Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Aksi
SiKATAK
2
Suka
1,355
Dibaca

Di ujung Desa di dekat hutan, ada kolam kecil yang selalu gelap. Kata orang tua, kolam itu seram. Kalau malam, ada suara geraman dari dalam semak. Ada lolongan dan suara² aneh seperti di hutan. Anak-anak dilarang main ke sana. Katanya ada penunggu.

Penunggunya bukan hantu. Penunggunya seekor katak. Gendut. Kulitnya sobek-sobek. Satu kakinya pincang. Matanya sayu. Namanya Meki.

Tiap hari Meki tidur di atas batu licin pinggir kolam. Bangun siang, cari nyamuk, lalu balik tidur. Kalau ada anak manusia lewat sambil bawa ketapel, Meki bakal ambil napas panjang, terus ngeluarin suara dari perutnya: _GRRRRAAOOO... HUUUAAAA..._

Anak-anak lari terbirit-birit. "Hantu kolam! Hantu kolam!"

Meki lalu senyum, bukan karena jahat tapi karena cuma dengan cara itu meki akan aman dan batu-batu gak akan mendarat di badannya.

*Dulu, di Hutan Belakang*

Dulu Meki tinggal di hutan, setengah kilo dari desa. Hutan itu rumahnya yang paling nyaman dan hidup.

Tiap subuh, sebelum embun jatuh, Meki udah berdiri di daun teratai paling lebar. Dia tarik napas, kembungin pipi, dan bermyanyi riang

_BUNG..... BROOOK.... WEBEK, WEBEK.. _. Suaranya nyaring dari nyanyian meki sangat bening lembut dan mrnenangkan kayak suling.

Jika nyanyian meki udah terdengar Itu tanda pagi.

Para prnghuni hutan akan bangun dan menyapa meki. "Pagi, Meki!" Ucap kera

Meki melompat dari teratai ke teratai yang lain. Kura-kura nyembul dari lumpur. "Pagi, Meki, nyanyian mu enak." Burung-burung turun ke kolam umtuk mimun. Lalau mereka bertanya pada meki "Meki, hari ini ada buah apa?, dimana tempat kami bisa mencari makanan ?"

Meki sikatak merupakan hewan yang paling rajin dihutan. Habis bernyanyi dan menyapa para penghuni hutan, meki selalu keliling hutan. Meki melompay dengan riang dan juga mengeluarkan suara indah . Meki melompat dari batu ke akar, dari akar ke semak dari semak ketanah. Meki selalau mengetahui tempat yang ada di hutan, tpat buah jatuh, tempat rerumputan yang hijau, tempat ikan ikan yang banyak, dimana ada sarang semut, dimana ada perangkap. Jam 9 pagi meki selalu balik ke kolam dan semua hewan udah ngumpul.

Meki mrnghampiri hewan² dan memberi tahu para prnghuni hutan tentang apa yang dia lihat dan ketahui. "Di timur ada pohon mangga yang lagi berbuah, tadi aku juga lihat di tanah ada 3 buah mangga jatuh," kata Meki. "Di barat ada jamur kuping di batang pohon manggis yang mati. Di selatan ada sarang lebah dan juga perangkap yang di pasang pemburu, jangan dideketin."

Hewan-hewan tepuk tangan " Wah meki memang sahabat terbaik di hutan ini" "iya.." " iya meki baik " kata para hewan di hutan. Meki senyum karana ya setiap hari mrki akan selalu dengar kalomat pujian fan sanjungan seperti itu dari para prnghuni hutan. Meki memiliki Badan kecil berwarna hijau cerah, matanya bulat dan kakinya yang panjang. Semua penghuni huyan sangat sayang Meki karena Meki gak pernah minta imbalan. Dia seneng kalau para penghuni hutan senang.

Kura-kura bilang, "Meki itu jantung hutan."

Kerbau bilang, "Kalau gak ada Meki, kita bisa kelaperan."

Kelinci bilang " kalau tak ada meki pasti kami dah mati".

Meki disegani olrh para penghuni hutan Bahkan harimau, beruang dan Ular yang galak, diem kalau Meki nyanyi dan selalu tersenyum jika melihat meki. Hidup Meki ceria dan selalu penuh hal positif. Meki selalu berpikiran Lurus, ngak pernah berburuk sangka dan selalu baik. Tapi ternyata semua yang di lakukan meki sia². Kayak meneteskan ait sungai kerinh pada musim kemarau.

* musim hujan datang.*

Hujan turun 7 hari 7 malam tidak berhenti. Hunjan membuat rumah meki selalu basah dan meki jadi sakit. Hujan tersebut membuat kolam di hutan meluap dan daun teratai tenggelam. Meki gak bisa nyanyi subuh dan meki juga tidak bisa keluar rumah. Badan meki dingin, Sendinya tersa ngilu dan badanya terasa lemas dan panas. Hari ke-8, Meki gak kuat bangun meski kolam sudah surut dan teratai kembali muncul.

*Sikatak ngilang.*

Hari pertama setelah hujan reda hewan- hewan bingung karan tidak mendengar nyanyian meki, hewan-hewan gak curiga. "Meki mungkin ke hulu," kata Kera dalam hatinya.

Hari kedua para prnghuni hutan bingung dan udah menungu meki seperti biasa, Kura-kura mulai nanya, "Kok meki gak ada yang kasih tau tempat buah?". "Kemana katak kecil itu pergi ?, apakah dia todak peduli dengan kita ?." Hewan- hewan pun berbisik bisik sambil menerka apa yang sebenarnya yerjadi.

Hari ketiga, perut mereka keroncongan. Baru mereka nyari. Mereka nemu Meki di bawah pohon tumbang. Badannya menggigil. Kulitnya pucat. Napasnya pendek-pendek.

"Meki!" Kera loncat. "Kau kenapa, Sahabat?"

"Meki kesayangan kami," Kerbau nundukin kepala. "Kenapa kau sakit?"

Kura-kura dateng bawa daun lebar, diselimutin ke badan Meki. Belalang dateng bawa serangga. Sapi nyumbang susu dari daun.

Meki nangis. Bukan karena sakit. Karena disayang.

"Makasih... kalian... baik," kata Meki. Suaranya serak. 3 hari mereka gantian jaga. Meki makan, tidur, ditungguin. Hutan jadi sepi, tapi anget.

Hari ke-4, Meki udah bisa duduk. Hari ke-5, Meki coba berdiri dengan kaki yang gemeter. Dia jalan 5 langkah, terus jatuh.

"Aku mau ke sungai... minum," kata Meki.

"Eh, istirahat aja!" kata Kura-kura. "Biar kami ambilin."

"Gak apa. Aku kangen jalan," Meki maksa.

Meki belum keliling hutan lagi. Belum bisa kasih tau hewan hewan tempat buah, pafang rumput dan juga perangkap pemburu. Karena dia belum kuat.

Tapi perut hewan-hewan udah keroncongan mereka udah ngak sabar. Mereka udah berfikir kalau besok bisa makan enak seperti biasa. Hari ke-7 sejak Meki sakit, meki masih melum bisa berkeliling hutan karana lutut meki masih lemas. Belalang nyamperin. Mukanya asem.

"Heh, Meki sombong. Udah bisa jalan kok gak kerja. Dari kemarin kami kelaparan gara-gara kau."

Meki kaget. "Aku... aku masih sakit, Lang. Kakiku..."

"Alasan!" Kura-kura ikut nyahut dari belakang. "Dulu tiap hari koar-koar. Sekarang udah enak ditungguin, jadi malas. Kerjaannya makan tidur aja."

" Enak aja bertingkah seperti raja tapi ngak mau kerja" kata monyet.

Meki diem dan berfikir mungkin teman temanya capek ngurusin meki makanya kesal. Meki merasa dadanya sesak. Dadanya sesak bukan karna sakit, tapi sesak karna hal lain. Meki diam sambil jalan ke sungai. Pelan dan sambil menyert kaki meki mau minum. Mau basuh muka, Mau nangis biar gak ada yang liat.

Baru aja kakinya nyentuh air, _SYUT!_

Sebuah sumpit melesat. Nancep di paha Meki.

"Aaaaa!" Meki jerit. Darah ngucur. Sakitnya kayak disetrika.

Dia nengok ke semak dan kerah teman temannya berharap bakal ada yang nolong.

Yang keluar malah tawa.

"Hahaha! Meki lebay!" Kera nongol di dahan. "Cuma ranting jatuh aja udah teriak kayak mau mati."

"Itu sumpit, Mek," kata Belalang. "Tapi kecil. Gak mati juga."

Meki nunjuk kakinya. "Ini... ini sakit... tolong cabut..."

Ular lewat. Ngelewatin aja. "Udah, diem. Berisik."

Gak ada yang nolong.

Meki panik dan juga kesakitan, meki sadar tidak akan ada yang nolong. Meki berusaha gigit anak sumpit lalu menariknya agar bisa lepas dari kakinya.Tapi sumpit itu licin. Darah yang terus mengalir dan juga kondisi meki yang belum pulih membuat tangannya lemes. Akhirnya dia pake kaki satunya, nendang tanah sambil terus gigit sumpit. Kaki meki terus bergerak meki terus hentak badannya ke belakang sekuat tenaga.

_BREET._

Anak sumpit kecabut. Tapi bawa serta daging pahanya. Darah muncrat membasahi badan meki. Meki kedorong, guling-guling, masuk ke semak duri.

_Krusak-krusak-krusak._

Duri duri dari semak nancep di punggung, di perut, di pipi.

Hewan-hewan malah tepuk tangan.

"Hahaha! Liat! Meki jadi landak!" Kera guling-guling di dahan.

"Katak paling rajin sekarang katak paling lucu!" Sapi ngakak.

Meki gak bisa bangun. Duri nancep di mana-mana. Darah netes dari paha, dari punggung. Dia nyoba manggil, "Tolong...". Ngak ada yang peduli mereka bisik² ngejel meki.

Tiba tiba suara burung lewat: "Ada pemburu! Ada pemburu!" Membuat para jewan yerdiam dan berlarian

_BRUAK._

_ PEMBURU...._

_LARI LARI ..._

Semua bubar. Kera loncat kepohon, berlari dari dahan ke dahan, Kura-kura masuk lumpur menegelamkan diri, kerbau berlarian mencari gua dan satu kaki Kerbau nginjek perut Meki pas lari.

_Buk._

Meki muntah. Meki nyeret badan ke balik batu agar tidak terinjak lagi meki berbaring dengan duri yang masih nancep. Paha meki bolong katna sumpiy tadi. Meki menarik nafas dengan trnag sambil menahan rasa sakit. Tiba tiba meki denger langkah manusia mendekat. Ternyata pemburu yang di bilang burung tadi. Mereka bawa senapan dan juga perangkap di tanganya. Dua pemburu lainya nongol. Bajunya loreng dan mukanya merah. "Lho, ada kodok," kata yang satu. "Gede juga."

Yang satu nendang Meki

. _Dug._

Badan Meki mental kena pohon.

"Hahaha, bolah!" katanya. "Bola katak! Botak!" Mereka tertawa terbahak bahak.

Meki gak bisa teriak. Tenggorokannya penuh darah. Para pemburu mainin Meki. Meki du tendang ke sana, ke sini.

_Dug. Dug. Dug._

Tulang rusuk Meki bunyi

_krek_. Matanya buram.

"Udah, buang aja. Jijik," kata satu lagi.

_Dug._

Tendangan terakhir. Meki masuk sungai dengan arusnya deras. Meki hanyut dan ngak bisa berenag. Hanyut mengikuti air dan meki hanya memejamkan mata.

Meki pasrah. _ Meki berfikir kalau dia akan mati ._

Tapi tiba-tiba,

*JLEB.*

Seekor Bangau terbang kearah meki paruhnya jepit perut Meki. Ngangkat meki ke udarake udara.

Meki melek. "Burung... makasih... kau selamatkan aku..."

Bangau senyum, Paruhnya melengkung. "Tenang, Ikan Gemuk. Kau aman."

"Aku bukan ikan, aku Meki si katak. Aku gak sengaja hanyut tadi ."

Bangau berhenti ngapak, liat Meki. "Ih. Katak? Jelek nanti paruhku lecet."

_WUSS._

Meki dibuang. Dari ketinggian 10 meter.

"Aku kenal kau, Burung!" Meki teriak sambil jatuh. "Dulu tiap pagi kau makan buah yang kutunjukin! Kau bilang aku teman!"

Bangau teriak dari atas, "Aku cuma manfaatin kau! Siapa juga mau temenan sama katak jelek!"

_BUG._

Meki jatuh di bebatuan kolam kecil pingir desa dekat hutan. Punggungnya patah. Kaki pincang permanen. Kulit sobek dari kepala sampai paha. Satu matanya gak bisa melek sempurna.Tapi dia hidup.

***

Meki ngesot. Masuk ke celah batu. Di situ ada gua kecil. Lembab, gelap tapi aman.

Sejak itu, kolam di pinggirdesa itu jadi rumah Meki.

Siang hari meki tidur, malam dia nyari nyamuk buat makan. Kalau laper banget dan tidak ada nyamuk meki makan lumut.

Awalnya Meki masih mau nyapa manusia. Dia nongol, _Bung._ Mau bilang "pagi".

Tapi manusia itu ternyata jahat. Bukan sapan ramah yang didapat meki tapi dia dapet batu. "Itu katak apa monster?!" teriak anak kecil.

_Plak._

Batu kena punggung Meki. Luka lamanya kebuka lagi.

Besoknya, anak lain bawa kayu. "Buang aja, jijik!". Mereka menusuk nusuk badan meki dengan ranting.

Meki ngerti kalau sekarang dia harus berubah. Udah gak bisa jadi Meki yang ceria lagi. Karena tiap dia coba baik, yang datang sakit.Jadi Meki belajar biar bisa hidup tenag tampa haru libatkannorang².

Kalau manusia dateng, dia kembungin perut, terus _GRRRRAAOOO..._ Kayak harimau. _HUUUAAAA..._ Kayak kuntilanak. Manusia pun lari ketakutan.

Lari... ada hantu

"Aman" kata meki sambil tersenyum.

Lama-lama warga desa kasih nama: "Kolam Setan". Gak ada yang berani deket.

Meki seneng? E tentu tidak, Meki kesepian tapi sepi lebih baik daripada batu.

5 tahun lewat.

Meki makin gendut. Bukan karena sehat. Karena bengkak. Luka lamanya infeksi. Jalannya pincang. Suaranya udah gak bening. Serak. Patah-patah.

Tapi tiap subuh, kadang, kalau gak ada manusia, Meki masih nyoba nyanyi.

_Bung... bung... kruk..._

Gagal. Tenggorokannya sakit. Dia diem lagi.

Suatu sore, hujan. Seorang anak kecil nyasar ke kolam. Umur 6 tahun. Kepleset. Jatuh. Kakinya kejepit batu. Nangis.

Meki liat dari gua.

Refleks lamanya muncul.

_Nolong._

Tapi baru mau loncat, dia inget kalau anak kecil sangat benci meki, meki takut di tendang, di tarik dan di lempari batu.

Dia balik masuk gua. Nutup mata. Telinga ditutup. Tapi suara nangis tembus.

10 menit. 20 menit.

Meki gebrak tanah. _Bodo amat!_

Dia keluar. Jalan pincang. Ujan-ujanan. Dia dorong batu pake kepalanya.

_Glek... glek..._ Kaki anak itu bebas.

Anak itu nengok. Liat Meki. Mukanya pucat.

Meki udah pasrah dilempar batu lagi. Tapi anak itu malah bilang, "Makasih... katak."

Terus lari. Gak lempar batu. Gak teriak monster. Meki diem kaget, Pertama kali dalam 5 tahun, dadanya anget.

Malemnya, Meki gak bikin suara hantu. Dia diem dengerin jangkrik. Buat pertama kali, dia nyoba nyanyi lagi. Pelan.

_Bung..._

Masih fals. Masih serak.

Sekarang Meki masih di kolam itu. Masih gendut. Masih jelek. Masih nakutin manusia yang bawa ketapel.

Tapi kalau kamu ke sana pagi-pagi buta, pas kabut belum naik, pas gak ada orang, kamu bakal denger.

_Bung... bung..._

Suara serak. Gak sempurna. Tapi itu lagu.

Itu Meki.

Katak yang dikhianatin hutan, disakitin manusia, tapi gak mati, dia pilih hidup, pilih jaga diri, pilih tetap nyanyi, walau cuma buat diri sendiri.

Karena Meki ngerti satu hal:

Dunia pernah jahat sama dia. Tapi kalau dia balas jadi jahat ke semua orang, dia gak beda sama yang nyakitin dia. Jadi Meki pilih: baik ke yang baik, galak ke yang bawa batu.

Kalau kamu dateng ke kolam bawa roti, duduk diam, gak bawa ketapel, Meki bakal nongol. Duduk jauh. Terus _Bung._ Nyanyi. Pelan. Buat kamu.

Kalau kamu dateng bawa batu, _GRRRAAOOO._ meki baka neluarin suara seram.

Meki bukan monster. Meki cuma katak yang belajar caranya selamat. Dan kalau kamu denger baik-baik, suara serak itu seperti berkata.

_Aku pernah ceria, aku pernah patah, aku pernah ditinggal pas sakit, ditertawakan pas jatuh, dimanfaatin pas berguna, dibuang pas jelek._

_Tapi aku masih di sini. Masih nyanyi. Masih hidup._

_Kalau kamu lagi sakit dan dunia gak nolongin, gak apa-apa. Sembunyi dulu. Sembuhin dulu. Gak harus ceria tiap hari, beri waktu untuk tenag dan nenagin dirimu yang lelah._

_Tapi jangan mati. Jangan berhenti nyanyi. Walau fals. Walau cuma buat kuping sendiri._

_Karena hidup gak utang kamu bahagia. Tapi kamu utang dirimu sendiri buat bertahan._

Itulah kira lagu yang selalu di nyanyiin meki tiap pagi. Meki berharap dengan lagunya dia bisa hidup damai dan teng. Tampa jadi jahat ataupun baik lagi.

Meki menjalani hidupnya dengan kesepian samapai meki ahirnya meninggal. Paha meki membusuk dan badanya bengkak karna infeksi dan juga selalu berada di tempat yang gelap.

---

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Aksi
Cerpen
NYXBANE
Sadille N. Mouren
Cerpen
SiKATAK
goresan_pena
Cerpen
Bronze
Pendekar Bintang Satu
Ron Nee Soo
Flash
Bronze
Oligarki Anfal di Kaki Eiffel
Silvarani
Flash
iLeR Lu!
Zi Chaniago
Cerpen
Nyala Di Kota, Pijar Di Dada
Lily N. D. Madjid
Novel
Collateral Romance
Azerhays
Cerpen
Bronze
Guru Pagar Integritas
Muhammad Ari Pratomo
Flash
Bayang Pengkhianat
Putri Rafi
Flash
Bronze
Illegal Login
Silvarani
Cerpen
Bronze
PEDRO4D TEMPAT GAME ONLINE TERBAIK
pedro4d
Flash
Alasan Ana Suka Travelling
Lia
Cerpen
Sniper
Rexa Strudel
Novel
Bronze
Rimba Jaya
E. Precious
Skrip Film
MAHLIGAI CINTA
silvi budiyanti
Rekomendasi
Cerpen
SiKATAK
goresan_pena
Novel
KAMU LUKA YANG TAKBISA AKU BENCI
goresan_pena
Novel
Inikah rumah hantu
goresan_pena
Cerpen
Pohon apel yang kembali mekar ditengah gurun pasir
goresan_pena
Novel
BAYANGAN KEBENCIAN
goresan_pena