Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Angin musim gugur berhembus membawa udara dingin yang menusuk hingga ke tulang, menyapu dedaunan cokelat yang berserakan di trotoar jalan. Di sudut sebuah kafe kecil beraroma kopi pekat dan kayu manis, Arkan duduk membeku. Matanya nanar menatap keluar jendela kaca yang mulai mengembun, memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang merapatkan mantel mereka. Di atas meja kayunya, secangkir espresso yang tadinya mengepulkan uap panas kini telah berubah menjadi cairan dingin yang tak lagi mengundang selera.
Ini adalah hari ke-sepuluh Arkan datang ke kafe yang sama, duduk di kursi yang sama, pada jam yang sama. Menunggu seseorang yang pernah berjanji untuk kembali, meski akal sehatnya perlahan mulai berteriak bahwa penantian ini mungkin akan berakhir sia-sia.
Pikirannya melayang kembali pada pertemuan pertama mereka tiga tahun silam. Nisa, gadis dengan senyum yang mampu membuat matahari pagi terasa iri, masuk ke dalam toko buku tempat Arkan bekerja dengan rambut yang basah kuyup karena hujan deras. Nisa mencari buku puisi klasik yang kebetulan hanya tersisa satu buah di rak paling atas, dan Arkan-lah yang membantunya mengambilkan buku itu.
Dari pertemuan sederhana itu, percakapan mereka mengalir bagai air sungai yang menemukan muaranya. Mereka berbagi tentang buku, tentang mimpi, tentang ketakutan, dan pada akhirnya, tentang cinta yang tumbuh tanpa pernah mereka rencanakan.
"Kau tahu, Arkan," ucap Nisa suatu sore, saat mereka duduk berdampingan di taman kota, memandangi langit senja yang bergradasi dari jingga menuju ungu. "Aku selalu percaya bahwa setiap pertemuan sudah ditulis di sebuah buku besar di langit sana. Kita tidak bertemu karena kebetulan. Kita bertemu karena takdir memang menggariskan kita untuk saling menemukan."
Arkan menoleh, menatap mata Nisa yang memantulkan cahaya senja. "Jika takdir yang mempertemukan kita, apakah takdir juga yang akan menentukan akhir dari cerita kita?"
Nisa tersenyum tipis, sebuah senyum yang kini disadari Arkan menyimpan terlalu banyak misteri yang tak pernah ia pahami saat itu. "Aku harap, jika pun takdir harus memisahkan kita suatu hari nanti, kita sudah memiliki cukup banyak kenangan indah untuk bertahan hidup, Arkan."
Waktu berlalu layaknya hembusan angin, cepat dan tak kasat mata. Kebahagiaan yang mereka bangun bersama perlahan mulai menunjukkan retakan ketika memasuki tahun ketiga. Nisa mulai sering membatalkan janji temu. Wajahnya yang dulu selalu merona segar mulai terlihat pucat pasi. Ia sering mengeluh kelelahan, dan senyumannya tak lagi lepas seperti sedia kala.
Arkan yang cemas selalu bertanya, namun Nisa hanya selalu menjawab dengan sebuah kebohongan manis.
"Aku hanya terlalu lelah dengan tugas akhirku, Arkan. Jangan terlalu berlebihan mencemaskanku," kilah Nisa saat itu, memaksakan tawa yang terdengar hampa di telinga Arkan.
"Bagaimana aku tidak cemas, Nisa? Kau terlihat seperti orang sakit," balas Arkan dengan nada sedikit meninggi, perpaduan antara rasa frustrasi dan kepedulian yang mendalam. "Izinkan aku menemanimu ke dokter. Kumohon."
"Tidak perlu!" Nisa menolak dengan keras, suaranya sedikit bergetar sebelum ia menundukkan kepala. "Aku... aku butuh waktu sendiri, Arkan. Tolong, jangan memaksaku."
Itu adalah pertengkaran pertama mereka yang tidak berujung pada pelukan atau kata maaf. Sejak hari itu, jarak di antara mereka semakin merenggang. Nisa semakin sulit dihubungi, dan Arkan, yang diliputi kebingungan serta ego yang terluka, memilih untuk menunggu gadis itu menghubunginya lebih dulu. Ia berpikir bahwa Nisa hanya butuh waktu. Ia berpikir bahwa cinta mereka cukup kuat untuk melewati fase sulit ini.
Namun, ia salah. Sangat salah.
Suatu malam di awal bulan Oktober, Nisa akhirnya meneleponnya. Suaranya terdengar sangat parau dan lemah, hampir menyerupai bisikan angin.
"Arkan..." panggil Nisa lirih.
"Nisa? Ya Tuhan, dari mana saja kau? Aku sangat merindukanmu," balas Arkan, melupakan semua amarah dan egonya begitu mendengar suara gadis yang paling ia cintai itu.
"Maafkan aku, Arkan. Maafkan aku untuk segalanya," isak Nisa di seberang sana. Suara tangisnya membuat dada Arkan terasa seolah diremas oleh tangan tak kasat mata. "Aku ingin bertemu denganmu. Satu kali lagi. Di kafe tempat biasa kita menghabiskan akhir pekan. Sepuluh hari dari sekarang, jam lima sore. Bisakah kau berjanji untuk datang?"
"Tentu saja aku akan datang! Kenapa harus menunggu sepuluh hari? Aku bisa menemuimu sekarang juga, Nisa. Beritahu aku kau ada di mana," pinta Arkan mendesak.
"Tidak, Arkan. Kumohon, tunggulah sepuluh hari lagi. Dan... jika aku terlambat datang, berjanjilah kau tidak akan pernah marah padaku lagi. Berjanjilah kau akan terus menjalani hidupmu dengan baik, menggapai semua mimpi yang pernah kita bicarakan."
"Nisa, apa yang kau bicarakan? Kenapa kau terdengar seperti orang yang mau pergi jauh?"
Klik. Sambungan terputus sebelum Arkan sempat mendapatkan jawaban. Dan sejak malam itu, nomor telepon Nisa tidak pernah aktif lagi.
Kenangan itu membawa Arkan kembali pada realitas masa kini di dalam kafe. Jam di dinding kini telah menunjukkan pukul setengah enam sore. Sudah lewat tiga puluh menit dari waktu yang dijanjikan. Arkan merogoh saku mantelnya, mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berwarna merah gelap. Di dalamnya terdapat sebuah cincin perak sederhana bermata safir. Hari ini, ia berencana untuk meminta Nisa menghabiskan sisa hidup bersama, berjanji untuk memperbaiki apa pun yang rusak di antara mereka.
Tiba-tiba, ponsel di atas mejanya bergetar. Sebuah nomor tak dikenal muncul di layar. Dengan dada yang berdebar kencang penuh harap, Arkan segera mengangkatnya.
"Halo? Nisa?" sapa Arkan terburu-buru.
"Halo... apakah ini benar dengan Saudara Arkan?" Sebuah suara wanita asing membalas sapaannya. Suara itu terdengar bergetar dan diselimuti kesedihan yang mendalam.
"Ya, saya sendiri. Ini siapa?" tanya Arkan, seketika firasat buruk mulai merayapi tengkuknya.
"Saya Rania, kakak perempuan Nisa," jawab wanita itu, lalu terdengar isakan tertahan di ujung sana. "Arkan... Nisa menitipkan ponsel ini kepadaku, beserta pesannya untuk menghubungimu hari ini."
"Di mana Nisa, Kak? Dia berjanji menemuiku di kafe hari ini. Kenapa dia tidak datang?" Suara Arkan mulai bergetar. Tangannya mencengkeram erat ujung meja kayu.
Hening sejenak di seberang sana, hanya terdengar suara tarikan napas yang berat. "Maafkan kami, Arkan. Nisa... Nisa sudah pergi meninggalkan kita, tiga hari yang lalu."
Dunia Arkan serasa runtuh seketika. Hembusan napasnya tertahan di tenggorokan, dan telinganya berdenging hebat, membuat hiruk-pikuk kafe seolah lenyap tertelan kehampaan.
"Apa... apa maksudmu, Kak? Jangan bercanda. Nisa baru saja meneleponku sepuluh hari yang lalu. Dia berjanji..." Arkan terbata-bata, menolak keras realita yang baru saja menghantam kewarasannya.
"Nisa mengidap leukemia stadium akhir, Arkan," Rania menjelaskan dengan suara parau yang diselingi tangis. "Dia merahasiakannya darimu karena dia tidak ingin kau melihatnya hancur. Dia memutus kontak denganmu karena kondisinya terus memburuk dan dia harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Sepuluh hari yang lalu, saat kondisinya sempat stabil sesaat, hal pertama yang ia minta adalah meneleponmu. Dokter bilang itu adalah momen terminal lucidity sebelum... sebelum kondisinya drop drastis."
Air mata akhirnya tumpah membasahi pipi Arkan tanpa bisa ia bendung lagi. Dadanya terasa begitu sesak, seolah ribuan paku menancap tepat di jantungnya.
"Dia sangat mencintaimu, Arkan," lanjut Rania lirih. "Dia berharap kau bisa memaafkannya karena pergi lebih dulu, sebelum sempat melihatmu mewujudkan mimpimu. Nisa bilang, tolong sampaikan pada Arkan, bahwa cintanya akan selalu menemanimu di setiap senja yang kau tatap."
Telepon terputus, namun Arkan masih menempelkan ponsel itu di telinganya. Tangisnya pecah dalam sunyi di sudut kafe itu. Orang-orang mungkin memperhatikannya, namun ia tidak peduli. Seluruh dunianya, masa depannya, dan separuh jiwanya telah direnggut oleh takdir dengan cara yang paling kejam.
Ia membuka pelan kotak beludru merah di tangannya, menatap cincin safir yang kini tak akan pernah melingkar di jari gadis yang dicintainya. Janji untuk bertemu sore ini rupanya bukanlah janji untuk memulai kembali, melainkan sebuah cara Nisa untuk mengucapkan selamat tinggal tanpa harus melihat air mata Arkan.
Di luar, daun-daun musim gugur berguguran tertiup angin senja, membawa pergi sepotong hati Arkan yang tak akan pernah utuh lagi untuk selamanya.