Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Slice of Life
Seorang Lelaki Menangis di Kamar Anaknya
0
Suka
7
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Seorang Laki-laki Menangis di Kamar Anaknya

Selama ini, dia tidak pernah benar-benar memperhatikan kamar ini.

Dua belas tahun keluar-masuk pintu yang sama. Dua belas tahun mencium dahi yang sama — dulu bau bedak bayi, sekarang bau minyak rambut dan keringat remaja. Dua belas tahun berpikir bahwa mencium dahi itu cukup. Bahwa hadir dalam diam adalah bentuk cinta yang sah.

Malam Sabtu ini, pukul sebelas lewat, lelaki itu duduk di kursi kayu di sudut kamar anaknya. Zen sudah tidur. Dadanya naik turun pelan di balik selimut abu-abu. Di sudut ruangan, kursi roda besi melipat diri sendiri seperti sesuatu yang malu-malu.

Lelaki itu baru benar-benar memandangi dinding kamar anaknya malam ini. Penuh. Poster band yang tidak dia kenal. Print-out desain grafis yang sepertinya dikerjakan sendiri — bagus, ternyata. Foto-foto yang dijepit tali rami melintang dari satu sisi dinding ke sisi lain: foto Zen dengan teman-temannya, tertawa, semua terlihat normal kecuali kursi roda di pinggir frame yang setengah terpotong.

Di atas meja, di sebelah monitor yang sudah mati, ada buku harian dengan sampul coklat kusam. Di bawah foto Zen yang ditempel di sampulnya, ada tulisan tangan dengan spidol hitam tebal:

IT'S ME.

Terjadi perdebatan dalam dadanya.

Sisi kiri berteriak: jangan. Privasi adalah kemerdekaan. Dia punya hak atas rahasianya sendiri, bahkan dari ayahnya — apalagi dari ayahnya yang absen.

Sisi kanan berbisik: kamu tidak tahu apa-apa tentang dia. Sudah berapa lama? Dua tahun terakhir kamu berangkat sebelum dia bangun dan pulang setelah dia tidur. Buku itu mungkin satu-satunya jalan yang masih terbuka.

Tangannya bergerak lebih dulu dari keputusannya.

Buku harian itu terbuka.

Ry,

Hari ini aku ulang tahun. 17 tahun. Papa lupa.

Bukan hal baru. Tapi tetap saja menyakitkan. Aku sudah hafal rasanya — tahu bahwa dia sibuk, tahu alasannya valid, tahu aku tidak boleh egois. Tapi tahu dan terima itu beda, Ry. Sangat beda.

Aku tidak minta dirayakan. Cuma ingin dia ingat.

Lelaki itu menutup matanya sebentar. Tangannya yang memegang buku bergetar kecil. Dia tahu tanggal hari ini. Dia tahu tiga Desember adalah tanggal lahir Zen. Dan tadi sore, ketika pulang dan langsung makan malam dan langsung masuk kamar untuk mengecek email — dia tidak ingat.

Dia tidak ingat.

Jarinya meremas ujung kemeja.

Yang paling menyakitkan tahun ini bukan itu, Ry.

Jadi minggu lalu aku pergi ke mall sama Hendra dan Dika. Naik TransJogja. Kamu tahu betapa melelahkannya itu — turun tangga, nunggu bus yang lantainya agak tinggi, pake papan yang harus diminta dulu sama penjaganya. Tapi aku pergi juga karena Hendra bilang mau ada yang mau dia kenalkan.

Namanya Dea. Kelas 11 IPA. Cantik banget, serius. Rambut hitam panjang. Senyumnya bikin aku lupa kalau kursi rodaku berdecit.

Sampai dia lihat aku.

Ry, aku tahu bedanya tatapan orang yang kaget vs orang yang kasihan. Dea menatapku dengan tatapan ketiga: gabungan keduanya, dibalut senyum yang sudah terlalu buru-buru jadi ramah. Dia langsung bicara lebih pelan dari sebelumnya. Lebih hati-hati. Kayak aku tiba-tiba jadi barang rapuh.

Hendra tidak melihat itu. Dika tidak melihat itu. Aku saja yang melihat itu, Ry. Karena aku sudah terlalu terbiasa melihatnya.

Lelaki itu berhenti membaca. Dia memandangi kursi roda di sudut kamar. Besi itu mengkilap kena sinar bulan dari jendela yang tidak tertutup kerai.

Dua belas tahun dia mengambil Zen dari panti. Dua belas tahun dia bilang kepada siapapun yang bertanya: Zen anak saya. Tidak ada yang berbeda. Dan dia percaya itu adalah cinta. Bahwa menolak membedakan adalah cara paling adil untuk mencintai.

Tapi malam ini dia mulai mengerti bahwa Zen tidak butuh disamakan. Zen butuh didengar soal perbedaannya.

Dan Ry, kamu tahu yang lebih parah dari tatapan Dea?

Waktu pulang, aku jatuh.

Bukan jatuh dramatis. Cuma rodanya nyangkut di celah antara lift dan lantai. Aku hampir oke — sudah reflek pegang roda lagi. Tapi orang-orang di sekitar itu langsung bertepuk tangan.

Tepuk tangan, Ry.

Karena aku hampir jatuh dan tidak jadi jatuh. Orang-orang bertepuk tangan. Satu bapak-bapak bilang "wah, hebat ya, tabah sekali anak muda ini." Aku tidak tahu dia ngomong ke siapa karena aku tidak melakukan apa-apa yang layak dipuji. Aku cuma tidak jatuh.

Itu yang mereka puji. Kemampuanku untuk tidak jatuh.

Aku mau marah tapi tidak bisa. Mau nangis tapi malu. Akhirnya senyum saja. Senyum paling kosong yang pernah aku buat.

Kamu tahu bagian yang paling menyebalkan, Ry? Mereka bermaksud baik. Semua dari mereka bermaksud baik. Dan itulah yang membuatnya semakin menyakitkan.

Lelaki itu meletakkan buku di pahanya. Dia tidak melanjutkan membaca selama beberapa detik.

Bermaksud baik. Dia juga selalu bermaksud baik. Menyekolahkan Zen di sekolah umum karena dia tidak mau anaknya merasa dibedakan. Membelikan kursi roda yang paling ringan di pasaran karena ingin Zen mandiri. Mengizinkan Zen tinggal di rumah lama ketika dia harus pindah kantor karena tidak mau menyakiti perasaan anaknya.

Semua bermaksud baik. Semua dilakukan tanpa bertanya kepada Zen terlebih dahulu apakah itu yang dia inginkan.

Ry, aku lelah.

Bukan lelah yang bisa hilang dengan tidur. Ini lelah yang berbeda. Lelah karena harus terus meyakinkan diri sendiri bahwa aku baik-baik saja sebelum orang lain bertanya.

Di sekolah aku oke. Nilai oke. Teman ada. Guru suka. Dari luar, semuanya oke.

Tapi aku kesepian, Ry. Dengan cara yang susah dijelaskan. Bukan kesepian karena tidak punya teman — Hendra dan Dika ada. Tapi kesepian karena tidak ada yang benar-benar mengerti tanpa aku harus menjelaskan. Dan aku capek menjelaskan.

Papa dulu yang paling mengerti tanpa aku harus menjelaskan. Dulu.

Sekarang, dia akan pulang jam sebelas malam nanti dan aku pasti sudah tidur.

Tangan lelaki itu naik ke matanya. Dia menahan sesuatu yang sudah mau keluar sejak tadi.

Sekarang dia pulang jam sebelas malam dan aku sudah tidur.

Dia sedang membaca tentang dirinya sendiri. Tentang absennya yang selama ini dia kira tidak terlihat.

Aku tidak akan minta apa-apa lagi kepada papa soal ini, Ry. Dia sudah melakukan banyak hal. Sudah cukup.

Aku cuma ingin bilang: aku masih manusia. Aku masih butuh didengar. Bukan di-handle, bukan diurus, bukan dipuji — didengar.

Tapi tidak apa-apa. Tidak semua yang dibutuhkan harus tersedia.

Aku mau tidur sekarang. Di tidurku, aku bisa lari, Ry. Itu bagian yang paling aku suka dari tidur — aku selalu bisa lari. Kadang bahkan berenang. Kemarin aku mimpi naik sepeda ke Pantai Parangtritis sendirian.

Besok-besok kalau aku sudah tidak ada yang bisa dibagi lagi, Ry, mungkin aku tutup buku ini. Tapi belum sekarang.

Sampai besok.

(Jogja, 3 Desember 2003)

Lelaki itu menutup buku harian anaknya.

Sinar bulan sudah bergeser. Zen masih tidur, napasnya teratur, wajahnya tenang dengan cara yang hanya dimiliki oleh orang yang sudah memutuskan untuk berhenti merasa sesuatu sampai besok.

Airmata lelaki itu jatuh ke lantai marmer. Diam. Tidak ada isak. Hanya air yang menetes.

Bodoh. Dia memaki dirinya sendiri dalam kepala. Kamu pergi karena tidak mau menyakitinya. Dan kamu menyakitinya.

Dia ingat ketika mengambil Zen dari panti. Dua tahun. Zen yang dua tahun menangis setiap malam selama dua bulan pertama, dan dia yang duduk di tepi kasur bayi sambil menyanyi lagu yang dia tidak hafal liriknya dengan benar. Dia ingat Zen yang tujuh tahun berlari — berlari — dari dapur ke teras untuk menunjukkan gambar yang baru selesai dibuat. Sebelum kecelakaan itu. Sebelum Zen harus belajar dunia dengan cara yang berbeda.

Dia ingat berjanji kepada dirinya sendiri saat itu: Aku akan ada.

Lelaki itu menatap kursi roda yang berdiri tegak di sudut ruangan.

Kemudian, perlahan, dia menunduk. Tangannya meraba permukaaan celananya sendiri — celana hitam yang dilipat rapi sampai selutut karena tidak ada gunanya dilipat lebih panjang.

Dirabanya pelan permukaan keras di bawah kain itu. Dingin. Tidak ada denyut. Tidak ada rasa.

Sepasang kaki palsu miliknya sendiri.

Dia tahu persis rasanya menatap dunia dari ketinggian yang berbeda. Dia tahu persis rasanya ketika orang memberikan tatapan campuran antara kaget dan kasihan yang terlalu cepat berubah jadi ramah. Dia tahu persis lelah yang tidak bisa hilang dengan tidur.

Dia tahu. Dan justru karena itu dia pergi — karena terlalu takut tidak bisa jadi ayah yang cukup bagi anak yang menghadapi hal yang dia sendiri masih belum selesai hadapi.

Lelaki itu menangis tidak bersuara di kamar anaknya.

Di luar jendela, Jogja sudah sunyi. Hanya jauh di sana, suara kereta malam yang melintas — pergi ke arah yang tidak diketahui, membawa siapa saja yang memutuskan untuk tidak diam.

--Jogja 2007

Cerpen ini merupakan bagian dari koleksi "SEPULUH Kumpulan Cerpen" Catatan: "Ry" dalam diari Zen adalah nama yang diberikannya sendiri untuk buku hariannya — bukan nama orang nyata. Praktik ini umum di kalangan penulis diari muda yang membutuhkan ilusi memiliki seseorang untuk diajak bicara.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Cerpen
Seorang Lelaki Menangis di Kamar Anaknya
Muhammad Sapril
Cerpen
Pada Dusta Keempat, Seorang Laki-laki akan Mati
Muhammad Sapril
Cerpen
Mie di Kala Hujan
zain zuha
Cerpen
Bronze
Asih
Yona Elia Pratiwi
Cerpen
Bronze
Sakit Kiriman
Intan Andaru
Cerpen
Bronze
Pilihan Dimas
Heaven Nur
Cerpen
Bronze
Pisang Goreng
De Lilah
Cerpen
Bahasa Bunga
zain zuha
Cerpen
Pergi Melaut, Tak Kembali
Muhammad Irsyad
Cerpen
KARBAK 85
Sky Melankolia
Cerpen
Bronze
Pardi
C. Gunharjo Leksono
Cerpen
Bronze
Cegukan
Andriyana
Cerpen
Bronze
Toko Masa Depan
Shinta Larasati Hardjono
Cerpen
Melukis Masa (Yuu)
Godok
Cerpen
Perhatikan Rani
Cassandra Reina
Rekomendasi
Cerpen
Seorang Lelaki Menangis di Kamar Anaknya
Muhammad Sapril
Cerpen
Pada Dusta Keempat, Seorang Laki-laki akan Mati
Muhammad Sapril
Novel
Timah Cair Dinda
Muhammad Sapril
Cerpen
Tiga Perempuan dan Satu Ranjang
Muhammad Sapril
Novel
Penjara Tika
Muhammad Sapril
Flash
Aku Benci Kamu, Penakut!
Muhammad Sapril
Novel
Rumah Kedua Sari
Muhammad Sapril
Cerpen
Sembilan Bajingan
Muhammad Sapril
Cerpen
Dua Asbak
Muhammad Sapril
Cerpen
Lima Syarat Surga Jalur VIP
Muhammad Sapril
Cerpen
Delapan Pahlawan
Muhammad Sapril
Cerpen
Tujuh Anak Bapakku
Muhammad Sapril
Cerpen
Enam Jam di Jogja
Muhammad Sapril
Cerpen
SEPULUH
Muhammad Sapril