Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Thriller
Bronze
Sixth Sense
0
Suka
6,206
Dibaca

Dua: Sixth Sense

Dalam perjalanan ke pasar, aku melihat bocah itu. Bocah lusuh, bermuka pucat, yang sebagian tubuhnya dipenuhi memar, kakinya menapak, tapi tidak benar-benar menapak. Memanggil-manggil orang lewat, menangis sambil meminta bantuan. Aku salah satu yang dimintai bantuan, tetapi sama seperti orang lain yang mengabaikannya, aku juga melakukannya.

Sosok kasat mata, begitu orang menyebutnya. Sesuatu yang bisa kulihat, tapi selalu kuabaikan.

“Tolong aku! Aku mau pulang!”

Bocah kasat mata itu masih di tempat yang sama hari berikutnya. Memohon pada orang-orang meski tidak mendapat tanggapan.

“Kakak, tolong aku!”

Ekor mataku menangkap pergerakan menyedihkannya ketika bacah itu mengikutiku. Aku melihat kesamaan bocah itu dengan masa kecilku dulu. Sendirian, ketakutan, dan terus diabaikan. Masalahnya, aku masih hidup, sementara dia tidak. Aku bisa diselamatkan, sementara dia tidak. Maka dari itu, aku tidak menanggapinya.

“Aku ingin pulang. Aku ingin bertemu mama. Tolong bantu aku!”

Bukan lagi kepadaku dia memohon. Dia meratap pada orang berikutnya di belakangku. Tetapi dia adalah makhluk tidak terlihat. Siapa juga yang akan peduli padanya?

Ketika aku sampai di pasar, aku melihat selebaran itu. Selembar kertas pemberitahuan orang hilang. Di dalamnya ada foto dan keterangan terkait. Bocah itu tampak sama persis dengan yang ada di foto. Bedanya hanya keadaannya yang tidak lagi hidup.

Awalnya tidak ada untungnya menolong bocah itu, tapi jumlah imbalan yang ditawarkan dalam selebaran membuatku tertarik. Aku miskin dan aku tergiur dengan uang, makanya aku mengambil selebaran itu. 

 Sepulang dari pasar, aku masih mendapati bocah kasat mata itu di tempat yang sama. Kulampiri dia, berjongkok di depannya sambil menunjukkan selebaran untuk mendapat konfirmasinya.

“Aku akan membantumu kalau benar yang ada di foto ini adalah kau!”

Bocah itu mengangguk. “Iya. Ini aku. Aku ingin pulang. Aku ingin bertemu mama.”

“Kau sudah mati. Tahukan kau soal itu?” tanyaku.

Bocah itu menggeleng, terdiam sebentar, kemudian mengangguk.

Hari itu aku tidak langsung pulang. Aku menelepon keluarga bocah itu untuk mempertanyakan soal uang yang ditawarkan. Setelah keluarganya membenarkan, aku menyuruh mereka menemuiku.

Kedatangan mereka membuat gaduh. Lima orang, satu diantaranya adalah wanita. Dua orang menggunakan seragam polisi, satu lainnya berjaket kulit warna gelap, tapi di pinggangnya ada sepucuk senjata api. Sementara l...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp1.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Thriller
Cerpen
Bronze
Sixth Sense
Ju Khoyul
Cerpen
Bronze
Pria Tengah Malam
Ezra Jo
Flash
Elezier
Adel Romanza
Flash
Tirai Merah
Sekar Kinanthi
Skrip Film
Bayang Keadilan
Christian Kojoh
Novel
99 Ways To Ruin My Life (Feat. a Buron)
amelia
Flash
Refleksi Terakhir
Allamanda Cathartica
Cerpen
Bronze
Padang
Moment
Flash
Kisah Awak Sekoci
Suci A.D.T
Cerpen
Sasab
Topan We
Novel
Bronze
Mereka yang Dipanggil Monster
IyoniAe
Novel
DIALOGUE
Icha Trezna
Flash
SAKSI YANG TERLUPAKAN
zanu ariska wakhida ainia
Cerpen
Bronze
Dinding
Rere Valencia
Skrip Film
DILATASI
Albert Stefanus
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Sixth Sense
Ju Khoyul
Cerpen
Bronze
Innocent
Ju Khoyul
Novel
Bronze
Dipuja Setan
Ju Khoyul