Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
SI-JJIN
“Kematian adalah Nasihat”
Tidak ada yang benar-benar baik-baik saja setelah kehilangan.
Begitu pula yang dirsakan Sandra.
Remaja berusia enam belas tahun itu baru saja kehilangan ayahnya untuk selamanya. Rumah yang biasanya terasa hangat kini berubah sunyi. Tidak ada lagi suara langkah kaki ayahnya, tidak ada lagi panggilan kecil dari ruang tamu yang meminta Sandra mengambilkan air minum atau obat.
Semuanya hilang begitu cepat.
Padahal beberapa bulan terakhir, Sandra adalah orang yang paling sering berada di samping ayahnya.
Ayah Sandra memang sudah lama sakit.
Tubuhnya semakin lemah dari hari ke hari. Sandra yang paling sering merawatnya. Sepulang sekolah, ia akan membantu ibunya mengganti pakaian ayahnya, menyiapkan makan, mengingatkan obat, bahkan menemani ayahnya hingga tertidur.
Sandra sangat dekat dengan ayahnya.
Karena itu Sandra juga paling tahu bahwa ayahnya bukan orang yang dekat dengan agama.
Ayahnya jarang sholat. Bahkan ketika sakit, Sandra sering mencoba membimbing ayahnya untuk sholat sambil duduk atau berbaring.
“Yah… sholat dulu ya…” ucap Sandra pelan sambil membantu ayahnya duduk.
Ayahnya hanya mengangguk kecil.
“Nanti saja, Sandra… badan Ayah masih lemas…”
Sandra tidak pernah marah.
Ia hanya terus mencoba pelan-pelan.
Kadang Sandra menangis diam-diam setelah keluar dari kamar ayahnya. Ia takut kehilangan ayahnya sebelum ayahnya benar-benar kembali kepada Allah.
Namun ternyata ketakutan itu benar terjadi.
Suatu malam kondisi ayahnya menurun drastis. Sandra masih sempat menggenggam tangan ayahnya ketika napas lelaki itu mulai melemah.
Dan beberapa menit kemudian… Ayahnya pergi untuk selamanya. Sandra terpukul hebat.
Bukan hanya karena kehilangan. Tetapi karena penyesalan. Ia merasa gagal menjadi anak.
Gagal membawa ayahnya lebih dekat kepada Allah sebelum ajal datang menjemput
Hari-hari setelah kematian ayahnya terasa sangat berat bagi Sandra.
Setiap sudut rumah menyimpan kenangan.
Kasur tempat ayahnya berbaring selama sakit masih ada.
Obat-obatan masih tersusun di meja.
Bahkan Sandra masih sering refleks ingin mengambilkan air ketika mendengar suara batuk dari luar kamar… sebelum akhirnya sadar bahwa ayahnya sudah tidak ada.
Sandra mulai sulit tidur.
Setiap malam ia sering terbangun sekitar pukul tiga dini hari.
Kadang karena mimpi tentang ayahnya.
Kadang karena suara dentuman keras dari dalam rumah.
BRAAK!
Suara itu terdengar seperti ada benda jatuh dari dapur atau ruang tamu.
Namun ketika pagi datang dan Sandra memberanikan diri memeriksa… tidak ada apa-apa.
Awalnya Sandra mengira itu hanya karena pikirannya terlalu lelah.
Tetapi lama-kelamaan rumah itu mulai terasa berbeda.
Terlalu sunyi.
Terlalu dingin.
Dan Sandra selalu merasa seperti ada yang memperhatikannya. Suatu malam hujan turun cukup deras.
Sandra sedang duduk di kamar ayahnya sambil memandangi sajadah yang sudah lama tidak dipakai.
Air matanya jatuh lagi. Ia menyesal. Sangat menyesal.
“Kalau saja Ayah mau sholat…” bisiknya pelan.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari jendela.
TOK… TOK… TOK…
Sandra terdiam.
Ketukan itu terdengar pelan tetapi jelas.
TOK… TOK… TOK…
Lalu suara laki-laki terdengar samar dari luar rumah.
“Sandra…”
Tubuh Sandra langsung menegang.
Itu suara ayahnya.
“Sandra… ”
Air mata Sandra langsung jatuh deras.
Untuk sesaat ia ingin berlari membuka pintu depan rumah.
Namun tiba-tiba bulu kuduknya berdiri.
Dadanya terasa sesak.
Dan entah mengapa… ada rasa takut yang sangat besar dalam dirinya.
Sandra teringat perkataan guru ngajinya:
“Jin suka mendekati manusia yang sedang sedih berlebihan dan hatinya kosong dari dzikir.”
Sandra langsung membaca istighfar sambil menangis.
Suara itu perlahan hilang bersama suara hujan.
Tetapi malam itu Sandra tidak tidur sampai subuh.
Sejak saat itu gangguan-gangguan kecil mulai semakin sering terjadi.
Sandra beberapa kali melihat sekelebat bayangan hitam melewati pintu kamarnya saat malam.
Cepat sekali. Saat diperiksa… tidak ada siapa-siapa.
Ketika Sandra sholat, ia merasa seperti ada seseorang berdiri di belakangnya.
Saat mengaji, kadang ia mendengar seperti ada yang mengikuti bacaannya dengan suara pelan dan berat.
Sandra mulai ketakutan.
Tetapi ia juga tidak bisa berhenti memikirkan ayahnya.
Trauma saat merawat ayahnya yang sakit terus menghantuinya.
Suara napas berat ayahnya saat sakaratul maut terus terngiang di kepalanya.
Bahkan kadang Sandra seperti mendengar suara ayahnya memanggil dari kamar kosong.
Sandra berubah menjadi pendiam.
Di sekolah ia lebih sering melamun dan menyendiri.
Matanya sembab karena hampir setiap malam menangis.
Hingga suatu hari saat pelajaran berlangsung, Sandra tiba-tiba menutup telinganya sendiri.
Bisikan-bisikan itu terdengar lagi.
Memanggil namanya pelan.
Semakin lama semakin keras.
Sandra langsung berteriak membuat satu kelas terkejut.
Guru segera menenangkan Sandra, tetapi tubuh Sandra gemetar hebat sambil terus menangis.
Ibunya akhirnya dipanggil pihak sekolah.
Atas saran guru agama, Sandra dibawa menemui ustaz untuk diruqyah.
Saat ruqyah berlangsung, Sandra terus menangis.
Ustaz itu lalu berkata lembut,
“Kesedihan itu manusiawi. Bahkan Nabi pun bersedih ketika kehilangan orang yang dicintainya. Tapi jangan sampai kesedihan membuat hati terlalu kosong hingga mudah diganggu.”
Sandra menunduk.
“Tapi malam itu, sandra dengar ayah memanggil sandra. Didalam mimpi Sandra liat ayah minta tolong ustaz.” Air matanya jatuh perlahan.
“Banyak orang salah memahami hal itu karena terlalu larut dalam rasa kehilangan.”
Sandra mengangkat wajahnya perlahan. Ustaz itu lalu mengambil mushaf Al-Qur’an dan membacakan ayat:
“Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka tersimpan dalam Sijjin.”
— QS. Al-Muthaffifin: 7
Lalu beliau melanjutkan:
“Sekali-kali tidak! Sesungguhnya kitab orang-orang yang berbakti itu tersimpan dalam ‘Illiyyin.”
— QS. Al-Muthaffifin: 18
“ruh orang-orang beriman akan ditempatkan di tempat mulia yang disebut ‘Illiyyin, sedangkan ruh orang-orang durhaka berada di tempat yang hina bernama Sijjin.”
Sandra mendengarkan dengan mata berkaca-kaca.
“Karena itu,” kata ustaz itu lagi, “jangan mudah percaya jika ada suara atau sesuatu yang menyerupai orang yang sudah meninggal lalu memanggil-manggil manusia. Ruh orang mati berada dalam urusan Allah. Yang sering datang justru jin yang memanfaatkan kesedihan manusia.”
Tubuh Sandra langsung lemas mengingat suara-suara yang selama ini memanggil namanya di malam hari.
“Jin sangat menyukai hati yang rapuh,” lanjut ustaz itu. “Saat seseorang terlalu tenggelam dalam sedih, takut, dan putus asa hingga jauh dari dzikir, saat itulah gangguan menjadi mudah masuk.”
Sandra menunduk sambil menangis.
“Kalau begitu… bagaimana dengan Ayah disana?”
Ustaz itu mengangguk pelan.
“Jangan memikirkan apa yang dalam kendali Allah, seperti apa keadaan ayah disana ada dalam ketetapan Allah, Yang dibutuhkan ayahmu sekarang bukan tangisanmu,” lanjut ustaz itu, “tetapi doa anak salehah.”
“Sebab doa anak saleh akan terus sampai kepada orang tuanya.”
Sejak saat itu Sandra mulai memahami bahwa kematian bukanlah akhir dari cinta seorang anak kepada orang tuanya. Selama ini ia terlalu tenggelam dalam rasa kehilangan sampai lupa mendoakan ayahnya dengan ikhlas.
Sejak hari itu Sandra mulai memperbaiki dirinya.
Ia kembali menjaga sholatnya. Kembali membaca Al-Qur’an. Dan setiap malam Sandra selalu mengirimkan doa terbaik untuk ayahnya Perlahan gangguan-gangguan itu mulai menghilang. Tidak ada lagi suara ketukan di malam hari. Tidak ada lagi bisikan-bisikan aneh.Rumah itu kembali tenang.
Sandra akhirnya memahami satu hal: Bahwa kematian bukan hanya tentang kehilangan.
Tetapi juga nasihat bagi yang masih hidup. Bahwa manusia bisa pergi kapan saja.
Dan ketika ajal datang, yang menemani seseorang di alam kubur hanyalah amalnya.
“Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah seluruh amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang saleh.”
— HR. Muslim