Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
Senandung Sunyi di Ujung Senja
1
Suka
938
Dibaca

Senandung Sunyi di Ujung Senja

​Gerimis sore itu seolah ikut menangis, membasahi kaca jendela kamar nomor 402 rumah sakit yang mulai memburam oleh uap dingin. Di dalam ruangan bernuansa putih pucat yang sunyi itu, Aris duduk terpaku di sebuah kursi besi yang dingin. Di hadapannya, terbaring sosok yang paling berharga dalam hidupnya. Rio, sahabatnya sejak mereka masih mengenakan seragam merah putih, kini tampak begitu kecil di balik selimut putih tebal milik rumah sakit.

​Suara detak monitor jantung bip... bip... bip... menjadi satu-satunya melodi yang mengisi kesunyian di antara mereka. Setiap detaknya terasa seperti jam pasir yang perlahan-lahan kehabisan butiran terakhirnya.

​Aris menatap tangan kanan Rio yang terbebas dari jarum infus. Tangan yang dulunya kokoh, yang sering merangkul pundaknya saat mereka kalah bertanding sepak bola, kini terlihat sangat kurus. Kulitnya pucat, hampir transparan, menonjolkan tulang-tulang jemarinya yang ringkih. Penyakit leukemia stadium akhir telah merenggut hampir seluruh kekuatan fisik Rio dalam waktu kurang dari satu tahun. Rambut hitam lebat yang dulu selalu berantakan kini telah habis tak tersisa. Namun, di tengah segala kerapuhan itu, sepasang mata sayu milik Rio perlahan terbuka dan menatap Aris dengan kehangatan yang tak pernah pudar.

​"Ris," bisik Rio, suaranya sangat lirih, hampir tenggelam oleh desau mesin oksigen di dinding. "Jangan pasang wajah seperti itu. Kamu terlihat sepuluh tahun lebih tua."

​Aris tersentak dari lamunannya. Ia memaksakan sebuah senyuman, meski dadanya terasa seperti dihantam batu besar yang amat berat. Ia menggenggam jemari Rio yang terasa sedingin es. "Aku cuma sedang berpikir, siapa nanti yang akan menyontek tugas matematikaku kalau kamu tidak ada? Kamu tahu sendiri, otakku ini tidak bisa diandalkan tanpa bantuanmu."

​Rio terkekeh pelan, sebuah tawa kecil yang kemudian berubah menjadi batuk kering yang menyiksa dadanya. Aris dengan sigap bangkit, membetulkan letak masker oksigen di wajah sahabatnya dengan tangan yang gemetar. Ada rasa takut yang luar biasa menjalar di nadi Aris setiap kali melihat Rio kesakitan. Ia takut jika satu batuk saja bisa merebut napas terakhir sahabatnya.

​"Carilah... teman yang lebih pintar dariku, Ris," kata Rio setelah napasnya kembali stabil, suaranya kini terdengar semakin serak. "Supaya nilaimu tidak pas-pasan lagi. Aku tidak mau melihatmu tidak lulus ujian kelulusan nanti."

​Hening kembali menyergap. Aris mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Di luar sana, langit senja mulai berganti warna menjadi jingga kemerahan, bercampur dengan kelabu awan mendung. Pikirannya melayang pada masa lalu, saat dunia mereka masih begitu sederhana dan penuh warna.

​Ia teringat masa-masa ketika mereka sering bersepeda bersama membelah jalanan desa, berbagi satu es mambo murahan di tengah terik matahari yang menyengat, hingga melompat ke dalam sungai saat hujan deras tiba. Mereka pernah membuat janji konyol di bawah pohon beringin tua dekat sekolah: mereka akan kuliah di universitas yang sama, menjadi orang sukses bersama, dan membangun rumah yang bersebelahan agar anak-anak mereka nanti bisa bersahabat seperti mereka.

​Semua rencana masa depan yang indah itu kini terasa seperti mimpi buruk yang enggan pergi. Takdir, dengan segala kejamnya, datang tanpa mengetuk pintu dan merobek semua kertas rencana yang telah mereka susun rapi.

​"Ris..." panggil Rio lagi. Kali ini suaranya terdengar jauh lebih lambat, seolah-olah setiap kata yang ia ucapkan membutuhkan seluruh sisa tenaga yang ia miliki.

​"Iya, Yo? Aku di sini. Aku tidak ke mana-mana," jawab Aris cepat, mendekatkan wajahnya ke arah Rio.

​"Terima kasih, ya."

​Aris menggelengkan kepalanya perlahan. Air mata yang sejak tadi ia tahan mati-matian di sudut pelupuk matanya kini mulai menggenang, membuat pandangannya kabur. "Untuk apa, Yo? Aku belum melakukan apa pun untukmu. Aku bahkan tidak bisa menyembuhkan sakitmu..."

​"Terima kasih karena tetap di sini," sela Rio dengan senyuman tulus yang teramat tipis. "Terima kasih karena tidak pernah pergi, bahkan saat aku sudah tidak bisa lagi diajak bermain sepak bola. Saat semua orang mulai menatapku dengan rasa kasihan, hanya kamu yang menatapku sebagai Rio yang dulu. Sahabatmu."

​Rio memejamkan matanya sejenak, menghirup oksigen dalam-dalam dengan dada yang kembang kempis secara payah. Ketika ia membuka mata kembali, ada setitik air mata yang mengalir di sudut matanya yang cekung.

​"Kalau nanti aku sudah tidak ada... tolong titip senyumku pada dunia, ya? Jangan biarkan senja terlihat menyedihkan bagimu. Setiap kali kamu melihat matahari terbenam, ingatlah bahwa aku sedang beristirahat dengan tenang di sana, tanpa rasa sakit lagi."

​Tangis Aris akhirnya pecah. Ia menundukkan kepalanya di atas ranjang, menyembunyikan wajahnya di samping lengan Rio yang dingin. Bahunya berguncang hebat. Isak tangis yang tertahan berbulan-bulan itu kini tumpah tak terbendung.

​"Jangan bicara seperti itu, Yo! Kumohon..." bisik Aris di sela tangisnya yang memilukan. "Kamu harus kuat. Kita sudah berjanji akan pergi melihat laut bersama-sama musim panas ini, kan? Kamu belum pernah melihat ombak secara langsung. Aku sudah menabung untuk perjalanan kita. Kamu tidak boleh menyerah sekarang..."

​Rio tidak menjawab. Ia hanya menggerakkan ibu jarinya yang lemah untuk mengusap punggung tangan Aris yang menggenggamnya erat. Itu adalah sentuhan perpisahan yang paling lembut sekaligus paling menyakitkan yang pernah Aris rasakan.

​"Aku... lelah sekali, Ris," gumam Rio, suaranya kini nyaris berupa bisikan angin yang terputus-putus. "Mataku terasa sangat berat."

​"Yo, buka matamu. Kumohon, Rio! Jangan tidur dulu!" jerit Aris panik. Ia menegakkan tubuhnya, menatap wajah sahabatnya yang kini tampak begitu damai, seolah-olah semua penderitaan fisik yang ia tanggung selama berbulan-bulan telah diangkat dalam sekejap.

​Rio memberikan satu senyuman terakhir senyuman paling indah dan tulus yang pernah Aris lihat seumur hidupnya. Perlahan, kelopak mata sayu itu tertutup rapat. Genggaman tangan Rio yang dingin pada jemari Aris perlahan-lahan mengendur, lalu jatuh terkulai di atas kasur.

​Biiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiip...

​Bunyi nyaring binasa dari monitor jantung itu seketika membelah keheningan ruangan. Garis hijau yang tadinya bergelombang kini berubah menjadi garis lurus yang statis dan tak bernyawa.

​"Rio? Rio! Bangun, Yo!" Aris mengguncang bahu Rio dengan histeris. "Dokter! Suster! Tolong sahabat saya! Tolong!"

​Dokter dan dua orang perawat bergegas masuk ke dalam ruangan, mencoba melakukan tindakan darurat penyelematan jantung. Aris ditarik mundur oleh seorang perawat lain. Ia hanya bisa berdiri terpaku di sudut ruangan, memandangi tubuh kaku sahabatnya yang sedang diusahakan untuk kembali hidup. Namun, di dalam lubuk hatinya yang terdalam, Aris tahu bahwa sahabat terbaiknya telah melangkah pergi jauh. Rio telah dibebaskan dari tubuhnya yang rapuh. Ia telah pergi ke tempat di mana sel kanker tidak akan pernah bisa menyakitinya lagi.

​Ketika dokter akhirnya menggelengkan kepala dan mencatat waktu kematian Rio, seluruh dunia di sekitar Aris seolah runtuh menjadi puing-puing yang tak berbentuk. Detik itu juga, separuh dari jiwa Aris pergi bersama helaan napas terakhir sahabatnya.

​"Persahabatan sejati tidak diukur dari seberapa lama kita bersama di dunia ini, melainkan dari seberapa dalam mereka meninggalkan jejak di dalam hati kita. Dan ketika mereka pergi, mereka tidak benar-benar hilang; mereka hanya berpindah tempat, hidup selamanya di dalam setiap ruang rindu yang kita miliki."

​Satu tahun telah berlalu sejak sore yang menyayat hati itu.

​Kini, di bawah langit senja musim panas yang hangat, Aris berdiri seorang diri di tepi pantai. Angin laut bertiup lembut, memainkan ujung rambutnya dan membawa aroma garam yang khas. Ombak bergulung pelan, membasahi ujung kakinya yang telanjang.

​Aris mengeluarkan sebuah foto usang dari saku jaketnya foto masa kecil mereka berdua yang sedang tertawa lebar dengan wajah penuh coretan es krim cokelat. Ia menatap foto itu, lalu menatap hamparan laut luas yang berkilau keemasan tertimpa cahaya matahari yang hendak tenggelam.

​Air mata Aris kembali menetes, namun kali ini bukan lagi karena rasa sesak yang menghancurkan, melainkan karena kerinduan yang teramat dalam namun telah berdamai dengan takdir. Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan udara pantai yang segar mengisi dadanya.

​Aris tersenyum lebar ke arah matahari yang perlahan tenggelam di batas cakrawala.

​"Yo, aku sudah sampai di laut yang kita impikan," bisiknya lirih, membiarkan suaranya terbawa angin laut yang dingin. "Indah sekali di sini. Dan seperti janjiku padamu... hari ini, aku membawa senyummu bersamaku. Istirahatlah yang tenang di sana, Sahabatku."

​Di ujung senja yang sunyi itu, Aris tahu bahwa meski ia kini berjalan sendiri, ia tidak akan pernah benar-benar kesepian. Sebab di setiap embusan angin sore dan di setiap keindahan senja yang tersisa, ada senandung sunyi dari sebuah persahabatan abadi yang akan terus hidup di dalam hatinya, hingga akhir hayatnya nanti.

TAMAT

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Buku Catatan Papa
Jaydee
Novel
Bronze
Toxic Relationship
Yayah Rokayh
Novel
Tuan Lori
Adinda Amalia
Novel
40 hari salatku tak diterima karena khamar
After Future
Cerpen
Senandung Sunyi di Ujung Senja
Ezra Jo
Novel
Awan Tanpa Rupa
ANCALASENJA
Novel
Tempat Pembuangan Akhir
Nuka Asrama
Novel
Bronze
Buku Harian Alana
Nur Chayati
Novel
Bronze
in my delusion
Nadia Nurulaini
Novel
Langit Fajar Ujung Senja
Susanti
Novel
Bronze
Bulan Bersedih Di Jakarta
Herman Sim
Novel
Luka Tanpa Asa 2
Aijin Isbatikah
Novel
Rumah yang Tak Pernah Ada
Peter Samudra
Flash
Hujan di Langit Kelabu
Kamila
Flash
Bronze
Monyet Bersayap Kupu-kupu
YK-Andriyana-RBD
Rekomendasi
Cerpen
Senandung Sunyi di Ujung Senja
Ezra Jo
Cerpen
Bronze
Jejak yang Tak Luntur
Ezra Jo
Cerpen
Bronze
Aku dan Bahasa yang Terbatas
Ezra Jo
Cerpen
Bronze
Simfoni Karat dan Senar Putus
Ezra Jo
Cerpen
SIMFONI HITAM
Ezra Jo
Cerpen
Takdir di Bangku Sebelah Bagian 6
Ezra Jo
Cerpen
Surat yang Tak Pernah Dikirim, Janji yang Tak Pernah Ingkar
Ezra Jo
Novel
Selamanya Tiga
Ezra Jo
Cerpen
Konvergensi di Ruang Sunyi : Episteme Dua Jiwa
Ezra Jo
Cerpen
Bronze
Menjemput Senjata di Pohon Saksi
Ezra Jo
Cerpen
Bronze
Aroma Sepeda Tua dan Saku yang Tak Pernah Kosong
Ezra Jo
Novel
Ketika Takdir Mengetuk Pintu Persahabatan
Ezra Jo
Novel
DUA SISI CERMIN
Ezra Jo
Cerpen
Di Bawah Naungan Pohon Mangga
Ezra Jo
Cerpen
Bronze
Aku dan Halaman Belakang Rumah
Ezra Jo