Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Slice of Life
Sebuah Karya Tanpa Jiwa
6
Suka
3,587
Dibaca

Pasar dan Sebuah Perpisahan

Hari itu pertama kali aku melihatnya, seseorang yang cantik, dengan kulit eksotis yang tampak licin, dan kumis tipis yang entah kenapa terlihat begitu menawan.

Aku hanya bisa menatapnya, terpaku, saat ia tersipu malu di bawah pandanganku.

Dadaku bergetar.

Oh Tuhan, apakah ini… cinta?

Bola matanya yang hitam tampak teduh, memperhatikanku yang mulai salah tingkah.

Aku bahagia. Aku merasa takdir telah mempertemukan kami di sini, di sebuah pasar tradisional yang ramai, penuh suara riuh dan tawa-tawa asing.

Langit tampak cerah di balik tenda plastik yang tembus cahaya. Udara dipenuhi aroma bumbu dapur dan suara ibu-ibu yang sibuk menawar harga. Tapi semuanya mendadak senyap. Hanya ada kami berdua, di dunia yang sementara.

Perlahan Ia mendekat, menerobos ringan melewati kerumunan. Ada getaran yang tak bisa dijelaskan, seperti arus hangat yang menyusup ke seluruh tubuhku. Kami tak sempat bicara, hanya saling tatap dalam diam.

Sampai sebuah suara membuyarkan lamunanku.

Seorang wanita bertubuh gempal berbicara dengan pedagang,

"Bang, lelenya sekilo ya."

Seketika, duniaku runtuh. 

Dia diangkat paksa oleh tangan kasar itu, menggelepar tanpa daya.

Air menyiprat, tubuhnya meliuk panik matanya masih sempat menatapku… seolah memohon waktu sedikit lagi.

Tapi takdir tak memberi jeda.

Ia dibungkus plastik, lalu dibawa pergi. 

Sementara aku, membeku di dasar kolam terpal.

Sendiri, menyaksikan cinta terakhirku dijual… per kilo.

✧༺♥༻✧


Satu Tarikan Napas Terakhir

Setiap pagi, aku bangun dengan harapan yang sama: semoga hari ini ada yang berbeda.

Meski ototku kaku dan leher pegal karena tidur sambil berdiri, aku tetap berharap ada kejutan kecil dari rutinitas yang membosankan ini.

Tidur sambil berdiri memang terdengar aneh, tapi di sini, itu hal yang biasa. Kami semua melakukannya. Bukan karena ingin, tapi karena memang tak ada pilihan.

Kau tahu, tempat ini jelas bukan hotel bintang lima. 

Lebih mirip hostel sempit tanpa ventilasi, pengap, ramai, dan bau apek adalah aroma khasnya.

Tapi, setidaknya aku punya tetangga yang cukup... menghibur.

Sebelah kanan pendiam.

Nyaris tak pernah bersuara, kecuali saat lapar, itu pun cuma mendesah pelan, seolah hidup sudah terlalu berat untuk dikomentari.

Sebelah kiri?

Sumber kegaduhan utama.

Cerewetnya luar biasa.

Setiap pagi dia selalu menyapa dengan topik random: mulai dari mimpi absurdnya tiap malam, sampai kabar burung yang belum tentu benar.

Hidup kami memang membosankan, tapi celotehan anehnya kadang cukup membuatku sedikit terhibur. 

“Hidup ini singkat, Kawan,” katanya kemarin. “Kalau nggak bisa lari, ya jongkok aja asal jangan rebahan.”

Jujur, menurutku itu sama sekali tidak lucu. 

Setiap pagi, ritual di sini tak pernah berubah: 

Lampu menyala tiba-tiba.

Pintu berderit.

Dan aroma makanan yang, entah kenapa…

selalu sama.

Seolah waktu berhenti di menu yang itu-itu saja.

Yang lucu, bukan harinya saja yang terasa berulang.

Penghuninya juga.

Semuanya mirip. Warna kulit sama, bentuk mulut serupa, bahkan gaya rambut pun seragam.

Kadang aku curiga, jangan-jangan kami semua hasil cetakan pabrik, cuma beda nomor.

Tapi belakangan, suasana itu mulai berubah.

Tempat ini perlahan jadi lenggang.

Satu per satu dari mereka pergi, tanpa pamit, tanpa kabar.

Yang kudengar, mereka dipindah ke tempat yang lebih baik.

Tapi tak pernah ada yang kembali… bahkan untuk sekadar bercerita.

Tempat ini, mulai terasa aneh, asing, sunyi. 

Seolah menyimpan sesuatu yang tak pernah bisa ku pahami.

Di tengah rutinitas yang monoton, aku mulai bertanya:

Apa memang beginilah cara hidup bekerja?

Tumbuh cepat. Makan banyak. Lalu diam menunggu.

Jangan-jangan… kami diciptakan hanya untuk memenuhi keinginan mereka. 

Pertanyaan itu menumpuk…

tanpa pernah terjawab. 

Hingga hari ini. 

Giliranku tiba.

Cahaya luar menyilaukan.

Udara hangat menampar wajahku.

Untuk pertama kalinya, aku melihat langit. Bukan cahaya bohlam murahan. 

Tapi langit sungguhan, biru dan lapang. 

Dan dalam satu tarikan napas terakhir, aku mengerti.

Kami dilahirkan bukan untuk hidup, tapi untuk dihidangkan.

“Bang, ayamnya satu ekor ya. Yang gemuk.”

Lalu semuanya gelap.

✧༺♥༻✧


Langkah Kaki Kecil

Kita berpijak di atas bumi yang sama. Tapi mengapa rasanya… tidak semua kaki diperlakukan setara?

Sejak kecil, aku terbiasa hidup di jalanan yang keras. Tak ada pelukan, tak ada tempat kembali. Hanya dinginnya malam dan bau sampah yang setia menemani. 

Aku melangkah dengan satu kaki pincang, sementara mata kiriku buram, bekas dari pertempuran yang tak pernah benar-benar usai. Luka-luka itu bukan sekadar kenangan, tapi bukti bahwa aku pernah mencoba bertahan di dunia yang tak pernah memberiku pilihan.

Meski begitu, aku tak menyerah. Aku tetap bermimpi, suatu hari akan ada seseorang yang memelukku, membawaku ke tempat yang lebih hangat, atau setidaknya… menatapku tanpa jijik.

Tapi setiap kali aku mendekat, mereka hanya melirik sekilas, lalu menjauh. Ada yang mengusir, ada yang mengumpat.

Bahkan tak jarang melempariku dengan sisa makanan basi, seolah aku tak lebih dari sampah yang pantas disingkirkan.

Yang bisa kulakukan hanyalah berlari, menepi, dan menelan pahitnya nasib.

Karena terlahir dengan rupa yang buruk.

Pernah sekali, aku melihat dia yang di sana, bermata bulat, berwajah indah berjalan anggun seolah dunia memang diciptakan untuknya.

Ia disambut dengan tangan terbuka, dipeluk penuh kasih sayang, dipotret, lalu dipamerkan dengan bangga. 

Aku hanya bisa menghela napas pelan.

Mungkinkah aku bisa seperti dia?

Pertanyaan itu sering mampir di kepalaku. 

Apakah hidup ini memang tak adil?

Apakah dunia hanya milik mereka yang rupawan?

Haruskah aku lahir kembali dengan rupa yang lebih indah… hanya untuk sekadar dianggap ada?

Pertanyaan itu terus menumpuk tanpa pernah terjawab. 

Dan aku pun mulai berhenti peduli. 

Malam-malam panjang kulewati di balik kardus lembap, di bawah gerobak berkarat, atau sudut warung kosong. Tak ada kasur empuk, hanya beton dingin dan bau amis yang menempel di tubuh.

Tapi aku tetap hidup.

Karena mungkin, itu satu-satunya cara membalas dunia: bertahan, meski tak pernah dianggap.

Hingga suatu hari, seseorang mendekat. Langkahnya pelan, sorot matanya tak menghakimi. Ia berjongkok di depanku, tak takut, tak jijik.

“Matanya aneh, tapi unik,” katanya sambil tersenyum.

Tangannya menyentuh kepalaku. Hangat. Lembut. Bukan sekadar sentuhan, tapi pengakuan.

Untuk pertama kalinya, aku merasa… mungkin dunia ini tak sepenuhnya kejam.

Mungkin… masih ada ruang kecil untuk seekor kucing jalanan sepertiku, yang pincang, dekil, dan hanya ingin dianggap ada.

✧༺♥༻✧


Di Balik Sangkar Emas

Setiap hari, aku terbangun dalam cahaya yang gemerlap.

Langit-langit di atasku berkilau, gagang pintu pun dilapisi emas.

Mereka bilang aku beruntung, hidupku mewah, tak kekurangan apa pun.

Tapi mereka tak pernah benar-benar tahu apa yang kurasakan.

Aku tidak butuh kilau emas, atau pujian yang datang setiap hari.

Yang kurindukan justru sederhana: udara pagi yang dingin, gemuruh angin liar, dan ruang untuk terbang tanpa batas.

Itulah kebebasan—sesuatu yang tak bisa dibeli, bahkan dengan ribuan keping emas.

Dari luar, segalanya tampak sempurna: sangkar berkilau, makanan berlimpah, pujian datang silih berganti.

Tapi di balik semua itu, tak ada yang benar-benar melihatku.

Mereka memuja suaraku, tapi tak pernah mendengar diamku.

Mereka menikmati pertunjukanku, tapi tak pernah peduli apa yang hilang dariku.

Malam-malam panjang kulewati dengan terus terjaga, hanya untuk membayangkan seperti apa rasanya bebas.

Bukan sebagai bayangan. Bukan sebagai khayalan. Tapi sebagai kenyataan… yang bisa disentuh.

Dan yang paling menyakitkan dari semua ini:

Aku dilahirkan untuk langit,

tapi ditakdirkan untuk dikagumi dari balik jeruji.

Aku sering bertanya dalam hati:

Apakah suara indahku adalah anugerah…

atau justru kutukan yang membelenggu?

Pagi ini, saat tirai dibuka dan cahaya masuk, aku kembali bernyanyi.

Bukan karena ingin,

melainkan karena mereka menunggu.

Mereka menyebutku penyanyi emas—simbol keindahan, aset berharga.

Padahal, tak satu pun dari mereka tahu…

aku hanyalah seekor burung kecil,

yang dulu bebas mengepakkan sayap,

kini terkurung dalam sangkar mewah, bernyanyi demi menghibur manusia, sambil perlahan melupakan… seperti apa rasanya terbang.

✧༺♥༻✧


Jejak Kaki Kelaparan

Mereka membenciku. Bahkan sebelum tahu siapa aku.

Tatapan jijik, teriakan panik, dan ancaman yang datang tanpa alasan. Padahal aku hanya ingin hidup. Bertahan. Mencari secuil sisa dari dunia yang terlalu sempit untuk keberadaanku.

Malam adalah satu-satunya waktu yang terasa aman. Tak ada langkah berat. Tak ada lampu menyilaukan. Hanya senyap… dan aroma samar sisa makanan yang tertinggal.

Saat itulah aku keluar—pelan, mengendap-endap. Menyusuri lantai dingin, menghindari cahaya, mengendus harapan.

Yang lezat sudah dikunci rapat. Yang basi dilempar ke sampah.

Itulah bagianku.

Aku tak mencuri karena serakah. Aku mengambil karena lapar.

Tak ada yang bisa kumiliki selain sisa-sisa yang mereka buang, dan itu pun masih dianggap dosa. 

Saat perutku masih kosong meski lantai sudah kujelajahi, aku hanya bisa diam di balik bayang-bayang, menanti sisa harapan yang tak kunjung datang. 

Kadang, saat menatap mereka tertawa sambil makan, aku bertanya-tanya:

Apa rasanya duduk hangat, kenyang, dan tidak dicaci hanya karena keberadaan?

Pikiran itu sering datang diam-diam… 

Andai aku dilahirkan dengan rupa yang lebih indah dan bersih, mungkin aku akan diberi nama, bukan dikejar dengan sapu. 

Tapi begitulah dunia… hanya berpihak pada yang indah.

Yang kecil dan kotor hanya dianggap pengganggu.

Sedangkan yang lapar hanya pantas dijebak, diusir, dan dimusnahkan.

Mereka selalu melihatku sebagai ancaman. Padahal yang kutakuti, justru suara langkah kaki mereka.

Aku gemetar tiap kali lantai berderit.

Bernapas pun harus pelan, agar tak terdengar.

Dan rasa takut itu… bukan tanpa alasan.

Temanku pernah terperangkap.

Besi itu menutup cepat, dingin dan kejam. Membuat kepalanya remuk. Tewas seketika. Dan mereka tertawa, seolah nyawa kecil itu tak berarti apa-apa.

Sejak saat itu, aku selalu waspada.

Tak ada malam yang benar-benar aman.

Setiap suara, setiap bayangan, bisa jadi akhir yang sama.

Dan malam ini… langkah kaki itu kembali terdengar.

Lampu menyala mendadak, menusuk mataku.

Seseorang berteriak histeris.

Sapu terangkat tinggi, siap menghantam.

Dan saat itu, aku hanya bisa menunduk dan menggumam:

Maaf... aku cuma seekor tikus yang bertahan untuk tetap hidup.

✧༺♥༻✧


Kepak Sayap Terakhir

Dulu, aku bisa menari di bawah cahaya pagi. Melintasi kebun yang harum, singgah di atas kelopak bunga, atau mengepak pelan di bahu anak kecil yang tertawa.

Aku tak pernah bertanya tentang dunia, sebab segalanya terasa cukup: udara yang hangat, bunga-bunga yang mekar, dan langit yang terbentang luas.

Tapi kini, langit itu berubah.

Ia tampak lebih suram, lebih gelap.

Asap menggantung di udara, menyusup ke sela-sela napasku yang kian lemah.

Bunga-bunga mulai menghilang.

Daun-daun tampak layu.

Dan tempat-tempat yang dulu kusebut rumah, perlahan berubah menjadi puing.

Aku terbang lebih rendah dari biasanya.

Bukan karena lelah, tapi karena udara di atas sana terasa tajam dan menusuk.

Dulu, angin membawa serta wangi bunga di setiap ujung embusannya.

Kini, yang tersisa hanya aroma pengap—menyesakkan.

Membuat sayapku terasa berat.

Aku tak tahu apa namanya, tapi dunia ini tak lagi terasa ramah.

Sayapku membawa tubuh ini menyusuri jalan-jalan yang dulu penuh warna.

Taman yang dahulu ramai oleh kelopak dan serbuk sari, kini dipenuhi beton dan debu.

Dan di sanalah kulihat mereka—manusia.

Tertawa sambil menikmati senja, tak sadar bahwa di sekeliling mereka, sesuatu perlahan hilang.

Aku hanyalah kupu-kupu kecil, yang dulu ikut menari dalam keindahan hari-hari kalian.

Tapi kini, aku bahkan tak tahu berapa lama lagi sayap ini bisa mengepak.

Tapi sebelum aku pergi, izinkan aku terbang sekali lagi.

Bukan untuk mencari rumah.

Bukan untuk bertahan.

Melainkan untuk meninggalkan jejak, sebagai tanda bahwa aku pernah menjadi bagian dari dunia ini.

Dari kehidupan kecil yang perlahan memudar, saat manusia terlalu sibuk membangun dunianya sendiri.

Dan jika ini adalah kepak sayap terakhirku, semoga di bawah sana masih ada yang berhenti sejenak, menatap langit yang meredup, lalu bertanya:

“Ke mana perginya keindahan yang dulu pernah menyentuh langit?”

✧༺♥༻✧


Untuk Setiap Napas yang Tersisa

Mereka menyebutku rumah.

Tapi tak pernah merawatku dengan layak.

Fondasiku dibongkar, atapku ditebang, dan ruang tamuku dipenuhi sampah.

Mereka tinggal di dadaku, tapi melubangi tubuhku.

Mereka bernapas lewat paru-paruku, tapi meracuninya.

Mereka bilang aku tempat hidup, tapi perlahan, membuatku mati.

Katanya mereka makhluk paling cerdas.

Tapi entah mengapa, mereka menanam beton dan bertanya ke mana hutan pergi.

Mereka memanaskan udara lalu bingung mengapa es mencair.

Mereka memburu hewan langka, lalu menangis saat semuanya punah.

Begitulah, katanya itu kemajuan.

Padahal rasanya seperti perlahan dihancurkan. 

Pernah aku menggeliat, sekadar batuk lewat gempa atau banjir.

Tapi mereka langsung panik. Heboh. Lalu berkumpul untuk bicara tentang penyelamatan.

Tapi besoknya?

Mereka seolah lupa dan kembali menggali tubuhku, menebar racun dan menyumbat nadiku dengan limbah plastik.

Kadang aku bertanya, mungkinkah aku yang terlalu rewel? Toh, katanya semua ini demi pembangunan. Demi kenyamanan. Demi manusia.

Ah, manusia.

Mereka bilang aku terlalu cerewet, terlalu panas, terlalu sering meledak, terlalu banyak bencana.

Maaf, aku cuma sedang menyesuaikan diri dengan makhluk yang tak pernah merasa puas.

Tapi menahan semuanya sendiri… membuatku merasa lelah. 

Sangat lelah.

Dan porosku tak bisa berhenti, meski tubuhku retak perlahan.

Aku terus berputar—membawa reruntuhan, racun, dan sisa-sisa spesies yang kini tinggal nama.

Lalu dalam gelap, aku berbisik pelan pada Sang Pencipta:

"Jika Engkau masih berkenan... izinkan aku tetap berputar. Bukan untuk mereka yang merusak, tapi untuk mereka yang masih peduli. Sebab tak semua penghuniku lupa cara mencintai."

Jika mereka bertanya siapa aku, akulah Bumi yang tak pernah mereka lihat, tapi selalu menjadi tempat mereka berpijak.

Kini aku tengah sekarat.

✧༺♥༻✧





Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (7)
Rekomendasi dari Slice of Life
Cerpen
Sebuah Karya Tanpa Jiwa
fotta
Cerpen
Bronze
Being a Foster Family - Love, Care, and Commitment
Foster care Gold Coast
Cerpen
Ucup Si Programmer
Saputra
Cerpen
Api Luka Dan Kesuksesan
LISANDA
Cerpen
Bola-Bola Ibu dan Panggung yang Tak Pernah Tutup
Nur Khalifahtul jannah
Cerpen
Bronze
KASIH SEMUSIM LALU
ari prasetyaningrum
Cerpen
Bronze
Lelaki Bermata Teduh
Munkhayati
Cerpen
Bronze
Iri sama Tetangga
Selvi Rain
Cerpen
Bronze
Conversation with Me
hyu
Cerpen
Bronze
Delusi
Nisa Dewi Kartika
Cerpen
Bronze
Galau Mutasi Sang Peneliti
spacekantor
Cerpen
Bronze
Merah Putih di Setiarejo
AndikaP
Cerpen
Pesawat Kertas "Surat Kasih Untuk Ayah"
Siska Amelia
Cerpen
Entitas
Oscar Zkye
Cerpen
Foto Terakhir Ayah
zain zuha
Rekomendasi
Cerpen
Sebuah Karya Tanpa Jiwa
fotta
Novel
Sebuah Rasa yang Kusebut Rumah
fotta
Novel
Bumi Tanpa Langit
fotta
Novel
Hening - Kebisingan Penuh Warna
fotta
Novel
UNRAVELED
fotta