Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Romantis
Senja Terakhir
1
Suka
30
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Hujan baru saja membasahi bumi pahlawan ketika Raka berdiri mematung di trotoar Jalan Tunjungan. Cahaya lampu kota yang keemasan memantul di atas aspal yang basah, menciptakan panggung yang sunyi bagi batinnya yang koyak. Di kejauhan, kemegahan Gedung Siola berdiri kokoh, menjelma menjadi saksi bisu dari ribuan romansa yang lahir lalu mati di sudut-sudut Surabaya.

Di dalam genggamannya yang gemetar, terselip selembar surat misterius tanpa nama pengirim. Kalimat di dalamnya begitu ringkas namun menggores:

"Kalau suatu hari kamu mendapat kesempatan mengubah satu keputusan, jangan ulangi kesalahan yang sama."

Raka hanya tersenyum kecut, menganggapnya sebagai keisengan belaka dari orang yang kurang kerjaan. Ia tidak pernah menduga bahwa surat itu adalah awal dari sebuah kutukan yang menyamar sebagai keajaiban.

Semua bermula keesokan harinya, saat ia berpapasan dengan seorang mahasiswi baru di koridor kampus. Namanya Nara. Gadis itu memiliki potongan rambut sebahu yang acak-acakan namun manis, senyum yang teduh, dan sebuah kamera analog tua yang tak pernah lepas dari lehernya.

"Aku paling suka memotret hal-hal yang akan segera hilang," ujar Nara suatu sore, saat mereka duduk di pelataran Balai Pemuda.

Raka mengernyitkan dahi. "Aneh. Kenapa bukan sesuatu yang abadi?"

"Justru karena sesuatu itu akan hilang, keberadaannya menjadi sangat berharga" sahut Nara pelan sambil membidikkan kameranya ke arah langit senja yang mulai memudar.

Entah mengapa, kalimat sederhana itu mengendap begitu lama di kepala Raka. Hari-hari berikutnya membawa mereka larut dalam kedekatan yang karib. Mereka kerap menghabiskan waktu bersama, menikmati angin laut yang membawa aroma garam di Jembatan Suramadu, atau sekadar menyesap kopi hangat di tepi Kalimas sambil berbagi gorengan.

Di antara momen-momen itu, Nara seringkali mengarahkan lensa kameranya ke wajah Raka.

"Kenapa selalu aku yang kamu potret?" tanya Raka suatu kali.

"Soalnya kamu jarang tersenyum," jawab Nara dengan tawa kecilnya yang khas.

"Lalu apa hubungannya?"

Nara terdiam sejenak, menatap mata Raka dalam-dalam. "Aku takut suatu hari nanti aku lupa bagaimana rupa wajahmu."

Raka hanya tertawa, menganggap ucapan itu sebagai rayuan jenaka. Ia tidak pernah tahu bahwa di balik lensa kamera itu, Nara sedang menghitung sisa waktu mereka.

Kebahagiaan itu runtuh ketika surat kedua tiba secara misterius di depan pintu kamar kosnya.

"Jangan biarkan dia pulang sendirian tanggal 14 November."

Firasat buruk mulai menjalar di dada Raka. Tepat pada tanggal empat belas November, awan hitam bergayut pekat di atas langit Surabaya. Di parkiran kampus, Nara berpamitan dengan terburu-buru.

"Aku naik motor sendiri saja ya. Ada urusan mendesak," kata Nara sembari mengenakan helmnya.

Raka yang saat itu sedang lelah hanya mengangguk pasrah. "Ya sudah, hati-hati. Besok kita jalan lagi."

Sore itu, hujan tumpah dengan sangat deras, seolah-olah langit sedang ikut menangis. Dan malamnya, badai yang sesungguhnya menghantam hidup Raka. Sebuah kabar duka memecah keheningan malam: seorang mahasiswi meninggal seketika setelah tertabrak truk di Jalan Ahmad Yani.

Gadis itu adalah Nara. Dunia Raka runtuh seketika, menyisakan ruang hampa yang teramat perih.

Tiga hari setelah pemakaman, surat ketiga muncul di tempat yang sama.

"Kamu masih punya satu kesempatan."

Ketika Raka membuka matanya dengan napas tersengal, ia mendapati dirinya terduduk di meja belajar. Di kalender, angka menunjukkan tanggal 1 November. Waktu telah berputar kembali.

Raka diserang kepanikan sekaligus harapan yang membuncah. Semua kejadian berulang persis seperti sebelumnya. Nara kembali hidup, kembali memotret langit Surabaya yang terik, dan kembali mengajaknya menyantap lontong balap langganan mereka. Raka bersumpah demi apa pun untuk mengubah takdir kejam itu.

Maka, ketika tanggal empat belas November itu kembali tiba, Raka tidak membiarkan Nara pergi sedetik pun dari pandangannya.

"Aku antar kamu pulang. Tidak ada bantahan," tegas Raka.

Nara sempat terkejut, namun kemudian tertawa renyah. "Kok tumben protektif sekali?"

Raka tidak peduli. Ia mengantar Nara sampai ke depan pagar rumahnya dengan selamat. Sore itu berlalu tanpa kecelakaan, tanpa truk, dan tanpa raungan sirene ambulans. Raka menghela napas lega, merasa telah berhasil mengalahkan takdir.

Namun, manusia hanyalah bidak di atas papan catur kehidupan. Keesokan paginya, telepon Raka berdering. Suara tangis Nara pecah di seberang sana. Ayahnya terkena serangan jantung fatal saat mengantar ibunya ke pasar. Karena sore sebelumnya Nara tidak pulang cepat untuk menjaga rumah, sang ayah terpaksa pergi sendiri mengendarai mobil dan mendapat serangan di tengah jalan.

"Ayah... biasanya tidak pernah mau pergi sendiri kalau aku ada di rumah..." ratap Nara di sela isak tangisnya.

Raka membeku di tempat. Tubuhnya mendadak dingin. Ia menyadari satu hal yang mengerikan: demi menyelamatkan satu nyawa yang ia cintai, ia telah menukarnya dengan nyawa orang lain.

Kutukan itu berlanjut. Surat-surat berikutnya terus berdatangan, membawa pesan yang sama: "Takdir selalu meminta bayaran."

Raka menjadi gila oleh waktu. Ia mengulang lini masa itu berkali-kali. Ia mencoba segala cara yang bisa dipikirkan oleh akal manusianya. Ia membatalkan jadwal kuliah, menyembunyikan kunci motor Nara, memaksanya tinggal di dalam perpustakaan kampus, bahkan mengajaknya paksa keluar kota Surabaya.

Namun, takdir seperti aliran air yang tersumbat; jika dihambat di satu sisi, ia akan menjebol sisi yang lain dengan kekuatan yang lebih dahsyat.

Setiap kali Raka berhasil menjauhkan Nara dari maut, malapetaka justru bergeser menghantam orang-orang terdekatnya yang lain. Pada pengulangan ketiga, ibunya sendiri yang mengalami kecelakaan hebat. Pada pengulangan kelima, adiknya tenggelam. Di pengulangan yang lain, sahabat karibnya tewas dalam tabrakan beruntun.

Raka kelelahan. Jiwanya terkoyak melihat lingkaran setan yang ia ciptakan sendiri.

Hingga pada pengulangan yang terakhir, Raka memilih untuk berhenti bertarung. Ia menyadari bahwa bermain menjadi Tuhan hanya akan mendatangkan penderitaan yang lebih luas.

Sore itu, menjelang tanggal empat belas November, ia mengajak Nara menyusuri Jalan Tunjungan untuk terakhir kalinya. Lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu, berpendar di antara rintik gerimis tipis. Di sudut jalan, seorang musisi jalanan melantunkan lagu lawas berirama melankolis, menambah kesunyian yang kian menggigit.

"Kalau suatu hari aku sudah tidak ada..." Raka menggantung kalimatnya, menatap lurus ke depan.

Nara menghentikan langkahnya, menoleh ke arah Raka.

"...kamu jangan lama-lama sedih, ya," lanjut Raka dengan senyum yang dipaksakan, meski matanya berkaca-kaca.

Nara terdiam, lalu menggeleng pelan dengan senyum teduh yang teramat tulus. "Kamu bicara apa, sih? Tapi jujur... terkadang aku juga merasa kalau usiaku di dunia ini memang tidak akan panjang."

Raka tidak menjawab. Ia hanya meraih tangan Nara, menggenggam jemari gadis itu dengan sangat erat. Untuk pertama kalinya, dan ia tahu, itu adalah untuk yang terakhir kalinya.

Hari yang terkutuk itu kembali tiba. 14 November.

Di parkiran kampus yang mulai sepi, Nara bersiap-siap untuk pulang dengan sepeda motornya. Kali ini, Raka tidak menahannya. Ia tidak merebut kunci motornya, tidak juga memaksa untuk ikut.

Raka hanya melangkah maju, lalu mendekap tubuh Nara dalam sebuah pelukan yang erat dan hangat. Pelukan pelepasan.

"Lain kali... kita lihat matahari terbit di Kenjeran sama-sama, ya," bisik Raka tepat di telinga Nara, menahan sekuat tenaga agar air matanya tidak tumpah.

"Iya, janji," sahut Nara pelan di dalam dekapannya.

Pelukan itu terlepas. Nara menghidupkan mesin motornya, melemparkan satu senyuman termanis yang pernah Raka lihat, lalu perlahan melaju membelah jalanan Surabaya. Raka hanya berdiri diam di tempatnya, memandangi punggung gadis itu yang kian menjauh dan menyatu dengan kelabu sore.

Beberapa menit kemudian, di kejauhan, suara decit rem yang panjang dan memekakkan telinga memecah keheningan kota. Benturan keras terdengar, disusul oleh kesunyian yang jauh lebih menyakitkan daripada jatuhnya air hujan.

Raka memejamkan mata. Kali ini, ia membiarkan takdir berjalan semestinya.

Setahun telah berlalu sejak badai itu mereda.

Raka kembali berjalan seorang diri di sepanjang trotoar Jalan Tunjungan. Surabaya masih sama; tetap bising, tetap ramai, dan tetap menyimpan rindu di setiap sudutnya. Di dalam dompetnya, tersimpan selembar foto fisik hasil jepretan kamera analog setahun lalu. Foto yang menangkap momen dirinya sendiri yang sedang tertawa lepas.

Di balik foto bertekstur kasar itu, terdapat sebaris tulisan tangan Nara yang rapi:

"Kalau suatu hari aku benar-benar hilang, jangan pernah cari cara untuk mengubah waktu. Cukup hiduplah dengan baik. Karena cinta bukan tentang bagaimana kita menyelamatkan seseorang dari takdirnya, melainkan tentang bagaimana kita membuat setiap detik bersamanya layak untuk dikenang."

Raka mendongak, menatap langit senja Surabaya yang mulai memerah keunguan. Untuk pertama kalinya sejak kepergian Nara, air matanya jatuh tanpa disertai rasa bersalah. Ia tidak lagi berharap waktu berputar kembali, tidak lagi merutuki takdir yang kejam.

Sebab di tempat ini, di bawah langit Tunjungan yang meredup, ia akhirnya mengerti: hal yang paling menyakitkan bukanlah kehilangan orang yang kita cintai, melainkan ketidakmampuan kita untuk menerima bahwa ada beberapa takdir di dunia ini yang memang diciptakan bukan untuk diubah, melainkan untuk diikhlaskan.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Cerpen
Senja Terakhir
Dimas Hendra
Novel
Gold
Tiada Ojek Di Paris
Mizan Publishing
Flash
Bronze
Sayang, Kamu Tidak
Farida Zulkaidah Pane
Cerpen
Bronze
Pangeran Laut
Nabilla Shafira
Novel
Bronze
HERA
Dyah Ayu Anggara
Novel
Bumi
Annisa fathonah
Novel
Bronze
ROSIE
yenimoon79
Cerpen
Bronze
Perjanjian Bersama Sehari Malam
Aneidda
Novel
DRU: Rasa Menuju Pulang
Titis nariyah
Novel
Gold
If Only
Bentang Pustaka
Novel
Kinan
Dita Yuliana Putri
Novel
Wira
Nazarulloh R
Cerpen
When I Was Your Man
Hans Wysiwyg
Novel
Gold
Milan
Bentang Pustaka
Novel
Bronze
Gadis Sastra
Achmad Muchtar
Rekomendasi
Cerpen
Senja Terakhir
Dimas Hendra
Novel
Sidang Terhadap Tuhan
Dimas Hendra
Novel
Bronze
Hampir Kita
Dimas Hendra
Flash
Hujan Terakhir di Stasiun
Dimas Hendra
Cerpen
Natal di Ujung Gang
Dimas Hendra
Cerpen
Dihari Bunga itu Mekar lagi
Dimas Hendra
Cerpen
Gerimis Di Senyummu
Dimas Hendra