Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Slice of Life
Si Hitam dan Nasi Sisa
0
Suka
5
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Sore itu, aku mencuci piring di depan rumah seperti biasa. Seperti inilah kegiatanku setiap hari sebagai ibu rumah tangga. Kucing-kucing berdatangan. Mereka berjejer menunggu nasi atau sisa-sisa tulang ikan dari piringku. Mereka sudah seperti pengawal yang mengawasiku.

Mataku tak sengaja menangkap seekor kucing yang duduk agak jauh. Warna bulunya hitam dengan bagian dada putih. Tubuhnya kurus.

Kucing asing. Aku hafal sekali kucing-kucing yang selalu berjejer menungguku, tetapi dia? Aku baru melihatnya hari ini.

Kucoba melemparkan kepala ikan kepadanya, tetapi ia malah menjauh. Kucing-kucing lain langsung berlarian, berebut kepala ikan itu.

Aku penasaran. Aku berdiri, mencoba melihatnya lebih dekat. Ia malah berlari dan masuk ke semak-semak di arah rumah kosong. Cara larinya cukup aneh. Baru saat itu aku melihat satu kaki bagian belakangnya buntung. Entah putus dipotong, terjepit atau bagaimana, aku tak tahu.

Setelah selesai mencuci piring, kubawa ember berisi piring bersih ke dalam. Pasukan kucing tadi pun bubar. Aku memanggil anakku, menyuruhnya mandi. Ia melepas baju dan membawa perlengkapan mandi ke depan. Aku mengekorinya.

Langkahku terhenti. Aku menahan tubuh anakku sebelum ia keluar ke depan pintu. Kulihat dari jendela, kucing hitam tadi sedang makan nasi sisa yang berhamburan di tanah. Aku lupa menyiramnya, pikirku. Saat ia mengangkat kepala dan bertatapan denganku, ia langsung berlari. Padahal aku baru saja mau menyapanya.

“Halo, Si Hitam.” Ia sudah menghilang.

“Dasar Si Hitam penakut,” gumamku. Lalu, aku mengajak anakku mandi.

“Siapalah yang motong kakinya? Kasihan sekali,” gumamku sambil menyabuni anakku. Mataku kembali melihat ke arah semak-semak, tempat ia bersembunyi tadi.

Hari-hari terus berlalu. Ia selalu datang setiap kali aku mencuci piring, dan akan berlari cepat jika kusapa. Akhirnya, aku memilih pura-pura tidak melihatnya kalau dia datang. Kulemparkan saja tulang ayam atau sisa daging dari piring tanpa memperhatikannya.

Lama-lama, ia mulai berani mendekat. Bahkan kini ia ikut berjejer seperti kucing-kucing lain, seolah sedang mengantre makanan gratis. Setiap ada sisa, kuberikan padanya. Khusus untuknya. Kadang, kuberi satu potong ayam goreng.

Kucing-kucing lain? Mereka hanya mengikuti insting hewannya untuk berebut makanan. Pada dasarnya, mereka semua kucing berpemilik.

Mungkin Si Hitam sudah mengingatku sebagai orang yang selalu memberinya makan. Ia mulai berani. Tak lagi lari ketika kudekati. Hanya saja, jangan coba-coba mengulurkan tangan untuk mengelus bulunya yang tampak kasar itu. Ia akan langsung lari.

Belakangan, ia juga mulai mengeong, meminta makanan. Aku tak tahan mendengar suaranya yang menurutku manja itu. Aku pun tergoda memberinya ikan yang kucampur dengan nasi, kuletakkan di depan rumah. Aku pun semakin sering melakukannya dan ia semakin sering datang. Kulihat, perutnya mulai membesar. Ternyata dia hamil.

Suatu siang, Si Hitam tiba-tiba melompat masuk dari jendela. Aku yang sedang bermain dengan anakku terkejut. Setelah mendarat di lantai, matanya menatapku waspada.

“Halo, manis! Kau lapar?” kataku, tanpa beranjak dari posisi.

Ia mengendap-endap menuju tumpukan piring kotor, padahal aku sudah melihatnya. Ia mulai mengorek-ngorek, mencari makanan. Aku yang sedang duduk pun berdiri dan berjalan menuju meja hendak memberinya makanan. Ia langsung beringsut dan hampir berlari ke luar. Matanya menatapku waspada.

“Tidak apa-apa, Manis! Aku tidak akan menyakitimu. Tenanglah!” kataku, seolah-olah kucing itu mengerti bahasa manusia.

Ia masih berdiri di tempatnya, di bawah meja dekat kaki meja yang mengarah ke jendela. Tubuhnya seperti sedang memasang aba-aba hendak berlari.

“Ini, aku hanya ingin memberimu makan,” kataku sambil menyodorkan sepotong ikan goreng.

Ia tidak langsung mengambilnya. Aku dan anakku pun masuk ke kamar. Diam-diam, aku mengintip. Akhirnya, ia memakan ikan itu.

Setelah hari itu, ia mulai berani masuk ke rumah dan aku selalu memberinya makanan. Lama-lama, ia mulai mengeong lagi, meminta makanan kalau dirasa aku belum memberinya. Perlahan, setelah selesai makan, ia mulai tidur siang di rumahku sampai sore. Setelahnya, ia pergi entah ke mana. Itu terjadi setiap hari. Ia datang, kuberi makan, tidur, lalu pergi.

Kupikir ia sudah tidak takut lagi padaku. Aku berjongkok di dekat tubuhnya yang sedang berbaring, matanya setengah terbuka. Kuulurkan tangan, hendak mengelus kepalanya. Namun, tiba-tiba ia langsung berlari dan bersembunyi di bawah meja kompor, di balik tabung gas.

Aku mengembuskan napas kasar. Rupanya, ia belum sepenuhnya percaya kepadaku. Aku masuk ke kamar, meninggalkannya sendiri. Daripada ia benar-benar pergi, lebih baik aku bersabar sedikit. Sejak saat itu, aku tak pernah berniat lagi mengusap bulunya.

Perut Si Hitam semakin membesar. Sepertinya sebentar lagi anaknya akan lahir. Ia mulai mencari-cari tempat di rumahku. Kuperhatikan, ia masuk ke bawah meja kompor, bawah mesin cuci, gudang, lemari pakaian, bahkan bawah ranjang. Hampir setiap hari ia melakukannya.

“Oh, sudah mulai berani, ya, sekarang,” gumamku. Aku biarkan saja, selama ia tidak memilih lemari pakaianku.

Beberapa hari kemudian, aku tak melihat Si Hitam. Padahal sudah kusiapkan ikan untuknya. Hingga sore, ia tidak juga muncul. Kupikir, apa ia diambil orang? Atau sebenarnya ia kucing berpemilik yang tersesat? Berbagai pertanyaan berputar di kepalaku mengenai hilangnya Si Hitam.

“Syukurlah kalau sudah ada yang merawatnya,” kataku.

Mataku sesekali melihat-lihat ke arah semak-semak, sementara tanganku sibuk menggosok piring. Siapa tahu ia muncul. Namun, Tak ada. Yang ada hanya kucing tetangga yang sedang bertengkar.

Hari kedua, ia juga tak muncul. Aku semakin mantap berpikir kucing itu dibawa tuannya pulang atau dikurung agar tidak berkeliaran, karena sedang hamil besar.

Pagi-pagi, di hari ketiga, tiba-tiba ia muncul dari jendela. Ia membawa seekor anak kucing dan meletakkannya di bawah ranjang tidurku, lalu pergi lagi. Tak lama kemudian, ia kembali membawa anak kucing lainnya. Begitu terus. Satu per satu. Kunyalakan senter ponsel dan kuarahkan ke bawah ranjang. Totalnya ada empat ekor.

Suara mengeong kecil bersahut-sahutan, membuat suasana di bawah ranjang riuh. Si Hitam berada di antara mereka, menyusui anak-anaknya.

Setelah suamiku bangun, aku mengatakan kepadanya bahwa kucing hitam itu membawa anak-anaknya ke bawah ranjang. Aku khawatir, soalnya suamiku tidak suka kucing. Katanya, ia geli dengan bulunya.

“Biarin, kasihan,” katanya. Aku mengembuskan napas lega.

Setelah suamiku selesai mandi, kami pergi ke toko pakan hewan untuk membeli makanan untuk Si Hitam yang sedang menyusui. Pulangnya, kutuangkan makanan itu ke dalam wadah. Aku juga menyediakan air bersih, lalu kutaruh semuanya di bawah ranjang. Setelah itu, aku menjauh.

Si Hitam langsung bangkit dan memakan makanan itu. Anak-anaknya mengeong riuh. Si Hitam sibuk mengisi tenaganya.

“Kuterima kau ngontrak di sini sampai anakmu cukup besar,” gumamku, memperhatikannya minum.

Tiga bulan telah berlalu. Namun, anaknya tinggal satu. Entah ke mana hilangnya yang tiga itu. Hanya tersisa seekor bayi kucing bermotif tabby dengan bagian dada putih. Ia sudah keluar dari bawah ranjang dan bermain dengan penghuni rumah.

Si Hitam hanya mengawasi dari dalam rumah kardus yang kubuatkan. Ia tampak berbaring santai dengan mata setengah terbuka.

Seolah matanya berkata, “Mainlah. Jangan sampai anakku kenapa-kenapa!”

Kelakuan bayi itu sangat lucu. Kadang ia memainkan ekor ibunya yang sedang duduk, meronta-ronta saat bulunya dijilati Si Hitam. Aku terhibur melihat kelakuannya.

Si Hitam tertidur di bawah kaki meja dekat jendela sambil menyusui anaknya. Aku berjongkok. Matanya terbuka setengah. Aku mengulurkan tangan. Matanya langsung terbuka, waspada. Namun, ia tidak lari karena di perutnya anaknya sedang menempel.

Tanganku mendarat di kepalanya. Telinganya menekuk ke belakang, matanya terpejam tegang. Mulai kuusap-usap kepalanya. Benar saja, bulunya terasa kasar. Perlahan, daun telinganya mulai terangkat lagi, walau belum sepenuhnya normal.

Tak terasa, empat bulan sudah usia bayi kucing ini. Ia sudah mulai berhenti menyusu. Makanan kucing kami ganti dengan makanan khusus ibu dan anak. Perlahan, ia mulai belajar makan itu.

“Si Hitam ini kenapa, sih? Nggak gemuk-gemuk, udah dikasih makan juga,” keluhku suatu malam. Ia terbaring di dekat dinding.

“Ya, gimana? Makannya sedikit gitu,” sahut suamiku sambil menoleh sekilas pada Si Hitam.

Anaknya kuberi nama Boba. Beberapa hari sebelumnya, aku dan anakku membeli boba tea. Lagipula, kulihat mata anak kucing itu bulat seperti boba. Boba berlari-lari, menangkap tali, melompat-lompat bermain dengan suamiku.

Kadang, sepulang kerja, suamiku membawakan Si Hitam ayam rebus yang diblender agar Boba juga bisa ikut makan.

“Mulai sekarang, kau resmi menjadi kucingku,” gumamku pelan, seolah berbicara kepada ibu dan anak berbulu itu.

Semakin hari, tubuh Si Hitam makin kurus. Aku sangat prihatin melihatnya. Kata suamiku, itu karena dia menyusui, makanya yang gemuk hanya anaknya saja.

Belakangan ini, makannya pun semakin sedikit, tidak seperti awal-awal. Ia malah suka berbaring di tanah yang lembap, tidur di dekat kamar mandi, atau di lantai yang basah. Kupikir ia hanya kepanasan, apalagi memang sedang musim panas.

Beberapa hari kemudian, kudapati ia tak mau makan sama sekali. Ia hanya tiduran. Ketika kuusap tubuhnya, terasa tulang-tulangnya dari balik bulu hitamnya. Ia semakin kurus dan aku semakin khawatir.

Aku bilang kepada suamiku bahwa Si Hitam tak mau makan. Sepulang kerja, suamiku membawakan ayam rebus yang sudah diblender dan memberikannya kepada Si Hitam. Ia hanya mencium-cium makanan itu, lalu mundur dan duduk lesu. Malah, bayinya yang melahapnya hingga habis.

Keesokan harinya, kondisinya masih sama. Hari ini aku mau berkunjung ke rumah ibuku. Sebelum pergi, kuberi Si Hitam sepotong ayam. Mana tahu ia mau makan, pikirku.

Boba kutaruh di luar terlebih dahulu agar tidak merebut makanan ibunya. Si Hitam mulai menggigit daging itu. Tanpa sadar, bibirku tersenyum. Aku mengusap-usap kepalanya pelan, ia tidak lagi takut. Ia mengangkat kepala dan menatapku sebentar sambil mengeong dengan suaranya yang seperti hampir habis.

“Makanlah, ini untukmu,” kataku. Aku berpikir ia baik-baik saja. Setelah itu, aku berangkat.

Sore harinya, aku pulang. Kudapati Si Hitam sedang tidur di kamar mandi. Aneh, kamar mandiku tercium bau busuk, tetapi samar.

Kupanggil Si Hitam. Ia bangun dan berdiri menghampiriku dengan langkah gontai. Tak lama kemudian, ia kembali berbaring di bawah meja dapur, di tempat yang basah bekas tumpahan air minum.

Ia sepertinya sangat kepanasan. Kupindahkan ia ke luar rumah, di dekat dinding, tempat biasa ia bersantai. Di situ lebih dingin. Ia kembali berbaring seperti biasa.

Sehabis Magrib, kutemukan ia sudah pindah ke bawah jemuran, di tanah yang lebih lembap. Tubuhnya sudah kaku, matanya terbuka.

Tubuhku membeku. Sesuatu dalam hatiku terasa luruh. Aku lemas. Aku berharap ia masih hidup, tetapi ternyata ia sudah pergi.

Aku teringat dan tak menyangka, sepotong daging ayam dan elusanku tadi pagi akan menjadi yang terakhir. Mataku memanas, tetapi tak mengeluarkan air mata.

Aku bilang kepada suamiku, “Si Hitam mati.” Dadaku terasa sesak. Rasanya aku ingin menangis saat tubuhnya perlahan ditimbun tanah. Kami pun menguburkannya di bawah pohon.

Boba mendekat, mencium-cium tubuh Si Hitam sebelum tanah sepenuhnya menutupi tubuh sang ibu.

“Jangan, Boba!” kata suamiku. Aku pun mengambil dan menggendong anak itu. Ia meronta-ronta ingin turun, tetatpi tak kulepaskan.

Kini hanya tinggal Boba. Kami meneruskan menjaga dan merawatnya. Meski tidak akan sama dengan kasih sayang ibunya, setidaknya ia tidak sendirian.

TAMAT

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Cerpen
Si Hitam dan Nasi Sisa
Dara Kirana
Cerpen
Mie di Kala Hujan
zain zuha
Cerpen
Sepiring Nasi Ikan
Dara Kirana
Cerpen
Sore Itu Di Depan Gang Kecil
hadi wiyono
Cerpen
Membisukan Kata di ujung Patah
Nurhidayah
Cerpen
Bronze
Anto dan Sebatang Rokok
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Lelaki Tua di Serambi Makam
Best Siallagan
Cerpen
Bronze
Kenapa Tak Ingin ke Kota?
Anggrek Handayani
Cerpen
Bronze
MENYAMBUNG SENAR GITAR
angin lembah
Cerpen
Bronze
Kumcer Paling Buruk
Imas Hanifah N.
Cerpen
Bronze
Menari Bersama Semesta
Shinta Larasati Hardjono
Cerpen
Bronze
Sepatu Ibu
alifa ayunindya maritza
Cerpen
Bronze
Overtime
Aylanna N. Arcelia
Cerpen
Bronze
SAVITRI
Sri Wintala Achmad
Cerpen
Bronze
Embun Yang Hilang
Langitttmallam
Rekomendasi
Cerpen
Si Hitam dan Nasi Sisa
Dara Kirana
Cerpen
Sepiring Nasi Ikan
Dara Kirana
Cerpen
Semangkuk Cinta
Dara Kirana
Cerpen
Selamat Tinggal Cinta
Dara Kirana
Cerpen
Bronze
Hujan Dan Jejak yang Ditinggalkan
Dara Kirana
Cerpen
Bronze
Luka yang Mengajariku Bertahan
Dara Kirana
Cerpen
Bronze
Ibu dan Segala Ocehannya
Dara Kirana
Novel
Bronze
Madu yang Beracun
Dara Kirana
Novel
Bronze
Perempuan yang Memilih Bertahan
Dara Kirana
Cerpen
Bronze
Kita Tak Perlu Till Jannah
Dara Kirana
Cerpen
Bronze
Ceker Ayam Favorit Ibu
Dara Kirana
Cerpen
Bronze
Yang Tak Pernah Bapak Ceritakan
Dara Kirana
Cerpen
Cinta Tumbuh Dari Dompet
Dara Kirana
Cerpen
Simfoni Di Dapur Panas
Dara Kirana