Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Namaku Novi. Aku baru saja pindah kontrakan bersama suamiku, Anggit. Anak kami Mikha sudah berusia sepuluh tahun dan dia pecinta kucing. Sehingga kami memelihara kucing. Kucing kampung berusia 2.5 tahun, Mikha beri nama dia Rio.
Saat di lingkungan yang baru, sejak awal Rio selalu pulang dengan keadaan luka, akibatnya Mikha selalu menangis. Gadis cilik tersebut amat sedih. Kami awalnya memberitahu bahwa kucing bertengkar itu wajar. Kami juga berjanji akan selalu mengobati Rio.
Tapi kondisi tersebut hampir terjadi setiap hari. Membuat Mikha terpuruk, bahkan berpengaruh ke konsentrasi di sekolahnya. Jadinya setiap hari kami terus mengusir kucing yang mampir ke kontrakan. Mereka memang selalu datang dan terus datang. Untungnya, mereka perlahan pergi. Kecuali satu.
Ada satu kucing besar, mungkin usianya sekitar lima tahun. Kucing persia jantan yang terlihat tidak terawat. Kami memberi nama dia Ryan. Tubuhnya penuh luka sama seperti Rio, tapi setiap kami ingin mengobati lukanya ia memberontak. Menggeram, bahkan seringnya mencakar. Lalu kabur bersembunyi ke atas loteng kontrakan kami.
Saat siang dia pergi entah kemana. Di saat itulah Rio biasanya kami lepas, dan sorenya ia kembali pulang dengan luka di tubuhnya. Kami pun kemudian bertanya pada tetangga, yang juga punya kucing.
Ia berkata kucingnya jinak, dan kebanyakan kucing di lingkungan tersebut kucing rumahan, jadi jarang berkelahi. Paling mereka hanya datang untuk meminta makan. Aku dan suamiku pun merasa bersalah karena sering mengusir mereka.
Lalu aku juga menanyakan soal Ryan. Tetangga bernama Salim tersebut menjawab bahwa kucing itu bernama Coki. Coki dulunya dipelihara oleh penghuni kontrakan sebelum aku. Namanya Dita, ia punya nomornya. Salim pun memberikan nomor Dita kepadaku.
Saat sore menjelang Coki terlihat mampir dan tidur di meja teras depan kami. Dari ia yang luka di beberapa bagian tubuh, aku paham dia baru berkelahi dengan Rio yang juga baru saja pulang. Kami memutuskan untuk menaruh Rio di kandang. Supaya ia tidak nyelonong untuk menyerang Coki yang sedang terlelap.
Mikha yang sudah dewasa sebelum waktunya juga setuju. Dan dengan inisiatifnya sendiri ia menelepon Dita. Kebetulan saat menyimpan nomor telepon gadis yang sekarang tinggal di Ungaran, Semarang tersebut, dengan inisiatifnya sendiri, Mikha ikut menyimpan nomor hapenya.
Mikha menelepon dengan nada yang awalnya bersahabat, tapi sedewasa apapun namanya juga anak kecil, nadanya kemudian penuh kekecewaan dan meninggi. Ia menanyakan kenapa Dita pasrah begitu saja saat Coki tidak bisa dibawa ke Ungaran.
Anggit sampai harus mengambil alih telepon dan meminta maaf pada Dita. Saat itulah Anggit mendengar sendiri pengakuan Dita, gadis yang sekarang jadi teller bank tersebut sebetulnya bukan pencinta kucing. Ia memelihara Coki hanya karen ingin ada teman selama mengontrak, saat kuliah di Universitas gadjah Mada. Maklum Dita sangat introvert dan tidak punya teman.
Telepon pun diakhiri dengan permintaan maaf dari Dita. Ia berjanji dua minggu lagi, bertepatan dengan giliran liburnya, akan datang menjemput Coki. Kami pun mengiyakan sambil juga meminta maaf, karena membuat Dita kerepotan.
Dita menjawab tak apa karena sejak awal itu memang salahnya. Dan justru karena keputusannya meninggalkan Coki, Rio sampai sering diserang. Menyatakan itu naluri kucing untuk mempertahankan wilayahnya.
Setelah selesai menelepon, Mikha membuka korden. Kami melihat Coki masih tertidur, posisinya kami lihat nyaman. Aku membayangkan, Coki masih merasa itu adalah kediamannya dari posisi ia tidur. Aku pun merasa wajar Rio selalu diserang, karena sejak awal memang kontrakan kami adalah teritorialnya.
Pagi harinya Rio ngambek ingin keluar dari kandang. Atas inisiatif Mikha, Coki dialihkan dulu perhatiannya dengan diberi cat food oleh Anggit, sedang aku mengawasi, dan Mikha melepas Rio untuk bermain di lingkungan sekitar.
Saat pulang, Coki yang memang sering tidur itu, untungnya selalu tidak menyadarinya kepulangan Rio. Memudahkan kami untuk memasukkan Rio ke dalam rumah. Hal itu terus berulang terjadi, sampai kedatangan Dita dua minggu kemudian.
Aku juga dengar dari Anggit yang bertanya pada tetangga lingkungan, dan melihat sendiri kalo di luar kontrakan kami, Rio dan Coki akrab. Jadi dugaan kami kalau itu soal masalah teritorial memang benar adanya.
Pukul delapan malam Dita datang, ia mengobrol dengan kami sekitar satu jam. Ia datang dengan asisten dan supirnya. Rupanya Dita orang kaya, kami juga baru tahu ayahnya salah satu pejabat tinggi di pemerintahan. Dita mengakui kembali bahwa awalnya ia bukan pecinta kucing. Tapi setelah mendengar kisah Coki yang setia menunggu, hatinya trenyuh.
Dengan airmata yang menelusuri pipinya, ia baru sadar jika hewan peliharaan begitu sangat menghargai dan mengingat majikannya. Dita pun menangis sesenggukan, ketika Coki yang melihatnya lari ke pelukan gadis berusia 23 tahun tersebut dan berlaku manja. Kucing tidak mengenali manusia, jadi kami paham Coki masih hapal bau majikannya.
Kami yang merasakan punya hewan yang selayaknya bagian dari keluarga yaitu Rio, pun ikut menitikkan air mata. Akhirnya Coki dimasukkan ke kandang yang terlihat cukup mewah. Kami maklum karena status sosial Dita.
Dita bersama supir dan asistennya pun kemudian pamit. Ia Memberi kami uang lima belas juta rupiah. Kami menolak dan bilang tak perlu. Tapi Dita memaksa sambil mengatakan sebagian bisa untuk perawatan Rio. Dita memang sempat melihat Rio di kandang, mungkin ia melihat kondisi Rio yang apa adanya, karena keterbatasan biaya.
Akhirnya kami menerima. Kami mengucapkan terimakasih yang amat sangat pada Dita. Dita menjawab, seharusnya ia yang berterima kasih. Karena telepon dari Mikha, dirinya akhirnya sadar, ada sosok yang amat mencintai dan merinduinya sejak lama.
Sosok yang menemani saat dirinya berkuliah. Seekor kucing yang begitu sayang dan masih menunggu, walau ditinggal sepihak, tanpa sepengetahuan atau sepertujuan.
Setelah memeluk kami satu persatu, Dita pun masuk mobil. Nampak Dita memangku kandang berisi Coki. Saat asistennya berkata, biar dia yang memangku atau Coki bisa diletakkan di belakang, Dita menolak. Ia menjawab, itu bentuk permintaan maaf pertamanya pada Coki. Sang asisten pun mengangguk, pun kami semua paham.
Kami kemudian melihat mobil Mercedes Maybach, yang amat mahal bagi orang biasa seperti kami melaju. Membawa Coki yang kami kenang sebagai kucing amat setia. Dimana kini kembali pada pemilik yang sangat ia sayangi, Dita.
Di dalam mobil, Dita terus memandangi Coki. Rasa bersalah yang ingin ia tebus sudah mendidih di pori-pori.
Kemudian sang asisten mencoba menasehati. Bila majikannya itu ingin menangis, tak usah sungkan karena ada dirinya dan supir. Lagipula mereka sudah mengenal Dita sejak kecil.
Dita kemudian menangis sesenggukan sambil memeluk Coki yang tertegun di dalam kandang. Sang asisten tersenyum, pun sang supir.
Pesan: Yuk, jaga dan rawat hewan peliharaan kita. Peliharaan ada untuk dijaga serta dirawat. Bukan untuk ditelantarkan meski ia ada di rumah. Jangan dikira ia sudah kita adopsi, ia sudah aman. Selain diadopsi, perawatan dari kita juga wajib.