Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
Semua Tentang Ibu Yang Menjadi Rindu
0
Suka
1,006
Dibaca

Ada masa dalam hidupku ketika setiap pagi selalu dimulai dengan dua hal yang sama: suara Ibu dan aroma dapur.

Dulu, keduanya terasa seperti alarm paling menyebalkan di dunia bagiku.

Suara Ibu yang terkadang cerewet dan tak pernah kehabisan kata untuk mengingatkanku bangun, mandi, sarapan, dan jangan lupa bawa buku.

Aroma bawang putih yang ditumis pelan, nasi yang baru matang, wajan yang mendesis seperti menyapa pagi.

Kadang aku berpura-pura tidur lebih lama, berharap suara itu akan berhenti. Tapi selalu gagal.

Ibu akan membuka pintu kamar, menepuk kakiku pelan, lalu berkata dengan nada yang sama setiap hari, “Bangun, Nak. Nanti telat.”

Anehnya, dua hal itu sekarang justru yang paling sering datang tanpa permisi. Saat makan sendirian, saat dapur terlalu sunyi, bahkan saat mendengar ibu-ibu lain memanggil anaknya dari kejauhan.

Suara Ibu selalu menemukan jalan pulang ke kepalaku.

Aku adalah anak pertama. Dulu kupikir itu hanya berarti aku lahir lebih dulu. Ternyata artinya jauh lebih berat.

Aku dituntut dewasa sebelum waktunya, padahal aku sendiri masih sering kebablasan ingin jadi anak kecil yang selalu diperhatikan. Aku diminta mengalah, diminta ngerti, diminta jadi contoh—tanpa pernah benar-benar diajari bagaimana caranya.

Aku manja, bandel. Sering bikin adik-adikku jadi korban usilku. Bolos bareng, ngambil recehan diam-diam di lemari Ibu, pura-pura sakit supaya bisa libur sehari.

Suatu pagi aku pernah pura-pura demam. Ibu menempelkan telapak tangannya ke keningku lama sekali, lalu menatap mataku seolah mencari sesuatu.

“Kamu bohong, ya?”

Aku menggeleng cepat. Ibu hanya menghela napas, lalu tetap membuatkanku bubur.

Dulu...itu terasa lucu. Sekarang, terasa seperti kenangan yang menampar.

Yang aneh, Ibu selalu tahu kalau aku bohong. Ada radar keibuan yang tajam, seakan bisa membaca setiap helaan napasku.

“Kalau kamu terus begini, Nak… kamu nggak akan jadi apa-apa.”

Kalau omelan itu nggak mempan, jari Ibu akan mencubit pipiku.

Dulu kupikir itu hukuman. Sekarang aku sadar—itu cuma cara lain Ibu bilang, “Aku sayang kamu, tapi kamu selalu membuatku khawatir.”

Tangan yang mencubit itu adalah tangan yang sama yang melipat bajuku setiap malam.

Yang menyiapkan bekal meski beliau sendiri sering belum makan. Yang merapikan kerah bajuku sebelum berangkat sekolah. Yang memastikan kaos kakiku tak bolong. Yang memegang keningku setiap kali aku pura-pura sakit.

Tangan yang selalu sibuk untuk anak-anaknya, tapi sering lupa merawat dirinya sendiri.

Suatu hari, karena marah dan gengsi, aku membentak Ibu dengan keras.

“Kenapa sih Ibu selalu nyalahin aku? Adik-adik juga nakal. Tapi kenapa selalu aku saja yang di omelin!”

Ibu terdiam lama. Bukan marah. Bukan kesal. Hanya… sedih.

“Karena kamu anak pertama, Nak.”

Begitu lembutnya suara itu, sampai aku membencinya karena tak mampu mengerti saat itu.

Dan baru sekarang aku paham—Ibu cuma ingin aku jadi contoh baik. Cuma ingin aku tumbuh menjadi orang yang baik.

Tapi waktu itu aku terlalu muda untuk membaca cinta dalam bentuk omelan darinya.

***

Lalu hari itu datang. Hari yang mengubah semuanya tanpa peringatan.

Orang tuaku bercerai ketika aku kelas satu SMP. Aku tak benar-benar mengerti apa-apa. Yang aku tahu, suara di rumah jadi jarang, dan tawa seperti dipindahkan ke tempat lain. Tempat asing yang tak benar-benar ku kenal.

Ibu pergi ke luar pulau bersama suami barunya. Sedangkan aku dan adik-adikku tinggal bersama Bapak dan istri barunya.

Pagi setelah itu adalah pagi paling sunyi yang pernah aku rasakan.

Aku bangun tanpa ada yang memanggil. Dapur begitu rapi, tapi terasa begitu dingin.

Tidak ada bunyi sendok. Tidak ada wangi sarapan. Tidak ada suara Ibu yang selalu mengingatkan aku makan.

Aku duduk lama di meja makan, menatap kursi kosong yang biasanya ditempati Ibu.

Awalnya kupikir aku akan merasa bebas. Tidak ada omelan, tidak ada cubitan.

Tapi ternyata, ketiadaan Ibu justru meninggalkan ruang kosong yang tak pernah benar-benar tertutup.

***

Setelah itu, aku belajar hidup tanpa suara itu. Belajar bangun sendiri. Belajar pura-pura kuat. Tapi ada hal-hal kecil yang tak pernah bisa kupelajari: bagaimana caranya berhenti merindukan sesuatu yang tak bisa kembali.

Aku sering menangis diam-diam dikamarku. Mengingat semua hal yang dulu selalu ku abaikan. Mengingat tentang betapa bodohnya aku yang tak benar-benar paham atas semua kasih sayang ibu.

Kadang aku membayangkan pagi itu kembali datang. Pagi yang sama, rumah yang sama, dapur yang sama.

Aku membayangkan bangun kesiangan, lalu mendengar langkah kaki pelan mendekat ke kamarku. Pintu terbuka sedikit. Ada suara yang kupikir akan selalu ada.

“Bangun, Nak.”

Dalam bayanganku, aku tidak berpura-pura tidur lagi. Aku tidak mengeluh. Aku tidak membalikkan badan. Aku langsung bangun, duduk, dan menatap wajah Ibu lama-lama—seolah takut wajah itu akan menghilang jika aku berkedip terlalu cepat.

Tapi pagi itu hanya hidup di kepalaku. Di dunia nyata, aku bangun dalam sunyi. Dan suara itu tidak pernah datang.

Ada hari-hari ketika aku ingin pulang, tapi tak tahu ke mana. Karena rumah yang dulu kupunya ternyata bukan bangunan, bukan alamat, melainkan seseorang. Dan seseorang itu kini hanya tinggal dalam ingatan.

Aku sering bertanya dalam diam: apakah Ibu tahu bahwa anaknya akhirnya mengerti? Apakah penyesalan ini sampai kepadanya, meski terlambat?

Malam-malam tertentu, sebelum tidur, aku menutup mata dan berdoa lebih lama dari biasanya. Aku menyebut namanya pelan, seperti dulu ia menyebut namaku. Dan untuk sesaat, hatiku terasa hangat—seolah ada tangan yang menyelimuti dari jauh.

Mungkin cinta seorang ibu memang seperti itu. Tak perlu hadir untuk tetap terasa. Tak perlu suara untuk tetap terdengar.

Dan jika suatu hari aku dipanggil pulang, entah kapan dan di mana, aku berharap hal pertama yang kudengar adalah suara itu lagi. Suara yang dulu sering kuabaikan.

Karena di antara semua hal yang pernah hilang dalam hidupku, tidak ada yang lebih ingin kutemui kembali selain Ibu.

Setelah semuanya hilang, setelah waktu berjalan jauh, setelah usia bertambah, dan hidup makin rumit—hanya ada satu hal yang tak pernah berubah:

Segala tentang Ibu adalah rumah. Segala tentang Ibu adalah hangat. Segala tentang Ibu adalah cinta yang tak pernah benar-benar pergi dari diriku.

(ibu...aku benar-benar merindukanmu. Aku benar-benar kehilanganmu. Banyak hal yang menbuatku mengerti, bahwa kasih sayangmu, cintamu, semua hal tentang dirimu—tak akan pernah hilang dan musnah oleh waktu).

***

Ada satu hal yang ingin kusampaikan pada siapa pun yang membaca ini: Peluk ibu kalian selagi bisa. Dengarkan suaranya selagi ada.

Karena suatu hari nanti, justru hal-hal kecil itulah yang paling akan kalian rindukan.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Flash
Ramuan Moral
Isnani Q
Cerpen
Modus Operandi
Call Me W
Cerpen
Semua Tentang Ibu Yang Menjadi Rindu
Anoi Syahputra
Novel
Bintang Berkabut
Syamsiah
Flash
Setia
R Fauzia
Novel
We Belong Together
Indiana Vee
Skrip Film
Aku Wanita
zae_suk
Skrip Film
Aku Bukan Anak OSIS
Adiba
Skrip Film
Script Film : Mendadak Drakor
indra wibawa
Cerpen
CIBIRU
Rizki Mubarok
Novel
Bronze
Literatur Bernyawa
Rainzanov
Novel
Bronze
LOVELESS
KUMARA
Skrip Film
MENGEJAR BINTANG FILM
Bhina Wiriadinata
Novel
Mawar Biru
SZA
Cerpen
Bronze
Andai Aku Tak Jatuh Cinta
Rizka Amalia
Rekomendasi
Cerpen
Semua Tentang Ibu Yang Menjadi Rindu
Anoi Syahputra
Cerpen
Di Ujung Langit Yang Sama
Anoi Syahputra
Novel
AFTER SEVEN YEARS
Anoi Syahputra