Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
Bronze
Senja di Tepi Danau
1
Suka
2,239
Dibaca

Danau itu ada di pinggiran desa, dikelilingi bukit-bukit rendah yang seolah berbaris rapi menjadi pagar alami. Airnya tenang bak cermin raksasa, kecuali saat angin berhembus pelan, lalu menciptakan ribuan riak kecil yang berkejaran satu sama lain seolah sedang bermain petak umpet. Di sisi barat danau, persis di bawah sebatang pohon beringin tua yang akarnya menjalar sampai ke bibir air, berdiri sebuah bangku kayu. Kayu itu sudah berubah warna menjadi cokelat kelabu tua, permukaannya halus licin karena sudah puluhan tahun diduduki orang-orang yang datang untuk melihat matahari terbenam. Bagi sebagian orang, bangku itu hanyalah bangku biasa. Tapi bagi Rina dan Andi, bangku itu adalah saksi bisu seluruh cerita hidup mereka. Tempat di mana persahabatan mereka bermula, tempat di mana semua impian diucapkan, dan kelak, tempat di mana hati harus belajar menerima kenyataan yang paling pedih sekaligus paling indah.

Semua bermula saat Rina berusia tujuh tahun, dan Andi baru genap berusia delapan tahun. Sore itu langit berwarna jingga menyala, persis seperti warna permen kesukaan Rina yang baru saja jatuh dan hanyut terbawa arus selokan kecil di dekat rumahnya. Rina duduk di atas rumput basah di tepi danau, menangis sejadi-jadinya, sampai bahunya terguncang hebat dan air matanya membanjiri pipinya yang kemerahan. Ia merasa dunia sudah berakhir. Permen itu adalah hadiah dari ibunya karena ia berani pergi ke sekolah sendirian untuk pertama kalinya.

Tiba-tiba ada bayangan panjang yang menutupi tubuh mungilnya. Rina mendongak, dan di hadapannya berdiri seorang anak laki-laki dengan celana pendek yang sedikit kotor terkena lumpur, kemeja putih yang lengan bajunya digulung sampai ke siku, dan sepasang mata hitam yang jernih, tenang, dan terlihat jauh lebih dewasa daripada usianya. Di tangannya, ada dua butir permen berwarna jingga persis seperti yang hilang tadi.

"Jangan menangis lagi," kata...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp2.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Di bawah Pohon Pinus
Ati Raah
Novel
Negeri Fir'aun Dan Rujak Ibu
Rosikh Musabikha m
Flash
Bronze
Buku Harian Tanpa Kata
Herman Sim
Cerpen
Bronze
Senja di Tepi Danau
JNR1101
Novel
Rumah yang Tidak Pernah Dijual
Cicilia Aprilla Widyastuti
Flash
Bronze
Warisan Tuan Reading
Sulistiyo Suparno
Flash
Bronze
Kerinduan Kucing Jalanan
Sulistiyo Suparno
Flash
Rumah Ilusi
Rahmi Azzura
Novel
Gold
Call Me Miss J
Noura Publishing
Novel
Gold
Sohib Never Dies
Mizan Publishing
Novel
Dua Nama di Kontrak yang Sama
JNR1101
Flash
Pengkhianat
Sulistiyo Suparno
Novel
Bronze
Earmuffs
Riski Nasution
Novel
Gold
Senandung Talijiwo
Bentang Pustaka
Novel
Memilih menjadi Janda
Fika Fauziah
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Senja di Tepi Danau
JNR1101
Novel
Dua Nama di Kontrak yang Sama
JNR1101
Skrip Film
Kurir Salah Alamat
JNR1101
Flash
Bayang di Balik Singgasana
JNR1101