Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Simfoni Karat dan Senar Putus
Jarum jam di dinding bengkel tua itu tidak pernah berdetak, ia hanya bergetar, seolah ketakutan oleh suara bising perkakas yang diadukan Malik dengan meja besi.
Di sudut ruangan yang lain, udara malam yang pengap dipaksa mengalah pada wangi minyak pelumas dan aroma kayu pinus dari biola kuno milik Arya.
Mereka adalah dua kutub yang dipaksa menetap dalam satu garis bujur; Malik dengan jemari yang kapalan dan dipenuhi noda hitam oli, sementara Arya memiliki jemari lentik yang sanggup melahirkan badai atau ketenangan hanya dari seutas senar.
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun bersahabat, tak ada suara musik atau dentang besi hanya ada keheningan yang tajam, seperti pecahan kaca yang siap diinjak.
"Kamu tahu, Lik," suara Arya memecah kesunyian,...