Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Oleh : Fakhrurrazi M. Qasim
SEDALAM SUNGAI DAN SEGELAP BOLA MATAMU
Hujan bukan lagi hal yang istimewa bagiku kini. Tak seperti dua puluh tahun silam ketika aku adalah seorang remaja. Remaja yang berlarian dan berkejar-kejaran dengan dua orang sahabatku di bawah deras air yang termuntahkan dari langit. Senja itu. Aku masih bisa merasakan tawar dan sejuk airnya yang jatuh menabrak bibirku ketika indahnya hawa dingin menggeroroti tubuh. Aku masih merasakan. Masih merindukannya. Waktu itu udara masih sejuk. Lumpur masih murni. Tanah tanpa campuran sampah sehingga pipi-pipi kami tak sedikitpun terluka ketika menyungkur di pelukan bumi.
Sementara di hari ini rasanya jauh berbeda dengan dua puluh tahun silam. Rasa hujan yang kudapatkan kini hanyalah berasa asam. Begitulah kini, esok, lusa dan seterusnya. Selama negeri ini masih dikuasai kaum industrial maka jangan harap akan terjadi perubahan.
Kaum industrial telah sepuluh tahun berkuasa. Berawal dari kejatuhan rezim militer yang meninggalkan resesi besar. Kaum industrialpun muncul dengan janji-janji manis meningkatkan perekonomian rakyat. Namun di satu sisi mereka merusak alam semesta. Tak ada lagi udara sejuk kecuali hawa berat yang menyesakkan dada. Tak ada lagi air bersih kecuali cairan limbah beracun. Tanah-tanah kami pun tak bisa lagi ditumbuhi tanaman apapun. Apa yang bisa diharapkan dari rezim yang menjual air bersih dengan harga yang sangat mahal? Bayangkan, satu galon air bersih di negeri ini setara dengan harga sepeda motor bebek di tahun dua ribu.
Kebijakan-kebijakan kaum industrial telah berubah menjadi tidak bijak. Apalagi ketika mereka makin mempersulit masyarakat dalam mendapatkan hak hidup. Air adalah kebutuhan pokok, apa jadinya jika air diperjual-belikan dengan harga tinggi? Sementara hak mengolah air hanyalah milik mereka, kaum industrial. Mereka mengekang hingga menghancurkan segala bentuk usaha pengolahan air oleh masyarakat. Siapapun yang mencoba mengolah air akan dipidanakan dengan segala bentuk tuduhan. Akibatnya terjadi kekacauan di mana-mana, rakyat membangkang. Di sana- sini pecah perlawanan dan pemberontakan, seperti juga kami yang merupakan salah satu di antara para pemberontak.
* * *
Kami adalah Garda Tanah Merah dan aku, Sarifudin adalah pendiri sekaligus pemimpinnya. Lima tahun sudah kelompok kami berdiri. Sebelumnya begitu lama kami bersabar dalam ketaatan pada kepemimpinan kaum industrial. Hingga saat kedua orang tuaku gugur dalam peristiwa penyerangan warga sipil di Tenda Putih, aku memutuskan bangkit melawan.
Aku benar-benar menyibukkan diri dengan perlawanan sampai-sampai aku lupa pada hak-hak diriku. Jangankan untuk menikah, urusan makan dan mandipun kadang aku lupa. Akibatnya rambut keritingku semakin kusut, gigi putihku menjadi kusam dan mataku jadi berkantung akibat begadang. Dan inilah aku, laki-laki berusia tiga puluh lima tahun yang terus berusaha. Berusaha untuk teguh menegakkan keputusanku, keputusan untuk melawan.
Ternyata keputusanku didukung oleh banyak pihak. Para tokoh agama, petinggi militer hingga kelompok buruh bahu-membahu menyokong perjuanganku. Bahkan seluruh faksi perlawanan akhirnya bersatu memberi dukungan penuh pada kami, Garda Tanah Merah.
Kami adalah satu-satunya oposisi di negeri ini dan kami mampu memberi tekanan perlawanan fisik pada rezim tiran. Para petinggi kami kebanyakan adalah mantan jenderal di era rezim militer puluhan tahun silam. Dari para jendral inilah seluruh anggota kami mendapatkan pelatihan militer. Kelompok kamipun dikenali sebagai milisi pemberontak.
* * *
Ini adalah hujan yang sama dengan waktu itu meskipun rasa dan seleraku tak lagi sama. Aku hanya bisa memandangi tetes demi tetes airnya menabraki kaca mobil kami. Tetesan-tetesan itu sama persis dengan peluh di sekujur tubuhku kini. Midun yang mengemudipun terlihat bermandikan keringat hingga jambangnya basah. Beruntung aku tidak memiliki jambang sehingga wajahku bersih dari genangan keringat yang tersangkut di situ. Kulit Rin yang putih dan cantik nampak menjadi kian glowing akibat keringatan. Berbeda dengan kulitku yang cokelat, kulitku tak peduli pada perawatan apapun.
Namun siapa pula yang tidak akan keringatan ketika dikejar oleh para sipir yang semuanya mantan militer? Dengan persenjataan lengkap, tak henti-hentinya mereka menyemburkan tembakan dan ledakan. Dua orang anggota pasukanku di box belakang masih terus menyerang dengan tembakan-tembakan balasan. Suara ledakan dari laras-laras AK47 mereka terdengar lebih berat dan merdu. Lebih renyah dibandingkan ledakan dari laras-laras M16 milik para sipir di kejauhan sana. Terdengar kasar memekakkan telinga. Tidak hanya itu, hantaman-hantaman proyektil peluru para sipir itu sejak tadi terdengar sangat nyaring di telingaku. Tembakan-tembakan itu mengetuk, menghantam box belakang mobil kami. Aku melirik kaca spion di depanku. Dua mobil Humvee itu sejak tadi terus mengejar kami. Mereka pasti takkan membiarkan kami lolos begitu saja. Bahkan ketika tertangkappun mereka tentu takkan membiarkan kami hidup.
Boneka monyet di atas dasbor semakin bergoyang-goyang karena getar jalanan beraspal kasar yang kami lalui. Tanganku masih bersandar pada punggung gagang pistol Colt M1911A1 yang telah kusarungkan di tepi lambung kiri. Ini untuk berjaga-jaga jika sewaktu-waktu ada mobil musuh yang merapat memepet kami. Suara hujan tak lagi terdengar, tertutupi dengan deru mesin mobil. Perjalanan ke markas sepertinya masih jauh karena jembatan Folklore pun belum juga kelihatan. Kami semua diam. Entah apa yang ada di benak Rin dan Midun, yang pasti di dalam benakku adalah kalut dan takut yang kusembunyikan dalam wajah penuh wibawa agar mereka tak tahu kelemahanku.
Aku, Rin dan Midun sesekali refleks merunduk saat kembali terdengar suara tembakan dari mobil-mobil di belakang kami. Suara-suara ledakan dari laras M16, AK47 hingga senapan mesin berat NSV buatan Rusia. Semuanya meluncurkan puluhan bahkan ratusan proyektil logam. Itulah yang menghantam bodi mobil kami berulang-ulang sejak tiga puluh menit berlalu. Beruntung sekali yang kami kendarai adalah mobil tahanan sehingga kami bisa menikmati fitur bodi anti peluru dan kaca anti peluru serta luasnya ruang belakang yang kini dihuni oleh dua orang anggota pasukanku yang tersisa. Mereka masih terus memberi tembakan-tembakan balasan. Puluhan selongsong peluru berhamburan dari senapan mereka. Magasin demi magasin berganti. Semuanya berceceran di lantai mobil sampai aku khawatir kami akan kehabisan amunisi untuk bertahan. Lontaran ledak granat pun turut meramaikan belakang mobil kami yang oleng dibuatnya. Hanya keberuntungan pada takdirlah yang membuat kami selalu selamat dari setiap dorongan ledakannya.
Rentetan demi rentetan tembakan terus menghujani mobil kami. Dua orang anggota pasukanku tadi masih berusaha membalas tembakan-tembakan tersebut. Mereka adalah kawan-kawanku yang setia, bukan orang sembarangan. Semuanya mantan militer bahkan sebagian besar adalah mantan perwira yang memimpin pasukan khusus. Seperti juga Midun yang saat ini mengemudikan mobil.
Banyak dari anggota pasukanku yang berguguran dalam beberapa pertempuran sebelumnya. Adapun malam ini, delapan orang dari mereka mungkin takkan kembali. Akan banyak air mata yang kami curahkan. Akan semakin dalam pula kesedihan. Takkan cukup jua penghormatan yang akan kami berikan pada mereka yang tertinggal gugur di penjara. Semua demi sebuah tujuan kebaikan. Demi pembebasan alam semesta yang harus diwujudkan. Pertempuran sengit di penjara barusan telah memaksa mereka bertahan dengan segala cara. Semuanya demi memperlambat langkah para sipir dan memuluskan langkah pelarian kami.
* * *
Membebaskan Rin Serizawa. Itulah misi utama kami malam ini. Para tiran industrial itu sengaja menahannya selama hampir setahun demi menjaga rahasia Pulau Burdah, satu-satunya pulau yang alamnya belum tersentuh racun polusi industri.
Hujan belum reda. Di sela-sela pertempuran aku duduk mengapit Rin yang nampak bingung dan khawatir. Mungkin saja dia shock atas kejadian barusan. Kami memang tiba-tiba saja datang menyerbu penjara lalu membebaskannya serta membawanya kabur.
“Kau tahu mengapa kami membebaskanmu?” Tanyaku memecah bungkam yang sejak tadi menegangkan. Keringat masih membasahi wajah Rin. Dia menggeleng kebingungan.
“Kami butuh petunjukmu menuju ke Pulau Burdah, kau tahu?
“Untuk apa kesana?” Tiba-tiba saja dia melontarkan jawaban setelah hampir meledakkan emosiku dengan bekunya diam. Aku menarik nafas lalu menghembuskannya pelan.
“Hanya pulau itu, satu-satunya tempat yang bersih dari polusi di bumi ini.”
“Apa untungnya bagiku?”
“Kami akan bertahu di mana adikmu, Satoshi berada.” Jawabku sambil memandangi wajah cantiknya. Ia kini kelihatan kaget setengah mati setelah mendengar nama yang baru kusebutkan.
“Baik, aku setuju, setelah semua ini berakhir, aku bantu kalian.” Jawabnya tegas, nampak sekali ketertarikannya pada hal Satoshi sehingga secepat itu dia setuju.
“Kami juga butuh bibit pohon Harmala dari pulau itu.”
“Maksudmu? Kalian lakukan semua ini demi kayu bakar?”
“Bukan, tapi pohon itu sangat berharga bagi kami.”
“Maksudmu?” Dia bertanya seraya merunduk mengikuti kami yang refleks merunduk mendengar suara tembakan menghujani mobil kami.
“Harmala dapat mengurai racun polusi di tanah, di air kami.”
“Oh, begitu, ya, ya...”
“Kau pasti tau betapa rusaknya negeri kami akibat polusi. Air bersih begitu mahal, udara segar hampir tak ada.”
“Hm...”
“Kami sangat berharap kau mau membantu.”
“Apa untungnya buatku?”
“Kamu akan dibayar.” Jawaban terakhirku ini membuatnya mengangguk-angguk dan aku berharap itu adalah tanda persetujuan.
Aku seperti mendengar deru baling-baling helikopter. Itu sepertinya jauh di depan sana. Midun terus mengendara dengan kecepatan tinggi membuatku merasa seakan melayang. Di depan kami nampak jembatan Folklore. Dari jauh nampak keremangan lampu helikopter Apache yang terbang menghadang di atas berkedip-kedip di hadapan kami. Seorang berbaju sipir keluar dari pintu helikopter sambil menyandang bazooka yang diarahkan ke mobil kami.
“Ssssssbumm!!” Mobil berkuncang hebat dan kaca di depan kami seketika merontok seperti garam yang berjatuhan. Aku hanya melihat asap, merasakan panas api juga ledakan keras. Midun telah lepas kendali. Rin seketika refleks memeluk tubuhku dengan erat. Mobil kami begitu saja berbelok menabrak pagar jembatan hingga koyak, kami terjerumus ke sungai. Pintu mobil terbongkar berlepasan. Kami masing-masing terlempar keluar menyebur ke dalam gelapnya air sungai malam ini.
* * *
Aku berenang sambil menopang tubuh Rin yang tak sadarkan diri. Mobil telah tenggelam entah di dasar sungai bagian mana. Sepertinya kami telah hanyut cukup jauh dari jembatan. Tak lagi terdengar suara helikopter. Tak ada pula suara mobil dan tembakan. Kini bahkan setitik sinar pun tak ada. Hanyalah sisa bias cahaya langit malam yang hampir tak memantul di riak air sungai. Midun dan dua anggotaku yang lain belum juga terlihat namun aku sama sekali tak mengkhawatirkan mereka. Mereka adalah para mantan anggota pasukan khusus. Aku tahu betul kemampuan mereka. Mereka sangat mumpuni dalam bertahan hidup.
Justru yang aku khawatirkan adalah Rin. Sampai saat inipun ia belum sadarkan diri. Pelipis gadis ini berdarah dan ada memar biru di jidat kirinya. Sepertinya ia terluka parah. Aku menarik tubuhnya ke daratan. Kulihat ia masih bernafas dengan baik. Mungkin ia hanya pingsan, kubiarkan saja dia terbaring di tanah.
Malam masih sangat gelap untuk dapat melihat di area mana sebenarnya kami berada. Aku terpaksa harus duduk. Biarkan saja angin mengeringkan pakaianku di badan. Kali ini lelah mulai terasa mengalir di punggungku. Hampir saja aku tertidur hingga kudengar suara erangan Rin.
“Kamu siapa?” tanya Rin keheranan menatapku lugu. Sangat lugu bahkan hampir terlihat dungu. Pertanyaannya ini terasa jauh lebih mengherankan daripada kejadian apapun malam ini. Apakah dia terbentur? Jangan-jangan dia hilang ingatan?
“Rin Serizawa?” Kucoba menanyakan namanya sendiri. Aku ingin meyakinkan diri bahwa prasangkaku tentang gelagatnya adalah salah. Namun kebingungan di wajahnya malah semakin meyakinkanku. Perempuan ini memang nampak baru saja kehilangan banyak hal penting dari ingatannya. Aku melihat kebingungan di matanya. Aku merasa semakin heran pada kenyataan. Seakan kenyataan tengah menertawaiku, mempermainkan segala perjuanganku. Apa arti pengorbanan kami? Apa arti pengorbanan para anggota yang berguguran dalam pertempuran tadi?
Aku belum mampu menerima rasa lelah. Aku masih bertanya-tanya dalam hatiku tentang apa yang harus aku lakukan besok dan lusa? Kebingungan di bola mata Rin begitu gelap, segelap air sungai limbah beracun di hadapan kami. Bagaimana caraku menghadapi kenyataan? Kenyataan tentang aku yang telah kehilangan satu-satunya petunjuk penting tentang pulau Burdah. Pulau yang selama sepuluh tahun ini kami dambakan.
Angin malam berhembus. Tiupannya menggelitik kuduk dan bahuku yang kedinginan, sama dinginnya dengan kegagalanku. Aku tak tahu kesabaran jenis apa lagi yang harus kupersiapkan untuk menghadapi kenyataan esok. Kenyataannya, kini aku harus merawat seorang perempuan yang menderita hilang ingatan. Merawatnya hingga sadar. Kulihat malam perlahan menelanku dalam rasa malu. Dinginpun mengusapku dengan putus asa. Adakah sebuah keajaiban yang mampu menghiburku?
-* * *-
Poso, 04 Januari 2025