Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Romantis
Bronze
SETITIK DEBU DI KACA LANTAI 50
2
Suka
2,987
Dibaca

Setitik Debu di Kaca Lantai 50

​Lantai lima puluh Gedung Arkana Tower selalu berbau seperti kombinasi kopi arabika dari daerah penghasil kopi terbaik dan aroma parfum dari merk terkenal. Di sinilah Valeria Arkana berkutat dengan segudang kesibukannya. Pada usianya yang baru saja memasuki tiga puluh dua tahun, Valeria adalah lambang dari kesuksesan seorang gadis mandiri. Wajahnya kerap menghiasi sampul majalah bisnis, rahangnya tegas, dan tatapan matanya seolah bisa memotong anggaran perusahaan dalam sekali kedip. Bagi ribuan karyawan Arkana Group, Valeria adalah The Iron Lady versi modern. Dia dingin dan tak tersentuh.

​Namun sore itu, Valeria terusik oleh hal kecil yang sepele, seulas senyum dan aroma sabun pembersih lantai.

​"Permisi, Bu. Saya mau membersihkan meja sebelah sana," sebuah suara memecah keheningan ruang kerja Valeria yang tak tersentuh sembarang orang

​Valeria tidak mengangkat wajahnya dari laptop yang menampilkan grafik saham yang sedang merosot. "Lakukan dengan cepat. Saya ada teleconference dengan London dalam lima belas menit."

​"Baik, Bu."

​Pria itu bernama Gilang. Usianya dua puluh enam tahun, mengenakan seragam polo shirt biru dongker khas office boy dengan celana kain hitam yang sedikit pudar di bagian lutut. Gilang adalah tipe pria yang jika berjalan di koridor mall, mungkin tidak akan membuat orang menoleh dua kali. Wajahnya tipikal pemuda Indonesia yang ramah, dengan kulit sawo matang akibat sering mengendarai motor di bawah terik Jakarta, dan sepasang mata yang selalu terlihat seperti baru saja menemukan alasan untuk bersyukur.

​Valeria memperhatikan pergerakan Gilang dari sudut matanya. Ada sesuatu yang aneh dari cara pria itu bekerja. Gilang tidak pernah terlihat terburu-buru, namun gerakannya sangat cekatan. Dan yang paling membuat Valeria heran, Gilang selalu bergumam kecil, menyanyikan lagu-lagu lawas yang tidak selaras dengan atmosfer modern ruangan tersebut.

​“...di tengahnya kabut bermandi embun pagi...” gumam Gilang pelan, hampir tak terdengar saat mengelap kaca jendela besar yang menampilkan siluet senja Jakarta.

...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp1.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Romantis
Novel
The Day After Tomorrow
nothin' on me
Novel
Bronze
Bukan Orang Ketiga
Nanik Hastuti
Novel
Gold
Montmartre
Mizan Publishing
Flash
CAMPERNIK
zae_suk
Cerpen
Bronze
SETITIK DEBU DI KACA LANTAI 50
hadi wiyono
Novel
Gold
Just be Mine
Bentang Pustaka
Novel
Bronze
FROM THE WEDDING HALL
Yantie Wahazz
Skrip Film
Cara Memutuskan Gadismu
Jelsyah D.
Novel
MY TWINS
febri indah rafika
Novel
Bronze
Sialan lu Med!!
Firmansyah Slamet
Cerpen
Drama Kecupan Manis
Yooni SRi
Cerpen
Bronze
Jodoh untuk Nadiva
Nuel Lubis
Novel
Bronze
Sesuatu Tentang Kita
Shayma karan
Cerpen
Bronze
Arwah cinta
sitinurhalifah
Komik
MINE
Nur'aliza fitriani
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
SETITIK DEBU DI KACA LANTAI 50
hadi wiyono
Novel
TULUS
hadi wiyono
Cerpen
CINTA TANPA TAPI
hadi wiyono
Cerpen
Sore Itu Di Depan Gang Kecil
hadi wiyono
Cerpen
SEBENING RINDU
hadi wiyono
Cerpen
JALAN PULANG
hadi wiyono
Cerpen
Bronze
FACIO Si Tisu Malang
hadi wiyono
Novel
AIR MATA MAMAK DISUJUD TERAKHIR
hadi wiyono
Cerpen
PERNIKAHAN KERTAS
hadi wiyono
Cerpen
Bronze
PATAHNYA SAYAP SANG SANTRI
hadi wiyono
Flash
Keajaiban Tahajud
hadi wiyono
Cerpen
Bronze
A Cold Goodbye
hadi wiyono
Cerpen
Penjaga Lembah Seruni
hadi wiyono