Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Slice of Life
Bronze
Selamat Hidup Kembali, Ra
0
Suka
1,324
Dibaca

Pukul 02.17 dini hari. Botol sabun cuci piring berwarna hijau terang, yang biasanya bersembunyi di sudut wastafel kos, kini tergeletak mencolok, setengah kosong. Aku tidak ingat persis kapan mulai menuangkannya ke dalam gelas. Yang terpatri jelas dalam ingatanku hanyalah pesan singkat terakhir dari Arga, sebuah kalimat dingin yang merobek segala harapanku:

 

“Maaf, Ra. Aku nggak bisa nikah sama kamu. Minggu depan batalin aja semua.”

 

Tujuh hari lagi. Hanya tujuh hari tersisa menuju hari yang seharusnya menjadi awal kebahagiaan abadi. Undangan pernikahan, yang telah dirancang dengan detail dan penuh cinta, sudah tersebar ke empat ratus tamu undangan. Gaun pengantin impian, hasil pemilihan berbulan-bulan, sudah melewati sesi fitting ketiga, sempurna membalut tubuh. Kue test food telah ludes kami berdua habiskan, ditemani tawa renyah saat berebut topping stroberi. Dan kini, semuanya batal. Hancur. Melalui sebuah pesan WhatsApp, bukan panggilan telepon yang seharusnya. Bukan dengan tatapan mata yang bisa menjelaskan segalanya, yang mungkin bisa sedikit meredakan sakit.

 

Sungguh ironis. Namaku Rara, sebuah nama yang melambangkan keanggunan, namun dia selalu memanggilku “Ra” saja. Katanya, agar singkat, agar secepat napas. Sekarang, napas itu terasa berhenti, tercekik oleh “Ra” yang sama.

 

Rasanya? Persis seperti ditelan air sabun sungguhan. Tenggorokan terasa panas membakar, perut bergejolak mual tak tertahankan, dan kepala berdenyut-denyut penuh rasa malu yang teramat sangat. Aku sebenarnya tidak ingin mati. Aku hanya ingin tidur panjang, sangat panjang. Berharap ketika terbangun nanti, semua sudah berubah. Keadaan ini, rasa sakit ini, semua telah lenyap.

 

Namun, yang terbangun malah selang NGT yang mencuat dari hidungku, sebuah pemandangan yang asing dan menyakitkan. Lampu rumah sakit memancarkan cahaya putih yang begitu menyilaukan, ditambah aroma karbol yang menusuk hidung, menciptakan suasana steril yang mencekam. Ibuku duduk di kursi plastik yang keras, kerudungnya miring tak beraturan, mata sembab namun tak sepatah kata pun terucap dari bibirnya. Bapak di pojok ruangan, khusyuk memegang tasbih, matanya kosong menatap plafon yang dihiasi noda rembesan air, seolah mencari jawaban di sana.

 

“Masih hidup, Nduk,” ...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp1.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Cerpen
Bronze
Selamat Hidup Kembali, Ra
Shanty Dewi Shanty
Cerpen
Rumah-Rumah yang Pernah Menolak Kami
Septia Arya Nugraha
Cerpen
Bronze
PELANGI USAI BADAI
ari prasetyaningrum
Cerpen
Obrolan di Malam Hari
Hai Ra
Cerpen
JEJAK DI JALAN SETAPAK
Alwais qorni
Cerpen
Wibawa Aparat & Kenaikan Harga
Yovinus
Cerpen
Bronze
Saya, Ayah dan Waktu
Best Siallagan
Cerpen
Bronze
Pesugihan Abah Miun
Bisma Lucky Narendra
Cerpen
Bronze
Keputusan Abah
T. Filla
Cerpen
Bronze
Janji Manis Penguasa dan Caleg
Yovinus
Cerpen
Bronze
KE MANA SI MBAK?
Citra Rahayu Bening
Cerpen
Basket
shirley
Cerpen
KARBAK 85
Sky Melankolia
Cerpen
Bronze
Kepergian Yu Sekar
Titin Widyawati
Cerpen
Cinta yang Tersisa
SURIYANA
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Selamat Hidup Kembali, Ra
Shanty Dewi Shanty
Cerpen
Bronze
KEPINGAN KACA
Shanty Dewi Shanty
Cerpen
Bronze
Meja Terang
Shanty Dewi Shanty
Cerpen
Bronze
JANJI YANG KOSONG
Shanty Dewi Shanty
Cerpen
Bronze
BATAS
Shanty Dewi Shanty
Novel
Hujan Di Tengah Badai
Shanty Dewi Shanty
Novel
Bronze
Topeng Di Balik Kemeja Flanel
Shanty Dewi Shanty