Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Slice of Life
Sepotong Kewarasan
0
Suka
2
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

“Ini gara-gara kamu!”

“Semua salah kamu!”

Kata-kata itu masih jelas terekam di otakku. Suara yang bergetar penuh amarah antara dua orang yang seharusnya penuh kasih tidak pernah hilang dari benak ini. Tentu saja ini sangat mengganggu, tapi waktu membuatku kebal akan semua itu.

Kali ini, aku hanya menoleh sekilas. Pasangan yang mungkin dulu saling mencintai itu memperlihatkan ekspresi penuh kemarahan pada satu sama lain. Dahulu, aku juga bisa melihatnya di wajah kedua orang tuaku. Kini, hal itu tampak pada sosok orang asing yang kebetulan menjadi pembeli di kafe mungil milikku. 

Byur!

Es kopi yang aku buat sepenuh hati kini mengguyur tubuh si pembeli laki-laki. Cairan berwarna coklat itu menetes dari sela-sela rambutnya. Sementara perempuan di depannya terengah dan menatap penuh amarah. 

“Kita selesai!” serunya histeris, sebelum pergi meninggalkan kekacauan. 

“Tunggu!” Lelakinya berlari menyusul, membuat jejak kacau yang harus aku bersihkan seorang diri. 

Ah, sepertinya membuka kafe seperti ini bukanlah ide yang bagus. Aku berhenti dari dunia korporat karena mental yang terguncang oleh berbagai tekanan serta hubungan beracun dengan para rekan kerja. Aku lelah menghadapi politik dalam menjajaki karir, di mana para mental kepiting selalu mencoba menjatuhkanku.

Di ujung kewarasan yang tersisa, aku memutuskan untuk berhenti dan menjauh. Memakai sisa dari tabungan yang aku kumpulkan dengan terseok, aku dapat membuka kafe kecil. Inginnya, tempat ini menjadi pusat ketenangan bagi siapa saja yang datang. Hanya saja, ada waktu di mana orang yang datang seperti pasangan barusan. Mereka hanya mencari tempat lain untuk bertengkar.

Sambil menghela napas begitu berat, aku mengelap jejak-jejak kopi susu yang sengaja ditumpahkan. Aroma pahit dari kopi dan gurih dari susu bisa aku hirup. “Sayang sekali.”

Tetapi, aku tidak menyayangkan soal minuman yang terbuang mubazir. Aku hanya menyayangkan pasangan muda itu harus bertengkar begitu hebat di tempat umum. Mereka tidak peduli menjadi tontonan dan gunjingan beberapa pengunjung kafe. 

“Paling, dua orang itu akan akur lagi. Sudah beberapa kali aku lihat mereka jalan bersama dan bertengkar di tempat umum. Tidak tahu malu.” Cemooh itu terdengar di telingaku.

Sepertinya, orang tuaku juga seperti itu. Mereka digunjing karena setelah bertengkar hebat akan kembali akur. Keduanya menjadi mesra dan tidak lama malah menyambut kelahiran anak untuk kesekian kalinya.

Manakala waktu terus bergulir dan malam pekat menghampiri. Aku terdiam di balik meja konter. Lampu telah padam, menyisakan remang dari cahaya lampu jalanan. Hanya saja, aku belum ingin beranjak dari kafe kecil ini. Perkelahian siang tadi membuat luka di hatiku kembali menganga. 

Luka itu bertambah parah sebab beberapa menit lalu mama meneleponku. Wanita yang telah melahirkanku itu menangis pilu, mengadu tentang papa yang kembali berbuat kasar padanya. Bahkan, mama mengirim foto lengan dan pahanya yang lebam. 

“Laporkan saja ke polisi,” kataku tadi.

Sayang, mama menolak. Mama selalu bilang jika papa pasti bisa berubah. Tapi ini sudah puluhan tahun terjadi. Aku lelah menyaksikan dan mendengar semuanya. Apa yang mereka lakukan telah berdampak besar pada kehidupanku, pada caraku memandang dunia yang seharusnya indah. 

Di mana letak keindahan itu? Seperti sebuah sampul buku, semuanya hanya tampak indah di permukaan saja. Pikiranku selalu berkata, bahkan lautan yang birunya sangat cantik menyimpan misteri menakutkan di dalamnya. Gunung yang sangat indah juga bisa menjadi monster menakutkan yang bisa menelan manusia sesuka hatinya. 

“Rifa?” Suara dari ujung tangga menuju lantai dua ruko menyadarkanku. 

Di anak tangga terbawah, Lilian—sahabatku—berdiri sambil bersedekap. “Kalau sudah selesai, lebih baik langsung ke atas. Jangan biasakan merenung sendirian begini.”

Kali ini, Lilian melangkah lebih dekat. Ia menyalakan lampu dan memandangku dengan penuh keprihatinan. 

“Li,” panggilku. Mata kami beradu dan aku melihat wajah sahabatku itu semakin buram.

Iya, aku menangis lagi setelah sekian lama. Reaksi Lilian adalah membuka akses ke balik konter dan memelukku erat. 

“Kamu kenapa?” Tanyanya. 

Dalam pelukan sahabatku, kepala ini menggeleng kecil. “Nggak apa-apa.”

Namun, Lilian tidak langsung percaya. Ia mengurai pelukan, menatapku lekat, seolah sedang menggali informasi yang terkubur di dalam tatapanku. “Ada apa?” 

Bibirku mengulas senyum kecil. “Cuma sedih aja.” 

“Sedih?” Suara lain terdengar. 

Ketukan dari sepatu sneakers milik Nana terdengar. Ia menuruni tangga dengan cepat dan masuk ke dalam pelukan kelompok kecil itu. 

“Aku dengar soal kejadian siang tadi dari tetangga depan,” katanya. 

Dari tiga sahabatku, mungkin Nana yang paling tahu seperti apa aku bertahan sebagai seorang anak dengan orang tua labil. Waktu kecil, aku sering berlari ke rumahnya dan bersembunyi di sana. Kami akan bermain seharian sampai mama menjemputku begitu suasana rumah lebih kondusif. 

“Kalau itu sampai mengganggu keseharian kamu lagi, kita lebih baik ke dokter,” usul Lilian. 

Aku melepas pelukan itu. Secara bergantian kutatap mata para sahabatku. Bibirku melengkungkan senyuman kecil, berusaha memberikan kesan bahwa diriku baik-baik saja. Aku masih waras dan tidak lagi memerlukan obat-obatan untuk menekan emosiku.

“Cuma teringat aja, bukan masalah besar.” Aku berusaha meyakinkan mereka.

Nana menghela napas berat. “Sepertinya, kita butuh liburan untuk menenangkan diri.”

Mendengar itu, Lilian terkekeh. “Kita terlalu sering pergi liburan sampai nggak punya apa-apa.”

Kepalaku mengangguk, setuju dengan Lilian. Seiring usia kami yang bertambah, pergi plesiran sudah seperti hal yang terlalu rutin kami lakukan. Tidak peduli semahal apa perjalanan itu, kami akan mengusahakan. Hidup irit setelahnya bukanlah masalah. 

“Apalah gunanya punya apa-apa kalau semua itu cuma bikin kita jadi semakin gila?” Nana menatap kami sambil menaikkan sebelah alisnya. 

“Yang penting hidup cukup dan waras,” sambut Lilian. 

Aku tertawa kecil seraya mengangguk. Semua yang dikatakan para sahabat memang sangat benar. Di usia tiga puluhan ini, hidup mapan dan punya segalanya sudah lagi bukan hal yang kami impikan. Kami hanya ingin hidup tenang dan tetap waras. 

Kewarasan sudah menjadi hal paling berharga sekarang. Aku pernah berada di dalam fase hampir kehilangan kewarasan itu. Bahkan, harus bergantung pada obat-obat anti depresan agar tidak benar-benar jadi gila. Ketenangan bukanlah hal yang mudah untukku raih. Kini, setelah ketenangan itu bisa aku resapi, pekerjaan rumah yang harus aku lakukan adalah menjaganya. 

Sepotong kewarasan yang tersisa di dalam diriku memerlukan pemeliharaan. Entah itu menjaga jarak dari berbagai masalah pemicunya maupun melakukan perjalanan healing bersama para sahabat. Mereka juga sama, perlu menjaga kewarasan sepertiku. 

“Pantai atau gunung?” Tanya Lilian. Ia sudah mengeluarkan ponsel, membuka aplikasi perjalanan untuk memesan penginapan. 

“Pantai!” Seruku dan Nana bersamaan. 

“Undang Mirna juga,” kataku, mengingatkan tentang satu sahabat kami yang baru saja menjadi seorang istri.

Kami bertiga tertawa bersama. Tanpa pikir panjang, Lilian memilih sebuah resort pinggir pantai yang punya banyak kegiatan olahraga air yang dapat kami ikuti. Menguras tenaga, mengundang adrenalin, dan tertawa lepas sambil merasakan angin pantai serta menghirup segarnya air garam tentu saja bisa membantu kami menjaga sepotong kewarasan yang tersisa. 

Jika aku dan para sahabatku menjaga sepotong kewarasan kami lewat liburan menyenangkan, bagaimana dengan cara kalian menjaga kewarasan?

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Cerpen
Sepotong Kewarasan
Sabrina Yunio
Cerpen
Sebuah Dermaga untuk Pulang
Tresnaning Diah
Cerpen
Bronze
Strangers
Lifya Q. Raida
Cerpen
Jawaban Tuhan
spacekantor
Cerpen
Bronze
Luka
Evelyn Crystal
Cerpen
Bronze
KE MANA SI MBAK?
Citra Rahayu Bening
Cerpen
Sesi
Dina prayudha
Cerpen
Bronze
Mimpi yang Dikubur Hidup-Hidup
Muhaimin El Lawi
Cerpen
Keseharian Yang Begitu Biasa
arkanaka
Cerpen
Bronze
Jalan Terjal Tiga Puluh
Karlia Za
Cerpen
Bronze
Transkrip
Muram Batu
Cerpen
Rumah Tanpa Pagar & Pintu
Galang Gelar Taqwa
Cerpen
Bronze
Lelaki Bermata Teduh
Munkhayati
Cerpen
KATALOG DAN MIMPI
Ellaaa
Cerpen
Bronze
Bukan Tentang Nominal
Alifa abda khlq
Rekomendasi
Cerpen
Sepotong Kewarasan
Sabrina Yunio
Novel
Sang Maharani
Sabrina Yunio
Cerpen
Birthday Blues
Sabrina Yunio