Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Horor
Siulan di Pesantren Terlupakan
2
Suka
5,826
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Siulan di Pesantren Terlupakan

Ahmad duduk sendirian di aula pesantren yang gelap, merenung. Pesantren ini dikenal memiliki berbagai cerita seram, dan malam ini tidak terkecuali. "Senter ini memang seringkali tiba-tiba mati," gumam Ahmad sambil mencoba menyalakan senter yang mati dengan tombolnya. Namun, cahaya tetap padam. "Hm, aneh," ujarnya, memandangi senter yang tidak kooperatif. Tiba-tiba, bayangan hitam muncul di sudut ruangan, bersinar dengan cahaya biru samar. Ahmad terperanjat. "Siapa itu?" tanyanya, mencoba berbicara dengan bayangan yang misterius. Bayangan itu tetap diam, hanya bergerak mendekati Ahmad dengan langkah yang terdengar seperti desau angin. Bayangan ini pasti hanya imajinasi, kata Ahmad pada dirinya sendiri, mencoba meredakan kecemasannya. Ia selalu begini — santri lain sering meledeknya karena terlalu rasional untuk anak pesantren, terlalu cepat mencari penjelasan logis untuk segala hal yang tidak masuk akal. "Aku pasti terlalu lelah. Aku harus pergi ke kamar tidurku." Tapi saat ia berusaha beranjak, sebuah suara bisikan lemah terdengar di udara, seperti mantra kuno yang dinyanyikan dalam bahasa yang tidak dikenal. "Apa itu?" Ahmad terkejut dan berteriak, mencoba meminta agar bisikan itu berhenti. Bayangan semakin mendekat, muncul dalam kegelapan dan terlihat seperti sosok berpakaian kuno yang anggun, melayang tanpa menyentuh lantai. Ahmad berusaha melarikan diri, berlari menuju pintu, tapi pintu terbuka dan langsung tertutup dengan sendirinya dengan gerakan yang halus. Ia merasa terjebak. Bayangan itu mendekat dan mengambang di udara seperti penunggu kuno. Ahmad tidak bisa bergerak, hatinya penuh kecemasan — untuk pertama kalinya, akal sehatnya tidak bisa menemukan satu pun penjelasan. "Siapa kamu?" Ahmad berusaha meminta jawaban, tetapi bayangan itu tetap diam. Cahaya biru itu semakin terang, menelan bayangannya sendiri, dan detik berikutnya, aula itu kembali gelap total. Kosong.

Di tengah hutan yang gelap, terdengar suara siulan yang mengerikan, melengking panjang memecah keheningan malam. Suara itu adalah siulan Kuntilanak yang legendaris — suara yang konon dapat mengundang kehadiran roh jahat, dan yang lebih tua dari pesantren itu sendiri.

Santri-santri pesantren mencari-cari Ahmad dengan cahaya lilin, menciptakan bayangan menakutkan di dinding-dinding pesantren yang tua. "Ahmad, kau di mana?" teriak Fajar, suaranya paling lantang di antara yang lain. Ia sudah dua kali mengelilingi aula, memeriksa setiap sudut dengan lilin yang nyaris padam di tangannya. Rizal berjalan di belakang, menempel dekat tembok. "Fajar, coba dengar. Ini terlalu sunyi. Pesantren ini nggak pernah sesunyi ini di malam hari." "Jangan mulai," sahut Fajar tanpa menoleh. "Kita cari Ahmad dulu, cerita seram nanti saja." "Aku serius," Rizal bersikeras, "waktu kecil, nenekku bilang kalau tempat yang tiba-tiba sunyi total begini itu tandanya ada yang sedang menunggu." Yusuf, yang berjalan paling belakang sambil menggenggam tasbihnya, tidak berkata apa-apa. Bibirnya bergerak pelan, membaca zikir tanpa suara, matanya terus mengawasi sekeliling. Mereka menemukan ponsel Ahmad tergeletak di aula, dengan tanda-tanda terbakar yang aneh di bagian belakangnya. "Lihat ini!" Fajar mengambilnya, memutar-mutar ponsel itu di tangannya sebelum menyalakan videonya. Video itu dipenuhi cahaya biru dan suara-suara yang terdengar seperti mantra kuno. Rizal mundur satu langkah, tangannya refleks menutup mulut. "Itu bukan mantra kuno biasa," gumam Yusuf pelan, suaranya nyaris berbisik. "Aku pernah dengar Kyai membacakan ini sekali — itu panggilan." "Panggilan buat apa?" tanya Fajar, meski dari nada suaranya, dia sudah tahu jawabannya tidak akan menenangkan. Yusuf tidak menjawab. Ia hanya menggenggam tasbihnya lebih erat, dan tanpa diminta, suara siulan yang sama dari malam sebelumnya kembali terdengar samar dari kejauhan, membuat ketiganya membeku sejenak sebelum berlari kembali ke dalam pesantren.

Beberapa minggu kemudian, santri-santri mengumpulkan diri mereka di hadapan Kyai yang bijaksana, sambil menceritakan semua yang telah mereka temui dan alami sejak malam Ahmad menghilang. Kyai mendengarkan dengan serius, sesekali menutup matanya seperti sedang menahan sesuatu yang berat. "Sepertinya ada roh-roh yang terjebak di pesantren ini," katanya akhirnya. "Suara siulan Kuntilanak mungkin menjadi pemicu bagi kejadian-kejadian ini, dan Wewe Gombel selalu datang mengikutinya, mengincar mereka yang sendirian dan lengah." "Bagaimana kita bisa membantu Ahmad, Kyai?" tanya Yusuf. Kyai menatapnya lama, lalu bangkit dan mengambil segulung kertas tua dari dalam lemari kayunya. Di kertas itu tertulis ayat-ayat dengan tinta yang mulai memudar. "Bawa ini," katanya, menyerahkannya pada Yusuf. "Kalau kalian bertemu mereka, jangan lawan dengan ketakutan. Lawan dengan doa yang mantap, dibaca bersama-sama, tanpa terputus. Dan ingat baik-baik — jangan pernah menatap wajah Kuntilanak kalau rambutnya tersibak. Yang melihatnya akan kehilangan akal untuk waktu yang lama." Yusuf menggenggam gulungan kertas itu erat-erat, seperti menggenggam nyawa seseorang. "Kita harus segera mencari Ahmad," kata Fajar. "Sudah terlalu lama." Kyai mengangguk pelan. "Pergilah. Tapi jaga satu sama lain. Roh-roh itu paling kuat saat manusia terpecah."

Malam itu juga, keempat santri — Fajar, Rizal, Yusuf, dan seorang lagi bernama Dimas yang ikut membawa lentera — meninggalkan pesantren menuju hutan di sekitarnya, mengikuti arah dari mana suara siulan biasa terdengar. "Kita dengar itu lagi," bisik Rizal, memegangi lengan Dimas. "Suara aneh seperti siulan Kuntilanak. Apakah itu benar-benar akan muncul di depan kita?" "Sekarang bukan waktu untuk berpikir tentang cerita seram," sahut Fajar tegas, meski langkahnya sendiri melambat. "Kita harus mencari Ahmad." "Tapi yang terakhir," Rizal masih bersikeras, "itu suara seperti ancaman Wewe Gombel juga." "Kita akan mencari Ahmad dengan hati-hati," kata Yusuf, tangannya tak lepas dari gulungan kertas pemberian Kyai. "Mari bergerak bersama, jangan ada yang tertinggal." Mereka bergerak dalam diam setelah itu, mendekati suara-suara aneh yang semakin jelas terdengar. Cahaya lentera Dimas bergoyang-goyang, menciptakan bayangan panjang di antara pepohonan. "Ssst, aku mendengar sesuatu. Itu dekat sini," bisik Fajar, mengangkat tangan memberi tanda berhenti. "Kita harus hati-hati. Siapa tahu itu Ahmad atau—" Rizal tak sempat menyelesaikan kalimatnya. "Aku lihat dia di sana! Ahmad!" Dimas berlari duluan, mengangkat lenteranya tinggi-tinggi. Ahmad terlihat meringkuk di dekat akar pohon besar, tubuhnya penuh luka gores dan wajahnya pucat pasi. "Kuntilanak... Wewe Gombel... Mereka di sini. Mereka mengejar aku!" Ahmad nyaris tidak bisa bicara jelas, tubuhnya gemetar hebat. "Ahmad, ini aku, Fajar." Fajar mencengkeram bahunya. "Kau aman sekarang." Ahmad menatap Fajar, matanya masih liar ketakutan. "Aku pikir itu cuma bayangan. Aku pikir aku cuma terlalu lelah, terlalu banyak pikiran. Aku bahkan sempat bilang ke diriku sendiri itu cuma imajinasi—" "Itu bukan salahmu," potong Yusuf tenang, meletakkan tangan di pundak Ahmad. "Yang penting sekarang, kita bawa kau pulang." Tapi Ahmad menggeleng cepat, matanya berkaca-kaca. "Kalian nggak percaya, kan? Aku juga nggak percaya sampai—" Suara siulan yang mereka kenal kembali terdengar, kali ini jauh lebih dekat, seolah datang dari empat arah sekaligus.

Mereka mundur, mendekat ke tempat terbuka di hutan, berlindung di sana sementara suara-suara aneh semakin mendekat. "Mengapa mereka mengejar aku? Apa yang terjadi?" bisik Ahmad, suaranya bergetar, tapi kali ini ia memaksakan diri berdiri, meski kakinya masih goyah. "Kami tidak tahu," jawab Fajar, "tapi yang terpenting sekarang adalah mencari jalan keluar." Rizal, yang sedari tadi memegang erat tasbihnya sendiri, tiba-tiba berhenti melangkah. "Dengar itu?" Siulan itu berhenti. Kesunyian yang datang lebih menakutkan daripada suara itu sendiri. Angin berhenti bertiup. Bahkan serangga malam ikut diam. Lalu, dari balik pepohonan, muncul sesosok wanita berambut panjang tergerai, wajahnya tertutup rambutnya sendiri, melayang beberapa jengkal di atas tanah. Di sisi lain, sesosok tua bertubuh besar dengan payudara panjang tergantung di bahunya berdiri diam, matanya menyala merah dalam gelap. "Kuntilanak," gumam Dimas, mundur selangkah. "Dan itu... Wewe Gombel." Kami datang untukmu, Ahmad. Suara itu tidak keluar dari mulut si Kuntilanak — suara itu muncul langsung di kepala mereka semua, seperti bisikan yang menembus tengkorak. Ahmad jatuh berlutut, memegangi kepalanya. "Berhenti... berhenti!" Wewe Gombel melangkah maju, tanah yang diinjaknya seperti tidak menahan beratnya sama sekali. Fajar menarik lengan Ahmad, mencoba menyeretnya mundur, tapi kaki Ahmad seakan terpaku, seperti ada sesuatu yang menahannya dari bawah tanah. "Dia tidak bisa bergerak!" teriak Dimas. Yusuf teringat pesan Kyai. Tangannya gemetar saat merogoh saku, mengeluarkan gulungan kertas berisi ayat-ayat yang dituliskan Kyai untuk berjaga-jaga. "Ahmad! Ikuti aku, ucapkan ini bersama-sama!" Yusuf mulai membaca, suaranya pecah di awal, tapi semakin lama semakin mantap. Kuntilanak mendesis, suaranya berubah menjadi lengkingan yang membuat telinga mereka berdenging. Wewe Gombel mundur setengah langkah, tapi matanya tetap mengunci Ahmad. "Ahmad, ucapkan!" Fajar mengguncang bahunya. Dengan suara tercekat, Ahmad mulai ikut membaca, meski tubuhnya masih gemetar hebat. Satu kata, dua kata — dan tiba-tiba ia merasa cengkeraman di kakinya melonggar. "Terus, Ahmad, jangan berhenti!" Cahaya biru redup yang sedari awal mengelilingi bayangan itu mulai berkedip, seperti nyala lilin yang kehabisan angin. Kuntilanak melayang mundur, wajahnya yang tertutup rambut mendadak menoleh — dan untuk sepersekian detik, rambutnya tersibak, memperlihatkan sesuatu yang membuat Rizal menjerit dan langsung menutup matanya sendiri. "Jangan lihat wajahnya!" teriak Yusuf. Bacaan mereka semakin cepat, semakin keras, bersahutan satu sama lain. Wewe Gombel mengaum — bukan suara manusia, lebih mirip lolongan yang ditekan dari dalam tanah — lalu tubuhnya perlahan larut menjadi asap hitam yang tersapu angin yang tiba-tiba berembus kencang. Ahmad ambruk ke tanah, napasnya tersengal. Kakinya bebas. Untuk sesaat, hutan itu benar-benar sunyi. Tidak ada siulan. Tidak ada bisikan. Hanya suara napas mereka yang berat, dan suara Ahmad yang terisak pelan, antara lega dan syok. "Ahmad," Fajar berlutut di sampingnya, "kau baik-baik saja?" Ahmad hanya bisa mengangguk, matanya masih menatap kosong ke arah pepohonan tempat kedua sosok itu menghilang. Rizal, masih memegangi matanya sendiri, perlahan membuka jari-jarinya. "Aku... aku lihat sesuatu tadi. Aku nggak tahu apa itu, tapi—" "Jangan diceritakan," potong Yusuf cepat. "Kyai bilang, yang melihatnya sebaiknya tidak mengingatnya kembali dalam kata-kata. Cukup simpan, dan berdoalah agar kau lekas melupakannya." Rizal terdiam, tangannya masih sedikit gemetar.

Mereka kembali ke pesantren sesaat sebelum azan Subuh berkumandang, membawa Ahmad yang nyaris tidak bisa berjalan sendiri. Kyai sudah menunggu di gerbang, seolah tahu mereka akan pulang saat itu juga. Kyai mendengarkan cerita mereka dalam diam, sesekali menghela napas panjang. Setelah mereka selesai bercerita, ia menatap Ahmad lama. "Kau beruntung," katanya akhirnya. "Tapi ingat, roh-roh semacam itu tidak pergi selamanya hanya karena diusir sekali. Mereka menunggu celah — rasa takut, rasa sendirian, hati yang lengah." Ahmad menunduk. "Kenapa mereka memilih saya, Kyai?" Kyai tidak langsung menjawab. Ia hanya meletakkan tangan di pundak Ahmad. "Itu pertanyaan yang harus kau renungkan sendiri, Nak. Tapi malam ini, kau tidak sendirian menghadapinya — dan itu yang menyelamatkanmu." Ahmad mengangguk pelan, meski matanya masih menyimpan sesuatu yang tidak terucap.

Sejak malam itu, aktivitas paranormal di pesantren berangsur mereda. Senter tidak lagi mati tanpa sebab, dan pintu-pintu tidak lagi menutup sendiri di tengah malam. Namun sesuatu berubah dalam diri Ahmad. Ia tidak lagi buru-buru mencari penjelasan logis untuk hal-hal yang tidak masuk akal. Ia lebih banyak diam, lebih sering duduk di dekat Yusuf saat mengaji, seolah mencari sesuatu yang dulu tidak ia percayai keberadaannya. Fajar tetap menjadi yang paling praktis di antara mereka, meski kini ia tak lagi meremehkan cerita-cerita Rizal seperti dulu. Dimas, yang malam itu ikut menyaksikan segalanya, memilih untuk lebih banyak berdiam di masjid ketimbang bercerita ke santri lain — matanya menyimpan sesuatu yang enggan ia bagikan. Rizal sendiri tak pernah benar-benar menceritakan apa yang ia lihat sekilas di balik rambut Kuntilanak malam itu. Setiap kali ditanya, ia hanya menggeleng pelan dan berkata, "Ada hal-hal yang lebih baik tidak diingat kembali." Cerita tentang malam itu perlahan menyebar di antara para santri, berubah dari mulut ke mulut, sebagian dibesar-besarkan, sebagian sengaja disamarkan. Yang pasti, setiap kali angin malam bertiup terlalu kencang di sekitar pesantren, atau ketika suara siulan samar terdengar dari kejauhan, semua orang di sana tahu — pesantren itu tidak pernah benar-benar sunyi dari masa lalunya, dan sesuatu di hutan itu mungkin saja masih menunggu, sabar, untuk celah berikutnya.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (2)
Rekomendasi dari Horor
Novel
Darah Di Belakang Sekolah
Nabilla Shafira
Cerpen
Siulan di Pesantren Terlupakan
Riverside Village
Novel
SARI, Arwah Penasaran yang terundang
Efi supiyah
Novel
Gold
The Boy Who Drew Monsters
Mizan Publishing
Cerpen
Senyap di Malam
ASEP SAEPULOH
Novel
Bronze
The Haunting Truth
Edelmira (Elmira Rahma)
Flash
Fever
Rama Sudeta A
Flash
Negeri Cermin
BANYUBIRU
Flash
Panggilan
Galdev
Novel
Gold
We Have Always Lived in the Castle
Mizan Publishing
Skrip Film
Sihir Marongge
Vitri Dwi Mantik
Flash
Pesta di Malam Itu
eunike_xiuling
Cerpen
Bronze
Asal Usul Bonsai Tangisan
Nuel Lubis
Flash
Bronze
Ketukan Bolpoin
Sunarti
Novel
Bronze
AVENDOR
Audhy R.H
Rekomendasi
Cerpen
Siulan di Pesantren Terlupakan
Riverside Village
Cerpen
Meraih Mimpi Papa
Riverside Village
Cerpen
Malam Seram di Rumah Baru
Riverside Village
Cerpen
Jauh
Riverside Village
Cerpen
Gerbang Kebebasan
Riverside Village