Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Misteri
Seroja Bulan
0
Suka
14
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Dua penyanyi keluar dari tengah lingkaran, digantikan seorang pendongeng bernama Inka dengan burung hantu bertengger di bahunya. Cahaya api unggun memantul di mata si burung hantu yang kuning besar, dan mata itu beredar dari satu penonton ke penonton lain tanpa sekali pun berkedip. Lalu, setelah membuka sayap, si burung hantu melesat tinggi ke udara tanpa suara sebelum kembali menukik ke tanah.

Si burung hantu menukik langsung ke api unggun. Begitu terkena jilatan api pertama, bulu di sekujur tubuhnya dengan cepat tersulut, dan si burung hantu meledak seperti kembang api. Asap mengepul ke udara, aroma daging terbakar menguar di bukaan hutan sementara abu merah membara menghujani penonton layaknya salju.

Mereka yang duduk di barisan terdepan memekik sambil melempar diri ke belakang, membentur hidung penonton yang duduk di baris belakang sedangkan penonton yang memilih berdiri di bagian terluar lingkaran melompat mundur ke dalam bayang-bayang pepohonan sambil bersumpah serapah. Para ibu berdoa pada dewa pilihan masing+masing, anak-anak kecil dalam gendongan mereka menangis meraung-raung.

Semua panik kecuali Inka si Pendongeng. Dia seakan tidak melihat burung hantu yang datang bersamanya baru saja ditelan api hidup-hidup, tidak pula dirinya mencoba menenangkan penonton dengan kata-kata lembut. Malah, dengan wajah setenang permukaan danau tak beriak, tubuh tegak sempurna, dan kedua tangan bersedekap, Inka si Pendongeng tampak seperti pendeta yang akan memimpin ibadah di hadapan ratusan jemaat—jemaat yang saat itu jauh dari kata tenang dan damai.

Kemudian iris mata si pendongeng yang cokelat gelap berubah kuning bak mata si burung hantu dengan kilat merah terang, memberinya kesan seperti emas yang dipanaskan dalam tungku.

"Dahulu kala," Inka memulai ceritanya dengan suara yang tidak lebih keras dari bisikan lirih, diucapkan dengan bibir nyaris tidak bergerak, "sebuah desa berdiri di tepi danau yang dipenuhi seroja semerah batu delima; seroja yang dikenal lahir dan mati tanpa pernah menunjukkan jati dirinya pada dunia."

Sumpah serapah, doa serta tangisan anak-anak membeku di udara. Semuanya berhenti bersuara, berhenti bergerak, bahkan berhenti bernapas. Andaikata di sana ada seratus orang, maka saat itu masing-masing dari mereka merasa seolah ada seratus pendongeng yang membisikkan kisahnya langsung ke telinga mereka.

Abu si burung hantu yang masih membara berhenti menghujani penonton, menggantung di udara bagai konstelasi bintang-bintang merah teramat kecil. Di tengah kepungan abu, para penonton tidak lagi mendapati diri mereka di bukaan hutan, melainkan di sebuah danau antah berantah yang permukaan airnya terhalang ratusan seroja. Air danau merendam sampai ke pinggang. Kayu bakar pada api unggun tenggelam sepenuhnya. Alih-alih padam, api unggun itu tetap berkobar tinggi, dan para penonton sama sekali tidak merasa basah dari pinggang ke bawah.

Bulu-bulu kuduk meremang. Meskipun rasa takut mulai merebak bahkan dalam hati mereka yang mengaku berjiwa paling tangguh, tak satu pun penonton bisa memalingkan perhatiannya dari Inka si Pendongeng.

"Namun," lanjutnya, "di suatu malam yang diterangi bulan purnama, tanpa pertanda dan tanpa peringatan, semua seroja di danau mekar bersamaan. Aroma manis merebak ke seluruh desa yang tengah terlelap. Sayangnya, saat fajar menyingsing, yang ditemukan penghuni desa hanyalah daun-daun seroja lebar serta bunga-bunga layu. Aroma manis yang semalam menggantung di desa hilang sama sekali bagai mimpi indah yang terlalu cepat terputus.

“Ratusan malam yang diterangi bulan purnama datang silih berganti setelahnya. Penghuni desa menanti mekarnya seroja-seroja itu lagi untuk waktu yang tidak terhingga. Generasi lama digantikan generasi baru, dan generasi baru digantikan keturunannya, tetapi tetap saja seroja itu tidak pernah mekar lagi; mereka kembali lahir dan mati sebagai kuncup seperti sediakala. Lambat laun, mekarnya seroja di sana pun dianggap mitos belaka.

“Walau demikian adanya,” lanjut Inka setelah jeda, “seroja-seroja itu mekar untuk yang kedua kalinya, di malam yang disiram sinar bulan purnama persis seperti kali pertama bunga-bunga itu mekar.”

Abu merah yang menggantung di udara sedikit bergeser dari posisi semula, dan pergerakan kecil itu mengubah apa yang dilihat para penonton. Jika awalnya mereka duduk terendam di tengah danau menghadap desa kecil yang berdiri di tepiannya, kini desa tersebut telah berkembang menjadi sebuah kota dengan bangunan panggung yang tidak hanya didirikan di tepi danau, tetapi juga di atasnya. Sampan serta perahu dagang datang dan pergi dari dermaga. Lentera berwarna-warni menggantung di sepanjang jalan tatkala malam tiba, cahayanya dipantulkan permukaan danau sehingga kota itu sekilas tampak seperti pasar malam terapung.

Bulan purnama berdiam diri di langit kota, putih dan bundar sempurna bagai mutiara.

Inka berkata, “Pada malam itu, sekelompok pengelana tiba di kota menggunakan perahu. Mereka menyambangi para pedagang serta tempat-tempat ramai sambil bertanya dalam bahasa yang tidak bisa dipahami penduduk lokal. Mereka bertanya dan terus bertanya dengan nada yang kian meninggi, tapi apa pun yang mereka ucapkan tidak mengandung makna yang berarti bagi penduduk kota yang mendengar. Maka dari itu, ketika dialog tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya, para pengelana tersebut menghentikan upaya komunikasi dengan warga lokal.

“Saat sedang menjelajah wilayah terujung kota, kelompok pengelana itu berpapasan dengan seorang bocah lelaki. Yang mengejutkan, ketika salah seorang di antara pengelana itu bertanya pada si bocah, dia memahami kata-katanya dan mampu membalas dalam bahasa yang sama.

“Kata si pengelana, ‘Banyak orang bilang jika kau mencari seroja, maka kota inilah tempat terbaik untuk mendapatkannya. Dengan alasan itulah kami datang—kami mencari seroja bulan. Bunganya persis seperti yang ada di danau itu, tetapi warnanya putih seperti bulan, bukan merah delima. Apakah ada petani di kota ini yang menumbuhkan bunga seperti yang kusebutkan tadi?’

“Balas si bocah, ‘seroja delima di kota ini melimpah jumlahnya, tetapi seroja bulan satu pun tidak akan kalian temukan di sini. Untuk apakah kalian mencari seroja bulan itu?’

“Seorang pengelana lain berkata, ‘Kami mencarinya untuk dijadikan obat.’

“Maka si bocah berkata lagi, ‘Kalau memang obat yang kalian butuhkan, maka seroja delima kota ini juga memiliki khasiat serupa. Datang kembali kemari besok pagi. Saat petani pemilik seroja ini tiba, bilang padanya kalian datang untuk membeli serojanya.’

“Lalu si bocah pergi meninggalkan kelompok pengelana itu untuk saling berdiskusi dalam suara rendah. Mereka datang dari tempat yang sangat jauh dan tidak bisa menunggu lebih lama lagi untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Mengingat bagaimana penduduk kota sama sekali tidak bisa memahami apa yang mereka ucapkan, menunggu hingga pagi sampai pemilik seroja tiba belum tentu menjamin mereka akan kembali membawa hasil. Maka, mereka pun sepakat untuk memanen seroja itu sendiri dan meninggalkan sejumlah uang di tempat yang nantinya mudah ditemukan si petani.

“Dan mereka pun mulai bekerja, memotong seroja-seroja semerah batu delima itu pada batangnya. Mereka sudah mengisi satu keranjang hingga penuh ketika, di kejauhan, seseorang berteriak. Para pengelana tidak tahu apa yang diteriakkannya, tetapi ketika didapati bahwa orang itu menjerit sambil menunjuk ke arah mereka, pemahaman pun terlintas: orang itu menuduh mereka mencuri. Bertekad untuk membuktikan bahwa mereka tidak sedang mencuri dan berniat untuk membayar setiap bunga seroja yang diambil, masing-masing pengelana mengeluarkan kantong uang sambil diguncangkan agar koin di dalamnya bergemerincing. Namun satu pengelana berlaku lain dari yang lain. Dalam kepanikannya, ia justru mengambil sebatang anak panah dari tarkas, menakiknya ke tali busur, dan menembakkannya ke orang itu yang kemudian tercebur ke danau setelah mata anak panah menembus lehernya.

“Yang sudah terjadi, terjadilah. Masa lalu, meskipun hanya satu degup jantung yang lalu, tidak bisa dikunjungi lagi. Para pengelana yang kaget dan bingung berdiri bergeming, bunga-bunga seroja yang sudah dipetik terasa lebih berat dari bongkahan besi. Mereka hendak kabur dengan meninggalkan semua yang telah diambil ketika sesuatu terjadi: dari tempat terceburnya orang tadi, kuncup bunga-bunga seroja delima serta-merta mekar bersamaan, dan setelah mekar, warnanya tidak lagi menyerupai batu delima, melainkan putih layaknya bulan.”

Inka mengedarkan pandangan pada penonton yang mematung. “Ya, seroja bulan telah sekali lagi menunjukkan jati dirinya pada dunia. Di antara semerbak aroma manisnya, terdapat aroma karat dari pedang yang telah lama digantung, dan di bawah kedua aroma yang mengaburkan pikiran itu, sirnalah rasa takut para pengelana. Mereka membuang seroja delima yang telah dipetik untuk memotong seroja bulan sebanyak yang bisa dibawa. Semakin banyak seroja bulan yang dipotong, semakin banyak pula seroja delima yang menjelma jadi seroja bulan sehingga, dalam waktu yang singkat, seisi danau dipenuhi seroja putih terang yang memantulkan sinar bulan purnama.

“Aroma dari seroja bulan yang baru mekar sama memabukkannya seperti aroma anggur. Tatkala aroma ini sampai ke pusat kota, terbangunlah para penduduknya dari tidur. Dengan kepala pening dan perut mual mereka keluar rumah, hanya untuk dikejutkan dengan pemandangan yang belum pernah mereka lihat sebelumnya: seroja bulan yang selama ini dikenal penduduk kota sebagai legenda lokal dari zaman yang telah dilupakan, menampakkan dirinya dengan bangga untuk dinikmati siapa saja yang bisa melihat. Entah mereka sungguh-sungguh menikmati pemandangannya atau tidak, tidak bisa diketahui dengan jelas sebab di antara seroja-seroja yang baru mekar itu, mengapung bangkai ikan yang tidak terhitung jumlahnya. Lebih jauh, di tengah danau, enam mayat manusia mengapung mengikuti arus air. Salah satu di antaranya dengan anak panah mencuat dari leher.”

Inka menarik napas dalam. Setelah berkedip beberapa kali, ia memejamkan matanya rapat-rapat. Begitulah ia mengakhiri kisahnya. “Pada hari yang sama saat matahari berada tepat di puncak cakrawala, kota yang telah berdiri selama berabad-abad di tepi danau itu dikosongkan dalam sekejap. Kota itu dan wilayah sekitarnya telah menjelma jadi negeri yang mati. Tidak ada tanaman yang bisa tumbuh di tanahnya, tidak ada binatang buas yang bersedia menjadikan hutannya sebagai tempat tinggal. Satu-satunya makhluk hidup yang menjadikan tempat itu sebagai peraduan hanyalah seroja bulan yang kini selalu bermekaran, bunga yang hidup di tengah-tengah mereka yang mati.

“Hondu,“ Inka berbisik, hampir seperti memuja. “Itulah sebutan penduduk Kota Seroja  bagi bunga seroja bulan.”

Angin bertiup pelan, menggiring abu merah membara yang menggantung di udara ke bahu Inka tempat mereka kembali ke wujud asalnya, si burung hantu bermata kuning besar. Ia dengan santai merapikan bulu sayapnya, dan ketika sadar bahwa Inka belum juga beranjak, ia mematuk keras telinganya. Inka tidak bereaksi. Namun, masih dengan mata terpejam, ia membungkuk pada para penonton, lalu pergi meninggalkan bukaan hutan dengan puluhan orang masih memandanginya dalam diam, tidak mampu berkata-kata.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Misteri
Cerpen
Seroja Bulan
Wina Sari Ardini
Flash
Singgah
hyu
Flash
Jendela Kantor
Agung Prasetiarso
Novel
DERMAGA HIKARI
Reynaldo Manuel Tampubolon
Flash
ROH
DENI WIJAYA
Novel
Empat Sekawan
Wakadana
Cerpen
Bronze
Kota Mati 2066
Cicilia Oday
Skrip Film
INDUK
M. Faizal Armandika
Flash
Nama yang Tidak Pernah Dipanggil
Aulia umi halafah
Flash
Bronze
SCANDAL CAT
Xielna
Novel
Bronze
Imajiner
Renii Aru
Novel
[true-story] Misteri Telaga Pelangi
Firdaus
Flash
Bronze
MISTERI HILANGNYA dr. YUNIAR
Nimas Rassa Shienta Azzahra
Flash
Bronze
Lambat Bukan Berarti Tak Berguna
Syafira Muna
Skrip Film
The Crazy Headmaster
Maina Suryani
Rekomendasi
Cerpen
Seroja Bulan
Wina Sari Ardini
Cerpen
Sang Bunda dan Anak Haramnya
Wina Sari Ardini
Flash
Kebakaran di Neda
Wina Sari Ardini
Flash
Karnelian
Wina Sari Ardini
Flash
Di Balik Tembok Kuil Berlapis Emas
Wina Sari Ardini
Flash
Gadis Seruling, Koin Perak, dan Penunggang Kuda
Wina Sari Ardini
Flash
Koin Perak dan Sebutir Apel
Wina Sari Ardini
Flash
Darah Perak
Wina Sari Ardini
Flash
Neraca, Tiang Pembakaran, dan Burung Gagak
Wina Sari Ardini
Flash
Merpati di Pinggir Laut
Wina Sari Ardini
Flash
Kehidupan, Kematian, dan Kelahiran Kembali
Wina Sari Ardini
Flash
Hutan Gantung
Wina Sari Ardini
Flash
A Thousand Gods, a Thousand Prayers
Wina Sari Ardini