Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
Semua Orang Pergi, Tak Ada yang Benar-Benar Pulang
0
Suka
312
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

I.

Kirana menemukan apartemen kosong itu pada Kamis sore, saat hujan turun tipis di sepanjang Jalan Sudirman. Bukan kosong dalam arti harfiah—masih ada furnitur, lemari es menyala, tanaman hias di sudut ruangan yang disiram teratur oleh sistem otomatis. Yang kosong adalah suara. Jejak. Kehadiran.

Pemiliknya menghilang tiga bulan lalu.

"Sewa sudah lunas sampai tahun depan," kata Pak Bambang, pengelola gedung, sambil membuka pintu dengan kunci cadangan. "Tagihan listrik auto-debit. Air juga. Tapi orangnya nggak pernah balik."

Kirana berdiri di ambang pintu, memandang ruang tamu yang tertata rapi. Ada cangkir kopi di meja, sudah ditumbuhi jamur putih tipis. Laptop masih terbuka, layarnya hitam, baterainya mati. Di dinding, foto-foto dalam bingkai minimalis—pantai, pegunungan, kota-kota asing—tapi tidak ada wajah manusia.

"Keluarganya?"

"Nggak ada yang bisa dihubungi. Nomor darurat kosong. Polisi sudah dikasih tahu, tapi mereka bilang bukan kasus prioritas. Orang dewasa hilang itu biasa. Mungkin kabur dari utang, masalah percintaan, atau sekadar bosan." Pak Bambang mengangkat bahu. "Pernah terjadi dua kali di tower sebelah. Akhirnya ya gitu—apartemen dikosongkan, dijual lelang."

Kirana melangkah masuk. Kakinya meninggalkan jejak basah di lantai vinyl. Ada bau samar—bukan busuk, tapi seperti udara yang terlalu lama diam, kehilangan sirkulasi. Dia menyentuh permukaan meja. Debu belum sempat menumpuk tebal.

"Kenapa saya yang dipanggil?"

"Karena kamu arsitek, kan? Kami mau renovasi unit ini sebelum disewakan lagi. Tapi harus dibersihkan dulu, didata barang-barangnya. Mungkin ada yang bisa dikasih ke panti, atau dibuang." Pak Bambang menyodorkan amplop cokelat. "Ini kontraknya. Kamu boleh ambil foto, ukur ruangan, apa aja. Tapi jangan ambil barang pribadi."

Kirana menerima amplop itu tanpa membukanya. Matanya tertuju pada rak buku di pojok ruangan. Semua buku tertata alfabetis, tapi tidak ada yang terbuka, tidak ada bookmark, tidak ada coretan di margin. Seperti perpustakaan pameran.

"Namanya siapa?"

Pak Bambang berhenti di depan pintu. "Ananta. Lelaki, tiga puluh tujuh tahun. Kerja di startup fintech, posisi manajerial. Itu aja yang saya tahu."

Pintu ditutup pelan. Kirana sendirian.

Dia berjalan ke jendela, melihat ke bawah. Lantai dua puluh tiga. Gedung-gedung menjulang di sekitarnya, jendela-jendela menyala seperti piksel raksasa yang membentuk wajah kota. Dari sini, Jakarta terlihat indah—geometris, teratur, penuh lampu. Tapi Kirana tahu, di balik setiap jendela itu, ada orang yang sedang pergi tanpa benar-benar sampai ke mana pun.

Dia pernah jadi salah satunya.

 

II.

Tahun lalu, Kirana hampir menghilang.

Tidak dalam pengertian fisik. Dia tetap datang ke kantor, menghadiri rapat, menjawab email, tersenyum pada rekan kerja. Tapi ada malam-malam ketika dia berdiri di balkon apartemennya sendiri—lantai lima belas, gedung berbeda, satu kilometer dari sini—dan bertanya-tanya apa yang akan terjadi jika dia hanya... berhenti.

Berhenti membalas chat. Berhenti membayar tagihan. Berhenti membuka pintu. Berhenti hadir.

Bukan bunuh diri. Lebih ke absen dari narasi hidupnya sendiri.

Dia pernah menghitung. Jika dia hilang besok, berapa lama sampai ada yang benar-benar khawatir? Bukan sekadar "kok nggak masuk kantor," tapi khawatir dalam arti mencari, mengetuk pintu, menelepon polisi.

Dua minggu, mungkin. Atau sebulan. Atau mungkin mereka hanya akan mengirim email formal, We regret to inform you...

Kirana menggelengkan kepala, mengusir ingatan itu. Dia menarik ponselnya, mulai memotret ruangan dari berbagai sudut. Viewfinder kamera membuatnya merasa lebih aman—seperti ada jarak antara dirinya dan ruang ini.

Di kamar tidur, kasur tertata rapi. Seprai putih tanpa lipatan. Bantal tersusun simetris. Seperti kamar hotel yang siap ditinggalkan kapan saja. Lemari pakaian penuh—kemeja-kemeja kantor, celana bahan, jas. Semua digantung dengan jarak sama. Tidak ada baju rumahan. Tidak ada kaus lusuh. Tidak ada jejak kenyamanan.

Kirana membuka laci. Kaus kaki dilipat rapi dalam kotak terpisah. Di laci paling bawah, ada kotak kayu kecil. Dia ragu sebentar, lalu membukanya.

Sebuah cincin. Perak sederhana, tanpa batu. Di dalamnya ada ukiran, Untuk yang bertahan. Tidak ada nama. Tidak ada tanggal.

Kirana menutup kotak itu cepat-cepat, seperti baru saja menyentuh sesuatu yang privat. Tapi terlambat—pertanyaan sudah muncul: siapa yang memberi cincin ini? Kenapa tidak dipakai? Kenapa disimpan di laci paling bawah, seperti sesuatu yang ingin dilupakan tapi tidak bisa dibuang?

Ponselnya bergetar. Pesan dari Dimas: Malam ini jadi dinner? Ada yang mau kuobrolin.

Kirana menatap layar tanpa membalas. Dimas. Pacarnya sejak setahun lalu. Atau lebih tepatnya: pria yang sering mengajaknya makan malam, tidur di apartemennya dua kali seminggu, mengirim pesan selamat pagi. Tapi apakah itu sudah cukup disebut pacar? Kirana tidak tahu. Mereka tidak pernah mendefinisikannya dengan jelas.

Dia mengetik, Lembur. Besok aja.

Kirim. Ponsel dimasukkan lagi ke saku.

 

III.

Kirana menghabiskan tiga jam mengukur ruangan, membuat sketsa denah, mencatat kondisi setiap sudut. Pekerjaan ini seharusnya bisa selesai dalam satu jam, tapi ada sesuatu yang membuatnya ingin tetap berada di sini. Mungkin karena apartemen ini terasa seperti cermin—memantulkan sesuatu yang tidak ingin dia lihat pada dirinya sendiri.

Saat matahari mulai turun, cahaya oranye masuk melalui jendela, menerangi debu yang melayang di udara. Kirana duduk di sofa, merasakan tekstur kain yang masih bagus. Dia membayangkan Ananta duduk di sini—pulang kerja, melepas sepatu, membuka laptop, memesan makanan lewat aplikasi. Makan sendirian sambil menonton serial di layar datar yang terpasang di dinding.

Tidak ada tetangga yang mengetuk pintu. Tidak ada teman yang mampir. Tidak ada keluarga yang menelepon.

Hanya algoritma yang menemani. Rekomendasi film. Playlist musik yang dikurasi sesuai mood. Iklan produk yang diprediksi berdasarkan riwayat pencarian. Kota modern punya cara baru untuk membuat orang merasa tidak sendirian, memberi ilusi bahwa ada yang memahami kita, padahal hanya data.

Kirana membuka laptopnya sendiri, mulai menulis laporan awal untuk Pak Bambang. Tapi jari-jarinya berhenti di atas keyboard. Matanya kembali ke laptop Ananta yang mati.

Dia tahu ini melanggar aturan. Tapi rasa penasaran lebih kuat.

Kirana mengambil charger dari tasnya—untungnya universal—dan menyambungkannya ke laptop Ananta. Layar menyala perlahan. Muncul password prompt.

Dia mencoba beberapa kombinasi dasar: 123456, password, qwerty. Tidak ada yang berhasil. Lalu dia ingat cincin itu. Untuk yang bertahan.

Dia mengetik: bertahan.

Login berhasil.

 

IV.

Desktop Ananta kosong. Hanya satu folder: Arsip. Kirana membukanya. Di dalamnya ada ratusan file teks, dinamai dengan tanggal. Dia membuka yang paling lama—tiga tahun lalu.

17 Maret 2022

Hari ini aku menyadari bahwa aku bisa mati besok, dan tidak ada yang akan tahu apa yang penting bagiku. Tidak ada yang tahu lagu favorit, kenangan terbaik, atau ketakutan terbesarku. Mereka hanya tahu posisiku di kantor, nomor rekening, dan tanggal lahir di KTP.

Aku mulai menulis ini sebagai bukti bahwa aku pernah ada. Bukan untuk dibaca orang lain—karena siapa yang akan membaca? Tapi untuk diriku sendiri. Supaya saat aku baca lagi nanti, aku bisa ingat, oh ya, aku pernah merasakan sesuatu.

Kirana merinding. Dia scroll ke bawah, membaca catatan-catatan lain.

3 Juni 2022

Hari ini ada rekan kerja yang resign. Kami ngobrol sebentar di pantry. Dia bilang mau "cari sesuatu yang lebih bermakna." Aku tanya apa itu. Dia cuma senyum dan bilang, "Nggak tahu, tapi bukan ini."

Aku ingin bilang: aku mengerti. Tapi aku diam. Karena kalau aku bilang aku mengerti, berarti aku mengakui bahwa aku juga merasakan hal yang sama. Dan kalau aku mengakui, aku harus bertindak. Dan aku tidak siap.

22 September 2023

Ada artikel yang kubaca: "Kesepian Modern Bukan Soal Sendirian, Tapi Soal Tidak Dikenali."

Aku punya 847 kontak di ponsel. 1.200 followers di Instagram. Tapi berapa banyak yang kenal aku? Bukan posisi, gaji, atau achievements—tapi aku yang sebenarnya?

Mungkin tidak ada. Karena aku sendiri tidak tahu aku yang sebenarnya siapa.

Kirana berhenti membaca. Tangannya gemetar. Ini terlalu dekat. Terlalu familiar. Dia menutup laptop, menarik napas dalam-dalam. Di luar jendela, lampu-lampu gedung mulai menyala satu per satu. Kota bersiap untuk malam—waktu ketika kesepian terasa paling nyaring.

Ponselnya bergetar lagi. Pesan dari Dimas, Kamu beneran sibuk atau nghindar?

Kirana menatap pesan itu lama. Jujur atau berbohong? Tapi bohong untuk apa? Untuk menjaga ilusi bahwa mereka baik-baik saja? Untuk tidak merepotkan?

Dia mengetik perlahan: Entahlah. Mungkin dua-duanya.

Kali ini dia tidak menghapus. Kirim.

Tiga titik muncul. Dimas sedang mengetik. Lalu hilang. Muncul lagi. Hilang lagi. Akhirnya, Oke. Kita perlu ngobrol.

Kirana tahu apa artinya. Ini awal dari "percakapan serius." Yang akan berakhir dengan "mungkin kita perlu jeda" atau "kayaknya kita beda visi." Tanda tanda untuk perpisahan. Dia tidak merasa sedih. Hanya lelah. Lelah harus memulai lagi. Lelah harus menjelaskan siapa dirinya pada orang baru. Lelah harus pura-pura bahwa kali ini akan berbeda.

 

V.

Kirana pulang larut. Apartemennya gelap, dingin. Dia tidak menyalakan lampu besar—hanya lampu meja kecil di sudut ruangan. Cahaya redup membuatnya merasa lebih aman, seperti tidak sepenuhnya terlihat.

Dia memanaskan sisa nasi dari kemarin, makan di depan laptop sambil scroll media sosial. Timeline penuh dengan orang-orang yang terlihat bahagia—liburan, restooran mewah, momen kebersamaan. Kirana tahu sebagian besar itu dikurasi, difilter, dipilih dengan hati-hati. Tapi tetap saja, ada rasa iri yang muncul. Bukan iri pada kebahagiaannya, tapi iri pada kemampuan mereka untuk percaya bahwa momen itu nyata.

Dia ingat cincin di apartemen Ananta. Untuk yang bertahan.

Siapa yang memberi? Dan kenapa Ananta tidak bertahan?

Kirana membuka laptop, membuka folder foto-foto yang dia ambil tadi. Dia memperbesar satu per satu, mencari petunjuk. Di salah satu foto, ada sticky note kecil di pinggir cermin kamar mandi. Tulisannya nyaris tidak terbaca dalam foto, tapi Kirana bisa menebak, tulisan itu Kamu tidak apa-apa.

Pesan untuk diri sendiri. Afirmasi pagi yang seharusnya membuat hari lebih baik. Tapi sepertinya tidak cukup.

Ponselnya berbunyi. Bukan Dimas. Nomor tidak dikenal.

"Halo?"

"Mbak Kirana? Saya Pak Bambang. Maaf ganggu malam-malam. Ada... situasi."

"Situasi apa?"

"Tadi sore ada orang datang, ngaku kenal sama Ananta. Dia minta izin masuk ke apartemen. Saya bilang tidak bisa, harus ada surat kuasa atau bukti hubungan keluarga. Tapi dia ngotot, sampai sempat ribut di lobby."

Kirana duduk tegak. "Siapa dia?"

"Perempuan. Umur tiga puluhan. Dia bilang... dia tunangan Ananta."

Hening sejenak.

"Tapi," lanjut Pak Bambang, "tidak ada catatan tentang itu. Ananta selalu isi formulir sebagai 'lajang.' Tidak pernah ada orang lain yang menginap, tidak ada nama tambahan di kontrak."

"Dia masih di sana?"

"Sudah pergi. Tapi dia tinggalkan nomor, minta dihubungi kalau ada perkembangan. Saya kirim nomornya ke Mbak ya."

"Oke. Terima kasih, Pak."

Sambungan terputus. Kirana menatap layar. Beberapa detik kemudian, pesan masuk, sebuah nomor telepon dengan nama "Nina."

Jari Kirana melayang di atas tombol call. Tapi dia ragu. Apakah ini urusannya? Apakah dia punya hak untuk mengorek kehidupan orang yang hilang? Tapi kemudian dia ingat catatan-catatan di laptop Ananta. Kalimat-kalimat yang terasa seperti cermin. Jika Kirana menghilang besok, apa yang akan ditemukan orang? Apakah akan ada seseorang yang cukup peduli untuk mencari tahu?

Dia menekan tombol call.

Nada sambung. Satu. Dua. Tiga.

"Halo?" Suara perempuan, waspada.

"Mbak Nina? Saya Kirana. Dari manajemen apartemen Sudirman Park. Saya... saya yang sedang menangani unit Mas Ananta."

Hening. Kirana mendengar napas di seberang sana.

"Anda tahu di mana dia?"

"Tidak. Tapi saya... saya menemukan beberapa barang pribadinya. Mungkin Mbak bisa membantu mengidentifikasi, atau—"

"Saya mau ke sana. Sekarang."

"Sekarang? Tapi sudah malam—"

"Saya tidak peduli. Kirimkan alamatnya. Saya akan ke sana dalam setengah jam."

Sambungan terputus.

 

VI.

Kirana tiba di apartemen Ananta dua puluh menit kemudian. Dia tidak tahu kenapa dia setuju untuk ini. Mungkin karena penasaran. Mungkin karena kesepian. Atau mungkin karena dia melihat bayangannya sendiri dalam semua ini—seseorang yang mencoba memahami hilangnya seseorang yang sebenarnya tidak pernah benar-benar hadir.

Nina datang tepat waktu. Perempuan tinggi, rambut sebahu, wajah lelah tapi tegas. Dia mengenakan jaket denim dan celana jeans, sepatu kets putih yang sudah agak kotor. Bukan penampilan seseorang yang hendak ke acara formal—tapi juga bukan seseorang yang baru bangun tidur. Seperti seseorang yang siap berangkat kapan saja.

"Terima kasih sudah mau ketemu," kata Nina di lobby.

"Tidak apa-apa. Saya juga... ingin tahu."

Mereka naik lift dalam diam. Kirana memperhatikan Nina dari ekor mata. Ada lingkaran hitam di bawah matanya. Tangannya sesekali meremas-remas tali tas. Gelisah, tapi bukan gelisah orang yang berbohong. Lebih ke gelisah orang yang takut menemukan jawaban.

Pintu apartemen dibuka. Nina melangkah masuk perlahan, seperti masuk ke kuil. Matanya menyapu sekeliling—sofa, meja, rak buku, jendela. Lalu berhenti di foto-foto di dinding.

"Ini tempat-tempat yang kami rencanakan untuk dikunjungi bersama," katanya pelan. "Tapi tidak pernah terjadi."

Kirana berdiri di ambang pintu. "Anda... tunangannya?"

Nina tersenyum pahit. "Secara teknis, ya. Tapi secara faktual?" Dia menggeleng. "Saya tidak tahu."

"Maksudnya?"

"Ananta melamar saya dua tahun lalu. Saya terima. Kami bikin rencana—nikah tahun ini, resepsi kecil, honeymoon ke Jepang. Tapi semakin dekat hari H, dia semakin... menjauh." Nina duduk di sofa, menatap cangkir kopi berjamur di meja. "Awalnya saya pikir dia cuma sibuk kerja. Tapi kemudian saya sadar, dia tidak menjauh dari pernikahan. Dia menjauh dari saya. Dari semua orang."

Kirana duduk di seberangnya. "Dia cerita kenapa?"

"Tidak pernah. Setiap saya tanya, dia bilang dia baik-baik aja. Cuma capek. Butuh waktu sendiri. Saya percaya. Terus percaya. Sampai suatu hari, dia berhenti membalas chat. Telepon tidak diangkat. Saya datang ke kantor, mereka bilang dia resign sebulan sebelumnya. Saya ke sini, satpam bilang dia nggak pernah keluar masuk lagi."

"Tidak ada tanda-tanda?"

"Ada. Sekarang saya tahu. Tapi dulu saya tidak mau lihat." Nina menunduk. "Dia sering bilang hal-hal aneh. Kayak, 'apa gunanya kita hidup kalau ujung-ujungnya cuma jadi statistik?' atau 'mungkin lebih baik jadi orang yang tidak punya jejak.' Saya pikir dia lagi burnout. Saya suruh cuti, liburan, konseling. Tapi dia cuma senyum dan bilang, 'nggak usah khawatir.'"

Kirana merasa dadanya sesak. Dia kenal frasa itu. Nggak usah khawatir. Dia sering bilang itu juga—pada Dimas, pada teman-temannya, pada dirinya sendiri. Frasa paling berbahaya, karena menutup semua pintu untuk bantuan.

"Cincin itu," kata Kirana. "Mbak yang kasih?"

Nina mengangguk. "Hadiah pertunangan. Aku beli sepasang. Yang satu ada tulisan 'untuk yang bertahan,' yang lain 'untuk yang menemani.' Aku pakai punyaku sampai sekarang." Dia mengulurkan tangan, memperlihatkan cincin perak di jari manisnya. "Tapi dia tidak pernah pakai punyanya. Katanya mau ditunggu sampai hari pernikahan."

"Tapi kenapa disimpan di laci paling bawah?"

Nina diam lama. "Mungkin karena dia tidak yakin akan bertahan."

 

VII.

Mereka menghabiskan satu jam di apartemen itu, membuka laci, memeriksa barang-barang, mencari petunjuk. Nina bercerita tentang Ananta—pria yang dia kenal enam tahun lalu di sebuah seminar startup. Mereka langsung klik, punya visi yang sama tentang hidup: mandiri, pragmatis, tidak terlalu romantis tapi saling mendukung.

"Dia bilang dia tidak percaya pada konsep 'belahan jiwa,'" kata Nina sambil memegang bingkai foto kosong—bingkai tanpa foto, hanya kaca dan bingkai kayu. "Dia bilang cinta itu pilihan, bukan takdir. Dan dia memilih saya. Aku percaya itu."

"Tapi?"

"Tapi ternyata dia tidak memilih siapa pun. Termasuk dirinya sendiri."

Kirana membuka laptop Ananta, menunjukkan folder Arsip pada Nina. "Mbak mau baca?"

Nina ragu, lalu mengangguk.

Mereka duduk berdampingan, scroll perlahan. Membaca catatan-catatan yang tidak pernah dimaksudkan untuk mata orang lain. Nina menangis tanpa suara saat membaca salah satu catatan Ananta.

15 Januari 2024

Nina tanya kenapa aku tidak pernah posting foto kami berdua. Aku bilang aku bukan tipe orang yang suka pamer. Tapi jujurnya, aku tidak tahu bagaimana menjelaskan hubungan ini pada dunia. Bukan karena aku malu. Tapi karena aku tidak yakin aku pantas punya hubungan.

Setiap kali aku lihat dia, aku merasa bersalah. Bersalah karena aku tidak bisa memberi apa yang dia butuhkan—kehadiran penuh, perhatian tulus, masa depan yang jelas. Aku cuma bisa memberi kehampaan yang dikemas rapi.

Nina menutup laptop. "Kenapa dia tidak bilang? Kenapa dia tidak kasih aku kesempatan untuk membantu?"

"Mungkin karena dia pikir tidak ada yang bisa membantu," kata Kirana pelan. "Atau mungkin dia tidak tahu bagaimana minta tolong."

"Tapi aku tunangannya. Aku seharusnya jadi orang pertama yang dia hubungi."

"Atau justru karena itu. Karena Mbak terlalu dekat. Kadang lebih mudah menghilang dari orang yang paling peduli, karena mereka yang akan paling terluka kalau tahu kita tidak baik-baik saja."

Nina menatap Kirana. "Kamu ngomong dari pengalaman?"

Kirana tidak menjawab. Tapi pandangan matanya sudah cukup jelas.

 

VIII.

Mereka menemukan sesuatu di laci meja kerja: tiket pesawat. Jakarta—Makassar, berangkat tiga bulan lalu, satu hari sebelum Ananta terakhir terlihat. Tiket pulang tidak ada.

"Makassar," gumam Nina. "Dia tidak pernah cerita soal Makassar."

Kirana membuka Google Maps di ponsel, mengetik "Makassar." Kota di ujung barat Sulawesi Selatan. Jauh. Berbeda. Tidak ada koneksi langsung dengan kehidupan Ananta di Jakarta.

"Mungkin dia punya keluarga di sana?" tebak Kirana.

"Tidak. Keluarganya dari Bandung. Orang tuanya sudah meninggal. Tidak ada saudara."

"Teman lama? Mantan?"

"Aku kenal semua temannya. Tidak ada yang dari Makassar."

Mereka terdiam. Tiket itu seperti petunjuk yang mengarah ke jurang—ada, tapi tidak jelas apa yang ada di ujungnya.

"Aku harus ke sana," kata Nina tiba-tiba.

"Ke Makassar?"

"Iya. Besok. Atau lusa. Aku harus tahu."

"Tahu apa? Mbak bahkan tidak tahu dia ke sana untuk apa."

"Justru itu. Kalau aku tidak cari tahu, aku tidak akan pernah bisa move on. Aku tidak akan pernah bisa tenang."

Kirana memahami itu. Ketidakpastian lebih menyiksa daripada kepastian yang menyakitkan. Setidaknya kalau sudah pasti, kita bisa mulai berduka. Tapi kalau masih menggantung, kita terjebak di limbo—tidak bisa maju, tidak bisa mundur.

"Aku ikut," kata Kirana.

Nina menoleh, terkejut. "Kenapa?"

"Karena..." Kirana mencari alasan yang masuk akal, tapi tidak menemukan. "Karena aku juga ingin tahu. Dan mungkin karena aku takut kalau Mbak pergi sendirian, Mbak akan jadi orang hilang berikutnya."

Nina tertawa—tawa pendek, pahit, tapi ada kehangatan di dalamnya. "Kamu baik."

"Bukan baik. Cuma... mengerti."

 

IX.

Kirana mengambil cuti mendadak. Dia bilang pada atasannya ada urusan keluarga mendesak. Bukan bohong sepenuhnya—ini urusan keluarga orang lain, tapi tetap mendesak.

Dimas menelepon malam itu.

"Kamu serius mau ke Makassar sama orang yang baru kamu kenal?"

"Iya."

"Buat apa?"

"Cari orang hilang."

"Orang hilang yang bukan keluarga, bukan teman, bahkan bukan orang yang kamu kenal?"

"Iya."

Hening.

"Kirana," kata Dimas pelan, "apa yang sebenarnya terjadi sama kamu?"

Kirana berbaring di kasur, menatap langit-langit yang gelap. "Aku tidak tahu. Mungkin aku cuma butuh pergi dari sini sebentar."

"Dari sini, atau dariku?"

Pertanyaan yang adil. Tapi Kirana tidak punya jawaban yang adil.

"Dari semuanya," katanya akhirnya. "Dari rutinitas. Dari apartemen ini. Dari hidup yang terasa seperti loop tanpa akhir."

"Dan kamu pikir dengan ikut orang asing cari mantan tunangannya yang hilang, kamu akan menemukan sesuatu?"

"Aku tidak tahu. Tapi setidaknya aku akan bergerak. Setidaknya aku tidak diam di tempat, pura-pura semuanya oke."

Dimas menghela napas panjang. "Kita memang perlu jeda, ya."

"Sepertinya begitu."

"Oke. Hati-hati di sana. Kabarin kalau sudah sampai."

"Makasih."

Sambungan terputus. Kirana menaruh ponsel di meja samping tempat tidur. Tidak ada air mata. Tidak ada drama. Hanya kekosongan yang familiar—seperti menutup buku yang sudah selesai dibaca, tapi tidak ada yang mengesankan.

 

X.

Mereka terbang ke Makassar pagi-pagi. Pesawat penuh—mayoritas penumpang bisnis, dengan laptop dan tas kerja. Kirana duduk di sebelah jendela, Nina di tengah. Mereka tidak banyak bicara selama penerbangan. Masing-masing tenggelam dalam pikiran sendiri.

Kirana membuka catatan di ponselnya, membaca lagi tulisan Ananta yang dia screenshot:

20 Februari 2024

Hari ini aku mimpi tentang laut. Bukan laut yang pernah kukunjungi—bukan Bali, bukan Lombok. Tapi laut yang tidak punya nama. Aku berdiri di tepi pantai, air sampai ke lutut, dan aku tahu kalau aku terus melangkah, aku akan tenggelam. Tapi ada sesuatu di dalam diriku yang bilang: mungkin itu tidak masalah. Mungkin tenggelam itu bentuk lain dari pulang.

Aku bangun jam 4 pagi, berkeringat. Dan aku tahu: aku harus pergi. Entah ke mana. Tapi harus pergi.

Kirana menutup ponsel. Di luar jendela, awan putih menggulung seperti lautan kapas. Di bawah sana, Indonesia terbentang—pulau-pulau, kota-kota, jutaan kehidupan yang berlangsung simultan. Semuanya terlihat kecil dari sini. Semuanya terasa sementara.

"Kamu yakin tidak apa-apa ikut?" tanya Nina tiba-tiba.

"Kenapa tanya lagi?"

"Karena kamu tidak kenal Ananta. Ini bukan masalah kamu."

"Mungkin memang bukan," kata Kirana. "Tapi entah kenapa, rasanya seperti masalah aku juga."

Nina menatapnya lama. "Kamu pernah hampir hilang, ya?"

Kirana tidak menjawab langsung. Tapi setelah beberapa detik, dia mengangguk pelan.

"Kapan?"

"Tahun lalu. Atau mungkin masih berlangsung sampai sekarang. Aku tidak yakin."

"Kenapa tidak jadi?"

"Karena aku pengecut," kata Kirana dengan senyum tipis. "Atau mungkin karena aku masih penasaran apa yang terjadi kalau aku bertahan sedikit lebih lama."

"Dan? Sudah dapat jawabannya?"

"Belum. Tapi setidaknya aku masih di sini."

 

XI.

Makassar menyambut mereka dengan panas yang berbeda. Bukan panas Jakarta yang lembap dan penuh polusi—ini panas kering, langsung, tanpa kompromi. Langit biru tanpa awan. Angin bertiup dari laut, membawa bau garam dan ikan. Mereka naik taksi online ke pusat kota, mencari hotel murah di dekat pantai Losari. Nina memesan dua kamar terpisah, meski Kirana bilang tidak masalah sekamar untuk hemat biaya.

"Kita berdua butuh ruang sendiri," kata Nina. "Percayalah."

Hotel kecil, tiga lantai, cat mulai mengelupas tapi bersih. Kamar Kirana menghadap jalan—jendela terbuka, suara motor dan pedagang kaki lima masuk tanpa filter. Dia tidak menutup jendela. Ada sesuatu yang melegakan tentang kebisingan orang lain—bukti bahwa hidup terus berjalan, meski kamu tidak tahu harus ke mana.

Mereka bertemu lagi di lobby satu jam kemudian. Nina membawa print-out foto Ananta—satu-satunya foto yang dia punya, diambil dua tahun lalu saat ulang tahun Ananta. Dalam foto itu, Ananta tersenyum—senyum yang terlihat nyata di kamera, tapi sekarang, setelah membaca catatannya, Kirana bisa melihat ada yang tidak sampai ke mata.

"Kita mulai dari mana?" tanya Kirana.

"Bandara. Tanya petugas, tanya supir taksi, siapa pun yang mungkin ingat."

Mereka kembali ke bandara. Loket informasi. Petugas muda, perempuan, wajah ramah.

"Permisi, kami cari orang. Ini fotonya. Dia tiba di sini tiga bulan lalu, tapi tidak pernah pulang."

Petugas menatap foto, lalu menggeleng. "Maaf, mbak. Setiap hari ribuan orang lewat sini. Kami tidak bisa ingat satu per satu."

"Tapi mungkin ada yang spesial? Mungkin dia tanya sesuatu, atau—"

"Maaf, mbak. Tidak bisa bantu."

Mereka mencoba petugas lain, supir taksi, penjual souvenir. Semua jawaban sama: tidak ingat, maaf, semoga ketemu.

Sore mulai turun. Mereka duduk di bangku tunggu, lelah, frustrasi.

"Ini mustahil," kata Nina. "Kita tidak punya petunjuk apa-apa. Kita bahkan tidak tahu dia ke sini untuk apa."

Kirana membuka ponselnya, scroll lagi catatan Ananta. Ada satu yang menarik perhatiannya:

28 Januari 2024

Aku ingat kakek pernah cerita tentang konsep "pulang" dalam budaya Bugis. Bukan pulang dalam arti balik ke rumah fisik, tapi pulang ke esensi diri. Mereka punya ritual namanya "mappanre temme"—ritual untuk orang yang merasa tersesat dalam hidupnya sendiri. Mereka pergi ke laut, berdiri di air, dan membiarkan ombak membawa pergi semua yang tidak esensial.

Mungkin aku butuh ritual seperti itu.

"Nina," kata Kirana, "Ananta punya darah Bugis?"

"Hah? Tidak. Dia orang Sunda."

"Tapi dia pernah cerita tentang budaya Bugis?"

"Tidak pernah. Kenapa?"

Kirana menunjukkan catatannya. Nina membaca, wajahnya berubah.

"Kakek dia memang orang Bugis. Dari Makassar. Tapi sudah meninggal sejak Ananta kecil. Dia hampir tidak pernah cerita tentang itu."

"Tapi dia ingat. Dan dia menulis tentang ritual pulang."

Mereka saling pandang. Petunjuk pertama yang konkret.

 

XII.

Mereka mencari tahu tentang ritual mappanre temme. Ternyata bukan ritual yang umum—lebih ke praktik spiritual yang diturunkan dalam keluarga tertentu, tidak terdokumentasi formal. Tapi ada satu nama yang muncul berulang kali di forum online: Puang Laso, seorang pinati (semacam pemuka spiritual) yang tinggal di kampung nelayan di pinggir kota.

Besok paginya, mereka naik angkot ke kampung itu. Jalan makin sempit, aspal berubah jadi tanah. Rumah-rumah kayu berjejer, jala dijemur di halaman, perahu tertambat di dermaga kecil.

Puang Laso ternyata lelaki tua, mungkin tujuh puluhan, kulit terbakar matahari, mata tajam tapi hangat. Dia duduk di teras rumahnya, menganyam jala.

"Selamat pagi, Puang," sapa Nina sopan. "Kami dari Jakarta. Kami cari informasi tentang ritual mappanre temme."

Puang Laso tidak mengangkat pandangan dari jalanya. "Ritual itu bukan untuk turis."

"Kami bukan turis. Kami cari orang. Tunangan saya. Dia hilang tiga bulan lalu, dan kami pikir dia datang ke sini untuk ritual itu."

Sekarang Puang Laso menoleh. "Namanya?"

"Ananta. Ananta Wijaya."

Puang Laso diam. Wajahnya tidak berubah, tapi ada sesuatu di matanya—pengenalan.

"Dia datang," katanya akhirnya.

Nina tersentak. "Dia di sini? Sekarang?"

"Tidak lagi. Dia pergi."

"Pergi ke mana?"

Puang Laso melanjutkan menganyam. "Tidak tahu. Tapi dia datang tiga bulan lalu. Minta dibawa ke laut untuk ritual. Aku tolak."

"Kenapa?"

"Karena dia datang untuk alasan yang salah. Mappanre temme bukan untuk lari dari hidup. Itu untuk menemukan kembali hidup yang sudah hilang. Tapi dia... dia sudah memutuskan untuk tidak kembali."

Nina duduk di tangga teras, tangannya gemetar. "Dia bilang apa?"

"Dia bilang, 'Saya datang untuk pulang. Tapi bukan ke Jakarta. Pulang ke tempat di mana saya tidak perlu jadi siapa-siapa.'"

"Lalu?"

"Aku bilang, tidak ada tempat seperti itu. Di mana pun kita pergi, kita tetap harus jadi seseorang—untuk diri sendiri, minimal. Tapi dia tidak percaya."

Kirana bertanya, "Lalu dia pergi ke mana?"

"Ke pulau." Puang Laso menunjuk ke laut. "Pulau kecil, dua jam naik perahu dari sini. Banyak orang Jakarta yang ke sana—mereka sebut 'digital detox retreat' atau apa. Tapi sebenarnya cuma tempat persembunyian."

Nina berdiri. "Kami harus ke sana."

"Tidak ada jadwal perahu hari ini. Besok pagi baru ada. Tapi aku bisa anter kalau kalian mau naik perahuku."

"Sekarang?"

"Sekarang."

 

XIII.

Perahu kecil, kayu tua tapi kokoh. Puang Laso mengemudikan dengan tenang, seperti sudah dilakukan ribuan kali. Laut tenang, matahari tepat di atas kepala. Kirana duduk di buritan, membiarkan tangan menyentuh permukaan air.

Dingin. Asin. Nyata.

"Kamu tidak takut?" tanya Nina di sebelahnya.

"Takut apa?"

"Takut kita tidak menemukan dia. Atau lebih buruk—kita menemukan dia, tapi dia tidak mau balik."

Kirana mengangkat tangan dari air, merasakan tetesan mengering di kulit. "Aku lebih takut tidak mencoba."

"Kenapa kamu peduli? Kamu bahkan tidak kenal dia."

"Mungkin karena aku kenal perasaannya." Kirana menatap cakrawala. "Perasaan ingin hilang tapi tidak berani mati. Perasaan ingin pulang tapi tidak tahu rumah itu di mana. Perasaan kosong yang tidak bisa dijelaskan pada siapa pun karena dari luar, hidup kita terlihat baik-baik saja."

Nina diam. Lalu, pelan, "Kamu masih merasakan itu sekarang?"

"Setiap hari. Tapi hari ini sedikit lebih ringan. Karena setidaknya aku tahu aku tidak sendirian."

Puang Laso bergumam dari depan. "Begitulah generasi kalian. Terlalu banyak pilihan, tapi tidak ada yang terasa benar. Terlalu banyak informasi, tapi tidak ada kebijaksanaan. Terlalu banyak koneksi, tapi tidak ada yang benar-benar terhubung."

"Lalu apa solusinya?" tanya Kirana.

"Tidak ada solusi universal. Setiap orang harus menemukan caranya sendiri. Tapi satu hal yang pasti: kamu tidak bisa pulang kalau kamu tidak pernah benar-benar pergi. Dan kamu tidak bisa pergi kalau kamu tidak tahu apa yang kamu tinggalkan."

 

XIV.

Pulau itu kecil—mungkin hanya seluas tiga lapangan sepak bola. Pasir putih, pohon kelapa, beberapa bungalow kayu. Ada papan nama: Sapo Island Retreat - Find Yourself Again. Ironis, pikir Kirana. Tempat untuk menemukan diri yang dijual dengan slogan marketing.

Mereka disambut oleh resepsionis muda, lelaki berkacamata, kaus santai, senyum terlatih. "Welcome to Sapo Island. Ada yang bisa kami bantu?"

Nina langsung menyodorkan foto Ananta. "Orang ini. Dia menginap di sini?"

Resepsionis menatap foto, lalu mengangguk pelan. "Mas Ananta. Iya, dia di sini."

Nina hampir menangis. "Dia masih di sini?"

"Iya. Bungalow nomor 7, paling ujung. Tapi..." Resepsionis ragu, "dia minta untuk tidak diganggu. Sejak datang tiga bulan lalu, dia hampir tidak pernah keluar. Makanan diantar ke bungalow. Tidak pernah ikut aktivitas."

"Kami harus ketemu dia."

"Tapi—"

"Saya tunangannya." Nina menunjukkan cincinnya. "Dan ini teman saya. Kami sudah jauh-jauh dari Jakarta. Tolong."

Resepsionis menatap mereka, lalu menghela napas. "Oke. Tapi saya tidak bisa jamin dia mau ketemu."

Mereka berjalan menyusuri pantai, melewati bungalow-bungalow lain. Ada tamu lain—kebanyakan bule, beberapa orang Asia. Mereka duduk di teras, membaca, bermeditasi, atau sekadar menatap laut. Semua terlihat damai. Terlalu damai. Bungalow nomor 7 paling terpencil. Pintunya tertutup, tirainya ditarik. Dari luar, tidak ada tanda kehidupan.

Nina mengetuk. "Ananta? Ini aku, Nina."

Tidak ada jawaban.

Ketuk lagi. "Ananta, please. Aku cuma mau ngobrol. Aku tidak mau maksa kamu pulang. Aku cuma... aku cuma perlu tahu kamu baik-baik aja."

Masih tidak ada jawaban.

Kirana maju, mengetuk lebih keras. "Mas Ananta, nama saya Kirana. Saya yang mengurus apartemen Mas di Jakarta. Saya baca catatan-catatan Mas. Dan saya... saya mengerti."

Hening panjang. Lalu, pintu terbuka sedikit.

Ananta berdiri di ambang pintu. Lebih kurus dari foto. Rambut panjang, acak-acakan. Jenggot tumbuh tidak teratur. Tapi matanya—matanya masih sama dengan yang di foto. Kosong, tapi waspada.

"Kamu baca catatan aku?" suaranya serak, seperti lama tidak dipakai.

"Maaf. Aku harus buka laptopnya untuk survey. Aku tidak sengaja—"

"Tidak apa-apa." Ananta membuka pintu lebih lebar. "Masuk."

XV.

Bungalow itu sederhana. Kasur, meja kecil, kursi plastik. Tidak ada TV, tidak ada WiFi. Hanya buku-buku bertumpuk di lantai—filosofi, spiritual, novel eksistensial.

Ananta duduk di lantai, bersandar pada dinding. Nina dan Kirana duduk di kursi plastik.

"Kenapa kamu ke sini?" tanya Nina, suaranya gemetar.

"Karena aku tidak bisa di sana."

"Di Jakarta?"

"Di mana pun aku harus jadi 'Ananta.'" Dia menatap tangannya. "Aku lelah jadi orang yang punya nama, identitas, ekspektasi. Aku lelah bangun pagi dan harus mengisi peran. Di sini, tidak ada yang tahu aku siapa. Aku bisa jadi siapa saja. Atau tidak jadi siapa-siapa."

"Tapi kamu masih kamu," kata Nina. "Kamu tidak bisa kabur dari diri sendiri."

"Aku tahu. Tapi setidaknya di sini, aku tidak harus membawa semua beban itu. Tidak ada email. Tidak ada deadline. Tidak ada orang yang bertanya 'gimana kabarmu?' padahal mereka tidak benar-benar ingin tahu jawabannya."

Kirana bersuara, "Tapi Nina ingin tahu. Dia cari Mas sampai ke sini."

Ananta menoleh ke Nina, dan untuk pertama kali, ada emosi di wajahnya. Rasa bersalah. "Maafin aku."

"Aku tidak butuh permintaan maaf," kata Nina. "Aku butuh kejujuran. Kenapa kamu tidak bilang dari awal?"

"Bilang apa? Bilang aku tidak sanggup nikah? Bilang aku tidak yakin bisa jadi suami yang baik? Bilang setiap kali aku bayangin masa depan, yang aku rasakan bukan excitement, tapi dread?" Ananta mengusap wajah. "Aku cinta kamu, Nina. Tapi aku tidak cinta pada hidupku. Dan aku tidak mau kamu terjebak di hidup yang aku sendiri tidak mau jalani."

Nina menangis sekarang, air mata jatuh tanpa suara. "Tapi kita bisa cari solusi bareng. Kita bisa pindah, ganti pekerjaan, hidup lebih sederhana. Apa aja. Kenapa kamu harus menghilang?"

"Karena aku tidak tahu harus minta tolong gimana. Aku tidak tahu harus jelasin perasaan yang aku sendiri tidak ngerti." Ananta menatap cincin di tangan Nina. "Dan aku tidak mau kamu ngerasain apa yang aku rasain. Kesepian di tengah keramaian. Kekosongan di tengah kesibukan."

Kirana menarik napas. "Tapi sekarang Mas ngerasain apa? Di sini, sendirian?"

Ananta tersenyum tipis. "Lebih jujur. Di Jakarta, aku pura-pura bahagia. Di sini, aku boleh sedih. Dan entah kenapa, sedih yang jujur lebih terasa hidup daripada bahagia yang palsu."

 

XVI.

Mereka duduk dalam keheningan. Di luar, suara ombak. Sesekali burung. Tidak ada suara mesin, tidak ada notifikasi, tidak ada kebisingan kota.

"Mas mau di sini selamanya?" tanya Kirana akhirnya.

"Aku tidak tahu. Mungkin sampai aku nemu jawaban."

"Jawaban untuk apa?"

"Kenapa aku dilahirkan ke dunia yang seperti ini. Dunia yang mengharuskan kita produktif, berguna, punya purpose. Kenapa tidak bisa kita cuma... ada?"

Kirana mengangguk pelan. "Aku ngerti. Aku juga sering ngerasa begitu. Tapi..." dia menatap Nina, "ada orang yang peduli. Ada orang yang rela terbang lintas pulau cuma untuk tahu Mas baik-baik aja. Dan itu bukan karena Mas produktif atau punya purpose. Itu karena Mas penting buat mereka."

"Tapi kenapa? Kenapa aku penting?" Ananta terlihat benar-benar bingung, seperti anak kecil yang tidak mengerti konsep nilai diri.

Nina menjawab, suaranya serak tapi tegas. "Karena kamu bikin aku ketawa. Karena kamu inget kopi favoritku. Karena kamu dengerin aku complain tentang kerjaan meski kamu juga capek. Karena kamu ada—dan kehadiranmu, meski nggak sempurna, bikin hidup aku lebih baik."

Ananta menutup mata, air mata mengalir. Ini pertama kalinya dia menangis sejak mereka masuk. Menangis tanpa suara, tubuhnya berguncang.

Nina pindah ke lantai, memeluknya. Tidak bilang apa-apa. Hanya memeluk.

Kirana berdiri, berjalan ke luar, memberi mereka ruang. Dia duduk di teras bungalow, menatap laut. Matahari mulai condong ke barat, langit perlahan berubah warna.

Ponselnya tidak ada sinyal. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, dia benar-benar offline. Tidak ada yang bisa menghubunginya. Tidak ada yang mengharapkan balasan cepat.

Dan itu terasa... membebaskan.

 

XVII.

Malam datang. Mereka makan malam bersama di restoran pulau—ikan bakar, nasi, sayur sederhana. Ananta makan pelan, seperti sedang belajar lagi bagaimana berinteraksi dengan orang.

"Kamu balik ke Jakarta?" tanya Nina.

Ananta tidak langsung menjawab. "Aku tidak tahu. Belum siap."

"Terus kapan siapnya?"

"Mungkin tidak pernah."

Nina menarik napas, menahan emosi. "Oke. Aku nggak bisa maksa. Tapi aku butuh keputusan. Tentang kita."

"Aku..."

"Aku nggak butuh jawabannya sekarang. Tapi aku butuh timeline. Sebulan, tiga bulan, enam bulan. Aku perlu tahu sampai kapan aku harus nunggu."

Ananta mengangguk. "Tiga bulan. Tiga bulan lagi, aku janji aku udah punya jawaban."

"Dan kalau jawabannya kita selesai?"

"Maka kita selesai. Dan kamu bisa move on tanpa rasa bersalah."

Nina menatapnya lama. "Aku tidak pernah merasa bersalah buat mencintai kamu. Yang bikin aku bersalah adalah nggak bisa nolongin kamu."

"Kamu sudah nolong. Dengan datang ke sini. Dengan nunjukin aku masih ada orang yang peduli." Ananta mengulurkan tangan, memegang tangan Nina. "Maafin aku sudah bikin kamu khawatir."

"Jangan minta maaf. Cuma... jaga diri. Dan kalau kamu butuh ngobrol, telepon aku. Aku nggak peduli jam berapa, aku akan angkat."

Mereka berpisah malam itu dengan pelukan panjang. Nina menangis di bahu Ananta, dan kali ini Ananta menangis balik. Tidak dengan kata-kata, tapi dengan cara mereka berpegangan—seperti orang yang tahu ini mungkin terakhir kali, tapi belum siap melepaskan.

 

XVIII.

Kirana dan Nina menginap semalam di pulau. Besok pagi mereka akan kembali ke Makassar, lalu Jakarta. Tapi malam itu, Kirana tidak bisa tidur.

Dia berjalan ke pantai, duduk di pasir. Langit penuh bintang—lebih banyak dari yang pernah dia lihat di Jakarta. Tidak ada polusi cahaya, tidak ada kabut, hanya bintang dan kegelapan.

Ada suara langkah di belakang. Ananta duduk di sebelahnya.

"Kamu juga nggak bisa tidur?" tanya Ananta.

"Terlalu banyak mikir."

"Tentang?"

"Tentang kenapa aku ikut Nina ke sini. Tentang kenapa aku peduli sama orang yang nggak aku kenal. Tentang kenapa cerita Mas terasa seperti cermin."

Ananta mengambil segenggam pasir, membiarkannya jatuh perlahan. "Kamu juga pernah pengen hilang?"

"Hampir setiap hari."

"Tapi kamu nggak hilang."

"Karena aku pengecut. Atau mungkin karena aku masih percaya ada sesuatu yang aku belum temukan."

"Kayak apa?"

Kirana mengangkat bahu. "Nggak tahu. Mungkin tujuan hidup. Mungkin hubungan. Mungkin cuma... momen di mana aku merasa hidup ini worth it."

"Kamu udah nemu?"

"Belum. Tapi aku dapat sekilas kemarin. Waktu Nina nangis di apartemen Mas, dan aku ngerasa—oh, ini dia. Ini yang bikin hidup bermakna. Bukan prestasi atau harta benda. Tapi momen ketika kamu bisa hadir sepenuhnya buat orang lain."

Ananta terdiam. Lalu, "Kamu lebih kuat dari aku."

"Bukan kuat. Cuma belum menyerah."

"Apa bedanya?"

Kirana tersenyum. "Nggak tahu. Mungkin nggak ada bedanya. Mungkin bertahan itu cuma masalah kebetulan—hari ini kamu masih punya alasan, besok mungkin nggak. Yang penting hari ini kamu masih di sini."

Mereka duduk dalam keheningan, mendengarkan ombak. Ada kedamaian dalam keheningan itu—bukan kedamaian yang palsu, tapi kedamaian yang datang dari menerima bahwa tidak semua pertanyaan punya jawaban.

"Kirana," kata Ananta setelah lama, "kalau suatu hari kamu ngerasa nggak sanggup, inget: ada orang yang sekarang lagi duduk di pantai entah di mana, ngerasain hal yang sama. Kamu nggak sendirian."

"Mas juga."

 

XIX.

Kembali ke Jakarta terasa seperti memasuki dimensi lain. Dari keheningan pulau ke kebisingan kota. Dari langit berbintang ke gedung pencakar langit. Dari waktu yang terasa melambat ke waktu yang bergerak terlalu cepat.

Nina langsung tenggelam dalam rutinitas—kerja, pulang, tidur, repeat. Tapi ada perubahan kecil. Dia mulai terapi. Seminggu sekali, dia datang ke psikolog, belajar bagaimana melepaskan tanpa merasa bersalah.

Kirana menyelesaikan proyek renovasi apartemen Ananta. Tapi dia memutuskan untuk tidak mengosongkannya sepenuhnya. Cincin itu dia simpan di brankas gedung, bersama surat yang dia tulis untuk Ananta.

Mas Ananta,

Apartemen ini sudah siap disewakan lagi. Tapi saya simpan beberapa barang pribadi Mas, termasuk cincin dan laptop. Suatu hari, kalau Mas siap pulang, semuanya masih di sini.

Saya tidak tahu apakah Mas akan membaca ini. Tapi saya ingin Mas tahu: Mas tidak sendirian. Dan pulang itu bukan tentang kembali ke tempat yang sama. Pulang itu tentang menemukan versi diri yang bisa Mas terima.

Take your time. Tapi jangan lupa jalan pulang.

Kirana

 

Dia dengan Dimas resmi berpisah. Tidak ada drama—hanya percakapan jujur di kafe, saling minta maaf, saling mendoakan. Dimas bilang dia sudah merasa ada jarak sejak lama. Kirana tidak membantah.

"Kamu cari sesuatu yang nggak bisa aku kasih," kata Dimas.

"Aku juga nggak tahu aku cari apa," jawab Kirana jujur.

"Semoga kamu nemu."

"Kamu juga."

Mereka berpisah sebagai teman. Tidak ada yang menutup pintu dengan kasar. Hanya menutup dengan lembut, dengan penghargaan pada apa yang pernah ada.

 

XX.

Tiga bulan berlalu.

Kirana masih arsitek. Masih tinggal di apartemen yang sama. Masih bangun pagi, bekerja, pulang, tidur. Tapi ada sesuatu yang berbeda. Dia mulai menulis—tidak untuk dipublikasi, hanya untuk dirinya sendiri. Catatan harian, refleksi, pertanyaan yang tidak punya jawaban.

Seperti yang Ananta lakukan. Dia juga mulai lebih sering keluar. Bukan ke acara sosial yang melelahkan, tapi ke tempat-tempat yang membuatnya merasa hidup—galeri seni kecil, toko buku bekas, kafe pinggir jalan yang sepi.

Suatu hari, dia mendapat pesan dari Nina: Ananta pulang minggu depan. Dia mau ketemu kamu.

Kirana membaca pesan itu berkali-kali. Campuran perasaan—lega, penasaran, sedikit cemas.

Baik. Aku datang.

XXI.

Mereka bertemu di kafe kecil di Menteng. Ananta sudah datang duluan, duduk di pojok, penampilannya lebih rapi—rambut dipotong, jenggot dicukur bersih. Tapi matanya masih sama. Masih ada bayangan di sana, tapi tidak sedalam dulu.

"Hai," sapa Kirana.

"Hai. Makasih udah mau dateng."

Mereka memesan kopi. Duduk dalam keheningan yang tidak canggung.

"Gimana?" tanya Kirana akhirnya.

"Lebih baik. Belum sembuh. Tapi lebih baik."

"Mas balik ke Jakarta for good?"

"Belum tahu. Mungkin bolak-balik dulu. Sebulan di sini, sebulan di sana. Nyari keseimbangan."

"Dan Nina?"

Ananta tersenyum tipis—senyum yang berat tapi tulus. "Kami putus. Tapi baik-baik. Dia yang bilang, 'Aku nggak bisa nemenin kamu nyari diri kamu, karena aku juga lagi nyari diriku.' Dan dia benar."

"Mas nyesal?"

"Selalu. Tapi bukan nyesal karena keputusannya salah. Nyesal karena aku terlambat jujur. Terlambat minta tolong. Terlambat ngaku kalau aku nggak oke."

Kirana mengangguk. "Aku juga baru putus."

"Dimas?"

"Mas kenal?"

"Nina cerita. Dia bilang kamu orang yang ngebantu dia nemuin aku. Dia bilang kamu orang baik."

"Aku bukan orang baik. Aku cuma orang yang kebetulan ngerti gimana rasanya hilang."

Ananta menatapnya lama. "Kamu masih ngerasain itu?"

"Kadang. Tapi sekarang lebih jarang. Kayaknya sejak ke Makassar, ada sesuatu yang berubah. Aku mulai ngerti kalau hilang itu nggak harus berarti pergi. Kadang hilang itu cuma... pause. Waktu buat napas."

"Dan kamu udah napas?"

"Masih belajar. Tapi setidaknya aku mulai."

Mereka menghabiskan satu jam ngobrol—tentang pulau, tentang kota, tentang bagaimana sulitnya hidup di dunia yang bergerak terlalu cepat. Tidak ada solusi yang mereka temukan. Hanya pengakuan jujur bahwa mereka berdua masih mencari.

Sebelum berpisah, Ananta menyerahkan sebuah amplop. "Ini buat kamu. Jangan buka sekarang. Buka nanti, kalau kamu lagi merasa... hilang lagi."

Kirana menerima amplop itu, merasakan beratnya di tangan. "Apa isinya?"

"Pengingat. Bahwa kamu nggak sendirian."

 

XXII.

Satu tahun kemudian.

Kirana berdiri di balkon apartemennya—masih lantai lima belas, masih gedung yang sama. Tapi sekarang dia punya tanaman. Banyak tanaman. Monstera, sirih gading, kaktus kecil. Dia menyiramnya setiap pagi, ritual kecil yang membuatnya merasa bertanggung jawab pada sesuatu yang hidup.

Dia masih arsitek. Masih mengerjakan proyek-proyek gedung tinggi, apartemen mewah, ruang yang akan diisi oleh orang-orang yang mungkin juga merasa kosong. Tapi sekarang dia lebih jujur dalam desainnya—dia mulai menciptakan ruang yang tidak hanya fungsional, tapi juga manusiawi. Sudut-sudut untuk duduk sendiri. Jendela besar untuk menatap langit. Balkon kecil untuk napas.

Nina sesekali mengirim pesan. Mereka jadi teman—teman yang dipertemukan oleh kehilangan yang sama. Nina sekarang kerja di NGO, membantu orang-orang dengan masalah kesehatan mental. Dia bilang, "Kalau aku nggak bisa nolongin Ananta, setidaknya aku bisa nolongin orang lain."

Ananta? Dia masih bolak-balik Jakarta-Makassar. Sesekali dia mengirim foto dari pulau—matahari terbenam, ombak, langit malam. Tidak pernah banyak kata. Hanya gambar. Tapi Kirana mengerti. Itu cara Ananta bilang aku masih di sini.

Suatu malam, Kirana teringat amplop yang Ananta berikan setahun lalu. Dia belum pernah membukanya. Disimpan di laci, dilupakan.

Dia mengambilnya, membuka pelan.

Di dalamnya, selembar kertas dengan tulisan tangan Ananta.

Kirana,

Kalau kamu baca ini, berarti kamu lagi ngerasa hilang. Dan itu oke. Manusia nggak diciptakan untuk selalu "sampai" di suatu tempat. Kita diciptakan untuk terus bergerak, terus mencari, terus bertanya.

Aku nggak bisa kasih kamu jawaban. Tapi aku bisa kasih kamu pengingat:

1. Kamu boleh lelah. Tapi jangan biarkan lelah jadi alasan untuk berhenti. 2. Kamu boleh sedih. Tapi jangan biarkan sedih jadi identitas.

3. Kamu boleh sendirian. Tapi inget, sendirian beda dengan kesepian.

Dan yang paling penting: kamu nggak harus baik-baik aja. Kamu cuma harus jujur—pada diri sendiri, dan pada orang yang kamu percaya.

Dunia ini keras. Kota ini dingin. Tapi selama masih ada orang seperti kamu—yang peduli, yang mencari, yang mau berhenti sejenak untuk nolongin orang asing—maka dunia ini masih layak dihuni.

Terima kasih sudah datang ke Makassar. Terima kasih sudah peduli. Terima kasih sudah jadi pengingat bahwa aku masih penting buat seseorang.

Semua orang pergi, itu benar. Tapi pulang itu bukan tentang kembali ke tempat yang sama. Pulang itu tentang menemukan tempat di mana kamu bisa jadi dirimu sendiri—bahkan yang paling rusak sekalipun.

Keep going. The world needs more people like you.

— Ananta

 

Kirana membaca surat itu tiga kali. Air matanya jatuh di kalimat terakhir, mengaburkan tinta.

Dia tidak tahu dia butuh mendengar ini. Tapi dia butuh.

 

 

XXIII.

Malam itu, Kirana duduk di balkon dengan laptop, mulai menulis. Bukan untuk klien. Bukan untuk pekerjaan. Tapi untuk dirinya sendiri.

Dia menulis tentang apartemen kosong. Tentang perjalanan ke Makassar. Tentang seorang pria yang memutuskan untuk hilang, dan seorang perempuan yang memutuskan untuk mencari. Dia menulis tentang kesepian modern—bukan kesepian orang yang tidak punya teman, tapi kesepian orang yang dikelilingi banyak orang tapi tidak ada yang benar-benar melihat.

Dia menulis tentang kota yang penuh orang pergi, tapi tidak ada yang benar-benar pulang. Karena pulang itu bukan soal tempat. Pulang itu soal perasaan. Perasaan bahwa kamu boleh rapuh. Bahwa kamu boleh tidak sempurna. Bahwa kamu boleh ada, apa adanya.

Dan mungkin, pikir Kirana, itulah yang dicari semua orang di kota ini. Bukan kesuksesan. Bukan pencapaian. Bukan pengakuan.

Tapi rumah. Dalam arti yang paling sederhana.

Tempat di mana kamu bisa berhenti berlari. Tempat di mana kamu tidak perlu membuktikan apa-apa. Tempat di mana kamu boleh bilang, "Aku lelah," tanpa takut dihakimi.

Kirana menatap layar laptopnya. Ribuan kata sudah tertulis. Tapi dia tahu ini belum selesai. Mungkin tidak akan pernah selesai. Karena cerita tentang pulang itu tidak punya ending yang jelas.

Yang ada hanya perjalanan.

Dan pilihan untuk terus berjalan, atau berhenti.

 

XXIV.

Dua tahun kemudian, apartemen di Sudirman Park unit 23-07 akhirnya disewakan. Penyewa baru—perempuan muda, fresh graduate, baru pindah ke Jakarta untuk kerja pertamanya.

Saat pindahan, dia menemukan kotak kecil di balik lemari. Kotak kayu dengan cincin perak di dalamnya. Ada ukiran: Untuk yang bertahan.

Dia tidak tahu apa artinya. Tapi dia menyimpan cincin itu. Suatu hari, mungkin dia akan mengerti.

Di Makassar, Ananta membuka kafe kecil di kampung nelayan. Tempatnya sederhana—meja kayu, kursi plastik, pemandangan laut. Dia tidak menggunakan nama fancy. Hanya: Warung Ananta.

Orang-orang datang—turis, nelayan, orang kota yang butuh istirahat. Mereka minum kopi, ngobrol, atau hanya duduk diam menatap laut. Ananta tidak pernah bertanya kenapa mereka datang. Dia hanya menyambut, menyajikan kopi, dan membiarkan mereka ada.

Kadang Nina datang berkunjung. Mereka sudah tidak jadi pasangan, tapi mereka jadi sesuatu yang lebih baik—teman yang saling mengerti. Yang tahu bahwa cinta tidak selalu berakhir dengan pernikahan. Kadang cinta berakhir dengan melepaskan, supaya keduanya bisa tumbuh.

Dan Kirana?

Kirana masih di Jakarta. Masih arsitek. Tapi sekarang dia juga menulis. Artikelnya tentang "Arsitektur Kesepian" viral di media sosial, dibaca puluhan ribu orang. Banyak yang komen, Ini bukan aku doang ternyata.

Dia mulai dapat tawaran bicara di seminar, podcast, kampus. Orang-orang ingin tahu tentang perspektifnya—tentang bagaimana kota membentuk kesepian, dan bagaimana kita bisa mendesain ruang yang lebih manusiawi.

Suatu hari, seorang produser film menghubunginya. "Cerita kamu menarik. Mau kita angkat jadi film?"

Kirana tersenyum. "Tapi ini bukan cerita dengan happy ending."

"Justru itu yang bikin menarik. Kehidupan nyata memang nggak selalu happy ending. Tapi ada sesuatu yang lebih berharga: kejujuran."

Kirana setuju. Dengan satu syarat: "Ending-nya harus ambigu. Harus bikin orang bertanya-tanya. Karena hidup memang begitu. Nggak ada yang bener-bener selesai. Yang ada cuma... terus."

 

XXV.

Lima tahun setelah Ananta menghilang dari Jakarta, dia kembali untuk satu hari. Bukan untuk tinggal. Hanya untuk mengembalikan sesuatu.

Dia datang ke kantor manajemen gedung, membawa sebuah kotak. Di dalamnya, laptop lama, beberapa buku, dan cincin yang sudah tidak dia simpan lagi di laci.

"Ini buat siapa aja yang butuh," katanya pada Pak Bambang. "Cerita di laptop itu... mungkin bisa bantu orang yang lagi ngerasa hilang."

Pak Bambang menerima kotak itu. "Mas sudah ketemu jalan pulang?"

Ananta tersenyum—senyum yang tulus, bukan lagi senyum yang tidak sampai ke mata. "Aku ngerti sekarang. Pulang itu bukan tentang kembali ke tempat yang sama. Pulang itu tentang bisa tidur nyenyak di malam hari, tanpa ditimpa pertanyaan yang nggak ada jawaban."

"Mas udah bisa?"

"Kadang-kadang. Nggak setiap malam. Tapi lebih sering dari dulu."

Mereka berjabat tangan. Ananta pergi, kembali ke Makassar dengan pesawat sore.

Kotak itu disimpan di ruang arsip gedung. Tidak ada yang tahu isinya, sampai lima tahun kemudian, seorang mahasiswa arsitektur magang di kantor manajemen gedung menemukan dan membaca catatan-catatan itu.

Dia terpukau. Dia meminta izin untuk mengangkat cerita ini jadi proyek akhirnya. Judulnya: "Arsitektur Kesepian: Ketika Ruang Kota Membentuk Jiwa yang Kosong".

Proyek itu memenangkan penghargaan. Dipamerkan. Dibicarakan. Dan cerita Ananta, Nina, dan Kirana menjadi simbol bagi generasi yang merasa tersesat di kota besar—bahwa mereka tidak sendirian.

Bahwa boleh lelah. Boleh berhenti. Boleh bertanya: Untuk apa semua ini?

Dan boleh tidak punya jawaban. Yang penting tetap bernapas. Tetap mencoba. Tetap ada.

 

-      Tamat   -

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Cerpen
Semua Orang Pergi, Tak Ada yang Benar-Benar Pulang
HaiiStory
Novel
Bronze
Mimpi - Gadis Berkerudung Merah Muda
Imron Mochammad Alghufara
Novel
The Actor Next Door
Yudith Maretha
Novel
Misi Cinta Paling Sulit Sedunia
Muhammad Haikal
Skrip Film
DEADLINE
Mahfrizha Kifani
Flash
Firasat
Oktafiana
Novel
Bronze
Polemik Kehidupan Dibalik Keceriaan
EMERENCIA
Novel
Bronze
Ineffable
Arsyika awalina
Novel
Bronze
SELALU ADA RUANG UNTUK PULANG
Ifha Karima
Cerpen
Senyuman Terakhir Sang Kepala Keluarga
Amanda Chrysilla
Novel
Berdamai dengan Patah Hati
zuzty hanis
Novel
Baby Orca
Dianikramer
Skrip Film
Diary-nya
Riwisssss
Skrip Film
TAJAM KE BAWAH, TUMPUL KE ATAS
Rafi Adam Pangestu
Cerpen
Bronze
LEYNERA
Layna Vinsa
Rekomendasi
Cerpen
Semua Orang Pergi, Tak Ada yang Benar-Benar Pulang
HaiiStory