Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Slice of Life
Serigala Itu Anjing Juga
0
Suka
8
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Aku tinggal di sebuah negeri yang aneh. Pemimpinnya terlahir dari persilangan babi dan tikus. Sebagian rakyatnya tidak mengenal kata tidur, sebagian lainnya sibuk menggali kubur. Orangtuaku termasuk dalam golongan kedua. Dua hari lalu, Ibu bahkan sudah mengukur kain kafan, sedang Ayah sibuk mengukir nisan.

“Untuk apa jadi jurnalis? Kamu akan dipenggal kalau salah kata!” Siang itu, Ibu berkomentar setelah melihat program studi pilihanku setelah lulus SMA.

“Aku hanya akan jadi jurnalis yang menyampaikan kebenaran!” sanggahku lantang dan yakin.

“Nanti kamu ditangkap, ayahmu tidak punya uang untuk bayar denda.” Ibu kembali menakut-nakuti.

“Bagaimana bisa menyampaikan kebenaran membuat kita masuk penjara?!” sahutku tidak habis pikir.

Lagipula, aku lebih baik tidak melanjutkan pendidikan jika memilih yang lain. Pilihan lain di kampus gila itu hanya pendidikan yang tidak bisa mendidik serta hukum yang tidak boleh menghukum. Bahkan jurusan baru di sana adalah Bahasa yang dibungkam; pembicara diajari cara menjadi bisu, pendengar dilatih menjadi tuli, penulis belajar mengikat tangannya sendiri, serta pembaca dilarang membaca. Memilih satu di antara semua itu hanya akan menjadikanku tunarungu.

Maka hari itu, kumantapkan hati untuk menjadi penyiar berita; profesi yang tugasnya hanyalah menyampaikan fakta. Aku tidak ingin menjadi pembohong. Begitu mengetahui hal tersebut, Ayah dengan cepat membelikanku sepetak tanah makam. Bahkan, Kakek muulai sibuk mengasah parang.

“Lebih baik mati sekarang daripada kelak kamu mati hidup - hidup!”

Mereka ingin membunuhku.

****

Aku lulus dengan gelar sarjana strata satu. Meski untuk mendapatkan beberapa huruf tambahan di belakang nama itu, aku merelakan tidur, banyak sekali tenaga dan keluarga. Aku bahkan absen di pemakaman Kakek untuk bimbingan skripsi. Tahun kemarin, Ibu menjual tiga petak tanah makam—satu-satunya aset yang berhasil ia kumpulkan sepanjang hidupnya—untuk membayarkanku UKT.

Aku kabur dari rumah sehari sebelum parang Kakek berhasil menggorok leher. Meski kecewa dengan tingkah nekat putri mereka, Ayah dan Ibu tetap mengirim uang setiap bulan. Hingga akhirnya, di sini lah aku sekarang; menjadi sarjana yang hingga setahun lebih belum mendapat pekerjaan.

Siapa sangka kehidupan di kota akan sesulit ini? Jangankan untuk sewa kost dan membeli makanan, menghasilkan uang pun perlu uang. Nilai, posisi, jabatan, bahkan pekerjaan. Semuanya terjual dengan harga tinggi di tempat ini.

Satu - satunya yang tidak laku adalah kejujuran.

Maka aku pun mulai menjual kebohongan untuk bisa makan. Tidak butuh waktu seminggu, para media berlomba merekrutku sebagai wartawan. Setelah sehari bekerja, liputan pertamaku jadi buah bibir seantero negeri. Betapa bodohnya aku karena baru sadar hal-hal buruk bisa mendatangkan kebaikan sebesar ini. Kini, aku resmi menjadi jurnalis karena berbohong sekali.

“Hari ini kau ditugaskan untuk meliput pelantikan tikus baru di Istana Negara.” Pimpinan Redaksi di media tempatku bekerja menitah.

“Bagaimana bisa aku mewawancarai mereka? Aku tidak mengerti Bahasa hewan,” keluhku heran.

“Cukup ajukan pertanyaan dan berikan pujian. Kau tidak perlu mengerti omongan mereka,” sahut pria berambut gondrong terkuncir satu itu santai.

“Tapi bagaimana jika—”

“Kau cukup mengajukan pertanyaan dan memuji, lalu dapat gaji. Itu saja!” pungkas si gondrong sambil mendengkus sebal.

Pada akhirnya, aku berangkat menuju pelantikan itu ditemani seorang reporter senior. Katanya, dia adalah manusia, tetapi begitu melihat ekor di bagian belakang tubuhnya, aku tentu saja tidak percaya. Dia jelas seekor tikus berkepala pria dewasa. Pantas saja kami diizinkan masuk dengan begitu mudahnya, ternyata reporter senior itu juga bagian dari mereka.

“Kenalkan, Pak. Dia anak baru!” Si Ekor Tikus tiba-tiba mendorong tubuhku begitu sampai di hadapan seorang pria berkepala babi merah muda.

Diam-diam, aku mengernyit jijik begitu menghidu aroma busuk dari manusia setengah binatang tersebut. Apalagi begitu kepalanya mendekat ke wajahku seolah menelisik, aku sontak menahan napas.

“Masih terlalu harum. Ajak dia makan bangkai atau kotoran dulu! Baru aku mau diwawancarai olehnya,” perintah si kepala babi setelah mengendus-endus di sekitar leher dan rambutku.

Mendengar ucapan tidak masuk akal itu, aku seketika mendelik panik sambil melirik si ekor tikus. Anehnya, reporter senior itu malah mengangguk sambil menyeret tubuhku ke meja prasmanan di sisi ruangan.

Di meja panjang itu, kudapati senampan besar belatung yang masih menggeliat-liat hingga jatuh Sebagian di meja hijau tempat hidangan tersaji. Di sebelahnya, ada bangkai ayam dan anjing utuh yang masih mentah berdarah. Di meja sebelah yang bertuliskan ‘hidangan penutup’, ada tiga mangkuk tinja yang menumpuk layaknya es krim.

Selain dikerumuni para manusia setengah binatang yang menghadiri acara, hidangan yang tidak sudi kusebut hidangan itu juga dikerumuni lalat dan semut. Di saat aku masih mematung di hadapan orang-orang yang menyantap hidangan menjijikkan itu dengan rakus, si ekor tikus menyeretku mendekat untuk mengambil antrean.

“Kamu makan anjing, ya! Supaya bisa langsung jadi serigala,” saran reporter itu santai. “Tidak perlu makan hidangan penutup, nanti kamu malah jadi anjing,” imbuhnya sambil mendorongku begitu antrean sudah memendek di depan.

Anehnya, semakin dekat dengan hidangan, perutku malah berbunyi keroncongan. Bahkan begitu sampai di hadapan nampan berisi bangkai anjing putih yang berlumur darah segar, tanganku refleks mengambil bagian kepala. Si Ekor Tikus yang melihatku kontan tersenyum bangga.

Hari itu, aku menyantap sebuah kepala anjing besar sendiri. Bahkan, mencuci mulut dengan semangkuk tai. Hari itu, aku juga berhasil mewawancarai banyak tikus dan babi, bahkan mendapat teman baru seorang—atau mungkin seekor monyet.

Esok paginya, aku terbangun dengan telinga baru. Satu kantor heboh merayakan transformasiku sebagai manusia serigala. Tidak butuh waktu sebulan, jabatanku naik seiring lidah yang memanjang juga gigi yang meruncing. Aku bahkan jadi salah satu reporter yang diandalkan untuk meliput acara besar.

“Kau pandai menggonggong, ya. Matamu juga besar sekali. Sepertinya kau anjing, bukan serigala,” komentar seorang tikus berdasi setelah siang itu kami menyelesaikan proses wawancara.

“Tapi telinganya kecil seperti serigala.” Kameramenku menyanggah.

Guk guk!” Aku menyahut dengan gonggongan.

“Tapi dia pandai menggonggong. Apa karena suka makan tai?” gumam si tikus berdasi sambil menyorotku penuh kuriositas.

Guk guk!”

Kenapa aku hanya bisa membalas dengan gonggongan?

Belum pulih dari keterkejutan, sore itu, Ayah menelepon dan membawa kabar bahwa Ibu sudah berpulang. Aku bergegas kembali ke kampung untuk menghadiri pemakaman. Sayangnya, baru sampai ambang pintu rumah, Ayah langsung mengejarku sambil membawa parang.

“Dasar anak anjing! Jangan berani naik ke lantai rumahku!”

Ayah sudah tidak mengenali wujudku.

Ini aku. Ini anakmu!

Aku anak Ayah dan Ibu!

Guk guk!”

Kenapa aku hanya bisa menggonggong?!

• ° • ° • TAMAT • ° • ° •

Mataram, 09 Mei 2026.

Author's note:

Hi, ini Zu!

Bagi siapapun yang menemukan tulisan ini, mohon maaf atas ketidaknyamanan selama membaca karena saya memasukkan beberapa adegan menjijikkan. Saya tidak berharap karya ini disukai dan meninggalkan kesan baik, karena tujuannya memang membuat kalian merasa tidak nyaman, hehe.

Semoga harimu menyenangkan!

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Cerpen
Serigala Itu Anjing Juga
ZuUu~
Cerpen
Bronze
Toko Masa Depan
Shinta Larasati Hardjono
Cerpen
Bronze
panana paapa nanaada panapapana
Marhaeny Benedikta
Cerpen
MINE & YOURS
Racelis Iskandar
Cerpen
Way Back Home
kholifatussaadah
Cerpen
Andai Ibu Bersamaku
Mutichan
Cerpen
Gara-gara Jemuran Tetangga
Ais Aisih
Cerpen
Api Luka Dan Kesuksesan
LISANDA
Cerpen
Bronze
Jalan Terjal Tiga Puluh
Karlia Za
Cerpen
Bronze
Sebatang kara
Novita Ledo
Cerpen
Bronze
JANJI YANG KOSONG
Dewintha Shanty
Cerpen
Bronze
FIRASAT EMAK
Efi supiyah
Cerpen
Bronze
KASIH SEMUSIM LALU
ari prasetyaningrum
Cerpen
Bronze
GEMA HATI SANG IBU KEDUA
ari prasetyaningrum
Cerpen
Bronze
Pekerja Proyek
Titin Widyawati
Rekomendasi
Cerpen
Serigala Itu Anjing Juga
ZuUu~
Cerpen
Kafe di Jalan Rinjani
ZuUu~
Cerpen
Gadis Beraroma Juni
ZuUu~