Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Pagi itu, langit gelap. Bulir-bulir air menyeka debu dunia. Aku sudah siap dengan kemeja putih kotak-kotak. Rambutku rapi, klimis. Meja kerja yang biasa kusantap setiap malam, kini harus jadi sarapanku. Aku duduk berhadapan dengan pesawat komunikasi sederhana bernama laptop. Siku-sikunya berdiri mantap di atas papan kayu meja serbuk ini. Aroma kopi tercium dari gelas yang kuletakkan di atas meja. Ia adalah benteng terakhirku dalam mengalahkan rasa dingin sejak subuh yang masih menawan kehangatan mentari yang ditelannya saat ini. Semuanya sudah siap. Namun, aku tidak.
Sudah kubaca berkas dokumen dari pasienku ribuan kali. Sudah kutemui juga dia lewat Zoom, video call, bahkan pernah sekali kudatangi langsung tempat kediamannya di Balaraja, tetap masih kurasa peliknya hatiku. Tiap aku janji temu dengannya, berkali-kali juga aku menerawang ke atas. Aku meminta Allah supaya meridhoi, mudah-mudahan prosesnya akan cepat. Kujanjikan anakku Gisya kita akan berangkat ke Sukabumi sesegera mungkin setelah konsultasiku selesai. Setelah 7 kali kutemui pasienku, tidak ada yang kutemukan bisa membantu. Malah aku yang sepertinya hampir gila.
Pasienku Jamal, tidak seperti orang gil...