Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Angin berembus cukup kencang, menerbangkan gorden tipis yang menutupi jendela. Kusingkap gorden paling ujung, langit di luar nampak gelap. Segera kututup jendelanya. Aku berencana untuk tidur setelahnya dan bangun sore. Rintik pun mulai turun perlahan.
Kusingkap gorden sebelahnya, hendak menutup jendela. Kulihat seekor kucing berwarna belang tiga duduk menggigil di sana. Tubuhnya kurus, tulangnya menonjol dari balik bulunya. Aku merasa kasihan melihatnya.
Saat menyadari kehadiranku, kucing itu melompat ke bawah. Ia berdiri di teras yang mulai basah sambil matanya menatapku waspada.
Perlahan, aku mundur dan membiarkan gorden tetap terbuka. Kuambil sepotong ikan dan mencampurkannya dengan nasi.
“Pus, ck, ck!” Nasi ikan itu kutaruh di jendela. Tak kusangka, ia naik kembali dan langsung makan.
Karena jendela terkena percikan air, kutarik piring itu ke dalam dan kuletakkan di lantai. Ia mengikuti piring tersebut dan kembali makan seolah tak pernah terjadi apa-apa.
Kuulurkan tangan dan mengelus-elus bulunya yang terasa cukup lembut. Ia tidak lari. Justru terlihat nyaman dan menggerakkan tubuhnya, seolah bersahabat dengan sentuhanku.
Aku tidak tahu kucing itu ada pemiliknya atau tidak? Ia tidak takut manusia, tetapi kalau dia memiliki tuan, mengapa ia tampak kurus dan kedinginan di luar?
Setelah makananya habis, aku kembali mengusap-usap bulunya. Tak kusangka, dia justru mendekat. Aku semakin suka mengelus-elus bulunya, lalu pindah ke bawah dagunya. Ia semakin manja. Matanya terpejam menikmati sentuhan di area sana. Aku jadi melupakan niat tidur siangku.
Aku berpikir, ini pasti kucing orang, atau mungkin kucing yang dibuang di komplek ini. Tidak lama kemudian, kucing itu tertidur di dinding dekat pintu. Di luar, hujan makin deras.
Kuperhatikan kucing yang pulas itu. Wajahnya cantik, bulunya cukup bersih, dan ternyata dia betina. Aku senang dengan kehadirannya. Aku merasa punya teman, walau dia hanya seekor hewan.
Aku sendirian saja di rumah kalau suami sudah berangkat kerja. Pulangnya malam. Jadi, sehari-hari di rumah aku sendiri dan sedang hamil muda juga.
Sejak hari itu, setiap pagi kucing itu datang dan pulang sore setelah bangun tidur. Setiap hari juga aku memberinya makan. Setiap ia datang, aku selalu berkata, “Kumpuuus!”
Panggilan spontan itu akhirnya melekat menjadi nama yang kuberikan kepadanya. Jika bertemu di jalan saat aku berjalan-jalan di komplek, kupanggil demikian. Ia segera menghampiriku dan mengikutiku hingga ke rumah.
Hari-hari pun berlalu dengan ritme yang sama. Setiap hari pula aku menantikan kedatangannya. Bahkan, ia belum muncul pun, sudah sisihkan ikan untuk kuberikan padanya.
Pernah suatu malam mati lampu. Aku pergi ke warung membeli lilin. Pulangnya, aku bertemu Kumpus dan menyapanya. Ia menghampiriku dan mengikuti hingga ke rumah. Keadaan komplek gelap, aku hanya mengandalkan senter dari ponsel.
Aku berusaha membuka pintu yang agak susah dibuka. Kaki depannya terulur, menempel di gagang pintu. Tubuhnya memanjang karena ia seperti berdiri.
Aku tertegun. Kumpus mau bantuin aku? pikirku. Aku tak menyangka dia sepintar itu, walaupun bantuannya sebenarnya tidak berarti apa-apa. Namun, akhirnya aku berhasil membuka pintu. Kunyalakan lilin dan kutaruh dalam mangkuk. Kami duduk berhadapan, menghadap lilin. Ia duduk manis dengan kakinya ditekuk rapi.
Aku mengambil nasi dan mulai makan. Aku memberinya sepotong lele goreng. Kami makan bersama. Aku merasa seperti sedang candle light dinner with a cat. Romantis juga ini makhluk, pikirku.
Setelah lama menunggu, akhirnya lampu nyala juga. Aku mengucap syukur. Kumpus berdiri dan meregangkan badan, setelahnya ia berjalan dan berhenti di dekat pintu, kepalanya mendongak ke atas. Sepertinya ia melihat ke arah gagang pintu. Kupikir ia ingin keluar.
Kubukakan pintu dan benar saja, ia langsung keluar dan pergi. Kuikuti dengan mataku hingga ia menghilang berbelok di ujung gang.
“Ke mana dia? Apa rumahnya di arah sana?” gumamku bertanya-tanya. Aku pun segera menutup pintu.
Rasanya rumah ini sangat sepi. Tadi hanya ditemani seekor kucing rasanya tidak sesepi ini, meski ia tidak bicara layaknya manusia. Aku mengembus napas dan membereskan sisa lilin.
Beberapa malam telah berlalu sejak mati lampu itu. Malam ini, hujan turun dengan derasnya. Aku teringat Kumpus.
Di mana kucing calico itu tidur? Apakah sebenarnya ia memiliki tuan? Atau tidur di rumah kosong? Menumpang di teras orang? Di bawah reruntuhan? Aku bertanya-tanya sendiri.
Otakku membayangkan ia meringkuk kedinginan di teras rumah orang. Air hujan memerciki bulunya, sama seperti saat aku menemukannya di jendela. Bulu-bulunya mengembang menahan dingin.
Di sisi lain, otakku membayangkan ia tidur nyaman di dalam rumah tuannya, tempat yang hangat. Aku mulai merasa lebih tenang.
Keesokan pagi, hujan belum sepenuhnya berhenti. Kulihat ke luar, rintik tipis masih turun. Jalanan basah, air got penuh, tanaman dan rumput basah kuyup. Angin berembus dari jendela, membuat hawa dingin semakin menusuk.
Dari kejauhan, kulihat Kumpus muncul. Ia berjalan menuju rumahku dengan hati-hati, mencari pijakan yang tidak terkena air. Bibirku tanpa sadar tersenyum melihat kehadirannya.
“Kumpus, kau datang,” kataku antusias menatapnya dari jendela.
Mendengar suaraku, ia mendogak lalu berjalan semakin cepat, sedikit berlari dan akhirnya melompat ke jendela. Bulunya tidak basah kuyup, hanya sedikit basah. Mungkin karena ia berjalan di bawah rintik, pikirku.
Aku segera menuju meja dan mengambil ikan, lalu kucampur dengan nasi. Setelahnya, kuberikan padanya. Kusap-usap bulunya yang agak lembap itu. Ia tidak terganggu dan terus makan hingga habis.
“Tidur di mana kau semalam, cantik?” kataku seolah-olah sedang berbicara kepada manusia.
“Hujan sangat deras, kau pasti kedinginan.” Tanganku masih betah mengusap-usap bulunya yang cukup halus itu.
Setelah makan, seperti biasa, ia mencari tempat yang nyaman untuk berbaring. Kali ini, ia memilih kamar sebelah yang difungsikan sebagai gudang. Pintunya memang tidak ditutup. Ia berbaring agak jauh dari pintu, lalu meluruskan badannya. Ia terlihat lucu.
“Nah, tidurlah di situ. Di luar sangat dingin,” kataku lagi. Mungkin, kalau ada orang yang melihat, bisa saja aku dikira kurang waras.
Tak terasa, hari bayiku lahir ke dunia tiba. Sejak subuh aku berada di tempat bidan dan baru pulang sore hari. Hari itu, sejak pagi hujan turun hingga sore. Saat aku pulang, hujan hanya menyisakan rintik tipis.
“Apa tadi Kumpus ke sini?” pikirku. “Karena nggak ada orang, dia pergi lagi?” Aku bertanya-tanya sendiri.
Keesokan paginya, ketika aku berjemur di depan rumah, Kumpus datang. Aku sangat senang dan langsung menyapanya.
“Kumpuus!” kataku spontan.
“Jangan! Kamu bau amis,” kata suamiku.
Aku tidak jadi mengusapnya, padahal rasanya aku rindu pada makhluk berbulu itu.
Ia masuk ke rumah sebentar. Rumah agak berantakan karena ada ibuku juga yang sedang berberes.
“Kucing siapa ini? Cantik sekali?” terdengar suara ibuku dari dalam.
“Kucing liar, Bu,” sahut suamiku dari luar. Ia duduk tidak jauh dari tempatku berjemur.
Tidak lama, Kumpus keluar dan pergi. Mataku mengikutinya hingga ia menghilang di ujung gang. Aku merasa ada yang kurang. Biasanya ia kuberi makan, tetapi hari ini tidak. Semua orang di rumahku sedang sibuk.
Keesokan harinya, ia datang lagi, tetapi kali ini tidak masuk. Ia hanya berhenti di rerumputan tak jauh dariku yang sedang berjemur. Setelah itu, ia pergi.
Esok harinya, ia tidak datang lagi. Hari berikutnya pun ia tidak muncul. Aku menunggu dan berharap bisa melihatnya lagi. Namun, ia benar-benar tidak datang lagi. Bahkan hingga anakku berusia satu tahun, aku tidak tahu di mana keberadaannya.
Kutanya suamiku apakah ia pernah melihat Kumpus di komplek ini saat pergi bekerja. Jawabannya tidak.
“Mungkin sudah mati,” katanya. Hatiku mencelos. Ingin rasanya marah mendengar suamiku berkata seperti itu.
Suatu sore, aku mengajak anakku jalan-jalan keliling komplek. Mataku terus melihat ke sana kemari, siapa tahu aku bertemu si calico cantik itu lagi. Namun, hasilnya nihil. Banyak kucing yang kutemui di komplek, tetapi tidak satu pun ada Kumpus. Aku mengembuskan napas kasar. Ada rasa kecewa yang sulit kujelaskan. Entah di mana dia?
“Kalau masih hidup, semoga ada yang merawatmu. Kalau sudah mati, terima kasih sudah pernah menemaniku,” gumamku.
Aku pulang ke rumah karena hari sudah pukul setengah enam sore. Kututup semua jendela. Kutatap lama jendela yang menjadi awal pertemuanku dengan si calico itu, juga tempat ia melompat keluar-masuk rumah.
Kini, jendela itu seperti kehilangan penghuninya. Aku tersenyum hambar, lalu menutup jendela itu rapat.
TAMAT