Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
"Izinkan aku mengabadikan namamu di dalam cerita yang kutulis. Walaupun kita tidak bisa bersanding di kehidupan nyata, setidaknya kita tetap bisa bersama dalam cerita novel," ucap Sahira sambil menahan perasaan. Gadis itu menurunkan laptop usangnya ke samping tanpa menutupnya
"Aku sangat senang jika kamu menuliskan namaku dalam ceritamu, tapi aku berharap kita bisa bersama bukan hanya sebatas cerita novel saja," sahut Titan penuh harap.
Sahira tersenyum lalu berkata, "Itu tidak mungkin Titan, kau akan segera menikah dengan gadis pilihan keluargamu, jadi berhentilah mengharapkan sesuatu yang tidak akan terwujud," tambah Sahira dengan perasaan hancur.
Dia tersenyum menyembunyikan sesak yang kian menghantam dada. Ini adalah pertemuan terakhir mereka sebelum Titan menikah dengan wanita pilihan keluarganya.
"Sahira, kenapa jalan kita harus seperti ini." Titan mendongak menatap langit yang berhiaskan bintang dengan hati sedih.
Langit malam begitu indah, dihiasi taburan bintang dan sinar bulan. Berbanding terbalik dengan hati dan perasaan dua insan yang kini bernaung di bawahnya. Suasana hening sesaat, baik Titan maupun Sahira sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Cinta itu butuh kesetaraan, Titan. Setara dari segi harta, tahta dan rupa, sementara aku tidak memiliki semua itu," ujar Sahira memecah kebisuan. Dadanya sesak.
"Apakah itu penting?" Titan menoleh ke arah Sahira yang masih betah memandangi gemerlap bintang.
"Untuk orang seperti aku itu tidaklah penting, tapi bagi keluargamu itu sangat penting. Bagi kalian, kami adalah orang yang tidak jelas,” kata Sahira. Dia menarik napas dalam sebelum melanjutkan kalimatnya. “ Memang benar, hidup kami kedepannya belum jelas seperti apa, bahkan sekadar untuk makan hari esok saja harus berpikir lagi,” lanjutnya dengan hati yang terasa seperti dihujani ribuan jarum.
"Kenapa kita tidak kawin lari saja, Sahira. Kita saling mencintai, kita bisa mulai semua dari nol." Titan menatap Sahira yang mengarahkan pandangannya ke langit dengan sungguh-sungguh.
"Titan … seorang perempuan bisa melawan restu orang tua demi lelaki yang dia cintai, tapi tidak dengan laki-laki. Aku tidak mau kamu menjadi anak yang durhaka, selain itu aku tidak mau rumah tangga kita bermasalah nantinya karena ketidak ridhoan orang tuamu," jelas Sahira.
Rasanya air mata itu ingin segera tumpah karena tidak kuat lagi menahan perasaan, tetapi ia harus membendung setidaknya hingga Titan pergi. Sahira ingin Titan melihat dirinya baik-baik saja. Sahira yang selalu kuat, Sahira yang tahan banting.
"Kita saling mencintai, kalau ada masalah dalam rumah tangga bukankah itu wajar?"
"Titan, percayalah, suatu hari nanti kita akan saling melupakan. Kamu akan bahagia dengan keluarga kecilmu, begitu juga aku, aku akan menemukan orang yang mencintaiku dan aku cintai. Kami juga akan bahagia dengan keluarga kecil kami. Jika kita dipertemukan hari ini, itu hanya sebatas singgah sebelum kita melanjutkan perjalanan masing-masing." Sahira kali ini memberanikan menatap mata Titan.
"Apakah si kaya dan si miskin tidak boleh jatuh cinta?" Sorot mata Titan menggambarkan kekecewaan.
"Yang terjadi diantara kita sudah menjadi jawabannya."
"Aku menyesal bertemu denganmu, Sahira," ucap Titan, ia menghela napas berat. Lalu menatap hamparan rumput di mana kini mereka duduk.
"Kenapa?" Sahira menatap dalam mata Titan dan Titan pun membalas tatapan itu.
"Aku menyesal mengapa kita saling mengenal," sahutnya dengan suara lirih dan kembali memandang tanah.
Sahira tersenyum menutupi sakit yang kian menghunjam dan mengalihkan pandangan ke depan. "Takdir kita hanya untuk saling mengenal bukan untuk memiliki." Gadis itu menarik napas dalam dan mengembuskan perlahan. “Tapi aku tidak menyesal. Semua ini adalah bagian dari perjalanan hidup,” lanjut Sahira dengan pedih.
Sahira meraih laptop dan menutupnya. Dia berdiri dan mulai melangkah meninggalkan Titan. Angin malam berembus mengiringi langkah membuat perasaan semakin tersayat-sayat.
"Terima kasih untuk dua tahun ini, Sahira ...." ujar Titan yang membuat sang gadis menghentikan langkah. Namun, tidak menoleh. “Aku sangat bahagia, walaupun cerita kita begitu singkat,” lanjutnya dengan suara serak.
"Aku pergi Titan, selamat tinggal!" Sahira kembali melangkah meninggalkan lelaki tersebut. Setetes air mata berhasil lolos meruntuhkan pertahanan.
“Semoga kamu bahagia,” lanjutnya pelan yang hanya mampu didengar olehnya.
Titan hanya menatap Sahira dengan mata yang berkaca-kaca. Sepi dan hancur itu semakin terasa seiring langkah gadis yang dicintainya semakin menjauh.
"Selamat tinggal, cinta," bisiknya lirih.
Titan dan Sahira pertama kali bertemu karena sebuah kesalahan kecil. Malam itu Sahira bermaksud mengirimkan naskah lomba ke redaksi Star Media, tetapi karena lelah sepulang dari bekerja dan terburu-buru, ia justru mengirimnya ke alamat E-mail pribadi Titan Wicaksana, salah satu pemilik jaringan toko buku terbesar di negeri ini.
Titan yang sedang memeriksa pekerjaannya mengernyitkan dahi melihat sebuah E-mail yang tidak dikenal masuk. Hampir saja ia menghapusnya sampai mata itu menangkap subjeknya: “Sahira_Selamattinggalcinta_Lomba Cerpen.” Entah dorongan dari mana, ia justru membuka lampiran itu dan membacanya. Sejak paragraf pertama Titan tahu naskah itu lain dari yang lain.
Titan pun membalas E-mail itu dengan beberapa kritik, saran dan pujian singkat. Ketika Sahira membacanya, ia baru menyadari kalau telah salah kirim. “Astaghfirullah! Kenapa bisa salah.”
Gadis itu menepuk jidat, malu sekaligus tak percaya, tetapi seulas senyum justru terbit di bibirnya.
“Terkadang semesta hanya butuh satu kesalahan kecil untuk mempertemukan dengan orang yang tepat,” gumamnya senang.
Sejak saat itu Titan dan Sahira sering berbalas E-mail. Membahas buku, kepenulisan dan dunia media. Titan kagum dengan semangat, optimisme dan cara berpikir Sahira yang unik.
Setelah sekitar tujuh bulan berbalas E-mail, Star Media mengadakan seminar dan Sahira diundang sebagai peserta. Disitulah mereka pertama kali bertemu secara langsung.
Pertemuan pertama itu terasa hangat. Titan dan Sahira mengobrol banyak tentang buku dan tulisan, mereka tertawa, dan merasa nyaman satu sama lain. Dari seminar itu, mereka mulai sering bertemu untuk membahas naskah baru atau sekedar ide-ide yang muncul.
Setiap pertemuan membuat mereka semakin mengenal kepribadian, mimpi, dan semangat masing-masing. Titan kagum pada cara Sahira melihat dunia dengan optimisme, sementara Sahira terpikat pada kepedulian dan ketenangan Titan.
Lama kelamaan, rasa kagum itu berubah menjadi rasa yang lebih dalam. Kedekatan mereka tumbuh menjadi perasaan yang sulit diabaikan. Akhirnya mereka memutuskan untuk berpacaran.
Meski tahu jurang perbedaan diantara mereka begitu nyata, tetapi mereka tetap berjalan mencoba melewati jurang pemisah itu. Bagi mereka tidak ada yang tidak mungkin jika cinta sudah bicara.
Namun, nyatanya cinta saja tidak cukup. Sahira harus menerima kenyataan pahit ketika Titan dijodohkan dengan gadis pilihan keluarganya. Gadis yang berasal dari keluarga yang sama seperti Titan.
“Maaf, Sahira. Aku dijodohkan oleh orang tuaku,” ucap Titan dengan suara bergetar dari balik telepon.
Mendengar itu, hati Sahira seperti ditikam pisau. Matanya berkaca-kaca, tubuhnya mendadak lemas. ada rasa kecewa mengapa lelaki itu tidak memperjuangkannya.
Namun, ia sadar Titan bukan miliknya, tetapi milik keluarganya. Masa depan lelaki itu sudah dirancang sejak kecil. Siapalah dirinya yang tiba-tiba ingin masuk ke keluarga yang sudah tertata itu. Dirinya hanya gadis biasa, yang masa depannya sedang diperjuangkan.
“Sahira!” panggil Titan dari balik telepon. Setetes air mata meluncur begitu saja dari sudut mata dan sahira segera menghapusnya.
“I-iya,” sahut Sahira terbata. Dia berusaha terdengar baik-baik saja dan menyembunyikan tangisnya.
“Maafkan aku,” ucapnya sekali lagi penuh penyesalan. Di balik telepon Titan juga menyembunyikan air mata. Dadanya benar-benar sakit, seperti jantungnya baru saja dicabut paksa.
“Tidak perlu minta maaf, Titan. Kamu tidak salah. Pergilah, kamu berhak mendapatkan yang terbaik,” kata Sahira sambil menahan perasaan. Dia mencoba tersenyum ditengah perasaan sakit yang mendera.
“A-aku sangat mencintaimu, Sahira,” ungkap Titan yang semakin mengoyak hati sang gadis.
Lelaki itu diam sejenak menekan perasaan sebelum melanjutkan kalimatnya. “Bolehkah kita bertemu untuk yang terakhir kalinya, Sahira?” pintanya penuh harap.
Hati Sahira menolak. Tidak ingin menemui lelaki itu, lelaki yang telah memberinya cinta dan luka. Namun, ia sadar itu bukanlah sikap yang dewasa. Hubungan mereka dimulai secara baik-baik dan harus berakhir dengan baik juga.
“Baiklah, Titan. Di tempat biasa, ya.” Sahira menyetujui dan menentukan tempatnya. Dia harus menguatkan hati untuk pertemuan terakhir itu.
Ingin rasanya Sahira marah pada takdir. Namun, ia sadar bahwa melawan takdir hanya akan menambah luka.
Ia akan menyimpan kenangan indah itu sebagai pelajaran dan kekuatan bahwa terkadang cinta tak harus memiliki, tetapi merelakan dengan lapang dada. Bukankah titik tertinggi dalam mencintai adalah mengikhlaskan? Dan Sahira sudah melakukannya. Sejak pertemuan malam itu pula, Sahira dan Titan tidak pernah bertemu lagi.
Selesai