Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Di ujung Desa di dekat hutan, ada kolam kecil yang selalu gelap. Kata orang tua, kolam itu seram. Kalau malam, ada suara geraman dari dalam semak. Ada lolongan dan suara² aneh seperti di hutan. Anak-anak dilarang main ke sana. Katanya ada penunggu.
Penunggunya bukan hantu. Penunggunya seekor katak. Gendut. Kulitnya sobek-sobek. Satu kakinya pincang. Matanya sayu. Namanya Meki.
Tiap hari Meki tidur di atas batu licin pinggir kolam. Bangun siang, cari nyamuk, lalu balik tidur. Kalau ada anak manusia lewat sambil bawa ketapel, Meki bakal ambil napas panjang, terus ngeluarin suara dari perutnya: _GRRRRAAOOO... HUUUAAAA..._
Anak-anak lari terbirit-birit. "Hantu kolam! Hantu kolam!"
Meki lalu senyum. Bukan karena jahat. Karena cuma dengan cara itu, batu-batu gak mendarat di kepalanya.
Meki bukan selalu begini.
*Dulu, di Hutan Belakang*
Dulu Meki tinggal di hutan, setengah kilo dari desa. Hutan itu rumahnya yang paling nyaman dan hidup.
Tiap subuh, sebelum embun jatuh, Meki udah berdiri di daun teratai paling lebar. Dia tarik napas, kembungin pipi, dan _BUNG_. Suaranya nyaring, bening, kayak suling.
Itu tanda pagi.
Kera-kera bangun. "Pagi, Meki!"
Kura-kura nyembul dari lumpur. "Pagi, Meki, suaramu enak." Burung-burung turun. "Meki, hari ini ada buah apa?"
Meki katak paling rajin. Habis nyanyi, dia keliling hutan. Lompat dari batu ke akar, dari akar ke semak. Dia nyari tempat buah jatuh, nyari sarang semut, nyari jamur. Jam 9 pagi, Meki balik ke kolam. Semua hewan udah ngumpul.
"Di timur ada pohon mangga, 3 buah jatuh semalam," kata Meki. "Di barat ada jamur kuping di batang mati. Di selatan ada sarang lebah, jangan dideketin."
Hewan-hewan tepuk tangan " Wah meki memang sahabat terbaik di hutan ini" "iya.." " iya meki baik " kata para hewan di hutan. Meki senyum. Badannya kecil, hijau cerah, matanya bulat. Semua sayang Meki. Karena Meki gak pernah minta imbalan. Dia seneng kalau hutan senang.
Kura-kura bilang, "Meki itu jantung hutan."
Kerbau bilang, "Kalau gak ada Meki, kita bisa kelaperan."
Bahkan Ular, yang galak, diem kalau Meki nyanyi. Hidup Meki ceria. Lurus. Kayak sungai di musim kemarau.
Sampai musim hujan datang.
Hujan turun 7 hari 7 malam. Membuat kolam di hutan meluap daun teratai tenggelam. Meki gak bisa nyanyi subuh. Badannya dingin. Sendinya ngilu. Hari ke-8, Meki gak kuat bangun meski kolam sudah surut dan teratai kembali muncul.
Dia ngilang.
Hari pertama, hewan-hewan gak curiga. "Meki mungkin ke hulu," kata Kera.
Hari kedua, Kura-kura mulai nanya, "Kok gak ada yang kasih tau tempat buah?"
Hari ketiga, perut mereka keroncongan. Baru mereka nyari.
Mereka nemu Meki di bawah pohon tumbang. Badannya menggigil. Kulitnya pucat. Napasnya pendek-pendek.
"Meki!" Kera loncat. "Kau kenapa, Sahabat?"
"Meki kesayangan kami," Kerbau nundukin kepala. "Kenapa kau sakit?"
Kura-kura dateng bawa daun lebar, diselimutin ke badan Meki. Belalang dateng bawa serangga. Sapi nyumbang susu dari daun.
Meki nangis. Bukan karena sakit. Karena disayang.
"Makasih... kalian... baik," kata Meki. Suaranya serak. 3 hari mereka gantian jaga. Meki makan, tidur, ditungguin. Hutan jadi sepi, tapi anget.
Hari ke-4, Meki udah bisa duduk. Hari ke-5, Meki coba berdiri. Kakinya gemeter. Dia jalan 5 langkah, terus jatuh.
"Aku mau ke sungai... minum," kata Meki.
"Eh, istirahat aja!" kata Kura-kura. "Biar kami ambilin."
"Gak apa. Aku kangen jalan," Meki maksa.
Meki belum keliling hutan lagi. Belum kasih tau tempat buah. Karena dia belum kuat. Tapi perut hewan-hewan udah gak sabar. Hari ke-7 sejak Meki sakit, Belalang nyamperin. Mukanya asem.
"Heh, Meki sombong. Udah bisa jalan kok gak kerja. Dari kemarin kami kelaparan gara-gara kau."
Meki kaget. "Aku... aku masih sakit, Lang. Kakiku..."
"Alasan!" Kura-kura ikut nyahut dari belakang. "Dulu tiap hari koar-koar. Sekarang udah enak ditungguin, jadi malas. Kerjaannya makan tidur aja."
Meki diem. Dadanya sesak. Bukan sesak sakit. Sesak lain. Dia jalan ke sungai. Pelan dan sambil menyert kaki meki mau minum. Mau basuh muka. Mau nangis tapi gak ada yang liat.
Baru aja kakinya nyentuh air, _SYUT!_
Sebuah sumpit melesat. Nancep di paha Meki.
"Aaaaa!" Meki jerit. Darah ngucur. Sakitnya kayak disetrika.
Dia nengok ke semak berharap bakal ada yang nolong.
Yang keluar malah tawa.
"Hahaha! Meki lebay!" Kera nongol di dahan. "Cuma ranting jatuh aja udah teriak kayak mau mati."
"Itu sumpit, Mek," kata Belalang. "Tapi kecil. Gak mati juga."
Meki nunjuk kakinya. "Ini... ini sakit... tolong cabut..."
Ular lewat. Ngelewatin aja. "Udah, diem. Berisik."
Gak ada yang nolong.
Meki panik. Dia gigit anak sumpit, tarik. Tapi licin. Darah bikin tangannya lemes. Akhirnya dia pake kaki satunya, nendang tanah, terus hentak badannya ke belakang sekuat tenaga.
_BREET._
Anak sumpit kecabut. Tapi bawa serta daging pahanya. Darah muncrat. Meki kedorong, guling-guling, masuk ke semak duri.
_Krusak-krusak-krusak._
Duri nancep di punggung, di perut, di pipi.
Hewan-hewan malah tepuk tangan.
"Hahaha! Liat! Meki jadi landak!" Kera guling-guling di dahan.
"Katak paling rajin sekarang katak paling lucu!" Sapi ngakak.
Meki gak bisa bangun. Duri nancep di mana-mana. Darah netes dari paha, dari punggung. Dia nyoba manggil, "Tolong..."
Suara burung lewat: "Ada pemburu! Ada pemburu!"
_BRUAK._
_ PEMBURU...._
_LARI LARI ..._
Semua bubar. Kera loncat. Kura-kura masuk lumpur. Satu kaki Kerbau nginjek perut Meki pas lari.
_Buk._
Meki muntah. Meki nyeret badan ke balik batu. Duri masih nancep. Paha bolong. Dia denger langkah manusia mendekat. Mereka bawa senapan.
Dua pemburu nongol. Bajunya loreng. Mukanya merah. "Lho, ada kodok," kata yang satu. "Gede juga."
Yang satu nendang Meki
. _Dug._
Badan Meki mental kena pohon.
"Hahaha, bolah!" katanya. "Bola katak! Botak!"
Meki gak bisa teriak. Tenggorokannya penuh darah. Mereka mainin Meki. Tendang ke sana, tendang ke sini.
_Dug. Dug. Dug._
Tulang rusuk Meki bunyi
_krek_. Matanya buram.
"Udah, buang aja. Jijik," kata satu lagi.
_Dug._
Tendangan terakhir. Meki masuk sungai. Arusnya deras. Hanyut.
Meki pasrah. _Mati aja deh._
Tapi tiba-tiba,
_JLEB._
Seekor Bangau. Paruhnya jepit perut Meki. Ngangkat dia ke udara.
Meki melek. "Burung... makasih... kau selamatkan aku..."
Bangau senyum. Paruhnya melengkung. "Tenang, Ikan Gemuk. Kau aman."
"Aku bukan ikan. Aku Meki. Katak. Aku gak sengaja hanyut."
Bangau berhenti ngapak. Liat Meki. "Ih. Katak? Jelek. Nanti paruhku lecet."
_WUSS._
Meki dibuang. Dari ketinggian 10 meter.
"Aku kenal kau, Burung!" Meki teriak sambil jatuh. "Dulu tiap pagi kau makan buah yang kutunjukin! Kau bilang aku teman!"
Bangau teriak dari atas, "Aku cuma manfaatin kau! Siapa juga mau temenan sama katak jelek!"
_BUG._
Meki jatuh di bebatuan kolam kecil pingir desa dekat hutan. Punggungnya patah. Kaki pincang permanen. Kulit sobek dari kepala sampai paha. Satu matanya gak bisa melek sempurna.Tapi dia hidup.
***
Meki ngesot. Masuk ke celah batu. Di situ ada gua kecil. Lembab ,gelap dan aman.
Sejak itu, kolam Desa Lempur jadi rumah Meki.
Siang dia tidur. Malam dia nyari nyamuk. Kalau laper banget, dia makan lumut.
Awalnya Meki masih mau nyapa manusia. Dia nongol, _Bung._ Mau bilang "pagi".
Yang dia dapet batu. "Itu katak apa monster?!" teriak anak kecil.
_Plak._
Batu kena punggung Meki. Luka lamanya kebuka lagi.
Besoknya, anak lain bawa kayu. "Buang aja, jijik!".
Meki ngertikalau gak bisa jadi Meki yang ceria lagi. Karena tiap dia coba baik, yang datang sakit.Jadi Meki belajar biar bisa hidup tenag tampa haru libatkannorang².
Kalau manusia dateng, dia kembungin perut, terus _GRRRRAAOOO..._ Kayak harimau. _HUUUAAAA..._ Kayak kuntilanak. Manusia pun lari ketakutan.
Lari... ada hantu
"Aman" kata meki sambil tersenyum.
Lama-lama warga desa kasih nama: "Kolam Setan". Gak ada yang berani deket.
Meki seneng? E tentu tidak, Meki kesepian tapi sepi lebih baik daripada batu.
5 tahun lewat.
Meki makin gendut. Bukan karena sehat. Karena bengkak. Luka lamanya infeksi. Jalannya pincang. Suaranya udah gak bening. Serak. Patah-patah.
Tapi tiap subuh, kadang, kalau gak ada manusia, Meki masih nyoba nyanyi.
_Bung... bung... kruk..._
Gagal. Tenggorokannya sakit. Dia diem lagi.
Suatu sore, hujan. Seorang anak kecil nyasar ke kolam. Umur 6 tahun. Kepleset. Jatuh. Kakinya kejepit batu. Nangis.
Meki liat dari gua.
Refleks lamanya muncul.
_Nolong._
Tapi baru mau loncat, dia inget kalau anak kecil sangat benci meki, meki takut di tendang, di tarik dan di lempari batu.
Dia balik masuk gua. Nutup mata. Telinga ditutup. Tapi suara nangis tembus.
10 menit. 20 menit.
Meki gebrak tanah. _Bodo amat!_
Dia keluar. Jalan pincang. Ujan-ujanan. Dia dorong batu pake kepalanya.
_Glek... glek..._ Kaki anak itu bebas.
Anak itu nengok. Liat Meki. Mukanya pucat.
Meki udah pasrah dilempar batu lagi. Tapi anak itu malah bilang, "Makasih... katak."
Terus lari. Gak lempar batu. Gak teriak monster. Meki diem kaget, Pertama kali dalam 5 tahun, dadanya anget.
Malemnya, Meki gak bikin suara hantu. Dia diem dengerin jangkrik. Buat pertama kali, dia nyoba nyanyi lagi. Pelan.
_Bung..._
Masih fals. Masih serak.
Sekarang Meki masih di kolam itu. Masih gendut. Masih jelek. Masih nakutin manusia yang bawa ketapel.
Tapi kalau kamu ke sana pagi-pagi buta, pas kabut belum naik, pas gak ada orang, kamu bakal denger.
_Bung... bung..._
Suara serak. Gak sempurna. Tapi itu lagu.
Itu Meki.
Katak yang dikhianatin hutan, disakitin manusia, tapi gak mati, dia pilih hidup, pilih jaga diri, pilih tetap nyanyi, walau cuma buat diri sendiri.
Karena Meki ngerti satu hal:
Dunia pernah jahat sama dia. Tapi kalau dia balas jadi jahat ke semua orang, dia gak beda sama yang nyakitin dia. Jadi Meki pilih: baik ke yang baik, galak ke yang bawa batu.
Kalau kamu dateng ke kolam bawa roti, duduk diam, gak bawa ketapel, Meki bakal nongol. Duduk jauh. Terus _Bung._ Nyanyi. Pelan. Buat kamu.
Kalau kamu dateng bawa batu, _GRRRAAOOO._ meki baka neluarin suara seram.
Meki bukan monster. Meki cuma katak yang belajar caranya selamat. Dan kalau kamu denger baik-baik, suara serak itu seperti berkata.
_Aku pernah ceria, aku pernah patah, aku pernah ditinggal pas sakit, ditertawakan pas jatuh, dimanfaatin pas berguna, dibuang pas jelek._
_Tapi aku masih di sini. Masih nyanyi. Masih hidup._
_Kalau kamu lagi sakit dan dunia gak nolongin, gak apa-apa. Sembunyi dulu. Sembuhin dulu. Gak harus ceria tiap hari, beri waktu untuk tenag dan nenagin dirimu yang lelah._
_Tapi jangan mati. Jangan berhenti nyanyi. Walau fals. Walau cuma buat kuping sendiri._
_Karena hidup gak utang kamu bahagia. Tapi kamu utang dirimu sendiri buat bertahan._
Itulah kira lagu yang selalu di nyanyiin meki tiap pagi. Meki berharap dengan lagunya dia bisa hidup damai dan teng. Tampa jadi jahat ataupun baik lagi
---