Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Komedi
Skakmat Tukang Flexing Saat Lebaran
1
Suka
33
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Bagi sebagian besar umat manusia, Hari Raya Idul Fitri adalah momen kemenangan. Momen yang dipenuhi oleh kehangatan silaturahmi, aroma ketupat opor ayam yang menggugah selera, dan senyuman tulus saling memaafkan.

Namun, di dalam struktur sosiologi keluarga besar Indonesia, Lebaran memiliki fungsi ganda rahasia yang tidak pernah tertulis dalam kitab suci manapun: Lebaran adalah arena Hunger Games berkedok halal bihalal. Sebuah turnamen tahunan di mana medali emasnya diperebutkan melalui cabang olahraga "Pamer Harta Anak", "Pamer Jabatan Menantu", dan "Pamer Jumlah Cucu".

Dan bagi orang-orang dengan ekonomi kelas menengah ke bawah sepertiku, arena ini bukanlah tempat untuk bertanding. Ini adalah tempat penyerahan diri (eksekusi) massal.

Namaku Aryo. Pekerjaanku? Seorang Office Boy (OB) dengan gaji UMR yang dipotong BPJS dan cicilan. Setiap tahun, aku dan Ibuku akan menempuh perjalanan darat yang melelahkan dari Purwokerto (kota tempat tinggal kami) menuju Kebumen, tempat rumah kakek dari pihak Ibu berada (Rumah Mbah Joyo). Kami berangkat menggunakan motor Honda Supra X keluaran tahun dinosaurus yang kalau diajak nanjak bunyinya seperti kakek-kakek asma stadium akhir.

Sesampainya di rumah Mbah Joyo yang luas dan bergaya joglo klasik itu, stratifikasi sosial keluarga langsung berlaku secara otomatis tanpa perlu ada rapat paripurna.

Keluarga yang kaya (pakde, budhe, dan paman yang sukses) akan langsung mengambil posisi di ruang tamu utama yang ber-AC. Mereka duduk manis di atas sofa kulit, meminum sirup ABC rasa melon dingin, dan saling bertukar cerita tentang saham, properti, dan mahalnya harga tiket pesawat bisnis.

Sedangkan kami? Kasta Sudra? Begitu aku dan Ibu memarkirkan motor butut kami di halaman belakang, kami akan langsung bermutasi menjadi Babu In-Chief. Posisi kami mutlak berada di dapur belakang yang suhunya nyaris menyamai inti bumi.

"Yo, tolong angkatin air galon ke depan. Sekalian itu cucian piring sisa makan kloter pertama dicuci ya, jangan sampai numpuk," titah Bulek Yanti sambil mengipasi lehernya yang bergelimang kalung emas kuning menyala.

"Siap, Lek," jawabku dengan senyum pasrah yang sudah kulatih bertahun-tahun di depan cermin kosan.

Di sebelahku, Ibu sedang duduk di kursi kayu kecil (dingklik), berkeringat deras mengaduk kuali raksasa berisi opor ayam panas di atas tungku api. Ibu tidak pernah mengeluh. Beliau selalu tersenyum, menyapu keringat di dahinya dengan ujung lengan daster pudar yang beliau kenakan. "Udah, Yo. Dikerjain aja. Namanya juga bantu-bantu keluarga. Setahun sekali ini," bisik Ibu lembut setiap kali melihat wajahku mulai menekuk karena lelah.

Demi Tuhan, melihat punggung Ibu yang berpeluh di depan tungku itu selalu membuat hatiku teriris. Kami tidak pernah diperlakukan setara. Kami hanya tenaga gratisan berkedok kerabat. Aku tidak masalah menjadi kuli angkut piring kotor setinggi Gunung Rinjani, tapi aku sangat benci melihat Ibu diperlakukan seperti asisten rumah tangga oleh saudara kandungnya sendiri.

Namun, puncak dari segala kiamat psikologis ini tidak terjadi di dapur. Puncak penderitaan itu terjadi di sesi "Kumpul Ruang Tengah".

Sore itu, setelah semua piring dicuci dan lantai dapur dipel hingga bisa dipakai untuk mengaca, aku dan Ibu akhirnya diizinkan (baca: dipanggil) untuk duduk bersama di ruang tengah. Kami duduk di atas karpet tipis, sementara para penguasa ekonomi duduk di atas sofa.

Sesi interogasi taktis pun dimulai.

"Aryo, kamu sekarang masih jadi OB di Jakarta itu ya?" Budhe Siti, kakak tertua Ibu yang merupakan Final Boss dari segala ajang pamer, membuka serangan pertama. Beliau membetulkan posisi gelang emasnya yang berjejer dari pergelangan hingga nyaris ke siku.

"Masih, Budhe. Alhamdulillah masih dikasih rezeki buat napas," jawabku santai sambil mengunyah nastar yang rasanya dominan tepung.

Budhe Siti berdecak prihatin (sebuah decakan yang sengaja dibuat agar terdengar oleh seluruh penjuru ruangan). "Ya ampun, Yo... Umur segini masih jadi OB? Gaji UMR Jakarta tuh mana cukup buat hidup. Coba kamu tuh lihat sepupumu, si Andre. Baru aja umur dua puluh lima, udah tembus jadi PNS BUMN di Jakarta Pusat. Kemarin Lebaran ini turun THR, langsung beliin Budhe perhiasan emas ini loh! Gaji BUMN emang nggak main-main, fasilitasnya terjamin sampai tua."

Di sofa sebelah Budhe Siti, duduklah Andre. Anak emas kebanggaan. Dia mengenakan kemeja slim-fit Zara, celana kain licin, dan rambut pomade klimis. Andre tersenyum pongah, pura-pura merendah. "Ah, biasa aja kok, Ma. Namanya juga rezeki kerja keras. Aryo mah mungkin emang rezekinya di bagian bersih-bersih, nggak apa-apa, yang penting halal kan, Yo?"

Jleb. Kalimat merendah untuk meroket yang sangat rapi.

Serangan kedua menyusul tanpa jeda. Kali ini dari sayap kiri, Bulek Yanti (adik Ibu yang paling judes). "Bener itu kata Budhe Siti. Makanya, Yo, kamu tuh mbok ya cepet nikah biar ada yang ngurusin. Kalah kamu sama anakku si Dina. Dina udah nikah sama pengusaha, sekarang udah ngasih cucu cakep buat Bulek. Keluarga bahagia itu kunci rezeki lancar."

Bulek Yanti menunjuk ke arah putrinya, Dina, yang sedang duduk menunduk di sudut ruangan. Di sebelah Dina, seorang anak laki-laki berumur lima tahun (cucu Bulek Yanti) sedang berlarian kesetanan mengelilingi ruangan, memukul-mukul vas bunga pakai mainan robotnya, berteriak-teriak dengan volume ultrasonik. Dina hanya diam tak bereaksi, wajahnya tampak lelah dan pucat.

"Tuh lihat, cucuku aktif banget kan? Tanda anak pinter gizi tercukupi dari keluarga mapan," tambah Bulek Yanti bangga, meski wajahnya terlihat memerah menahan pusing melihat kelakuan bocah tantrum itu.

Lalu, serangan pamungkas datang dari sayap kanan. Bulek Ratmi, yang baru saja datang dari luar. "Aryo! Kamu tadi parkir Supra-mu di mana? Agak dipinggirin dikit gih! Anakku si Heri baru aja nyampe bawa mobil baru! Nanti kegores mobil Heri, kamu nggak bisa ganti loh!"

Dari pintu depan, masuklah Heri. Dia memutar-mutar kunci mobil Honda Brio di jari telunjuknya, melangkah masuk bak pahlawan pulang dari medan perang. "Sori telat, Tante, Pakde! Biasa, jalanan macet banget. Bawa mobil tuh emang capek kakinya, beda sama bawa motor yang tinggal nyelip-nyelip. Wah, Supra siapa tuh di belakang? Awas bocor olinya kena ubin Mbah, hehe."

Bulek Ratmi langsung membusungkan dada. "Alhamdulillah, Heri umur dua puluh empat udah bisa beli mobil sendiri dari hasil usahanya jualan online. Ya biarpun cuma Brio, tapi seenggaknya nggak kehujanan kayak naik Supra butut ya, Yo?"

Tiga panah menancap tepat di ulu hatiku secara beruntun.

  1. Dihina sebagai OB kasta bawah.
  2. Dihina sebagai jomblo tak laku.
  3. Dihina karena pakai motor rongsokan.

Secara pribadi? Aku sama sekali tidak tersinggung. Aku tahu siapa diriku. Sindiran-sindiran dangkal ala sinetron ikan terbang ini sama sekali tidak bisa melukai mental bajaku yang sudah ditempa oleh kerasnya aspal ibu kota dan kejamnya kehidupan. Aku hanya tersenyum tipis, bersiap menelan pil pahit ini dengan seteguk air putih.

Namun, di saat itulah, mataku tak sengaja menoleh ke arah Ibu. Ibu sedang duduk di sebelahku. Beliau menundukkan kepalanya dalam-dalam, menatap karpet hijau di bawahnya. Tangan Ibu yang keriput dan kemerahan akibat mencuci piring berjam-jam, sedang meremas ujung daster pudarnya dengan sangat kuat. Aku bisa melihat bahu Ibu bergetar kecil. Ibu menahan tangis. Ibu tidak menangis karena dihina, Ibu menangis karena merasa gagal menjadi orang tua yang bisa dibanggakan, merasa putranya direndahkan tanpa bisa membela.

Seumur hidupku, aku memiliki satu aturan absolut: Kau boleh mencaci makiku, meludahiku, atau menginjak kepalaku, aku tidak akan peduli. Tapi, jika kau membuat ibuku meneteskan satu tetes saja air mata kesedihan... maka kau baru saja memesan tiket VIP menuju neraka jalur ekspres.

Sebuah switch (sakelar) di dalam otakku mendadak mati. Dan sebuah pintu baja raksasa di dalam kepalaku terbuka lebar.

Klik. Dunia di sekitarku tiba-tiba bergerak melambat (Slow Motion). Suara tawa sumbang keluarga besarku memudar, berubah menjadi suara dengungan statis yang sangat halus. Mataku yang tadinya sayu dan ngantuk, kini melebar. Pupil mataku mengecil. Retina mataku mulai menangkap setiap detail piksel di ruangan ini.

Mode Analisis: ON.

Aku tidak lagi melihat mereka sebagai keluarga. Aku melihat mereka sebagai subjek observasi. Sebuah puzzle besar yang sedang mengemis untuk dihancurkan. Berdasarkan hukum probabilitas dasar, tidak ada kebahagiaan yang dipamerkan secara berlebihan yang tidak menutupi kebusukan yang lebih besar di baliknya (Kompensasi Psikologis). Orang yang benar-benar kaya tidak akan pernah berbicara soal uang.

Aku mulai memindai ruangan. Titik demi titik. Warna demi warna. Bau demi bau. Mataku tertuju pada Budhe Siti.

Observasi: Gelang emasnya besar. 24 Karat? Tidak. Lihat pergelangan tangannya. Ada noda kehijauan tipis (Oksidasi Tembaga) di lipatan kulitnya yang berkeringat. Emas murni tidak akan pernah teroksidasi dan meninggalkan noda hijau di kulit manusia. Itu perhiasan sepuhan murahan. Cincin berliannya? Zirkonia kubik. Cahaya pantulannya membiaskan spektrum pelangi, bukan spektrum monokromatik khas berlian asli.

Mataku beralih ke Andre, sang PNS BUMN.

Observasi: Kemeja Zara asli. Tapi lihat ujung kerahnya, ada noda kuning pudar akibat sering dicuci paksa, bukan di-dry clean. Lihat ke bawah meja. Sepatunya. Sepatu kulit merek lokal, bukan pantofel mahal. Lem sol bagian kirinya sudah sedikit terkelupas. Dia tidak punya cukup uang tunai untuk membeli pakaian satu set (Head-to-Toe). Dia hanya fokus pada apa yang terlihat di kamera.

Hidungku mengendus udara.

Penciuman: Andre memakai parfum. Bvlgari Aqua. Tapi tunggu. Ada bau tajam alkohol metanol yang tidak lazim. Itu parfum racikan isi ulang pinggir jalan, bukan parfum asli yang menggunakan alkohol denat murni.

Mataku kembali ke Andre. Ponselnya, iPhone seri terbaru, diletakkan telungkup di atas meja. Tiba-tiba layarnya menyala sekilas, menampilkan notifikasi di lock screen selama dua detik sebelum mati lagi. Membaca terbalik dalam 0.5 detik: Notifikasi dari aplikasi 'KopKarSejahtera' (Koperasi Karyawan). "Tagihan pinjaman lunak Anda bulan ke-4 dari 36 bulan sebesar Rp 4.500.000 akan jatuh tempo tanggal..."

Analisis Selesai: Andre PNS BUMN. Gajinya memang lumayan, tapi gaya hidup FOMO (Fear Of Missing Out) di Jakarta menghancurkan cash flow-nya. Dia terjerat pinjaman tenor panjang di koperasi kantor hanya untuk gaya (membeli iPhone dan membiayai perhiasan palsu ibunya).

Target berpindah. Bulek Yanti dan Dina.

Observasi: Bulek Yanti memamerkan cucunya. Tapi perhatikan cucunya. Anak itu hiperaktif tingkat dewa. Tantrum ekstrem. Dia memukul lengan Dina dengan keras. Dina menahan rasa sakit, tapi gerakan tangannya aneh. Dina selalu memposisikan lengan kanannya untuk melindungi tulang rusuk kirinya.

Aku memfokuskan mataku ke lengan Dina yang tertutup cardigan panjang. Ujung lengan cardigan itu sedikit tertarik ke atas saat anaknya memukulnya.

Observasi: Ada bayangan gelap kekuningan di pergelangan tangannya. Lebam memar yang sudah memudar. Diolesi concealer (krim penutup noda) merek murah (warna shadenya tidak cocok dengan tone kulit aslinya).

Mataku turun ke jari manis Dina.

Observasi: Kosong. Tidak ada cincin kawin. Tapi ada lekukan kulit berwarna lebih pucat berbentuk lingkaran (Tan line). Bukti bahwa dia menggunakan cincin kawin selama bertahun-tahun, tapi sudah dilepas secara permanen sejak beberapa bulan terakhir.

Hidungku kembali bekerja ke arah Bulek Yanti. Penciuman: Bau wangi melati yang samar. Tapi di balik itu, ada bau herbal yang tajam. Minyak Angin Kapak ekstra kuat, dicampur aroma menyengat khas obat penenang ringan (Alprazolam atau obat anti-hipertensi generik) dari napasnya saat dia bicara di ruang tertutup ber-AC ini.

Analisis Selesai: Dina bukan dari "keluarga bahagia". Dia adalah korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Dia sudah bercerai atau lari dari suaminya yang pengusaha itu. Anak yang tantrum itu kekurangan figur ayah dan meluapkan traumanya dengan kekerasan fisik. Bulek Yanti diam-diam mengalami stres berat (hipertensi/insomnia) akibat aib perceraian putrinya yang dia tutupi dari keluarga besar.

Target terakhir. Bulek Ratmi dan Heri (Si Pembawa Brio).

Observasi: Heri memutar kunci kontak Brio-nya. Kunci asli, tapi perhatikan gantungan kuncinya. Tidak ada logo dealer resmi Honda setempat. Kuncinya kusam.

Aku mengingat kembali saat motor Supra-ku kumasukkan ke halaman. Aku sempat melihat mobil Brio putih milik Heri terparkir di depan gerbang.

Memori Visual Taktis: Velg depan kiri Brio itu baret parah, aspal menempel di catnya. Bemper bawah penyok halus. Bukti bahwa si pengemudi tidak punya spatial awareness (kesadaran ruang/amatiran). Plat Nomor: B (Jakarta). Angka belakangnya aneh. Stiker pajak di plat nomor menunjukkan tahun 2022. Ini sudah tahun 2026. Pajaknya mati 4 tahun. Lebih fatal lagi, huruf belakang platnya (contoh: RFZ) tidak sinkron dengan seri keluaran tahun mobil tersebut jika dicek silang dengan tipe facelift mobil Brio putih itu.

Saat Heri duduk, dompet kulitnya yang tebal ditaruh di meja. Celah dompetnya sedikit terbuka. Observasi: Aku bisa melihat ujung kertas STNK (Surat Tanda Nomor Kendaraan) yang dilipat. Tapi STNK itu sendirian. Tidak ada selipan kertas bukti pembayaran pajak (Notice Pajak) yang biasanya selalu menempel dengan STNK asli.

Analisis Selesai: Mobil Brio itu pajaknya mati 4 tahun. Plat nomornya palsu/tempelan. Heri bukan membeli mobil di dealer resmi atau showroom bekas terpercaya. Heri membelinya dari FJB (Forum Jual Beli) Facebook di grup 'STNK ONLY / Mobil LELANG'. Mobil tarikan leasing nakal, atau parahnya, mobil hasil curian sindikat yang dijual dengan harga sangat murah (sekitar 30-40 juta). Heri, yang belum fasih menyetir, tergiur harga murah tanpa tahu risiko pidana Penadahan Barang Curian.

Dunia kembali berputar pada kecepatan normal. Waktu yang kuperlukan untuk meruntuhkan seluruh kebohongan di ruangan ini hanya lima belas detik.

Budhe Siti masih tertawa meremehkan. "Ya gitu deh, Yo. Namanya hidup emang keras. Kalau nggak pinter cari peluang, ya selamanya mentok jadi pesuruh orang."

Aku mengusap punggung tangan Ibu dengan lembut, memberikan sinyal agar beliau tenang. Aku menarik napas panjang. Otot di leherku mengeras. Bibirku melengkung membentuk senyum simetris yang sangat, sangat dingin. Mata 'Sapi Ompong' milik Aryo si OB telah hilang, digantikan oleh mata tajam seekor predator analitis.

"Maaf menyela, Budhe," suaraku memecah tawa mereka. Nadanya sangat rendah, tenang, tapi memancarkan resonansi yang membuat seluruh ruangan tiba-tiba terdiam. "Bukannya saya tidak menghargai wejangan Budhe. Saya cuma penasaran."

Aku menatap lurus ke arah Budhe Siti, lalu memindahkan pandanganku ke pergelangan tangannya. "Gelang emas 24 karat yang katanya dibelikan Andre dari uang THR itu... kenapa meninggalkan bekas warna hijau di kulit Budhe? Setahu saya, reaksi oksidasi tembaga yang luntur karena keringat manusia itu cuma terjadi pada perhiasan xuping atau sepuhan murahan seharga tiga ratus ribuan di Mangga Dua. BUMN memang gajinya besar, Ndre..." aku menatap Andre yang tiba-tiba menegang. "...tapi masa beli emas aja harus nipu ibunya sendiri?"

Wajah Budhe Siti memucat. Dia refleks menarik tangannya dan menyembunyikannya di balik selendang. Mata Andre membelalak lebar, wajahnya pias seketika. "L-lu ngomong apa sih, Yo?! Jangan asal nuduh lu!"

"Gue nggak nuduh, Ndre," jawabku santai, aku meminum seteguk teh manis dari gelasku dengan sangat elegan. "Sama kayak gue nggak nuduh lo pakai parfum refill literan yang alkohol metanolnya nusuk hidung gue dari sini. Dan gue juga nggak nuduh soal layar HP lo yang tadi nyala. Notifikasi dari Koperasi Karyawan Sejahtera. Tagihan bulan ke-4 dari 36 bulan untuk pinjaman senilai Rp 150 juta, cair H-3 Lebaran. Bener kan?"

Ruangan itu hening absolut. Mulut Andre terbuka-tutup tapi suaranya hilang. Wajahnya yang tadi pongah kini berubah pucat seperti mayat yang baru diangkat dari lemari es.

"Kerja di BUMN itu keren, Ndre. Tapi kalau gaya hidup lo di Jakarta tiap weekend harus nongkrong di SCBD biar dibilang hypebeast, open table berlagak eksekutif, sementara lo harus ngutang puluhan juta ke koperasi kantor yang dipotong otomatis dari gaji pokok lo sampai tiga tahun ke depan... buat apa? THR lo abis buat bayar minimum payment kartu kredit, kan? Lo pulang kampung bawa mobil sewaan, ngasih perhiasan palsu, cuma buat gengsi di depan keluarga. Lo nggak lebih kaya dari gue, Ndre. Lo cuma tahanan utang bertenaga jas Zara."

BAM! Skakmat Pertama. Budhe Siti diam membisu. Matanya berkaca-kaca menahan malu yang luar biasa saat menatap anaknya. Andre menundukkan kepala, tangannya gemetar.

Aku tidak berhenti. Meriam logikaku baru saja memanas. Aku menoleh ke sayap kiri. Ke arah Bulek Yanti. Bulek Yanti yang tadi judes kini menelan ludah, firasat buruk menghantamnya.

"Lalu, soal keluarga bahagia impian Bulek Yanti," ucapku halus, nada suaraku bagai belati bedah. Aku menatap anak Dina yang sedang tantrum memukul meja. "Anak yang terlalu hiperaktif dan memukul ibunya tanpa rasa takut, biasanya adalah produk trauma psikologis dari lingkungan yang mempraktekkan kekerasan. Acting out untuk mencari atensi dari figur pria yang hilang."

Aku beralih menatap Dina, putri Bulek Yanti. Dina langsung memalingkan wajahnya. "Dina, concealer merek lokal itu warnanya terlalu terang buat nutupin lebam biru-kuning di pergelangan tangan kiri lo. Dan garis putih bekas cincin kawin di jari manis lo itu udah terlalu jelas. Cincinnya udah dilepas permanen sejak enam bulan lalu kan?"

Mata Dina membelalak ngeri, dia refleks menutupi tangan kirinya. Bulek Yanti berdiri dari sofanya dengan panik. "H-Heh! Jangan ngawur kamu, Yo! Anakku ini suaminya lagi sibuk bisnis di luar pulau!"

"Suaminya sibuk bisnis, atau lo udah lari dari dia karena KDRT, Din?" tembakku telak tanpa ampun.

Ruang tamu itu seakan tersambar petir. Napas Dina tertahan, dan tiba-tiba, air mata yang sudah dipendamnya selama berbulan-bulan tumpah ruah. Dia menangis sesenggukan, menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Tangisannya membenarkan setiap deduksiku.

Aku kembali menatap Bulek Yanti yang kini gemetar hebat. "Dan Bulek Yanti," kataku prihatin. "Bau Minyak Angin Kapak sama obat Alprazolam (penenang darah tinggi) dari napas Bulek kuat banget. Bulek stress berat kan ngurus cucu yang tantrum tiap hari, sementara Bulek harus nutup-nutupin aib perceraian Dina dari keluarga besar cuma demi ego dan gengsi Bulek sendiri? Daripada Bulek sibuk ngurusin kapan saya nikah, mending Bulek bawa Dina ke psikolog untuk nyembuhin trauma fisik dan mentalnya. Itu baru namanya ibu yang benar."

BAM! Skakmat Kedua. Bulek Yanti merosot jatuh kembali ke sofanya. Dia memeluk Dina yang menangis histeris. Rahasia terdalamnya, aib yang paling dia takuti bocor, telah ditelanjangi di depan seluruh keluarga besar dalam waktu kurang dari satu menit.

Tinggal satu target. Sayap kanan. Aku memutar tubuhku pelan menghadap Bulek Ratmi dan putranya, Heri, si pemilik Brio.

Heri sudah terlihat seperti orang yang ingin lari ke alam gaib. Keringat dingin mengucur deras di wajahnya. "D-dan kamu mau ngomong apa soal mobilku, Yo?! M-mobilku beli tunai dari usahaku sendiri lho!" tantang Heri, suaranya melengking karena panik.

Aku tersenyum miring. Senyum yang membuat darahnya beku. "Gue nggak ragu lo beli tunai, Her. Yang gue ragukan adalah dari mana lo belinya." Aku menunjuk ke arah jalanan luar dengan daguku. "Honda Brio putih. Plat B. Stiker pajaknya tahun 2022. Pajak mati 4 tahun. Lo parkir maju mundur 15 menit, velg depan udah baret nyium trotoar saking amatirnya lo bawa mobil. Dan lo tahu apa yang paling menarik, Heri?"

Aku mencondongkan tubuhku ke depan. "Di dompet lo, cuma ada STNK. Nggak ada Notice Pajaknya. Gue berani taruhan potong jari, lo nggak pegang BPKB mobil itu kan?"

Wajah Heri pucat pasi. "M-maksud lo apa?!"

"Maksud gue, lo beli itu mobil di grup Facebook 'Jual Beli Mobil STNK Only', kan? Harga pasar Brio 150 juta, lo tergiur beli harga 40 juta. Lo bilang hasil usaha online, padahal lo main slot judi yang kebetulan menang kan? Lo dengan tololnya beli mobil bodong tanpa BPKB."

Bulek Ratmi, ibu Heri, terperanjat kaget. "H-Heri?! Bener kata Aryo?! Mobilmu mobil bodong?!"

"Bukan cuma bodong, Bulek," timpalku, suaraku menggelegar memberikan vonis akhir. "Mobil STNK Only dengan pajak mati bertahun-tahun itu biasanya adalah mobil tarikan leasing yang dijual oknum, atau parahnya: Mobil hasil pencurian sindikat. Kalau Heri kepergok razia polisi, mobilnya disita, dan Heri bisa dipenjara minimal empat tahun pakai Pasal 480 KUHP tentang Penadahan Barang Curian. Lo mau pamer sukses ke keluarga pakai barang curian yang bisa nganterin lo ke penjara Cipinang, Her? Berani lo keluarin BPKB-nya sekarang?!"

BAMMM!!! SKAKMAT KETIGA (FATALITY).

Tidak ada yang bergerak. Tidak ada yang bersuara. Bahkan cicak di luar rumah pun rasanya berhenti berbunyi saking tegangnya atmosfer di ruang tamu Mbah Joyo.

Andre yang PNS banyak utang, Dina yang janda KDRT, dan Heri si penadah mobil curian. Tiga dewa flexing keluarga besar Bani Joyo baru saja dibantai, dikuliti, dan dieksekusi secara publik oleh seorang Office Boy lulusan SMK. Kasta Sudra baru saja meruntuhkan kerajaan Olimpus mereka dengan modal mata dan logika.

Aku menoleh ke arah ibuku. Ibu menatapku dengan mata membulat lebar, antara tidak percaya dan syok. Tapi di balik tatapannya, aku melihat raut kelegaan yang luar biasa di wajahnya. Pundaknya tidak lagi bergetar. Tangannya tidak lagi meremas daster.

Aku berdiri dari karpet. Aku merapikan lipatan kaos oblong yang kukenakan. "Maaf kalau omongan saya kelewatan, Budhe, Bulek. Tapi lain kali, kalau mau pamer kesuksesan... pastikan pondasinya nggak terbuat dari lumpur. Dan jangan pernah, jangan pernah, merendahkan ibu saya di depan mata saya."

Aku mengulurkan tangan pada Ibu. "Ayo, Bu. Kita pulang sekarang. Aryo udah selesai silaturahminya."

Ibu menyambut tanganku tanpa ragu. Beliau berdiri tegak. Kami berjalan keluar dari ruang tamu yang terasa seperti rumah duka itu. Tidak ada satu pun dari Pakde, Budhe, atau Bulek yang berani mencegah kami, atau bahkan sekadar menatap mata kami.

Perjalanan dari Kebumen ke Purwokerto memakan waktu sekitar tiga jam. Angin sore yang sejuk menampar wajahku saat aku memacu Supra bututku dengan santai. Di boncengan belakang, Ibu menyandarkan kepalanya di punggungku.

"Kamu tadi kok bisa tahu semuanya sih, Le? Kapan kamu belajar jadi dukun?" tanya Ibu pelan di telingaku, suaranya menyiratkan kebanggaan yang ditutup-tutupi.

"Nggak perlu jadi dukun, Bu. Orang miskin di Jakarta itu insting bertahannya harus tajam. Kalau nggak jeli lihat peluang dan kebohongan, bisa mati kelaparan kita di ibu kota," jawabku sambil tertawa pelan. "Ibu nggak marah kan Aryo bikin kacau Lebaran keluarga?"

"Marah apanya," Ibu terkekeh pelan. "Ibu malah plong. Rasanya kayak lepas beban batu sepuluh kilo dari pundak."

Ting! Ponselku yang berada di saku jaket berbunyi nyaring. Aku menepi sejenak di pinggir jalan untuk mengeceknya.

Di layar HP Xiaomi bututku, tertera notifikasi dari WhatsApp. [Anda telah dikeluarkan dari grup "Keluarga Besar Bani Joyo" oleh Admin (Budhe Siti)]

Aku tertawa terbahak-bahak. Sebuah reaksi yang sangat bisa diprediksi. Menghadapi aib yang terkuak, para boomer sombong itu memilih langkah pengecut: Memblokir kebenaran.

Namun, beberapa detik kemudian, notifikasi chat lain masuk bertubi-tubi. Chat pribadi. Dari Pakde Trisno (kakak laki-laki Ibu yang paling pendiam dan selalu dipinggirkan karena cuma pensiunan guru SD), dan Bulek Narti (adik Ibu yang jualan gorengan).

[Pakde Trisno]: "Yo, makasih ya Le. Pakde udah lama eneg sama kelakuan pamer mereka tiap Lebaran. Tadi pas kamu pulang, si Heri langsung digampar bapaknya gara-gara ketahuan beli mobil curian. Andre juga nangis diomelin Budhe Siti soal utang koperasi. Keren kamu, Yo! Top markotop!"

[Bulek Narti]: "Aryo sayang, makasih ya udah ngewakilin suara Bulek yang selama ini selalu ditindas mereka. Oiya, Bulek udah bikin grup WA baru, namanya 'Keluarga Waras Anti Utang'. Isinya cuma keluarga kita yang miskin tapi nggak banyak gaya. Kamu Bulek jadiin admin ya!"

Aku tersenyum membaca pesan-pesan itu. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat ngenes akhirnya ditegakkan.

"Kenapa, Yo? Senyum-senyum sendiri," tanya Ibu.

"Nggak apa-apa, Bu. Cuma dapet promosi jabatan," kataku sambil memasukkan kembali HP ke dalam saku.

"Promosi di kantor?"

"Bukan, Bu. Promosi jadi Admin Grup WA Keluarga."

Aku kembali memutar tuas gas motor Supra-ku. Mesin tua itu kembali mengerang membelah aspal menuju Purwokerto. Mungkin aku masih seorang Office Boy yang gajinya pas-pasan. Mungkin besok aku harus kembali membersihkan toilet kantor dan diomeli atasan. Tapi hari ini, di atas motor rongsokan ini, aku pulang sebagai seorang pemenang.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Komedi
Cerpen
Skakmat Tukang Flexing Saat Lebaran
cahyo laras
Flash
Bronze
Kamis Menangis
Arif Holy
Komik
Alice and friends
Kyota Hamzah
Flash
Bronze
Beautiful Widow 'Sake' Seller
Ceena
Flash
Bronze
Balikan, Yuk!
Dewi Fortuna
Cerpen
Bronze
Diary SMP
Haris Fadilah Hryadi
Komik
Bronze
Petualangan Athan dan Detektif Mammo
Andy widiatma
Flash
Bronze
The End of Joni Oblong
DMRamdhan
Flash
Bronze
Tukang Parkir Gaib
Risti Windri Pabendan
Flash
Penghuni Baru
Afri Meldam
Flash
Bronze
Midnight Market Kolong Jembatan
Silvarani
Cerpen
Kabur
Fazil Abdullah
Cerpen
Bronze
Pacaran bohongan, baper beneran
Fitriani
Cerpen
Lady Ciprut dan Gendhuk Tini
bomo wicaksono
Flash
Alasan Berteman
Karlia Za
Rekomendasi
Cerpen
Skakmat Tukang Flexing Saat Lebaran
cahyo laras
Novel
Catatan Harian Budak Korporat
cahyo laras
Cerpen
Mission Impossible : Ngirit Protocol
cahyo laras
Cerpen
Jatuh Hati Pada Guru SD
cahyo laras
Cerpen
Salah Target
cahyo laras
Cerpen
Maaf Hanya Bisa Ngasih Ini
cahyo laras
Cerpen
Akibat Mencoba Resep Ala Anak Kost
cahyo laras
Cerpen
Pencitraan Di Depan Mertua
cahyo laras
Cerpen
Temen Papah Zone
cahyo laras
Cerpen
Lolos Tilang, Harga Diri Hilang
cahyo laras
Cerpen
Cemburu
cahyo laras
Cerpen
Datang Bawa Malu, Pulang Bawa Duit (lagi)
cahyo laras
Cerpen
Percaya Mitos Yang Kurang Lengkap
cahyo laras
Cerpen
Nyobain ilmu Pelet
cahyo laras
Cerpen
Ayah Gebetanku Seram
cahyo laras