Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Pukul lima sore. Empat juta lima ratus ribu rupiah menguap dari layar ponsel Nadia. Angka di kolom saldo berubah menjadi nol, menyapu bersih seluruh sisa honor mengajar yang ia kumpulkan selama enam bulan. Di garasi samping yang terbuka lebar ke arah jalan kompleks, derai tawa Bagas meledak, menenggelamkan suara gesekan kompor minyak dan desis air mendidih dari dapur.
Bagas sedang berjongkok di samping pelek mobil bekas yang baru ia beli dua hari lalu. Tiga kawannya duduk mengepung di atas kursi lipat, memegang kaleng soda dingin sembari merokok santai. Bau tiner, cat semprot, dan oli bekas membumbung tinggi, menyusup masuk melewati celah ventilasi dapur tempat Nadia berdiri.
Nadia melangkah keluar menuju ambang pintu garasi. Ponsel di genggamannya terasa memberat.
"Mas," suara Nadia tertahan di tenggorokan, tetapi cukup kencang untuk menembus gelak tawa di garasi. "Pemilik rumah udah nagih lagi. Barusan aku udah lunasi semua. Aku capek dikejar-kejar terus.”
Bagas menghentikan usapan kain lap di pelek mobilnya. Ia mendongak sebentar, menyapu keringat di dahi menggunakan lengan kaus yang bernoda hitam. "Terus? Kalau udah dibayar, ya sudah."
"Itu uang simpananku untuk tabungan pendidikan Tari, Mas," balas Nadia menahan volume suaranya. Jemarinya mencengkeram tepi pintu kayu hingga buku-buku jarinya memutih. "Uang buat bayar listrik, bayar air, belanja dapur mana? Rekeningku sudah kosong."
Bagas menghela napas panjang, melirik dua temannya yang mendadak diam memandangi kaleng soda masing-masing. Pria itu berdiri, mengibaskan debu di celana jeansnya, lalu melangkah mendekati Nadia dengan raut wajah yang menggelap.
"Nanti tak ganti kalau komisi penjualanku turun minggu depan, Nad," bisik Bagas, suaranya menekan tajam. "Lagi pula, tempat tinggal ini kan kita pakai bersama. Kamu bisa tidak jangan membahas masalah uang di depan teman-temanku? Malu-maluin saja."
Sebelum Nadia sempat membalas, sesosok tubuh mendekat dari arah dapur. Ibu menarik pelan lengan baju Nadia, menggeser tubuh anak perempuannya itu masuk kembali ke dalam, jauh dari jangkauan mata orang-orang di garasi.
Ibu mematikan keran air, lalu mengambil lap serbet untuk mengeringkan tangannya sendiri. Wajah wanita lima puluh lima tahun itu tampak tenang, tanpa riak amarah sedikit pun.
"Jangan adu mulut dengan suamimu di depan teman-temannya," tegur Ibu dengan nada rendah. "Laki-laki itu punya rasa segan. Kalau kamu cecar begitu di depan orang lain, kamu membuat suamimu merasa kerdil."
Nadia menatap ibunya dengan pandangan tidak percaya. "Tapi dia bisa beli cat pelek mobil dan traktir teman-temannya, Bu. Sementara uang sewa rumah yang jatuh tempo dibiarkan menumpuk sampai pemilik rumah mengancam mau mengunci pagar."
Ibu mengambil nampan kayu, menata empat cangkir keramik di atasnya dengan gerakan ritmis. "Dulu waktu bapakmu dirumahkan dari pabrik tekstil, Ibu tidak pernah berteriak menanyakan uang belanja. Ibu yang jualan kue basah keliling kompleks dari jam empat subuh. Bapakmu tidak pernah tahu berapa sisa uang di dalam lemari. Yang dia tahu, makan malam tetap dihidangkan dan tagihan listrik selalu lunas."
"Itu beda, Bu!" pangkas Nadia, dadanya terasa makin sesak oleh udara dapur yang lengket. "Bapak dulu di-PHK. Bagas ini sengaja menunda bayar sewa karena tahu saya punya simpanan gaji. Padahal, gaji saya tidak seberapa."
Ibu memosisikan cangkir terakhir di nampan, lalu menatap Nadia lurus-lurus. "Perempuan itu tiang rumah. Kalau tiangnya sedikit-sedikit menjerit setiap ada beban, rumahnya gampang rubuh. Bapakmu dulu bisa berdiri tegak lagi karena Ibu pandai menutupi kekurangannya. Kamu harus belajar sabar."
Dari arah garasi, langkah kaki Bagas terdengar mendekati pintu dapur Pria itu masuk tanpa melepas alas kaki yang bernoda tanah kering. Tangannya yang berlepotan oli langsung meraih toples rempeyek di atas meja saji.
"Nad, buatkan kopi tiga cangkir lagi untuk anak-anak di depan," ujar Bagas santai, seolah percekcokan di garasi sepuluh menit lalu tidak pernah terjadi.
Siku tangan Bagas yang terburu-buru menyenggol cangkir kopi bekas milik Ibu di tepi meja. Cangkir porselen itu meluncur jatuh, menghantam lantai dengan suara nyaring yang memecah keheningan. Keramiknya terbelah dua, menyebarkan ampas kopi hitam yang pekat ke seluruh sudut.
Bagas melirik serpihan itu sejenak. "Aduh, licin," gumamnya singkat. Tanpa niat membungkuk atau mengambil lap, pria itu berbalik arah membawa toples rempeyek kembali ke garasi.
Nadia meremas jemarinya, hendak berbalik menuju tempat penyimpanan sapu. Namun, dari arah ruang belajar kecil di koridor belakang, Tari melangkah keluar.
Bocah perempuan berusia tujuh tahun itu membawa buku gambarnya yang belum selesai diwarnai. Langkahnya terhenti saat melihat serpihan keramik serta genangan ampas kopi di lantai dapur. Tari menatap ibunya cukup lama. Setelah itu, tatapannya beralih kepada sang nenek yang berdiri di depan kompor.
Tanpa diminta oleh siapa pun, tanpa ada perintah, bisikan, atau bentakan, Tari meletakkan buku gambarnya di atas meja. Bocah kecil itu berlutut tanpa ragu. Jari-jari mungilnya merengkuh dua pecahan porselen yang tajam satu per satu. Ia cukup teliti untuk anak seusianya.
Saat sudut porselen yang runcing menggores pinggiran ibu jarinya hingga meneteskan darah merah segar di lantai, bocah itu tidak menjerit. Ia hanya mengisapnya sebentar, mengusap noda merah ke rok seragam sekolahnya yang sudah kusam, lalu meraih kain lap basah di bawah bak cuci.
Tari mengusap genangan ampas kopi hitam itu sampai ubin mengilap kembali tanpa menyisakan noda. Ibu merunduk sedikit, menyunggingkan senyum hangat yang teramat manis. Tangannya mengelus lembut kepala Tari yang melipat kaki di lantai.
"Pintar cucu Ibu," puji Ibu dengan intonasi halus yang memabukkan. "Anak perempuan memang harus peka dari kecil. Dari sekarang sudah tahu cara merawat orang rumah."
Tari mengangkat kepala. Matanya yang jernih memancarkan binar kebanggaan yang mekar sempurna di paras kecilnya.
Ibu mengembuskan napas kasar ke arah Nadia. Nadia berdiri kaku seraya berusaha menelan semua ucapan Ibu. Dingin merayap naik dari telapak kakinya menembus lutut, merambat hingga ke rongga dada.
Nadia meraih telapak tangan Tari yang berjelaga ampas kopi dan darah kering. Ia melihat garis hidupnya sendiri terpantul utuh pada diri anaknya. Sebuah mekanisme bertahan hidup yang ditanamkan melalui sanjungan atas nama kesabaran dan pengorbanan.
Ibu menuang air panas ke dalam tiga cangkir baru di atas nampan, lalu menggesernya tepat ke depan dada Nadia.
"Bawakan kopi ini," perintah Ibu, tanpa membuka ruang untuk bantahan. "Tunjukkan senyum yang manis di depan teman-teman suamimu."
Nadia bergeming, tangannya tertahan sejajar dengan tubuh. Uap panas kopi membumbung tinggi, menusukkan bau pahit yang mencekik.
Pintu garasi yang terang benderang terbuka di sebelah kirinya. Pintu pekarangan rumah yang menuju jalan luar terhampar di sebelah kanannya, memperlihatkan kegelapan malam yang sepi.
Nadia memejamkan mata sejenak, meresapi keheningan rumah yang berulang selama tiga generasi. Ia mengulurkan kedua tangannya merengkuh tepi nampan kayu tersebut.