Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Seperti biasanya, aku mengambil cuti libur sehari semalam di awal bulan.
Liburan kali ini sudah kurencanakan untuk kugunakan berkumpul bersama teman-temanku malam nanti—kebetulan sekali malam ini adalah malam minggu, waktu favorit banyak anak muda untuk menikmati suasana malam.
Sore itu aku sudah bertemu salah satu temanku untuk membicarakan rencana kami. Kami sepakat bertemu di rooftop salah satu pusat perbelanjaan besar di Kota Solo—tempat yang mungkin sudah sangat akrab bagi banyak orang.
Sebelumnya aku pulang ke rumah pamanku untuk bersiap-siap.
Jika ada yang bertanya di mana rumah asliku berada, rumahku jauh di Tangerang, Jawa Barat. Aku merantau ke Jawa Tengah untuk bersekolah, dan kini aku duduk di bangku kelas 10.
Di rumah hanya ada pamanku. Bibiku dan sepupuku sedang berada di luar negeri untuk beberapa urusan. Hari mulai menggelap. Biasanya, saat aku libur, aku menelepon orang tuaku. Jadi hari ini pun aku berniat mengabari mereka bahwa aku sedang libur.
Sesampainya di rumah paman—dan karena aku juga sedang lapar—pamanku sudah menyiapkan makan malam. Sambil makan aku mencoba menghubungi orang tuaku.
Kutelepon mereka… 3 detik, 5 detik, 10 detik, 14 detik.
“Kenapa lama sekali?” gumamku. Tidak seperti biasanya.
Saat sebagian makananku sudah habis, panggilan itu akhirnya tersambung.
Kulihat keadaan di seberang gelap. Wajah orang tuaku hanya diterangi cahaya ponsel, sedikit bergetar, seolah mereka sedang berada di dalam mobil.
Setelah memberi salam, aku bertanya kepada ibuku,
“Bu, mau pergi ke mana?”
“Mau ke rumah sakit, Dek,” jawabnya.
Aku terkejut. Perasaanku langsung tidak enak.
“Loh, mau apa ke sana, Bu?”
Wajah ibuku tidak berseri seperti biasanya.
“Nenekmu masuk ICU, Dek. Detak jantungnya melemah. Doakan saja, ya… semoga lekas pulih.”
Aku melanjutkan makan, tetapi jauh lebih lambat dari sebelumnya. Hatiku tidak tenang.
“Oke, Bu…” hanya itu yang mampu keluar dari mulutku.
“Ya sudah, Dek. Nanti telepon lagi, ya? Ibu sudah mau sampai,” ucap ibuku sebelum menutup telepon.
Aku mengakhiri panggilan itu dengan perasaan gelisah. Tapi aku tetap mencoba menenangkan diri, karena aku sudah berjanji untuk berkumpul bersama teman-temanku. Maka aku segera bersiap-siap.
Pukul 19.34
Udara dingin, tapi tubuhku terasa gerah. Dalam perjalanan ke tempat berkumpul, aku mengetahui teman-temanku sudah tiba lebih dulu. Kami hanya berjalan-jalan dan mengobrol sambil makan sedikit camilan. Namun sepanjang waktu itu, pikiranku tetap terbebani. Aku tidak bisa tenang.
Jam hampir menunjukkan pukul sepuluh kurang. Udara rooftop semakin dingin, dan aku tidak ingin pulang terlalu malam. Jadi aku memutuskan pulang.
Sesampainya di rumah, aku tidak langsung tidur.
Biasanya, saat libur aku begadang hingga menjelang fajar. Tapi malam ini pikiranku terus kembali pada perkataan ibuku. Ada ketakutan yang mengganggu.
Keesokan paginya aku terbangun dengan secangkir teh panas yang sudah tersedia di sampingku. Sepertinya pamanku baru saja meletakkannya. Aku membawanya ke meja makan dan melihat pamanku bersiap untuk bermain badminton, seperti rutinitas minggu pagi biasanya.
“Di meja makan sudah paman siapkan sarapan. Kamu makan dulu, ya? Paman mau main badminton sebentar. Tidak apa-apa kan tinggal sendiri?”
“Tidak apa-apa, Paman. Terima kasih,” jawabku.
Hari ini aku memang tidak punya rencana apa pun. Mungkin lebih baik menjaga rumah saja.
Beberapa waktu kemudian, saat aku sedang bermain ponsel sambil rebahan, notifikasi dari grup keluarga muncul. Perasaanku kembali tidak enak. Dengan ragu aku membuka pesan itu.
“Jantung Nenek semakin melemah. Detaknya tidak terdeteksi di layar monitor. Kata dokter, pilihannya cuma dua: tekan jantung, dengan risiko tulang rusuk patah… atau perbanyak doa saja.”
Aku meletakkan ponsel dan berbaring. Kepalaku terasa penuh.
Tidak ada kata-kata yang mampu keluar selain doa.
Aku ingin sekali pergi ke sana, ke rumah sakit itu.
Namun aku tidak membalas pesan itu. Aku tidak tahu harus berkata apa.
Sore harinya aku kembali ke sekolah, karena sekolahku berasrama. Pamanku mengantarku sampai dekat area sekolah. Setelah bertemu teman-temanku sebentar, aku masuk asrama.
Malamnya aku sangat lelah dan langsung tidur.
Pagi hari berikutnya aku bangun dengan rasa sangat mengantuk. Matahari bahkan belum terbit. Tapi aku harus bangun untuk olahraga pagi, seperti biasa.
Aku berharap mendapat kabar baik hari ini.
Tapi… harapanku tidak bertahan lama.
Setelah olahraga dan hendak mandi, salah satu guru menghampiriku sambil menunjukkan nomor orang tuaku di ponselnya.
“Ini kontak orang tuamu, bukan?”
“Iya, Pak.”
Lalu keluar kalimat yang tidak ingin kudengar seumur hidup.
“Nenekmu meninggal semalam, sekitar jam enam sore.”
Aku terdiam. Tanganku gemetar. Badanku menggigil.
Aku hanya bisa tersenyum pahit dan berkata,
“Terima kasih, Pak, sudah menyampaikan.”
Aku pergi mandi dalam keadaan bingung dan hampa. Air terasa jauh lebih dingin dari biasanya.
Selesai mandi, aku mencari guru itu lagi. Aku menelepon orang tuaku dan berkata, “Aku ingin pulang. Tolong carikan tiketnya, ya, Pak.”
Awalnya ayahku mengatakan aku tidak perlu pulang. Tapi aku memohon, meyakinkannya bahwa beberapa hari izin tidak masalah. Akhirnya ia menyetujui dan mencarikan tiket.
Siang hari, setelah pelajaran selesai, guruku berkata,
“Kamu sudah dapat izin. Bisnya jam lima sore. Kamu boleh keluar jam dua.”
“Terima kasih banyak, Pak.”
Aku segera makan dan menyiapkan barang-barangku. Pamanku mengantarku ke agen bus. Kami tidak sempat berbicara lama. Aku merasa tidak enak harus berpisah lagi begitu cepat.
Bus sempat delay hampir satu jam, tapi akhirnya aku tetap bisa berangkat sebelum malam.
Selama perjalanan, aku hanya bermain ponsel. Tidak ingin memikirkan apa pun.
Jam kedatanganku seharusnya jam tiga dini hari. Tapi aku sempat tertidur sebentar dan melewatkan pemberhentianku. Untungnya pemberhentian selanjutnya tidak terlalu jauh, jadi orang tuaku masih bisa menjemputku.
Saat bertemu mereka, aku melihat mata ibuku masih sembab. Dalam perjalanan pulang, ia menceritakan semuanya. Nenek sudah berhari-hari berada di ICU, dan tidak ada yang boleh masuk kecuali untuk keperluan tertentu. Keluarga menunggunya siang dan malam.
Nenek jatuh sakit tepat setelah mengunjungi rumahku untuk melihat cicitnya yang baru datang dari Tuban. Sorenya, saat hendak kembali ke Jakarta, jantungnya melemah dan punggungnya terasa sakit. Ia langsung dibawa ke IGD dan malamnya dipindahkan ke ICU.
Itu terjadi hari Jumat—satu hari sebelum aku libur.
Dan pada Minggu sore, sekitar jam enam, ia meninggal.
Jenazahnya dimakamkan hari Senin siang di pemakaman dekat Kampus Trisakti.
Hari ini aku akan mengunjungi makamnya.
Di rumah nenek masih ada sisa-sisa jamuan keluarga yang datang. Aku beristirahat sejenak. Jam menunjukkan pukul tiga dini hari; aku bisa tidur sebentar.
Pagi harinya hujan turun deras. Berbeda dengan Solo yang panas. Hujan bertahan lama, hingga siang. Setelah reda, kami bersiap berangkat ke rumah nenek di Jakarta untuk menjemput kakek dan tante sebelum menuju pemakaman.
Sesampainya di sana, aku juga mencari tiket untuk kembali ke Solo. Aku diberi izin tiga hari oleh kepala sekolah, termasuk hari Senin saat aku berangkat ke Jakarta.
Setelah semua siap, kami berangkat ke pemakaman. Langit tampak mendung, dan tanah masih agak basah. Saat tiba di depan makam, suasana hening.
Aku mendoakan nenekku.
Ibu, tante, dan kakakku kembali menangis.
Aku, ayah, dan sepupuku hanya diam.
Sedangkan kakek justru bercakap-cakap dengan penggali kubur. Aku tersenyum. Ia lelaki kuat; di usianya yang sepuh, ia pasti sudah banyak melewati perpisahan.
Aku menatap nisan bertahun “1944”.
Betapa panjang hidup nenekku.
Betapa banyak hal yang telah ia alami.
Kata ibuku, nenek meninggal dalam keadaan tersenyum.
Mungkin karena ia sempat melihat cicitnya sebelum pergi.
Setelah selesai, kami kembali ke rumah nenek. Rencananya aku akan menginap satu malam di sana sebelum pulang ke Tangerang esok paginya.
Malam itu aku mengobrol sebentar dengan kakakku, lalu begadang sendirian—kebiasaan buruk yang tidak pernah kuhentikan.
Pagi hari, aku harus kembali ke rumah karena siang ini aku harus check-in tiket untuk kembali ke Solo.
Aku berpamitan pada kakek dan tanteku. Mungkin baru akhir tahun nanti aku bisa bertemu mereka lagi. Banyak hal menantiku di sekolah, termasuk pekan ujian.
Dalam perjalanan pulang, sinar matahari menerobos kaca mobil, menghangatkan udara dingin pagi itu. Jalanan masih sepi. Radio mengalun pelan. Aku melamun…
Ini adalah 10 menit terakhirku di bus menuju sekolah. Cuti akan segera berakhir, dan aku kembali pada kehidupan biasanya.
Dari semua cuti yang pernah aku ambil, inilah satu-satunya yang tidak pernah kuinginkan.
Mimpi buruk setiap anak rantau.
Aku takut… jangan sampai ini terulang lagi.
Tujuh menit terakhir, aku mengingat nenekku.
Ia salah satu orang yang paling perhatian padaku.
Ia yang selalu memenuhi kebutuhanku, mengingatkanku makan, memberiku uang jajan, menyuruhku menginap di rumahnya.
Dan sering… sering sekali aku mengabaikannya.
Bahkan di saat-saat terakhirnya, aku tidak ada di sisinya.
Licik sekali aku, ya…
Kini aku hanya bisa berjanji dalam hati.
Semua kebaikannya tidak akan kusia-siakan.
Akan kubalas semampuku.
Akan kubuat ia bangga.
Lihat aku dari sana, Nek.
Terima kasih atas segala kebaikanmu.
Bus berhenti.
Aku turun, kembali melangkah ke tempatku bertumbuh.
Jam menunjukkan pukul sepuluh malam.
Dan seperti kalimat yang selalu kukatakan setiap kali pamit merantau:
Nek, aku pamit ya.
Aku mau lanjut sekolah lagi besok.
Dijaga kesehatannya, jangan lupa makan dan minum obat.
Kita ketemu lagi nanti, Nek.
Kalau begitu, aku balik dulu, ya.
Selamat tinggal, Nek…