itu tidak salah, Aisyah sayang! Aku memang mau ke Kairo, dan waktunya aku majuin dikit hehe. Jadi, pameran busana pertamaku ini adalah kejutan rahasia yang sengaja kusiapkan untukmu! Aku sengaja meminta promotor hotel tidak mengumumkan namaku secara besar-besaran di media sosial sampai hari pameran tiba. Aku tahu kamu tinggal di Kairo, dan aku tahu kamu pasti tidak akan melewatkan pameran busana Islami terbesar tahun ini. Surprise! Rencanaku berhasil, kan?" jelasMedina langsung memeluk pundak Aisyah dengan gemas.
Aisyah menggeleng-gelengkan kepala, terharu sekaligus takjub. "Kamu benar-benar luar biasa, Medina."
"Sudah, sudah. Sekarang kamu ganti baju dulu," potong Yusuf menengahi dengan nada jenaka yang santai. "Sebelum adikku ini membuat rencana nekat lainnya."
Sambil melangkah kembali ke bilik ganti dengan tangan yang digandeng erat oleh Medina, Aisyah melirik sekilas ke arah Yusuf lewat pantulan cermin besar di ruangan itu. Yusuf masih berdiri di tempatnya, memperhatikan kepergiannya dengan tatapan hangat.
Di dalam bilik, sembari perlahan melepas gaun pengantin impiannya, Aisyah membisikkan satu doa syukur yang teramat dalam atas kejutan takdir di kota Kairo yang begitu indah ini.
***
Aroma khas kertas surat bercampur wewangian mawar lembut menguar, saat Aisyah membuka sebuah kotak kayu ukir di atas meja riasnya. Di dalamnya, tersimpan rapi puluhan surat bermaterai kuno dan prangko luar negeri hasil surat-menyuratnya dengan Medina selama bertahun-tahun. Hubungan yang dulu hanya terpaut lewat goresan tinta hitam antara Turki dan Kairo, kini telah menjelma menjadi ikatan nyata yang tak terpisahkan.
Sebuah ketukan lembut di pintu membuyarkan lamunan Aisyah. Ia menoleh dan mendapati Yusuf berjalan masuk ke dalam kamar, mengenakan kemeja koko kasual yang senada dengan khimar yang dikenakan Aisyah. Yusuf tersenyum teduh, menatap kotak surat yang terbuka.
Yusuf mendekat, lalu memeluk Aisyah dari belakang. "Masih membaca surat-surat lama dari Medina?"
Aisyah mengangguk pelan, lalu menyentuh tangan Yusuf. "Hanya sedang merindukan masa-masa saat kita belum bertemu, Kak. Lucu rasanya mengingat bagaimana Allah menuntun langkahku, dari sebuah taman kota di Kairo hingga sampai di titik ini."
"Takdir-Nya tidak pernah keliru, Humairah. Surat dari Turki itu adalah jalan setapak yang sengaja dihamparkan-Nya untuk membawamu kepadaku di Kairo," ucap Yusuf tulus, sembari sesekali ia mengecup pundak Aisyah dengan penuh kasih.
Dalam pantulan cermin di hadapan mereka, Yusuf menatap Aisyah lekat, menyadari bahwa penantian panjang yang terasa begitu lama, kini telah berlabuh dengan sempurna di pelabuhannya yang paling tepat.
"Kak Aisyah! Kak Yusuf! Ayo cepat turun, makan malamnya sudah siap! Keburu makanannya dingin, nih!"
Teriakan cempreng Medina yang khas kembali menggema dari arah lantai bawah, membuyarkan momen syahdu di antara keduanya.
Aisyah dan Yusuf saling berpandangan sejenak, lalu tertawa kecil. Sifat heboh Medina memang tidak pernah berubah sedikit pun, bahkan setelah resmi tinggal di bawah atap yang sama, sebagai keluarga.
Sembari menutup kembali kotak kayu penuh kenangan itu, Aisyah melangkah berdampingan bersama Yusuf menuju pintu. Surat-surat lama itu mungkin telah selesai ditulis, namun Aisyah tahu, lembaran naskah kehidupan baru yang sesungguhnya bersama Yusuf, justru baru saja dimulai.