Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Aduh, gimana ini. Kakiku terasa sangat lemas. Menyeret kaki bergantian, seperti ada beban yang mengelayuti. Café Bohram sudah tepat di depan mata. Hari Minggu begini, café lumayan sepi.
Aku meratapi kebodohanku mengikuti kemauan Winda untuk bertemu menyerahkan kartu undangan pernikahan. Mending kalau hanya bertemu dengan Winda, tapi ini juga dengan Abram.
Catat Abram!
“Win, kamu dimana?” Aku menelepon untuk memastikan keberadaan Winda yang katanya akan datang tepat waktu. Namun dari luar café Bohram, tidak terlihat si mata empat Winda yang selalu berkacamata.
“Eh, gue masih terjebak macet nih! Banyak galian air ternyata di Condet.” Teriak Winda dari handphone.
“What? Elo masih jauh banget dong. Kita kan janjian di SCBD, Sudirman.”
“Abram sudah datang kok. Dia tadi ngabarin gue. Elo ngobrol sama dia dulu aja. Gue sudah sampai Cililitan kok.”
“Tapi Win. Udah lama banget tidak ketemu dia. Rasanya aneh.”
“Halah, apa sih. Hanum, dia itu sahabat kita saat di SMA. Anggap aja seperti sekolah dulu, nggak usah kaku banget.”
Winda menutup telepon.
Keringat dingin mulai datang membasahi wajahku. Terlihat sesosok laki-laki berahang tegas dengan wajah oriental duduk sambil meminum kopi di pojok café. Kemeja putih berbahan linen halus, dengan semiran rambut mengkilap. Abram selalu terlihat sempurna.
Perutku tiba-tiba mulas. Setelah sepuluh tahun lamanya tidak bertemu. Rasanya aku tidak sanggup menemuinya sendirian. Aku harus ke toilet dulu. Tidak mungkin menemuinya sekarang.
“Hai Hanum. Sini.” Abram tiba-tiba melambaikan tangan.
Terlambat sudah untuk menenangkan diri sebentar di toilet. Aku berusaha tenang. Rileks. Ini hanya pertemuan sebentar, lalu pulang. Buru-buru aku semprotkan parfum aroma bayi ke jilbab dan pakaian.
“Kamu ngopi?” Tegur Abram sambil meneguk hot espresso-nya.
Aku menggeleng, sambil menelan air liur. Ingin sekali minum iced latte, tapi lidahnya sangat kaku untuk berucap. Rasanya tidak percaya, bertemu kembali dengan cinta pertamanya di SMA. Walaupun mereka dulu bersahabat, tapi setelah lulus, aku kadang hanya bertemu dengan Winda. Sedangkan Abram dan Jason menghilang dan susah dihubungi.
Abram tersenyum lebar, memamerkan gigi putihnya yang tersusun rapi. Beda sama gigi aku yang ada ginsul di bagian atas.
“Iced tea aja kalau gitu. Tambah nasi goreng kampung kesukaan kamu. Tunggu sebentar.” Abram bangkit dari tempat duduk menuju kasir.
Wangi parfum pohon pinusnya yang menenangkan menyebar, saat Abram bangkit dari duduknya. Bau khas Abram dari SMA dulu. Badan tinggi tegap dengan bahu yang lebar, dengan langkah yang gagah. Kenangan sepuluh tahun lalu muncul kembali di hadapanku.
Pertemuan pertama di SMA Mangunkusumo dengan Abram saat hari pendaftaran.
Mataku tertuju pada ruangan yang bertuliskan angka 151-300, bersebelahan dengan ruangan bertuliskan angka 1-150. Ruangan penerimaan siswa baru di SMA favorit memang terbagi dua.
Semua siswa SMP yang datang dengan orang tuanya, menunjukkan wajah gembira. Hanya aku yang datang sendiri, sambil membawa berkas-berkas dari SMP. Ibu yang guru SD sekaligus wali kelas, harus membagikan rapor juga hari ini. Sedangkan ayah terlalu malas untuk mengurusiku. Baginya aku yang baru lulus SMP ini sudah besar, harus bisa mendaftar sendiri untuk masuk sekolah.
Rasa malu menjalari wajah, saat ada siswa lain yang berbisik-bisik pada ibunya, melihat kedatanganku yang hanya sendirian. Tidak hanya dandanan orang tua mereka yang terlihat sangat mapan. Deretan mobil yang diparkir sepanjang jalan masuk ke SMA, menunjukkan mereka memang anak-anak yang kaya raya. Setelah mendaftar SMA, tiba-tiba ada yang menepuk pundak.
“Eh, kamu sendirian juga? Ke kantin yuk jajan, laper nih!” Seorang anak laki-laki bertubuh tinggi dan tampan berwajah oriental tersenyum lebar padanya. Tangannya menarik lengan bajuku, seakan aku sudah mengiyakan. Padahal aku ingin menolaknya, tapi sayang tenaganya begitu kuat.
Di kantin, aku seperti anak buah yang patuh pada perkataan anak laki-laki itu. Mengikuti perintahnya untuk minum dan makan, tanpa bersuara. Untungnya dia membelikan semuanya, karena uang di sakuku hanya cukup untuk ongkos naik angkot pulang.
Sejak itu, anak laki-laki yang kemudian mengenalkan diri bernama Abram, akhirnya menjadi sahabatku. Lebih tepatnya dia yang selalu hadir di hadapanku. Ayahnya sudah meninggal dan ibunya salah satu pengusaha ekspor yang selalu sibuk. Dia selalu datang dengan Winda yang diakui sebagai sepupunya dan Jason sahabatnya dari SMP. Aku pun menyukai mereka, sehingga kami akhirnya kerap bersama.
“Melamun aja, ini nasi gorengnya dimakan, mumpung hangat.” Abram membuyarkan kenanganku.
“Terima kasih.”
Nasi goreng dengan bumbu khas kampung, ditaburi bawang goreng dan telor ceplok di atasnya sangat pas. Tidak sadar aku makan dengan lahap.
“Hati-hati nanti keselek.”
Abram memperhatikanku. “Hanum masih pendiam ya. Untung cantik, jadi tidak masalah. Walau aku kangen melihat rambutmu yang panjang ikal, sekarang sudah berjilbab.”
Uhuk. Aku terbatuk, dan buru-buru minum es teh, untuk melancarkan tenggorokan.
“Sebenarnya nggak juga. Hanya canggung, kita sudah lama tidak bertemu.”
“Hahaha.. Dan ternyata masih tampan seperti dulu ya.”
“Geer. Kamu memang terlalu percaya diri.”
“Hanum juga sudah pandai merias diri dan mengenakan jilbab. Dulu ingat tidak, aku suka jahil menarik rambut ikalmu yang berkuncir dua.”
“Iya, sangat menyebalkan. Aku ingin balas menarik rambutmu, tapi kamu terlalu tinggi.”
Abram tertawa lucu.
Ah, kenapa kita harus ketemu saat ini? Apa bila kita bertemu, sebelum aku bertemu dengan Bima. Waktu akan memberikan kesempatan kepadaku, untuk memilikimu?
“Kerja apa sekarang?”
“Admin direksi, lumayan repot karena sekretarisnya baru saja resign.”
“Kalau mau pindah kerja ke sekolah, kabarin. Kebetulan aku join sama teman, membuat sekolah dasar islam.”
Abram memperlihatkan akun media sosial sebuah sekolah dasar islam di Jakarta. Bangunannya lumayan bagus, bertingkat dua dan masih baru.
Tanganku agak ragu memberikan undangan berwarna biru muda ke Abram, berhiaskan goresan emas ranting dan daun.
“Aku mau fokus ke pernikahan dulu. Untuk pindah kerja nanti dulu, Bram. Datang ya. Insya Allah dua minggu lagi aku menikah. Jangan lupa bawa anak dan istri.”
Abram menatap undangan itu dengan wajah yang terlihat berat menahan beban.
“Aku sudah bercerai, Num. Selamat untuk pernikahan kamu.”
"Oh, maaf. Aku turut berduka.”
Abram menggelengkan kepala. “Aku dan istriku memang sama-sama keras. Lima tahun tidak cukup untuk membuat kami akur.”
Abram terdiam, seperti ada yang menganggu pikirannya. Beberapa detik kemudian, dia mencoba tersenyum.
"Ahh, lupakan tentang aku. Ceritakan tentang calon suami kamu.”
“Standar sih. Baik, sholat lima waktu, sayang, pengertian dan pekerja keras.”
Abram menatapku dalam. “Kamu jatuh cinta padanya?”
Cinta? Aku bingung menjawabnya. Setelah sekian kali patah hati, sudah tidak ada lagi kata ‘cinta’ di dalam hatiku. Lebih tepatnya aku tidak peduli. Kepalaku menggeleng pelan.
“Jadi kamu tidak mencintainya, tapi mau menikah dengannya. Wah aneh sekali.”
“Bagi sebagian besar orang, menikah karena cinta itu penting. Tapi bagiku, menikah itu sebuah bentuk kompromi. Bila semua sudah sesuai dan nyaman, aku akan menerimanya dengan mudah. Usiaku juga tidak muda lagi, tahun ini 30 tahun.”
“Hahaha.” Abram tertawa lagi. “Mungkin kamu benar, aku menikah dengan cinta tapi akhirnya begini.”
Aku selalu mengingat tawa itu dalam sepuluh tahun terakhir, sejak kami berpisah. Seakan-akan aku merasa candu dengan suara dan rupa pemilik tawa itu. Abram selalu tertawa setiap saat, baginya hidup selalu mudah. Siswa pintar, tampan, berkulit putih, pemain basket, dan idola bagi siswi lainnya. Tawa itu penyemangat aku setiap hari, saat meratapi hidup karena pertengkaran kedua orang tuaku hampir setiap hari. Aku selalu menatapnya, menganggapnya sebagaimana matahari. Semangat setiap hariku sekolah melihat senyuman Abram. Ya senyuman yang menjadikan alasan bagiku untuk hidup lagi buat esok hari.
“Gimana kalau kamu menikah dengan aku? Kita sepertinya cocok, aku bisa membuat kamu nyaman.”
Hah? Aku merasa ada yang aneh. Abram pasti bercanda. Apa dia menyukaiku? Bukannya dulu, Abram hanya menatap satu siswi perempuan. Aku ingat sekali, namanya Silvi. Gadis berbulu mata lentik, dengan mata yang besar dan pipi mempunyai lesung pipit di kanan dan kiri.
“Aku serius.”
Terdengar handphonenya berdering, Abram menerima telepon. “Iya Win. Oh, masih kok. Kamu lagi di jalan kan? Iya ditungguin.”
Abram mengakhiri percakapan dengan Winda, lalu beralih menatapku lagi.
“Setelah lulus SMA selama sepuluh tahun, kamu tidak pernah mencariku Bram.”
Mata Abram menatapku dalam. “Aku terjebak dalam pergaulan yang salah di kampus, terkena narkoba dan harus berjuang lulus.”
“Silvi?”
Abram tak sanggup menahan tawa. “Oh gadis itu. Aku tidak pernah benar-benar menyukainya. Sebenarnya yang aku sukai itu kamu. Tapi Jason sudah menyukaimu duluan. Aku tidak mungkin merusak persahabatan kita di SMA.”
Aku teringat dengan email dari Jason. Ya, email berisi pengakuan cinta padaku, karena dia berada di Purwokerto, sedangkan aku di Jakarta. Aneh sekali. Kenapa dia tidak datang menemuiku? Atau setidaknya meneleponku? Bukannya aku mencintai Jason, tapi bila dia bisa mengetuk hatiku, mungkin aku akan menerimanya saat itu.
"Kamu dan Jason sama anehnya dalam menyatakan cinta,” kataku spontan.
“Maaf. Ini bukan lamaran yang sopan sebenarnya. Aku berharap mungkin ada keajaiban. Walau memang waktunya sudah tidak memungkinkan.”
Rasanya tidak percaya. Cinta pertamaku menyatakan cinta. Haruskah aku mengiyakannya? Tapi bagaimana dengan Bima, calon suamiku? Bagaimana kedua keluarga kami? Bagaimana dengan persiapan pernikahan yang sudah rampung hampir seratus persen? Kepalaku penuh dengan pertanyaan.
“Kita cocok dalam segala hal. Aku berjanji akan membahagiakan dirimu.”
“A.. a.. ku..”
Suaraku terputus dengan notifikasi bunyi pesan dari Bima.
Sayang, hari Minggu kita membeli emas kan untuk mahar? Sudah disiapin nih, uang untuk membeli dua puluh gram emas. Kamu boleh pilih perhiasan yang kamu suka.
Aku tidak membalas pesan itu. Malah mematikan handphone, karena biasanya bila tidak langsung membalas, Bima akan menelepon untuk memastikan keadaanku baik-baik saja. Dia terlalu mengkhawatirkanku. Entahlah, setelah selalu merasakan patah hati sebelum bertemu dengannya. Aku merasa risih dengan perhatian Bima yang terlalu berlebihan menurutku. Seharusnya aku senang, karena Bima tidak kalah tampan dibandingkan Abram. Mungkin aku yang belum memberikan seluruh hatiku untuk Bima.
“Gimana? Masalah uang biaya pernikahan yang sudah keluar biar aku yang ganti semua. Asalkan kamu mau menerimaku. Aku harus membereskan perceraian ini dulu, agar kita bisa sah menikah secara negara.”
Detik demi detik berlalu, aku berusaha keras untuk berpikir. Apa yang harus aku putuskan?
“Aku bisa memberikan rumah, mobil dan bagian kepemilikan sekolah bila kamu menikah denganku.” Tangan Abram tiba-tiba meraih tanganku.
Aku terdiam seperti terhinoptis. Pelan aku mengangguk.
Buk. Ada tangan menonjok dagu Abram dengan keras.
“Lepasin tangan lo dari calon istri gue.”
Tiba-tiba di hadapanku ada Bima yang marah besar pada Abram. Tangannya meraih kerah Abram dengan mata merah menyala. Aku tidak pernah melihat Bima semarah ini. Kenapa Bima bisa sampai di sini?
“Heh sudah. Jangan berkelahi di sini! “Teriakan Winda menyadarkanku.
Ternyata Winda juga sudah sampai.
“Num, tarik Bima cepatan. Malu dilihat orang-orang.”
Saat itu Abram sudah mentok di dinding, tidak berkutik dan menunjukkan wajah kaget.
“Siapa lo?” Abram berteriak kencang.
“Bima, calon suami Hanum. Bisa-bisanya merayu calon istri orang. Sialan.”
Buk. Tonjokan Bima sekarang mengarah ke perut Abram.
Abram jatuh dan mengerang kesakitan.
Semua orang di café melihat pada kami. Semua mendukung Bima. Winda berusaha melerai mereka berdua. Tinggal aku yang bingung dan hanya menatap diam. Akhirnya satpam menyeret kami keluar dengan alasan ketenangan.
Abram bangkit dan merapikan kemejanya yang agak kusut karena ditarik Bima. Dia memandang Bima dengan tidak senang.
“Janur kuning pernikahan belum dipasang. Sebelum akad, kalian belum sah menjadi suami istri.”
Bima mengepal tangannya dengan kuat. “Lo belajar agama Islam nggak sih? Ngaji nggak lo? Perempuan yang sudah dilamar, tidak boleh dilamar laki-laki lain.”
Abram memandang dengan mengejek.
“Bagaimana Hanum? Kamu pilih aku atau dia? Aku suka kamu sejak pertama kali kita bertemu. Sekarang aku mapan dan single karena sudah duda. Apa itu belum cukup?”
“Jangan begitu Bram. Hanum sudah sebar undangan pernikahan. Bagaimana mungkin bisa dibatalkan?” Winda protes.
Aku memejamkan mata. Abram yang pandai. Abram yang perhatian. Abram yang dulu selalu menjadi mataharinya. Di matanya selalu ada Abram. Andai waktu berhenti sejam saja, untuk memberikan waktu berpikir.
Bima terlihat kecewa.
“Kalau kamu bingung, biar aku saja yang membatalkan pernikahan ini Hanum. Kamu tahu, aku membaca utasan laki-laki ini di media sosial Trits. Dia memang ingin membuat kamu membatalkan pernikahan. Apa kamu pikir dia sungguh-sungguh menyukaimu? Di utasan dia hanya ingin mendapatkanmu karena istrinya menceraikannya. Dia tidak ingin hidup sendirian.”
Bima melangkah pergi begitu saja. Hanum masih bingung dengan perasaannya.
“Kok dia bisa tahu akun Trits Abram?” Winda penasaran.
“Aku yang beritahu, saat minta ijin untuk bertemu dengan kalian berdua. Tapi aku tidak membaca utas Abram tentang diriku.”
“Sudah biarkan saja dia pergi, Hanum. Ada aku di sini.”
Abram tersenyum dan mengenggam tanganku.
Apa aku benar-benar ingin menikah dengan Abram? Laki-laki cinta pertamaku. Atau ini hanya sekedar obsesi cinta masa lalu?
Winda memperlihatkan handphonenya, menunjuk ke salah satu komentar utas Abram di Trits. Dari perempuan yang mengaku sebagai mantan istrinya. Laki-laki munafik, selingkuh sama teman kantor masih aja ngelak. Syukurin itu perempuan diputus kontraknya oleh kantor lo.
“Cepatan kejar Bima, Num. Apa yang kamu pikirkan lagi? Abram ternyata bukan laki-laki baik.” Teriak Winda.
Apa? Aku seperti tersengat listrik dan melepaskan tangan Abram dengan kasar. Berlari kencang mengejar Bima. Terbayang awal mula bertemu dengannya dari saling kirim pesan di Trits. Dia yang duluan komen di utas-utasku, sampai akhirnya mengajak untuk bertukar pesan dan bertukar nomor handphone. Bima yang polos, tidak pernah memarahinya, mengomentari penampilannya, yang langsung meminta serius menikah di awal pertemuan, Bima yang selalu menuruti kemauanku.
“Bimaaaa…”
Tapi laki-laki itu terus saja berjalan, tanpa menoleh ke belakang.
“Bimaaa.. Tunggu.”
Laki-laki itu semakin menjauh, aku merasa tidak sanggup mengejarnya lagi. Bersandar di tiang listrik, karena kelelahan.
Apa semua sudah berakhir? Apa Bima akan membatalkan pernikahan denganku? Apa aku harus menikah dengan Abram?
Semua pertanyaan bermunculan begitu saja. Mungkin ini yang dinamakan cobaan saat mau menikah. Salahnya aku malah terbawa emosi dan mengiyakan perkataan Abram. Terdengar handphoneku berbunyi.
“Ya Win.”
“Gimana Bima? Kalian sudah baikan?”
“Belum. Bima nggak mau menoleh pas gue panggil.”
Winda menghela nafas berat.
“Gue udah marahin Abram. Resek nih anak, ganggu orang mau menikah aja. Sudah elo fokus menikah sama Bima aja. Abram sudah berjanji nggak bakalan ganggu elo lagi.”
Aku hanya termenung setelah mengakhiri handphone. Entah harus apalagi setelah ini?
“Kamu calon istriku, tidak akan aku biarkan orang lain merebutnya.”
Aku menoleh. Bima ternyata ada di sampingku. Dia kembali datang kepadaku. Oh Tuhan, terima kasih.
“Tidak boleh ada laki-laki lain selain aku di hatimu, Num.”
Aku mengangguk. Ya tidak akan ada lagi, laki-laki lain lagi, hanya Bima.