Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
Senyum Hesti Tak Bisa Berhenti
1
Suka
58
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Hesti terbangun oleh suara alarm. Sudah setengah enam pagi, sudah saatnya mandi dan bersiap. Hesti meregangkan badannya sebelum duduk dan bangkit dari kasur. Menguap. Dengan langkah agak limbung membuka pintu kamar kosnya, mengambil handuk dari jemuran. Terdengar suara kelontang wajan di dapur di seberang kamarnya. Hm, sepertinya aroma sosis sapi. Si pemasak menoleh, lalu mengangguk dan tersenyum.

Agak terkejut, Hesti mengangguk langsung kembali masuk dan menutup pintu kamar kosnya. Tumben, pikirnya. Ia tidak tahu nama si pemasak. Penghuni kos ini tidak saling mengenal satu sama lain. Jangankan kenal, bersenggolan di lorong pun jarang. Dapur jarang digunakan karena penghuninya kebanyakan memesan makanan dari luar. Maklum, semua yang tinggal di kos ini adalah karyawan dan karyawati. Kosnya eksklusif, fasilitas di kamar lengkap. Makan, mandi, menghibur diri, semuanya dilakukan di dalam kamar. Semua penghuni punya dunia di kepala dan kamar masing-masing.

Selepas mandi dan mengambil pakaian di lemari, Hesti memandang cermin. Ia sungguh terkejut, karena wajahnya tersenyum. Bibirnya membentuk lengkungan yang manis, namun tanpa ia sadari. Hesti berusaha untuk menggembungkan dan mengendorkan pipinya, mengerucutkan bibirnya, menampar-nampar wajahnya kiri dan kanan, menggeleng-gelengkan kepalanya agar relaks. Dan ketika mencoba kembali menetralkan wajahnya, bibirnya kembali tersenyum.

Senyum di bibir Hesti ramah, namun karena ia terkejut, ketika matanya melotot, tentu saja wajah Hesti menjadi agak menakutkan, terutama untuk dirinya sendiri. Hesti panik, jangan-jangan ia terkena stroke. Ia sering dengar, orang yang kena stroke, wajahnya jadi perot sebelah. Mungkin ini stroke jenis lain?

Hesti mengirimkan pesan kepada atasannya, hari ini ia tidak bisa masuk kantor, sepertinya harus ke rumah sakit. Hesti ragu sejenak, bagaimana ia harus menjelaskan sakitnya, atau apa yang dia rasakan? Karena ia tidak merasa sakit ataupun aneh di tubuhnya. Ia merasa biasa-biasa saja. Ah, bilang saja diare, pasti atasannya tidak berminat bertanya lebih jauh!

Di rumah sakit, ia diperiksa dokter. Dokter bertanya, apakah ia baru saja jatuh? Terbentur parah? Migrain atau sakit kepala yang parah? Sehari-hari makan seperti apa? Tidur cukup? Minum banyak air? Hesti menjalani tes fisik, tes darah, tes saraf, bahkan pindai otak. Dokter bilang, ini bukan stroke, tidak ada keanehan atau kelainan yang ditemukan di tubuh Hesti. Dokter memberikan obat pelemas otot dan vitamin syaraf untuk dibawa pulang. Tidak ada alasan untuk menahan Hesti untuk dirawat inap, kata dokter. 

Hesti pulang ke kos dengan gamang. Obat-obatan ia minum selepas makan siang, dan berusaha tidur siang. Mungkin ini stress, ototnya tegang, sehingga ia harus istirahat. Sore hari, ia terbangun dan langsung melompat menuju kaca. Bibirnya masih tersenyum. 

Hesti tidak bisa tidur malam itu. Selain karena sudah tidur siang, ia mulai bingung, bagaimana menjalani hari-harinya di kantor besok? Otaknya merunut apa saja yang ia lakukan hari sebelumnya. Tidak ada yang aneh. Pagi mandi dan bersiap, berangkat ke kantor, bekerja, makan siang bersama teman, lanjut bekerja, mampir ke warung dalam perjalanan pulang. Warung itu belum pernah ia datangi sebelumnya, namun ia hanya membeli sekotak tisu. Tidak ada perhentian lain.

Pagi harinya, sambil mematut diri di depan cermin, Hesti memutuskan untuk mengenakan masker. Toh, di Jakarta ini banyak orang menggunakan masker di jalanan karena polusi. Sedangkan di kantor, biarlah dikira pilek, yang penting tidak terlihat aneh, senyum-senyum sendiri!

Berhari-hari kemudian, Hesti mulai kewalahan. Rekan-rekannya di kantor bertanya, apakah ia sedang flu? Kok, sudah beberapa hari tidak sembuh? Sudah minum obat apa saja? Makan siang ia jalani dengan sembunyi-sembunyi di kubikelnya. Ia malu sampai rekan-rekannya tahu, ia tersenyum sepanjang hari tanpa sebab.

Internet tidak membantu. Berjam-jam berselancar mencari tahu kasus medis yang seperti dirinya, Hesti tak menemukan titik terang. Ada kasus mirip dirinya di sebuah negara di benua Afrika, katanya karena kejang otot dan lonjakan hormon. Tapi si penderita kemudian sembuh setelah minum air hangat dan kompres wajah. Sedangkan Hesti sudah minum berliter-liter air hangat dan panas, mengkompres wajahnya bergantian mulai dari air panas, hangat, hingga es batu. Segala macam salep otot dan minyak tradisional, tidak ada yang mempan. Malah kulit pipinya kering dan pecah-pecah karena kompres aneka warna.

Setelah tiga minggu, Hesti memutuskan untuk pasrah. Ia melepas maskernya di meja kerja. Rekan-rekan memperhatikan. Hesti biasanya seperti tak terlihat, sekarang menjadi pusat perhatian. Atasannya berlaku lebih baik padanya. Tiba-tiba Hesti mendapatkan banyak bantuan, ajakan makan siang, dan bahkan pujian-pujian. Hesti tahu, itu pasti karena wajahnya yang tersenyum sepanjang hari. Dalam hati ia gamang, merasa membohongi semua orang. Semua orang pasti akan menganggapnya penipu, karena senyumnya tidak tulus. Senyum ini terbentuk bukan karena ramah, tapi bahkan ia sendiri tak bisa menghentikannya.

Beberapa rekan pria Hesti mulai mendekati. Mengajak makan siang, makan malam, sekedar ngopi, atau nonton. Tadinya Hesti menolak semua. Tentu saja tidak ada yang tersinggung, karena Hesti menolak dengan tersenyum ramah. Namun Hesti tak sanggup menolak ajakan Adam, rekan divisi sebelah yang memang sudah Hesti perhatikan sejak lama.

Beberapa minggu kemudian, Hesti dan Adam intens berkencan. Sesuai dugaan Hesti, Adam adalah lelaki yang baik, memperlakukannya dengan hormat, menyayanginya, memberikan perhatian, pokoknya, sesuai dengan semua kriteria Hesti tentang pasangan ideal. Hesti sangat bahagia, namun rasa bersalahnya pun semakin besar. Bagaimana jika Adam tahu, ia selama ini tersenyum bukan dari hati? Senyum ini hanya ada sebagai bagian dari anggota tubuhnya saja, yang terwujud tanpa kontrol, tanpa usaha. Di sisi lain, Hesti juga merasa, bukankah wajar juga manusia menyukai sesuatu karena tampilannya? Banyak orang mulai naksir calon pasangannya karena wajah yang cantik atau tampan, warna matanya yang indah, atau tinggi badannya yang semampai. Bukan kita yang mengatur semua itu, benar, bukan?

Tentu saja, berkencan dengan kondisinya, agak merepotkan Hesti. Mereka pernah nonton film horor, yang membuat Hesti berteriak ketakutan beberapa kali. Adam tentu heran ketika Hesti berteriak dan menutup mata dengan bibir tersenyum. Adam mengira, Hesti sangat menyukai film horor. Hesti harus menolak berkali-kali ketika Adam mengajaknya nonton film horor lagi. Adam heran, bukannya Hesti suka film horor?

Pernah juga mereka melayat ayah rekan kantor yang meninggal. Hesti kembali mengenakan masker sepanjang acara. Adam kira Hesti sakit, dan buru-buru mengajaknya pulang. Hesti harus menjelaskan berkali-kali bahwa ia baik-baik saja ketika Adam hendak membawanya ke dokter.

Di luar itu, Adam sepertinya tak pernah merasa terganggu. Ketika mereka berciuman dan bercumbu rayu, tentu saja Adam merasa makin jatuh cinta pada Hesti yang selalu terlihat senang dan puas. Dalam hal ini, Hesti juga merasa tidak berbohong. Hesti memang telah benar-benar jatuh cinta pada Adam.

Namun, rasa resah Hesti tak pernah hilang. Beberapa bulan kemudian, Adam mulai mengajaknya ke jenjang yang selanjutnya. Adam mengajak Hesti untuk bertemu orangtuanya di Bandung, memperkenalkan Hesti sebagai pacar serius untuk diajak berumah tangga. Dalam hatinya, Hesti tentu mau sekali. Kedua orang tua Hesti sudah lama meninggal. Ia ingin membangun keluarganya sendiri. Namun, masa keluarga tersebut harus dibangun di atas senyum palsu?

Awalnya Hesti menolak halus dengan berbagai alasan teknis. Ada hal-hal yang harus dikerjakan atau ada halangan ini-itu, yang sebenarnya bisa saja ditunda kalau Hesti mau. Namun sesungguhnya, Hesti takut. Bagaimana kalau senyum di wajahnya tiba-tiba hilang di suatu hari? Apakah Hesti bisa melanjutkan hidupnya dengan terus-terusan tersenyum dengan disengaja? Atau, amit-amit, bagaimana jika Adam berhenti mencintainya?

Adam resah. Suatu hari, ia bertanya, apakah Hesti tak mau serius dengannya? Adam ingat Hesti pernah menyatakan dengan pipi memerah, bahwa Adam adalah semua hal yang ia dambakan. Adam kira itu adalah pertanda Hesti mau berkomitmen lebih jauh, menikah, berkeluarga. Tapi Adam kini merasa ditolak dan dipermainkan. Adam kecewa. 

Adam mulai menjaga jarak dan mengurangi intensitas komunikasi mereka. Perlu rehat, katanya. Hati Hesti ruwet. Ia tahu, apa yang menyebabkan Adam menjauh. Hesti juga tahu pasti, apa yang perlu ia perbuat. Ia perlu memberi tahu Adam tentang senyum yang tak pernah hilang dari wajahnya. Mungkin itu akan membuat Adam berhenti mencintainya. Mungkin itu akan membuat ia kehilangan Adam selama-lamanya. Tapi, apa juga bedanya dengan saat ini? Hesti merasa, Adam sudah pergi dan lepas dari tangannya.

Malam itu malam kesekian Hesti dan Adam tak saling bertemu. Gundah di kamar, Hesti mengambil ponselnya. Melalui pesan teks, ia memberi kabar kepada Adam, minta waktu beberapa hari untuk berpikir sebelum memberikan jawaban. Setelah itu, ia janji akan kembali kepada Adam untuk menjelaskan semua. Hesti akan pasrah, apapun penerimaan Adam setelahnya.

Adam tak kunjung menjawab. Hesti menangis. Ia sungguh tak ingin kehilangan Adam. Dengan mata sembap dan hidung berair, Hesti mengambil tisu yang tinggal selembar. Hesti terpaku memperhatikan kotak tisu tersebut. Bukan merk yang biasa ia beli. Ini tisu yang ia beli di malam tepat sebelum wajahnya tak berhenti tersenyum. Di bungkus tisu tersebut hanya tertulis merk “Lembut”, dan di balik tisu tersebut tertulis kalimat promosi yang janggal, “Menghapus air mata, juga senyum yang tak disengaja.”

Hesti bergegas keluar, mencari warung yang malam itu ia datangi. Warung kecil biasa, tak bernama, agak gelap, menjual rokok, minum, dan cemilan. Sama seperti malam itu, warung itu dijaga oleh seorang perempuan paruh baya. Perempuan itu tersenyum ramah ketika Hesti tiba.

Ia bertanya pada Hesti, “Cari apa?”

Hesti tak langsung menjawab. Hilang akal, ia bingung merangkai kata. Sambil menunjukkan kotak tisu kosong, Hesti menangis dan tergagap, “Saya tidak bisa berhenti tersenyum. Tolong sembuhkan saya!”

Perempuan penjaga warung tidak menjawab. Dengan tetap tersenyum ramah, ia mendekati Hesti dan memegang tangannya. Hesti dapat melihat matanya. Perempuan itu buta. 

Hesti menangis sejadi-jadinya. Perempuan tersebut mengambil selembar tisu dari warungnya, tisu Lembut yang sama, dan menghapus air mata Hesti.

“Kamu tidak sakit. Pulanglah,” bisik perempuan penjaga toko.

Kaki Hesti seakan berjalan sendiri. Meninggalkan warung dan kembali ke kamar kos. Masuk ke kamar, ia masih terus menangis dalam gelap, hingga tertidur.

Pagi hari, Hesti terbangun dan tersentak. Ia langsung menuju cermin, dan memelototi wajahnya sendiri. Senyumnya sudah hilang. Hesti tertawa sambil menangis, Hesti tak peduli, wajahnya sudah kembali seperti sediakala.

Dengan mantap, Hesti mengambil ponselnya dan menghubungi Adam.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Cerpen
Senyum Hesti Tak Bisa Berhenti
Maria Kumalararas
Skrip Film
Rise
Annida Yasti Sari
Flash
Sepatu untuk Alin
Lirin Kartini
Novel
Fall in Love with Devils
judea
Flash
Bronze
Cerita Sejam
Ahmad Muhaimin
Novel
Bronze
Nama Kecil
Yunia Susanti
Novel
Bronze
Cala yang Berlubang
Nayaka Ashaki
Novel
Daijoubu?
Kinarian
Flash
Bronze
Lelaki bisu
Sang Penari Kata
Novel
Al-Baktih
Bibih Aqbil
Novel
Bronze
SEBATAS FORMALITAS
Linda Fadilah
Novel
Bronze
Jejak Perempuan yang Pergi pada Suatu Masa
Alfian N. Budiarto
Novel
Bronze
Violet Athalea
Bluerianzy
Novel
Kara Angka & Albert Einstein
ursausang
Novel
Bronze
Suami-suami Seribu Dapat Tiga
riwidy
Rekomendasi
Cerpen
Senyum Hesti Tak Bisa Berhenti
Maria Kumalararas
Cerpen
Ayunan
Maria Kumalararas