Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Slice of Life
Bronze
Selamat Hidup Kembali, Ra
0
Suka
825
Dibaca

Pukul 02.17 dini hari. Botol sabun cuci piring berwarna hijau terang, yang biasanya bersembunyi di sudut wastafel kos, kini tergeletak mencolok, setengah kosong. Aku tidak ingat persis kapan mulai menuangkannya ke dalam gelas. Yang terpatri jelas dalam ingatanku hanyalah pesan singkat terakhir dari Arga, sebuah kalimat dingin yang merobek segala harapanku:

 

“Maaf, Ra. Aku nggak bisa nikah sama kamu. Minggu depan batalin aja semua.”

 

Tujuh hari lagi. Hanya tujuh hari tersisa menuju hari yang seharusnya menjadi awal kebahagiaan abadi. Undangan pernikahan, yang telah dirancang dengan detail dan penuh cinta, sudah tersebar ke empat ratus tamu undangan. Gaun pengantin impian, hasil pemilihan berbulan-bulan, sudah melewati sesi fitting ketiga, sempurna membalut tubuh. Kue test food telah ludes kami berdua habiskan, ditemani tawa renyah saat berebut topping stroberi. Dan kini, semuanya batal. Hancur. Melalui sebuah pesan WhatsApp, bukan panggilan telepon yang seharusnya. Bukan dengan tatapan mata yang bisa menjelaskan segalanya, yang mungkin bisa sedikit meredakan sakit.

 

Sungguh ironis. Namaku Rara, sebuah nama yang melambangkan keanggunan, namun dia selalu memanggilku “Ra” saja. Katanya, agar singkat, agar secepat napas. Sekarang, napas itu terasa berhenti, tercekik oleh “Ra” yang sama.

 

Rasanya? Persis seperti ditelan air sabun sungguhan. Tenggorokan terasa panas membakar, perut bergejolak mual tak tertahankan, dan kepala berdenyut-denyut penuh rasa malu yang teramat sangat. Aku sebenarnya tidak ingin mati. Aku hanya ingin tidur panjang, sangat panjang. Berharap ketika terbangun nanti, semua sudah berubah. Keadaan ini, rasa sakit ini, semua telah lenyap.

 

Namun, yang terbangun malah selang NGT yang mencuat dari hidungku, sebuah pemandangan yang asing dan menyakitkan. Lampu rumah sakit memancarkan cahaya putih yang begitu menyilaukan, ditambah aroma karbol yang menusuk hidung, menciptakan suasana steril yang mencekam. Ibuku duduk di kursi plastik yang keras, kerudungnya miring tak beraturan, mata sembab namun tak sepatah kata pun terucap dari bibirnya. Bapak di pojok ruangan, khusyuk memegang tasbih, matanya kosong menatap plafon yang dihiasi noda rembesan air, seolah mencari jawaban di sana.

 

“Masih hidup, Nduk,” ...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp1.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Cerpen
Bronze
Selamat Hidup Kembali, Ra
Shanty Dewi Shanty
Cerpen
Bronze
Lelaki Bermata Teduh
Munkhayati
Cerpen
Bronze
Dikejar-kejar Polisi
Titin Widyawati
Cerpen
Kamu Gapapa?
Godok
Cerpen
Bronze
Memecat Bos
Ravistara
Cerpen
Batas Pacuan
Kopa Iota
Cerpen
Obral Obrol Tetangga
Lovaerina
Cerpen
DUA PULUH HARI YANG TERLEWAT
ibupertiwi
Cerpen
Bronze
Mendadak Jadi Pelajar Sekolah Dasar
Nuel Lubis
Cerpen
Bronze
Pekerja Kontrak
Karlia Za
Cerpen
Kabar Kandasnya Kepercayaan Kuncoro
Bella Paring Gusti
Cerpen
Bronze
Ibu dan Segala Kompleksitasnya
Siti Aminatus Solikah
Cerpen
Bronze
Perjuangan Menggapai Mimpi di Tengah Cobaan
Azhar Ainun Hidayat
Cerpen
Hal Yang Lucu
Cassandra Reina
Cerpen
Bronze
Rahasia di Balik Surat Cerai
Dewi Anggraini
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Selamat Hidup Kembali, Ra
Shanty Dewi Shanty
Cerpen
Bronze
Meja Terang
Shanty Dewi Shanty
Novel
Bronze
Topeng Di Balik Kemeja Flanel
Shanty Dewi Shanty
Novel
Hujan Di Tengah Badai
Shanty Dewi Shanty
Cerpen
Bronze
KEPINGAN KACA
Shanty Dewi Shanty
Cerpen
Bronze
JANJI YANG KOSONG
Shanty Dewi Shanty
Cerpen
Bronze
BATAS
Shanty Dewi Shanty