Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Romantis
She Likes Summer I Prefer Rain
0
Suka
3
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Sinar mentari baru saja pecah saat Juni Meylani menghidu bau itu; aroma yang selalu membuatnya terjaga tanpa perlu alarm. Itu adalah kombinasi rumit antara parfum bergamot hangat, dinginnya pagi, dan sisa asap tembakau yang menempel di serat jaket denim.

Juni membuka mata. Mendapati Ian Aditya, suaminya, sudah berdiri di ambang pintu balkon yang terbuka. Punggung lelaki itu naik turun secara ritmis, disusul suara batuk kecil yang tertahan.

"Ian," panggil Juni, suaranya masih serak khas orang baru bangun tidur. "Inhaler kamu di mana?"

Ian berbalik, menyelipkan kotak Marlboro ice burst-nya ke dalam saku celana dengan terburu-buru seperti anak kecil yang ketahuan mencuri permen. Dia tersenyum tipis, melangkah mendekati tempat tidur, lalu duduk di tepinya. "Nggak apa-apa, Sayang. Cuma batuk ringan."

Juni mendengus, tapi tidak bisa menahan diri saat Ian membungkuk untuk mengecup keningnya. Detik itu juga, indera penciuman Juni dipenuhi oleh aroma Ian. Bau rokok yang pahit dan berbahaya, namun anehnya selalu terasa seperti rumah. Sementara di nakas sebelah kasur, sebuah lilin aromaterapi stroberi miliknya yang baru padam semalam masih menyisakan wangi manis yang samar di udara.

"Berapa batang?" Juni bertanya.

"Apa?" Ian menenggelamkan wajahnya ke dalam tengkuk Istrinya yang terasa hangat, tempat ternyaman menurut Ian. Dirinya bisa bertaruh pada dunia tentang itu. Juni itu adiktif, candu yang paling mematikan dan sumber segala jenis sakit kepalanya setiap waktu.

"Kamu ngerokok berapa batang, Ian?" Ulang Juni, nadanya sedikit lebih kesal.

Ian cengar-cengir tidak jelas, menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. "Dua." Cicitnya.

Juni menghela napas pelan, "oke, dua gelas kopi untukku."

"Eh, mana bisa begitu? Tidak, tidak, tidak," Ian menggeleng-geleng cepat, tidak setuju. "Lambungmu akan perih nanti." Imbuhnya.

"Memangnya kenapa? Toh kamu juga tidak memikirkan asma-mu, tuh," sinis Juni. "Satu batang untuk satu gelas. Kamu jangan sok lupa perjanjian kita." Peringat Juni, mendelik sebal.

Ian berjongkok di depan kasur, tepat di depan Juni. "Aku tidak lupa, Sayang. Tapi semalam kamu sudah minum kopi."

"Kamu juga merokok, ya, semalam!" Juni mendengkus sebal. Sebal sekali sama Ian-Ian ini! Yang benar saja, dia dilarang minum kopi akibat tukak lambung yang dialaminya, sedangkan Suaminya itu selalu merokok padahal penderita asma akut! Tidak adil.

Ya, begitulah kisah sepasang Suami-Istri yang sama-sama punya penyakit.

"Tidak adil!" Sentak Juni.

Aduh, pusing, Ian merasa pusing sekali melihat tingkah Istrinya yang begitu menggemaskan. Lihat saja, alisnya bertaut tajam, mulutnya mencucu, rona pipinya merah padam. Juni Meylani ini benar-benar lucu, imut, menggemaskan. Lucu, imut, menggemaskan. Lucu, imut, menggemaskan. Begitu terus siklusnya.

"Kenapa senyum-senyum, aku sedang serius."

Ian menangkup pipi Juni dengan kedua tangannya. "Iya, iya, maaf. Kamu boleh minum kopi, tapi segelas saja. Ya? Ya?" Ian mengubah posisinya menjadi berlutut, memohon pada Juni.

"Dua gelas. Kamu 'kan merokok dua batang." Juni dan pendiriannya.

"Satu saja, please? Nanti aku belikan martabak sebagai gantinya." Ucap Ian, mencoba menawar.

"Dan Strawberry Lucky Sundae."

Ian sempat ingin tertawa, tapi tatapan mata Juni menajam. Aduh, bisa-bisa Ian bolong ditatap begitu. "Iya, iya, aku belikan."

"Dan jco."

Benar saja, tawa Ian menyembur sudah. Astaga, Juni dan perut karetnya. "Kamu ini, dasar Luffy versi perempuan!" Ian mencubit gemas ujung hidung mungil Juni.

Tidak masalah bagi Ian, asalkan Juni selalu bahagia. Apa pun akan ia lakukan. Menyeberangi lautan? Tunggu dulu, ada hiu soalnya.

Ia tidak pernah bisa menolak permintaan Juni sekalipun itu di luar batas kesanggupannya. Binar mata Juni adalah titik kelemahannya, dan Istrinya sepertinya tahu. Makanya dia selalu saja memanfaatkan itu.

Mata Juni bulat, bersinar, dan seolah menyimpan seluruh galaksi di dalam sana. Sorotnya teduh, memenangkan namun juga menenggelamkan di saat yang bersamaan. Itulah kenapa Ian selalu pusing.

Ia tidak mau melihat Juni menangis seperti semalam. Tidak pernah sekalipun terlintas di pikirannya untuk menyakiti Juni. Hatinya ikut teriris melihat Juni bersedih.

Seperti semalam, saat dirinya harus lembur di studio karena menyusun draf dan membantu Aming menyelesaikan editan video pesanan client, Juni meneleponnya sembari menangis. Entah kenapa, padahal Istrinya itu pamit bertemu teman-temannya di kafe sepulang bekerja.

["Kamu nangis? Kenapa, Sayang?"] Ujar Ian melalui sambungan telepon.

["Aku mau ditemenin jalan-jalan. Sekarang."] Jawab Juni dari seberang, sambil setengah terisak.

["Bukannya kamu sama temen-temenmu, ya? Tadi pamitnya gitu."]

["Jahat. Mereka jahat. Aku sudah nggak sama mereka lagi. Aku pergi."] Juni masih terisak.

["Aku masih ada yang dikerjain, lho, Sayang. Kamu pulang dulu, nanti aku usahakan pulang lebih cepat. Gimana?"]

["Tidak mau. Mau jalan-jalan sama kamu."] Juni pasti sengaja berbicara dengan nada manja. Tahu sekali kalau Ian akan lemah mendengarnya.

Ian terdiam sejenak, menimbang-nimbang pilihan.

["Kamu pengin jalan-jalan sampai nangis kayak begini?"] Tanya Ian pelan.

["Temenin..."]

["Minggu depan bagaimana? Aku ambil cuti empat hari, kita liburan ke luar Pulau. Mau?"]

["Kalau kamu tidak bisa, aku bisa jalan sendiri, kok. Tidak masalah."]

["Aku temenin. Shareloc kalau begitu."]

["Bukannya sedang sibuk? Bisa ditinggal pekerjaanmu?"]

["Dibisakan."]

["Terpaksa?"]

["Bukan terpaksa, Sayang. Diusahakan. Shareloc sekarang, aku jemput."]

["Tidak usah kalau begitu."]

["Kamu lho nangis-nangis minta ditemenin, giliran aku mau kamunya bilang tidak usah? Ada apa?"]

["Maaf..."]

["Tidak perlu. Shareloc sekarang, aku langsung ke sana."]

["Iya."]

["Hati-hatinya mana, Cantik?"]

["Hati-hati."]

["Sayangnya manaaaa?"]

["Alay ah, tidak mau."]

["Alay bagaimana? Kalau tidak lengkap aku tidak mau ke sana."]

["Astaga, iya, iya. Hati-hati Sayang. Tuh, sudah!"]

Ian menahan tawa kemenangan. Ia yakin, jauh di sana Istrinya pasti sedang menghentakkan kakinya karena kesal.

["Kamu kalau marah makin cantik."]

["Aneh."]

Belum sempat Ian menjawab lagi, sambungan telepon sudah diputus sepihak oleh Juni. Tidak masalah bagi Ian, nanti dia akan menciumi pipi Juni sepuasnya saat bertemu. Lihat saja!

Lokasi yang dikirim Juni tidak begitu jauh, hanya memakan waktu sekitar dua puluh menit dengan kecepatan 80km/jam. Sesampainya di sana, Ian melihat Juni sedang duduk memeluk lutut di bahu jalan. Kasihan sekali, seperti pengemis yang belum makan seharian.

Begitu melihat Ian, Juni langsung melompat memeluknya dengan erat. Menumpahkan semua kesedihannya saat itu juga. Di kafe tadi, teman-temannya menyinggung soal dirinya yang tak kunjung hamil di tiga tahun pernikahan mereka. Berkata bahwa, jadi Juni itu enak. Karena masih bisa bebas ke mana-mana. Maklum, belum punya momongan katanya.

Juni tidak melihat itu sebagai pujian, tetapi sindiran yang berhasil membuatnya tersinggung dan marah. Setelah meluapkan semua kekesalannya, Juni beranjak pergi. Tidak menghiraukan seruan dari ketiga temannya itu.

Setelah memarkirkan sedan tuanya, Ian dan Juni berjalan bersisian, bergandengan tangan di sepanjang trotoar batu Jalan Braga. Rintik perlahan jatuh di atas kepala mereka, membuat Juni sontak menengadah. "Mau hujan," bisiknya pelan.

Ian melepas jaketnya, "dingin," katanya, menyampirkannya ke bahu Juni.

Aroma tanah basah langsung menyeruak, embusan angin malam menusuk ke pori-pori. Syukurnya Ian membawa payung, ia sempat melihat langit gelap tanpa bintang tadi.

Ian membuka payungnya, membuatnya sedikit condong ke arah Juni. Istrinya itu tidak suka hujan, entah kenapa ia selalu terkena hujan di momen-momen penting dalam hidupnya, katanya. Juni dengan senang hati memilih musim panas jika disuruh memilih.

Berbeda dengannya, yang lebih suka hujan. Baginya hujan jauh lebih menenangkan. Tapi bukan masalah musim yang mau mereka bahas sekarang, mereka bisa saja berdebat tentang itu. Dan akan panjang. Masalah itu disingkirkan dulu.

"Maaf, ya?" Juni tiba-tiba bersuara.

"Kenapa? Apa? Bagian mananya yang harus dimaafkan?" Tanya Ian keheranan. Mereka tidak sedang bertengkar, lho. Kenapa meminta maaf?

"Aku tahu kamu sibuk sekali, tapi tetap saja aku paksa untuk ke sini. Maaf." Juni mencicit di tempatnya.

Ian tersenyum mendengarnya. "Tidak masalah, bukan hal besar." Bagi Ian, Juni yang mengerti bahwa dirinya sibuk sudah jauh lebih baik. Sebenarnya tidak perlu sampai meminta maaf.

Juni tidak bicara apa pun lagi. Langkahnya pelan dan goyah, seperti sedang sangat rapuh. Ian mengelus tangan Juni dalam genggamannya.

"Kamu Istriku, Juni. Sudah sepatutnya aku memenuhi semua keinginanmu. Itu tanggung jawabku. Tidak perlu merasa bersalah." Ucap Ian mencoba menenangkan.

"Tapi aku tidak bisa kasih kamu anak,"

"Bukan tidak, belum," interupsi Ian.

"Bagaimana kalau memang aku tidak bisa hamil?" Langkah Juni berhenti, berbalik menghadap Ian di sisi kiri.

"Tidak masalah. Berdua saja cukup." Ian menarik pelan Juni agar duduk di bangku kayu tepat di bawah pohon rindang. "Duduk dulu," katanya.

Mereka duduk berdampingan, Ian masih setia memegangi payung, kali ini diberikan seutuhnya ke Juni, melindungi Istrinya dari rintik hujan yang tidak ia sukai. Mereka diam cukup lama di sana, tidak mengobrolkan apa-apa. Membiarkan semuanya cukup di dalam kepala masing-masing.

"Jangan sedih-sedih, Juni. Tidak usah terlalu dipikirkan. Aku juga sakit lihat kamu begini." Ian berucap tanpa menoleh, menatap lurus ke depan.

"Kita ke Mall, yuk? Jajan es krim," tawar Ian, menoleh ke arah Juni seraya menampilkan cengirannya.

Juni tersenyum getir, merasa dirinya mudah sekali dibujuk. "Es krim saja?"

"Mall-nya sih sekalian,"

Juni menyemburkan tawa hangat, merasa geli dengan ucapan Suaminya. Sementara Ian menatap Juni dengan tatapan penuh cinta, penghargaan dan kasih sayang. Ia bahagia melihat Juni bahagia.

Malam itu, mereka menghabiskan waktu di Mall. Jajan es krim, main di Playground dewasa, dan membeli barang-barang lucu yang sebenarnya tidak terlalu diperlukan.

Ian terus menggoyang-goyangkan wajahnya yang terbenam di leher Juni, sementara yang diganggu hanya bisa tertawa geli.

"Mandi sana, nafasmu bau rokok," Juni menggeliat di tempatnya.

Ian tertawa gemas, menjauhkan wajahnya dan berdiri kemudian. "Siap!" Ucapnya seraya bersikap hormat.

Tidak butuh waktu lama untuk mandi, kini Ian sudah kembali berdiri di depan Juni dengan mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga ke siku, di tangan kirinya melingkar jam tangan silver, serta celana semi-wool dengan warna senada. Rambutnya klimis, menguar aroma gel rambut yang cukup kuat. Berpadu dengan parfum bergamot yang menempel pada tiap jejak kulit Ian, dan Juni selalu suka wangi ini. Kombinasi yang mematikan.

"Kamu tidak bekerja?" Tanya Ian pada Juni, yang tampak masih bergelung di dalam selimut.

Juni hanya melenguh pelan, malas sekali hari ini. "Mau jadi CEO saja, supaya bisa malas-malasan," ucap Juni seraya bangkit dari kasur, berjalan gontai ke kamar mandi.

"Lho, jangan salah, CEO justru yang paling pusing." Ian menimpali dari balik kitchen set, mempersiapkan sarapan untuk mereka berdua.

Setelah menandaskan roti isi di masing-masing piring dan juga segelas pisang smoothies yoghurt untuk Ian, serta segelas smoothies strawberry untuk Juni tentu saja. Mereka akhirnya berangkat ke tempat kerja.

"Segelas kopi untuk hari ini, ya? Jangan lebih." Peringat Ian begitu Juni hendak turun dari mobil, menuju halaman kantornya.

"Jangan lupa pesanan yang lain," Juni juga mengingatkan. Ia turun dari mobil setelah salim pada Ian, melambaikan tangannya ketika mobil hitam itu berputar balik dan bergabung dengan padatnya kendaraan di jalan.

Meski tidak bisa mengutarakan perasaannya kepada Ian secara gamblang seperti yang sering dilakukan Suaminya itu, tetapi Juni selalu mencintai Ian. Akan selalu seperti itu. Hanya saja, dia tidak begitu pandai merangkai kata, atau Ian saja yang memang terlalu lihai? Tidak, bukan begitu, kepribadian mereka memang bertolak belakang sejak awal.

Juni adalah orang yang akan menyimpan semuanya di dalam kepala, tidak tahu caranya berbagi pikiran dengan orang lain. Berbeda dengan Ian yang bisa mengatakan apa saja dengan mudah. Tentang cintanya, rasa sedihnya, marahnya, dan semuanya.

Itulah mengapa Juni tidak merasa kesulitan mencintai Ian, lelaki itu selalu memberitahu jika ada yang salah atau pun hal-hal yang ia tidak sukai. Seperti hujan yang turun dengan tulus, jujur dan apa adanya. Kadang membawa badai, kadang menenangkan. Sedangkan Juni selayaknya musim panas; kering, menyengat, menggebu-gebu, serta sumber sakit kepala Ian.

Bagi Ian, semua boleh hilang dari hidupnya. Asal jangan Juni dan pekerjaannya. Dia mencintai keduanya sama banyak.

Tolong jangan beritahu Juni tentang ini, dia bisa marah nanti.

Juni kalau marah, menyeramkan sekali. Matanya melotot dengan mulut mencucu, dan akan sangat kuat menghabiskan bergelas-gelas kopi. Jangan. Kasihan, nanti lambungnya bisa mengamuk.

Ian bergidik takut di dalam kabin, sedikit tertawa membayangkan wajah menggemaskan Juni ketika sedang marah.

Ya Tuhan.

***

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Cerpen
She Likes Summer I Prefer Rain
Indah Leony Suwarno
Flash
Bronze
Hari-hari Tanpa Kamu
Arsualas
Cerpen
Peristiwa Kemayoran
E. N. Mahera
Novel
Pragma
Elva Lestari
Novel
Bronze
You X
A. Djoyo Mulyono
Novel
AKU, KIRANA DAN BOBI + ROCKY
Marlon Anaka
Cerpen
Bronze
Pengakuan yang Tidak Kusayangkan
Nikodemus Yudho Sulistyo
Novel
IMAMKU TERSAYANG
Bonita Ras
Novel
Bronze
GLOW IS GOSSIP
glowedy
Skrip Film
FRIENDZONE (SCRIPT)
Putri Widya
Novel
The Beast & Four Knights
Nunahsana
Novel
ILA LIQO' CALON IMAM~
i love blue
Novel
Bronze
Nadi dan Vena: Apakah Sebuah Rahasia Akan Menjadi Penghalang Bersatunya Dua Hati?"
ZRCantik
Novel
Teleporter
Dwipena
Novel
ALBI NADAK
Jey
Rekomendasi
Cerpen
She Likes Summer I Prefer Rain
Indah Leony Suwarno
Novel
JEDA
Indah Leony Suwarno
Flash
Rooftop
Indah Leony Suwarno
Cerpen
MAIN COURSE
Indah Leony Suwarno
Flash
Dua Potong Kue Bulan
Indah Leony Suwarno
Novel
Teruo Nakamura 1943
Indah Leony Suwarno
Flash
Film Favorit
Indah Leony Suwarno
Cerpen
Bronze
Demikian Aku Mencintaimu
Indah Leony Suwarno
Flash
Sebuah Paragraf
Indah Leony Suwarno
Cerpen
Bronze
Badai Tak Reda Dalam Semalam
Indah Leony Suwarno
Novel
PUAN
Indah Leony Suwarno
Novel
Captain Wira:1843
Indah Leony Suwarno
Flash
365
Indah Leony Suwarno
Cerpen
Bronze
Nama Terakhir
Indah Leony Suwarno
Novel
Badik Terakhir di Tanah Bertuan
Indah Leony Suwarno