Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Rafa Umbara akhirnya berhasil mendapatkan pekerjaan berkat bantuan teman lamanya, Emon, setelah enam bulan menganggur.
Rafa ditempatkan di bagian yang sama dengan Emon, cuci piring di Serambi Rasa Restaurant, menggantikan partner Emon yang baru saja resign.
Mereka berdua tidak menyangka, takdir mempertemukan kembali setelah berpisah sejak lulus SD, ketika Emon ikut orang tuanya pindah ke kota.
Rafa menjalani pekerjaan barunya dengan semangat, meski rasa lelah dan jenuh itu pasti ada. Namun semangatnya tidak padam.
Dikala waktu luang, Rafa suka duduk di dapur melihat apa yang kru dapur lakukan. Karena itu, Rafa dimanfaatkan oleh bagian sayur-sayuran, Arzan. Rafa diminta melakukan pekerjaannya dan Rafa melakukannya, meski ada kesal dalam hatinya karena pria bernama Arzan itu memintanya dengan songong.
“Rafa, sini lu!” tangan Arzan melambai ke arah Rafa.
Rafa mendekat. “Ada apa, Bang?”
“Sini, potong brokoli ini kaya gini.” Arzan mencontohkan dengan satu batang sayur sebelum pergi meninggalkan tugasnya.
“Raf, lu ngapain di situ?” Emon tiba-tiba masuk dapur dan melihat Rafa mengerjakan yang bukan pekerjaannya.
"Motong sayur,” sahut Rafa singkat dan menjeda aktivitasnya. Dia menoleh ke arah Emon.
“Udah tinggalin aja! Ikut yuk nongkrong di belakang, mumpung lagi gak ada tamu,” ajak Emon.
“Nggaklah, lu aja. Gua lagi sibuk,” tolak Rafa dan melanjutkan pekerjaannya. Emon mendengus melihat perubahan temannya.
“Itu tu bukan kerjaan lu, ngapain? Bang Arzan paling lagi enak-enakan ngerokok di loteng,” lanjut Emon.
“Nggak apa-apa.”
“Gila, lu. Ya udah kalo nggak mau, gua cabut.” Emon berlalu dari hadapan Rafa.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Kebiasaan Rafa membantu di dapur membuat para kru mulai mengenalnya lebih dekat.
Hingga akhirnya Rafa dipindahkan ke dapur, menjadi cook helper, tepatnya di bagian sayuran menggantikan salah satu anak yang resign.
Itu karena Rafa sudah paham betul bagaimana bentuk dan ukuran potongan sayur mayur di sana. Kini dia menjadi partnernya Arzan.
Bukan hanya membersihkan dan memotong sayur, dia juga kadang diminta membantu bagian tepungan. Rafa tidak keberatan melakukannya, meski dalam hatinya kadang merasa jengkel.
Teman-temannya seakan tak tau diri. Namun, Rafa tetap menahan agar emosinya tetap stabil. Walaupun dalam hati rasanya dia ingin memukul wajah mereka.
Sudah dibantu, kadang masih ada saja yang mengatainya cari muka, penjilat, sok dan sebagainya. Namun, Rafa tidak mau ambil pusing karena tujuannya memang untuk belajar bukan seperti yang mereka tuduhkan.
“Huh, capek banget,” keluh Rafa setelah merebahkan diri di lantai keramik, membiarkan sensasi dingin merayap di kulit sambil matanya menatap ke langit-langit kamar kost.
Pikiran Rafa melayang ke waktu saat ia masih duduk di kelas dua belas SMA. Dia begitu bersemangat mengisi formulir pendaftaran kuliah.
Namun, harapannya pupus ketika ingat wajah lelah ayahnya yang berkata, “Nak, maafin Ayah. Kamu nggak bisa lanjut kuliah karena ayah nggak punya biaya. Ayah cuma mampu sampai kamu lulus SMA aja.” Matanya menampakkan kekecewaan karena ketidakberdayaannya.
“Tapi … kalau kamu nanti punya uang sendiri dan mau kuliah silakan. Ayah cuma bisa ngasih dukungan dan doa terbaik,” lanjut ayah.
“Nggak apa-apa, Yah. Rafa langsung kerja aja, nanti Rafa bisa bantu-bantu ayah, ibu sama adik,” sahut Rafa.
Ia mengembangkan senyum yang sebenarnya dipaksakan. Rafa hanya ingin orang tuanya melihat jika dirinya baik-baik saja.
“Jangan! Sebaiknya uangnya kamu tabung aja buat keperluan kamu. Nggak usah terlalu mikirin ayah sama ibu. Ayah masih sehat dan bisa kerja,” tambahnya.
Betapa ayah tidak mau membebani anaknya di tengah kehidupannya yang terasa tidak mudah.
“Tapi Yah ….”
“Nggak usah balas-balas budi segala. Anak itu memang tanggung jawab orang tua. Sekarang kamu udah gede, tanggung jawab sama diri kamu sendiri,” kata ayah seolah tahu isi pikiran Rafa.
“Baik, Yah,” sahut Rafa. Mulai saat itu Rafa berjanji pada dirinya sendiri, bahwa dia akan mencari jalan sendiri untuk meraih kesuksesan.
Kuliah mungkin bukan jalannya, tetapi bukan berarti dia gagal. Dia akan bekerja keras, belajar dari mana saja. Suatu hari nanti dia akan membuktikan bahwa tanpa gelar sarjana pun, dia bisa menjadi orang yang berhasil.
Rafa menghela napas panjang, mengusap seragam yang masih melekat di tubuhnya. Ia sadar, Serambi Rasa bukan sekadar tempat kerja, tetapi sebagai kampusnya juga.
Setiap sayur yang dipotong, setiap wajan yang dilihatnya dipakai chef, setiap kompor yang dinyalakan adalah pelajaran.
Mungkin dia tak akan pernah memakai toga, tapi suatu hari nanti, dia akan punya usaha sendiri. Warung makan sederhana yang menghidangkan masakan lezat dengan harga terjangkau. Itulah gelarnya nanti.
Dia tersenyum tipis, menatap langit-langit kamar kost. Lelah? Tentu. Tapi dibalik itu, ada keyakinan yang terus tumbuh. Dia sedang menempuh jalan panjangnya sendiri, dengan caranya sendiri.
Bulan demi bulan dijalani Rafa dengan ritme yang sama. Kini, dia mulai merambah ke bagian menggoreng. Saat restoran tak terlalu ramai dan pesanan tamu hanya dari satu meja, Rafa tak segan mendekat dan bertanya pada Chef Chandra, sang chef kepala, ketika beliau sedang memasak menu.
Beruntung, Chef Chandra tak pernah keberatan. Dengan sabar ia berbagi ilmu. Rafa pun memperhatikan bagaimana sang chef bertanggung jawab penuh atas operasional dapur, hingga menyusun dan menciptakan menu baru.
Di setiap waktu luang, Rafa terus belajar, sampai akhirnya ia diangkat sebagai line cook, menggantikan karyawan yang mengundurkan diri.
Hubungannya dengan Chef Chandra pun semakin dekat karena Chef Chandra menyukai kinerja dan keinginan belajar Rafa yang tinggi. Mereka sudah seperti ayah dan anak saja.
Namun, di balik itu, gunjingan semakin menjadi. Penjilat, menjadi cap paling keji yang disematkan padanya, tetapi Rafa tidak ambil pusing, selama tak didengarnya langsung, ia biarkan saja. Baginya, justru yang menghujat adalah penjilat sebenarnya namun mereka gagal. Rafa yakin, yang menuduh justru pelakunya.
Malam itu restoran tampak sepi, hanya beberapa meja yang terisi. Namun sisa-sisa kesibukan kemarin masih terasa, bahan-bahan banyak yang hampir habis, bahkan beberapa sudah tak tersisa.
Chef Chandra meminta bantuan Rafa untuk melakukan stock opname barang dan bumbu. Dengan teliti, dia memeriksa isi kulkas dan freezer sambil mencatat segala yang harus segera dibeli atau dibuat.
Di sudur lain, Arzan terlihat sedang asyik mencoba menumis kangkung. Ia menggoyang-goyang kuali persis seperti yang kadang dilakukan Rafa saat membantu juru masak.
“Zan, lu ngapain?” tanya seorang kru dari bagian tepungan, memperhatikan tingkah Arzan yang tak biasa.
“Ngejilat dulu, siapa tau naik pangkat,” sahut Arzan dengan nada mengejek.
Mereka sengaja bersandiwara, berharap sindiran itu terdengar oleh Rafa yang sibuk menulis di atas meja stainless.
Rafa tahu itu ditujukan untuknya, tetapi ia hanya tersenyum kecil. Di balik senyum itu, ada keyakinan, bahwa yang mereka sebut "jilat" adalah usahanya untuk belajar.
Sepulang kerja, Rafa dan Emon singgah dulu ke warung nasi goreng di pinggir jalan. Aroma bawang putih yang ditumis di atas wajan besar langsung menyambut, membuat keduanya menelan ludah.
“Gila, laper banget gua,” kata Emon sambil menarik kursi plastik lalu duduk.
“Lauk karyawan tadi parah banget. Perkedel doang dua biji, nggak ketelan gua,” lanjutnya. Ia membuka wadah kerupuk dan memasukkan beberapa ke mulut.
“Kenapa lu nggak nyamperin gua? Kalo lu bilang, gua bisa gorengin lu telur,” sahut Rafa.
“Nggaklah. Gua nggak mau ngerepotin lu. Lagian kuping gua panas dengerin orang ngomongin lu. Rasanya pengen gua tonjok muka mereka semua. Tapi gua mikir, ntar gua dikeluarin dari SR. Lu tau sendiri, nyari kerjaan susah.”
Obrolan mereka terjeda ketika pesanan nasi goreng datang. Asapnya mengepul, aromanya begitu menggoda bagi perut yang lapar. Tanpa menunggu lama, dua sahabat itu langsung menyantapnya.
“Lu sendiri nggak panas dengerin orang ngomongin lu? Nggak mungkin lu nggak tau, kan?” lanjut Emon di sela-sela makannya.
“Ya … kalau mau nurutin emosi, sejak awal gue udah dikeluarin dari SR,” jawab Rafa lalu menyendok nasi ke dalam mulut.
“Emang kerja itu harus banyak-banyak sabar. Kuping harus tebal, hati harus baja, muka harus tembok. Di tempat kerja banyak manusia muka dua, bahkan tembok pun bisa ngomong. Gila bener! Di depan bisa aja muji-muji, eh di belakang malah ngejelek-jelekin,” cerocos Emon panjang lebar, entah curhat atau bagaimana. Yang pasti, Rafa tetap mendengarkan celotehan sahabatnya itu.
“Lu sendiri nggak capek apa disuruh ini itu sama anak dapur? Belum lagi sekarang Chef Chandra juga ikut-ikutan manfaatin lu. Gedek gua! Udah tua malah ikut-ikutan aja, dia enak-enak ngilang abis nyuruh lu ngerjain kerjaan dia,” lanjutnya.
Rafa menghela napas panjang. “Capek sih pasti. Gua kan manusia buka robot, tapi selama gua bisa ambil manfaat dari apa yang gua kerjakan, why not?”
"Ha? Maksud lu?" Emon menjeda suapannya dan mengerutkan kening. Ia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh sahabatnya.
"Di mata orang lain mungkin gua kelihatan dimanfaatin, tapi sebenarnya di sana gua lagi belajar."
"Belajar tu di Sekolah, Raf. Di serambi bukan waktunya lagi buat belajar, di sini tu kita cari duit." Emon melanjutkan makannya.
Rafa menjeda suapannya dan bekata, "Tempat kerja emang bukan tempatnya belajar, tapi dari apa yang gua kerjakan gua belajar. Yang gua dapat adalah pengalaman dan skill yang mungkin bakalan bisa datangin lebih banyak duit nantinya," jelas Rafa. Dia mengunyah nasi.
“Belajar tu gak harus di sekolah, guru juga gak harus yang bergelar sarjana,” sambung Rafa. Emon hanya menyimak dan mengangguk pelan.
“Kalau kita kerja cuma ngejar duit, cuma cape doang yang dapat. Belum lagi kalo duit cepat abis," tambahnya Rafa lagi. Dia menyendok dan memasukkan nasi ke dalam mulut.
"Jadi maksud lu, lu gak ngerasa di manfaatin Chef Chandra, karena lu bisa mengambil manfaat dari apa yang lu kerjakan itu?"
"Nah, itu!" kata Rafa. "Kita tu jangan terlalu perhitungan, nanti rugi sendiri. Terlalu perhitungan bisa melewatkan kesempatan," lanjutnya.
Emon kembali mengangguk pelan, otaknya mencoba mencerna semua perkataan Rafa. Matanya menerawang, memikirkan bagaimana Rafa berada di posisinya yang sekarang, sementara dirinya masih setia di bagian cuci piring.
"Ya, tapi lihat-lihat juga, kalau kira-kira gak ada manfaatnya apalagi kalau bakalan ngerugiin,ya jangan mau," kata Rafa lagi.
“Gua akui prinsip lu keren, tapi gua belum bisa kaya lu. Gua masih sulit kontrol emosi kalau yang nyuruh songong-songong. Gua sementara masih betah di posisi gua,” ujar Emon.
“Itu pilihan lu,” sahut Rafa.
Hari-hari terus berlalu. Kerja keras, lelah, dan gunjingan seolah tak pernah berhenti menjadi bagian dari hidup Rafa. Namun, satu hal tetap sama, prinsipnya tak berubah. Tanpa terasa, enam tahun sudah ia habiskan di Serambi Rasa Restaurant.
Suatu hari, kabar mengejutkan menyebar, Chef Chandra akan mengundurkan diri bulan depan. Tak ada satu pun kru yang tahu apa alasannya.
Owner jadi pusing memikirkan hal itu, mereka harus segera mencari pengganti, tetapi rasa masakan? Tidak ada jaminan. Setiap chef memiliki ciri khasnya sendiri dan mengganti tangan berarti mengganti rasa.
Owner kemudian teringat sesuatu, kedekatan Rafa dengan Chef Chandra. Selama ini mereka sering terlihat bekerja bersama dan Chef Chandra beberapa kali memuji Rafa, meskipun tidak pernah secara terbuka.
Karena itu, owner meminta Rafa mencoba memasak beberapa menu andalan. Masakan itu kemudian dicicipi oleh owner dan jajaran manajemen dalam sesi test food.
Hasilnya, rasa masakan Rafa nyaris identik dengan masakan Chef Chandra. Seolah tangan yang sama yang memasaknya.
Ternyata, selama ini Chef Chandra sering bercerita tentang Rafa, tentang etos kerjanya, ketelitiannya dan bagaimana Rafa diam-diam belajar dari setiap tugas tambahan yang diberikan.
Namun, owner tetap ingin memastikan, maka test food pun dilakukan beberapa kali. Hasilnya tetap sama, konsisten dan tidak berbeda dari rasa asli yang menjadi ciri restoran itu.
Setelah Chef Chandra benar-benar resmi resign, keputusan pun diumumkan. Rafa diangkat sebagai penggantinya.
Seluruh kru restoran tercengang. Arzan dan orang-orang yang dulu suka menjelek-jelekkan Rafa hanya bisa saling pandang dan membeku di tempat.
Emon langsung bertepuk tangan keras-keras, membuat yang lain ikut menyusul walaupun tak sepenuh hati.
Rafa berdiri mematung sejenak, tak percaya bahwa prinsip yang ia pertahankan bertahun-tahun akhirnya membawanya sejauh ini.
Arzan melipat tangan di dada, sudut bibirnya tertarik membentuk senyum sinis, sangat tipis sehingga tak ada yang menyadari.
Sehari sebelum benar-benar meninggalkan Serambi Rasa Restaurant, Chef Chandra memanggil Rafa setelah jam operasional selesai.
Meja stainless steel sudah bersih, kompor dimatikan, hanya lampu kuning redup yang menyisakan bayangan.
“Raf, bantu gue satu hidangan terakhir,” katanya sambil membuka kulkas bahan.
Rafa sedikit bingung. “Hidangan apa, Chef?”
“Pesanan terakhir gue di restoran ini. Yang cuma lu yang bisa nyamain rasanya.”
Chef Chandra menyerahkan celemeknya pada Rafa. “Mulai hari ini, lu yang lanjut. Gue mau lu masak menu andalan kita, yang paling laris di sini.”
Rafa mengangguk dan langsung bergerak. Ia menyalakan lampu lalu menyiapkan bahan, memotong, menumis, dan meracik bumbu persis seperti yang diajarkan Chef Chandra selama ini.
Chef hanya berdiri di belakang, memperhatikan setiap gerakannya tanpa banyak bicara. Aroma masakan memenuhi dapur.
Setelah selesai, Chef mencicipi satu sendok. Ia menatap Rafa lama, lalu tersenyum tipis.
“Udah,” katanya singkat. “Lu siap?”
Itu saja, tidak ada pidato panjang, tidak ada perpisahan khusus. Chef Chandra menepuk bahu Rafa dua kali seperti kebiasaannya.
“Habis ini, lu gantiin gua. Kerja yang bener!”
Dan itulah pesanan terakhir dari Chef Chandra. Bukan hanya masakan, tetapi juga kepercayaan penuh yang akhirnya mengubah jalan hidup Rafa.
Selesai