Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Slice of Life
Bronze
Selamat Hidup Kembali, Ra
0
Suka
771
Dibaca

Pukul 02.17 dini hari. Botol sabun cuci piring berwarna hijau terang, yang biasanya bersembunyi di sudut wastafel kos, kini tergeletak mencolok, setengah kosong. Aku tidak ingat persis kapan mulai menuangkannya ke dalam gelas. Yang terpatri jelas dalam ingatanku hanyalah pesan singkat terakhir dari Arga, sebuah kalimat dingin yang merobek segala harapanku:

 

“Maaf, Ra. Aku nggak bisa nikah sama kamu. Minggu depan batalin aja semua.”

 

Tujuh hari lagi. Hanya tujuh hari tersisa menuju hari yang seharusnya menjadi awal kebahagiaan abadi. Undangan pernikahan, yang telah dirancang dengan detail dan penuh cinta, sudah tersebar ke empat ratus tamu undangan. Gaun pengantin impian, hasil pemilihan berbulan-bulan, sudah melewati sesi fitting ketiga, sempurna membalut tubuh. Kue test food telah ludes kami berdua habiskan, ditemani tawa renyah saat berebut topping stroberi. Dan kini, semuanya batal. Hancur. Melalui sebuah pesan WhatsApp, bukan panggilan telepon yang seharusnya. Bukan dengan tatapan mata yang bisa menjelaskan segalanya, yang mungkin bisa sedikit meredakan sakit.

 

Sungguh ironis. Namaku Rara, sebuah nama yang melambangkan keanggunan, namun dia selalu memanggilku “Ra” saja. Katanya, agar singkat, agar secepat napas. Sekarang, napas itu terasa berhenti, tercekik oleh “Ra” yang sama.

 

Rasanya? Persis seperti ditelan air sabun sungguhan. Tenggorokan terasa panas membakar, perut bergejolak mual tak tertahankan, dan kepala berdenyut-denyut penuh rasa malu yang teramat sangat. Aku sebenarnya tidak ingin mati. Aku hanya ingin tidur panjang, sangat panjang. Berharap ketika terbangun nanti, semua sudah berubah. Keadaan ini, rasa sakit ini, semua telah lenyap.

 

Namun, yang terbangun malah selang NGT yang mencuat dari hidungku, sebuah pemandangan yang asing dan menyakitkan. Lampu rumah sakit memancarkan cahaya putih yang begitu menyilaukan, ditambah aroma karbol yang menusuk hidung, menciptakan suasana steril yang mencekam. Ibuku duduk di kursi plastik yang keras, kerudungnya miring tak beraturan, mata sembab namun tak sepatah kata pun terucap dari bibirnya. Bapak di pojok ruangan, khusyuk memegang tasbih, matanya kosong menatap plafon yang dihiasi noda rembesan air, seolah mencari jawaban di sana.

 

“Masih hidup, Nduk,” ...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp1.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Cerpen
Bronze
Selamat Hidup Kembali, Ra
Shanty Dewi Shanty
Cerpen
Bronze
Tidak Ada Tutug Oncom di Neraka
Imas Hanifah N.
Cerpen
Empat Babak Menuju Kenyamanan
lidhamaul
Cerpen
HALTE
Billy Yapananda Samudra
Cerpen
Seperti mati, hidup juga punya banyak alasan
tseasalt
Cerpen
Bronze
Merawat Anak Pelakor
Novita Ledo
Cerpen
My Annoying Boss
Rein Senja
Cerpen
Bronze
Perempuan dari Masa Depan & Masa Lalu
Hans Wysiwyg
Cerpen
Bronze
CHARLIE
Shinta Larasati Hardjono
Cerpen
CURHAT CUCU
Kiki Isbianto
Cerpen
Royadi dan Jin Ifrit dari dalam Kendi
Ryan Esa
Cerpen
Afeksi Sang Rasi Phoenix
Fianaaa
Cerpen
Bronze
Lurik
Shinta Larasati Hardjono
Cerpen
Ucup Si Programmer
Saputra
Cerpen
Mamamia
Lany Inawati
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Selamat Hidup Kembali, Ra
Shanty Dewi Shanty
Novel
Bronze
Topeng Di Balik Kemeja Flanel
Shanty Dewi Shanty
Novel
Hujan Di Tengah Badai
Shanty Dewi Shanty
Cerpen
Bronze
Meja Terang
Shanty Dewi Shanty
Cerpen
Bronze
BATAS
Shanty Dewi Shanty
Cerpen
Bronze
KEPINGAN KACA
Shanty Dewi Shanty
Cerpen
Bronze
JANJI YANG KOSONG
Shanty Dewi Shanty