Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
“Faqih Khairul Fikri itu yang mana, sih?” tanya Anggi di sela kajian petang kitab Mukhtashar Jiddan kepada Fia yang sibuk mencoret syarah di sampingnya.
Gadis berjilbab bermotif bunga-bunga itu menempelkan telunjuknya di bibir, memberi isyarat agar Anggi merendahkan suaranya. Ia kemudian mengedarkan pandangan di sela pagar pembatas lantai dua masjid, menelusuri barisan santri berkopiyah yang menunduk khusyuk.
“Biasanya dia duduk paling depan,” jawab Fia. “Kenapa nanyain dia terus?”
Alis Anggi menyernyit. “Kamu nggak dengar berita yang lagi heboh di media dan masyarakat luar? Katanya dia ditangkap aparat kemarin, dituduh sebagai teroris, Fi!”
Fia menghela napas panjang. “Lalu kamu percaya begitu saja hanya karena berita yang belum jelas sumber dan kebenarannya itu?”
Anggi tidak menjawab. Baru seminggu ia terdaftar sebagai santri Pesantren Miftahul Azzam dan langsung mendengar kabar yang menyebar luas setelah muncul laporan dari pihak tertentu. Tentu saja ia terkejut, apalagi saat tahu pihak pesantren masih mau menerima dan membiarkan orang bernama Fikri itu tinggal di sana.
“Teroris itu harus dihukum, Fi! Kok malah dilindungi? Mencoreng nama baik pesantren namanya.”
Fia meletakkan pensilnya dan menoleh. “Itu fitnah, Nggi. Jangan langsung percaya omongan orang, apalagi berita yang sengaja disebarkan untuk kepentingan tertentu.”
“Lho, kok begitu? Polisi nggak mu...