Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Matahari hari itu tidak sekadar bersinar, ia sedang melancarkan serangan Solar Beam level maksimal ke arah bumi, khususnya ke koordinat tepat di atas ubun-ubunku. Pukul 11.00 siang di Bekasi, atau mungkin ini adalah simulasi neraka lapis pertama, aspal jalanan memancarkan fatamorgana yang membuat pandangan bergelombang.
Aku, seorang pemuda dengan dompet setipis tisu toilet basah, menghentikan laju motor bututku, The Black Stallion (sebenarnya Honda Beat lawas tahun 2011), di depan sebuah minimarket.
Di boncengan, sepupuku, Dyah, turun dengan anggun seolah dia tidak menyadari bahwa kami baru saja menembus atmosfer panas yang mampu melelehkan sandal jepit.
"Sebentar ya Mas," ucapnya ringan, seolah tak ada beban dosa. Dia melenggang masuk ke dalam surga berpendingin udara itu.
Aku mengangguk kaku. Saat itulah, sensor bahaya di otak belakangku berkedip merah. Insting membunuh yang tajam terdeteksi mendekat.
Dari balik bayang-bayang tiang listrik, sesosok figur muncul. Dia mengenakan rompi oranye yang warnanya sudah memudar dimakan zaman, topi rimba lusuh yang menutupi separuh wajah, dan sebuah peluit keramat tergantung di lehernya.
Sang Penjaga Gerbang Paving. The Parking Master.
Dia bergerak tanpa suara, langkah kakinya seperti ninja Konoha yang sedang mengintai mangsa, mendekati Black Stallion-ku.
"Jangan dikunci stang ya, Mas," suaranya parau, berat, mengandung intimidasi yang terselubung ramah tamah palsu.
Inilah move pembuka. Sebuah jebakan klasik. Jika aku mengunci stang, dia tak bisa memindahkan motorku. Jika aku tak mengunci stang, dia punya otoritas penuh atas kendaraan ini, yang artinya: Kontrak Transaksi Parkir Sah.
Aku menoleh, memasang wajah nyengir yang lebih mirip penderita sembelit kronis.
"Enggak, Mas. Saya cuma sebentar kok. Cuma nungguin sodara saya belanja bentar, paling cuma beli tisu," dustaku. Sebuah bluffing murahan.
Tukang parkir itu menatapku. Matanya, yang tersembunyi di bawah bayangan topi, berkilat. Dia tahu aku berbohong. Dia tahu aku sedang melancarkan Teknik Pertahanan Dompet Mutlak.
"Oh... gitu..." jawabnya sinis.
Nada bicaranya mengandung seribu makna. Oh, gitu? Kau pikir kau siapa, anak muda? Kau pikir kau bisa lolos dari hukum alam semesta ini? Bahwa setiap roda yang menyentuh paving block suci ini harus membayar upeti?
Dia tidak pergi. Dia tidak mengatur motor lain. Dia justru melakukan man-marking ketat. Dia mengelilingiku sekali, seperti hiu mengitari perahu nelayan yang bocor. Langkahnya pelan, setiap hentakan sepatunya di paving block terdengar seperti detak jam kiamat di telingaku.
Dok. Dok. Dok.
Aku tahu peraturannya. Hukum jalanan Bab 1 Pasal 1: Selama pantat pengendara tidak lepas dari jok motor, maka retribusi parkir belum berlaku.
Ini adalah celah hukum. Loophole legendaris yang diwariskan oleh nenek moyang sobat misqueen.
Aku mencengkeram stang motor. Aku tidak akan turun. Demi Pangeran Antasari di saku celanaku yang tinggal satu lembar itu, aku tidak akan turun!
Setelah putaran yang mengintimidasi, Sang Tukang Parkir mengambil posisi. Dia duduk di kursi plastik putih di depan minimarket, kursi singgasananya. Jarak kami hanya tiga meter.
Dia mengeluarkan rokok, menyulutnya dengan gaya slow motion. Asap mengepul, membentuk siluet naga yang seolah mengejekku. Dia menatapku tajam. Tatapan itu berkata: 'Kita lihat sekuat apa kau akan bertahan, Bocah.'
Medan pertempuran telah ditetapkan.
RONDE 1: NERAKA SURYA
Sialnya, alam semesta sepertinya bersekongkol dengan Sang Tukang Parkir. Awan yang tadi sempat menaungi kami tiba-tiba sirna, diusir oleh angin panas. Matahari kini berada di posisi zenith, tegak lurus di atas kepalaku.
Panasnya bukan main. Ini bukan panas biasa. Ini adalah panas Amaterasu. Api hitam abadi yang membakar kulit hingga ke tulang.
Sinar ultraviolet menghujam helmku, menembus jaket murahku, dan memanggang dagingku. Aku bisa merasakan keringat mulai mengalir dari pelipis, menetes ke leher, menciptakan sungai-sungai kecil keputusasaan di punggungku.
Sementara itu, musuhku duduk di teras minimarket. Teduh. Nyaman. Dilindungi oleh kanopi aluminium yang kokoh. Dia tersenyum. Senyum kemenangan dini. Senyum seorang kaisar melihat gladiator yang sekarat di tengah arena gurun.
"Aku bisa bertahan," batinku. "Ini hanyalah panas duniawi. Neraka jahanam masih lebih panas. Fokus! Fokuskan Chakra ke seluruh pori-pori untuk menahan dehidrasi!"
Tapi tubuhku berkhianat. Tenggorokanku kering kerontang seperti Gurun Sahara. Lidahku terasa kelu.
Melihat pertahananku yang mulai goyah, Tukang Parkir itu melancarkan serangan pertamanya. Sebuah Move yang sangat keji.
Dia merogoh ke belakang kursi, ke dalam sebuah cooler box imajiner (atau mungkin dia menyembunyikannya di sana, entahlah), dan mengeluarkan sebotol minuman bersoda.
Botol itu... Ya Tuhan... Botol itu berembun. Butiran-butiran air kondensasi menetes perlahan di dinding botol plastik yang dingin itu, berkilauan diterpa cahaya matahari, seindah berlian.
Tssssst-krak!
Suara tutup botol dibuka. Suara desis gas karbonasi yang membebaskan diri. Suara itu begitu nyaring di telingaku, lebih keras daripada ledakan bom atom.
Dia mengangkat botol itu. Cairan hitam pekat, manis, dingin, dan menyegarkan itu mengalir masuk ke mulutnya.
Glek. Glek. Glek.
"Ahhhh..." desahnya panjang setelah meneguk minuman itu. Suara kepuasan yang brutal.
Jakunnya bergerak naik turun dengan irama yang hipnotis. Dia menatapku lagi, mengangkat botolnya sedikit seolah bersulang untuk penderitaanku.
"Serangan mental!!!" teriakku dalam hati. "Dia menggunakan Genjutsu tipe Hydro-Sonic! Sialan, dia tahu kelemahanku!"
Aku menelan ludah. Tapi tak ada ludah yang bisa ditelan. Mulutku terasa seperti diamplas.
"Jangan tergoda, Cahyo! Jangan tergoda!! Itu cuma air gula jahat, ingat diabetes!! Ingat uang dua ribu perak ini adalah uang terakhirmu untuk beli gorengan nanti sore!"
Aku mengeratkan pegangan pada stang motor. Buku-buku jariku memutih. Defense fisikku masih 100%, tapi Mental Point (MP)-ku turun drastis ke angka 60%.
RONDE 2: BADAI KESEGARAN
Belum sempat aku memulihkan mental, dia melancarkan Combo kedua.
Dia meletakkan sodanya, lalu mengambil sebotol air mineral dingin. Kali ini dia tidak meminumnya. Dia membuka tutupnya, dan dengan gerakan dramatis seperti bintang iklan sampo, dia menuangkan sedikit air itu ke tangannya, lalu mengusapkannya ke leher dan sebagian kepalanya.
"Aaaaaahhh... Seger... Panas-panas gini emang paling enak guyur air dingin..." ucapnya keras-keras. Sengaja. Sangat sengaja!
Setetes air memercik, terbang slow motion melewati jarak tiga meter di antara kami, dan mendarat tepat di pipiku yang panas membara.
Cesssss.
Tetesan air itu menguap seketika saat menyentuh kulitku, meninggalkan sensasi dingin sejenak yang justru memperparah rasa hausku. Itu adalah siksaan Tantalus. Kenikmatan yang diletakkan tepat di depan mata tapi tak bisa diraih.
"Bajingan..." gumamku lirih. Bibirku gemetar.
Pandanganku mulai berkunang-kunang. Apakah ini batas kemampuanku?
Apakah aku harus menyerah?
Bayangan kursi di dalam minimarket mulai menggoda. Rak-rak berisi minuman dingin memanggil namaku. "Budi... kemarilah... dinginnn... sejukkk..."
"Tidak!" Aku menggelengkan kepala, mengibaskan halusinasi itu. "Demi dua ribu perak! Dua ribu perak adalah harga diri! Jika aku turun, aku bayar parkir. Jika aku bayar parkir, aku kalah!"
RONDE 3: ANGIN SURGAWI
Musuh tidak memberi ampun. Melihat aku masih mematung di atas jok motor, dia mengeluarkan Senjata Legendaris-nya.
Sebuah kipas angin mini portable. Berwarna pink neon.
Dia menekan tombol ON. Baling-baling kecil itu berputar kencang. Whuzzzzz.
Dia mengarahkan kipas itu ke wajahnya yang basah oleh sisa air tadi. Rambut gondrongnya yang lepek kini berkibar-kibar tertiup angin buatan. Dia memejamkan mata, menikmati semilir angin yang bagi dia mungkin terasa seperti hembusan napas bidadari surga.
"Aaaahh.... nikmatnya... berasa di Pegunungan Alpen..." ucapnya sambil menyisir rambutnya ke belakang dengan jari.
BANGKEEE!
Pasti nikmat banget itu! Ya Tuhan, di sini suhunya 40 derajat Celcius, aku terbungkus jaket, dan helm, sementara dia menikmati simulasi resor bintang lima di teras Alfamart!
Kakiku mulai goyah. Standar samping motor perlahan turun. Ujung besi standar itu sudah hampir mencium aspal.
"Turun saja, Cahyo," bisik sisi lemahku. "Ngapain sih lu nyiksa diri demi duit receh? Lu kerja keras bagai kuda, masa dua ribu perak aja nggak rela?"
Benar juga. Apa gunanya hidup kalau menderita begini? Tinggal turun, masuk, ngadem. Selesai. Harga diri tak bisa dimakan.
Ujung standar menyentuh aspal. Ting.
Sudah. Habis sudah. Aku menyerah. Aku akan turun dan duduk di sana. Aku akan mengakui kekalahanku pada Sang Penguasa Lahan.
Namun...
Tiba-tiba, waktu seolah berhenti. Warna-warna di sekelilingku memudar menjadi abu-abu.
Di dalam keheningan kosmik kepalaku, terdengar suara berbisik.
'Kau belum kalah...'
'Siapa itu?' tanyaku dalam hati.
'Kau adalah pejuang kaum mendang-mending. Kau adalah harapan terakhir anak kost di akhir bulan.'
Sebuah memori melintas di benakku. Kilas balik masa lalu (Flashback Arc dimulai).
Terlihat wajah almarhum kakekku, tersenyum sambil memegang celengan ayam. "Simpan uangmu, Cucuku. Dikit-dikit lama-lama jadi bukit. Kalau bocor dikit-dikit, lama-lama jadi pailit."
Terbayang wajah teman-teman tongkrongan yang selalu patungan beli gorengan. "Yo, kurang dua ribu nih, talangin dulu yak!"
Lalu, visualisasi yang paling kuat muncul. Aku membayangkan lembaran uang dua ribu di saku celanaku. Sosok Pangeran Antasari di uang kertas itu seolah hidup. Dia mencabut pedangnya, menunjuk ke arah tukang parkir itu.
"Yo, anak muda! Jangan menyerah!" seru Pangeran Antasari dengan suara baritone yang gagah. "Ada kekuatan tersembunyi dalam dirimu! Kau adalah keturunan bangsa yang tahan dijajah 350 tahun... Masa dijajah tukang parkir 10 menit saja kau menyerah?! Bangkitlah... Bakar Semangatmu!!!"
Lagu pembuka anime shonen (bayangkan lagu Silhouette dari Kana-Boon) mulai berdendang kencang di otakku.
NANNIMOOOO! NANNIMOOOO!
Aku menarik napas panjang. Udara panas yang kuhirup tidak lagi terasa menyakitkan. Oksigen itu masuk ke paru-paru, berputar, dan berubah menjadi Qi murni. Aku seperti menyerap energi alam semesta. Panas matahari bukan lagi musuh, melainkan sumber tenaga. Aku adalah panel surya hidup!
SRIIIING!
Aku membuka mata.
'Aku... Tak... Akan... Kalah.'
Kaki kiriku menendang standar samping kembali ke atas. CTAK! Suaranya bergema, membelah kesunyian siang bolong.
Aku menegakkan punggung. Tatapanku berubah. Pupil mataku mengecil, fokus terkunci pada target.
Tukang parkir itu tersentak. Rokok di bibirnya nyaris jatuh. Dia bisa merasakannya. Dia bisa melihatnya.
Aura berwarna kuning keemasan meledak dari tubuhku. Rambutku (di dalam helm) seolah berdiri tegak melawan gravitasi. Udara di sekitarku bergetar karena tekanan spiritual yang masif. Aspal di bawah ban motorku retak sedikit (hiperbola, tentu saja).
Ini bukan lagi Cahyo si pelit. Ini adalah Cahyo : Mode Super Ngirit God.
Tukang parkir itu membelalak. Kipas angin di tangannya seolah berhenti berputar karena kalah dominasi angin.
"Aura apa ini?!" batin tukang parkir itu (aku bisa mendengar narasi batinnya melalui telepati pertarungan). "Tekanannya... berat sekali! Dia bukan orang miskin biasa! Dia adalah... Si Tukang Ngirit Legendaris!! The Legendary Penny Pincher!!!"
Kami saling bertatapan.
Di mata orang biasa yang lewat, kami cuma dua orang laki-laki yang saling melotot tak jelas. Satu kepanasan di atas motor, satu duduk kipasan.
Tapi di mata batin para pendekar, ini adalah benturan dua kekuatan besar.
Di belakangku, muncul manifestasi roh seekor Naga Emas yang terbuat dari koin receh. Di belakangnya, muncul manifestasi roh Raksasa Aspal yang memegang karcis parkir.
"MAJU SINI!" teriak batinku.
"AKU AKAN BERTAHAN SAMPAI KIAMAT, BAHKAN SAMPAI DYAH KELUAR MEMBAWA SATU TRUK BELANJAAN PUN, AKU TIDAK AKAN TURUN!"
Tekadku sekeras baja. Keringatku menguap menjadi uap semangat. Aku sudah mencapai Nirwana Keiritan. Aku tak butuh minum. Aku tak butuh teduh. Aku hanya butuh GRATIS.
Tukang parkir itu mulai gemetar. Dia menyadari kekalahannya. Dia tahu, tidak ada yang bisa mengalahkan pria yang rela mati demi 2000 perak. Dia menundukkan pandangannya sedikit, mengakui dominasiku.
Menang. Aku menang.
Ini adalah puncak kejayaan hidupku. Aku telah menaklukkan sistem. Aku telah mengalahkan penjaga gerbang.
Tepat di puncak klimaks pertarungan, saat kemenanganku sudah di depan mata...
Kring!
Pintu minimarket terbuka otomatis. Suara itu memecahkan dimensi pertarungan kami. Aura emas dan naga koin menghilang seketika. Musik anime berhenti mendadak seperti kaset kusut.
Dyah keluar. Wajahnya segar, tangannya menenteng kantong plastik kecil. Hanya berisi satu botol air mineral dan sebungkus tisu.
Dia berjalan santai melewati motorku, langsung menuju si Tukang Parkir.
Dengan gerakan yang begitu natural, begitu polos, dan begitu menghancurkan, dia mengulurkan tangannya.
"Nih, Mas," ucap Dyah ramah.
Di jari-jarinya yang lentik, terselip selembar uang kertas berwarna abu-abu. Dua ribu rupiah.
Tukang parkir itu menerimanya dengan sigap. "Makasih, Neng."
DUAAAAARRRRRRR!!!
Petir menyambar di siang bolong (hanya di dalam kepalaku).
Duniaku runtuh. Harga diriku hancur berkeping-keping menjadi debu kosmik. Perjuanganku... menahan panas... menahan haus... menahan godaan setan botol bersoda... Flashback kakekku... Pangeran Antasari... Semuanya...
Sia-sia.
"Yuk Mas pulang, udah kebeli semua ini," kata Dyah sambil naik ke boncengan. Motor bergoyang sedikit menerima beban tubuhnya, seiring dengan beban hatiku yang bertambah berton-ton.
Aku tertunduk. Helmku terasa sangat berat.
Aku kalah. Bukan karena musuhku lebih kuat. Tapi karena pengkhianatan dari dalam. Friendly Fire.
Tukang parkir itu berdiri. Dia berjalan mendekati motorku untuk menarik behel belakang, membantu memundurkan motor. Sebuah gestur standar pelayanan.
Tapi saat dia memegang behel motor, wajahnya mendekat ke arahku.
Dia tersenyum. Bukan senyum mengejek seperti tadi. Tapi senyum seorang ksatria yang menghormati lawannya yang gugur.
"Nice Fight, Bro," bisiknya pelan, hampir tak terdengar.
Aku mengangkat wajahku. Menatap matanya yang kini terlihat jelas. Ada rasa respek di sana.
"Yeah... You too, Bro..." jawabku getir, memberi senyum hormat yang pahiit sekali.
Sebelum aku tancap gas, kami melakukan ritual terakhir. Tangan kiriku terangkat, mengepal. Tangan kanannya terangkat, mengepal.
Bump.
Kami mempertemukan tinju kami. Tanda gencatan senjata. Tanda pertandingan usai. No hard feelings.
Dia menepuk dadanya dua kali, lalu menunjuk ke arahku. Tanda hormat militer.
Aku mengangguk pelan, lalu memutar gas. Black Stallion menderu, membawa kami menjauh dari arena pertempuran berdarah (secara metafora) itu.
Di jalan pulang, angin menerpa wajahku.
"Mas... kalian tadi ngapain sih?" tanya Dyah polos dari belakang. "Terus kenapa tadi tinju-tinjuan sama tukang parkirnya? Kenal?"
Air mata jantan menetes di balik kaca helmku.
"Aku baru saja kalah, Dyah..." jawabku dramatis.
"Lho? Kalah apa? Main slot?"
"Bukan. Kalah perang suci."
"Hah?"
Aku tak menjawab lagi. Dyah tak akan mengerti. Tak akan ada yang mengerti luka ini. Dua ribu perakku aman di saku, tapi dua ribu perak Dyah tetap melayang. Tetap saja...
Aku kalah.
Tapi aku bersumpah, wahai aspal jalanan... Besok, di Indomaret seberang jalan... AKU AKAN KEMBALI!