Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Pisau cukur ini terasa dingin di telapak tangan saya. Atau mungkin tangan saya yang sudah mati rasa? Saya tidak tahu lagi. Tiga atau empat jam. Berapa lama lagi saya harus duduk di lantai kamar mandi ini sebelum saya cukup berani? Sebelum bibir saya cukup lelah untuk memohon kepada-Nya.
Saya ingin pulang.
Tapi pulang ke mana? Ke losmen tua yang berbau keringat dan parfum murah? Atau ke tempat yang bahkan tidak pernah ada sejak awal?
***
Nama saya tidak penting. Saya dua puluh tahun, tinggal di kamar kos yang sempit, dan sedang belajar menjadi baik-baik saja. Setiap hari saya bekerja seperti orang lain; makan seadanya, berpakaian seperlunya, dan mengikat lelah agar tak jatuh ke wajah.
Saya bekerja di malam hari. Tidur pagi dan bangun dengan tubuh yang terasa bukan milik sendiri. Ketika wajah saya yang biasa ini terpantul di cermin, kalimat itu kembali berputar.
Saya ingin pulang.
Lalu saya akan tertawa dengan riang. Memegangi perut saya, membuka rahang lebar-lebar hingga nyeri meredam mulut saya.
“Ke mana?” tanya saya pada diri sendiri.
***
Anak perempuan itu tak pernah tau bagaimana rupa laki-laki yang harus ia panggil ayah. Sesekali jika ia sedang berusaha meyakinkan dirinya sendiri, ia akan berteriak dengan lantang. “Ayahku orang baik!”
Ketika malam tiba, rumah anak perempuan itu hanya diterangi cahaya lilin. Adakalanya rasa takut menjalar di hatinya, lantas ia memanggil ibunya yang masih sibuk dengan aneka barang yang akan mereka dagangkan esok hari.
“Ibu, tolong!” Teriak anak itu di kala pintu kamarnya terbuka.
Ibunya yang berdiri di ambang pintu akan segera memeluk tubuh kecilnya, mengelus rambut hitamnya hingga anak perempuan itu menjemput mimpinya. “Ini ibu nak.”
Begitu asik anak perempuan itu bermain dalam mimpinya; tidur di kastil; berteman dengan barbie; berlarian di taman dan memetik bunga. Namun, hening malam itu tiba-tiba pecah oleh suara pintu depan yang terbanting. Anak perempuan itu terjaga dari mimpinya, ia mendekap ibunya erat-erat.
“lonte!”
Suara berat di luar sana menembus pintu kamarnya. Anak perempuan itu menahan nafasnya dalam-dalam, pandangannya mengunci pintu kamarnya.
Suara bantingan pintu tadi menjelma menjadi pecahan kaca; dentingan besi; dan banyak lagi. Semakin erat ia mendekap ibunya, semakin menjalar pula suara-suara itu mengisi sesak rumahnya.
Pintu kamarnya kemudian terbanting, bau tak sedap menyerbak masuk bersama sosok bermata merah. Aroma yang tak dikenali anak perempuan itu, membuat dadanya kian sesak hingga tangisnya tumpah kemana-mana.
Ibunya dengan cepat melepas dekapanya pada anak itu, lalu berdiri memasang badan melindungi buah hatinya.
Di sela lengan ibunya, mata anak perempuan itu menangkap samar sosok misterius di hadapannya. Sosok itu berjalan miring sambil menyeret bahu di dinding. Ia sangat yakin bahwa sosok yang tampak tak seperti manusia itu adalah laki-laki.
“jatah! Mana jatahku?!” Kata laki-laki itu menghantam dinding.
Lidah laki-laki seperti kelu, kata-kata yang lolos dari bibirnya begitu berat seperti terseret sesuatu.
Ibunya menggeleng, ia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar melindungi anak perempuannya.
“Minggir! Biar aku jual ini anak!”
Tangannya yang kekar menghempas tubuh ibunya dengan mudah, kemudian segera merengkuh tubuh kecil anak perempuan yang ketakutan itu.
Kaki anak itu menendang-nendang udara saat tubuhnya terangkat. Namun apa daya, tubuh kecilnya takkan mampu melawan tubuh besar laki-laki itu.
Kesadaran wanita itu perlahan pulih setelah kepalanya terbentur tembok. Mendengar anaknya melolong seperti anjing melihat setan, ia bangkit dan menghantam kepala belakang laki-laki itu dengan benda keras hingga tangan kekar itu melepas rengkuhannya. Begitu melihat anaknya merosot ke lantai, ia segera mendekapnya erat-erat, bersiap membawa buah hatinya lari dari sana.
Laki-laki itu menatap telapak tangannya yang bersimbah darah setelah meraba kepala belakangnya sendiri. “Setan kau!” geramnya murka.
Kepala wanita itu tiba-tiba tertarik ke belakang, kakinya kehilangan tumpuan saat tubuhnya melayang di udara. Dengan sekuat tenaga, lengan wanita itu mendekap anak perempuannya.
Tanpa belas kasihan, tangan kekar itu kembali merebut sang anak. Pelukannya mengunci kuat tubuh kecil itu hingga si anak meraung lebih keras, merasakan seluruh sendi dan tulang kecilnya remuk seketika.
Kilauan cahaya senter dan suara riuh menerobos masuk di pintu depan. Langkah pria itu terhenti. Namun, lengannya semakin erat mendekap tubuh anak perempuan itu hingga tak ada lagi perlawanan yang bisa ia lakukan.
“Turunkan anak itu!” Teriak seorang warga.
“saya hanya ingin….”
Tanpa menunggu laki-laki itu menyelesaikan ucapanya, para warga menarik paksa tubuh kecil yang lemas itu. Para warga paham betul, apapun yang keluar dari mulut bau laki-laki itu adalah dusta. Dan ini bukan yang pertama kalinya.
Melihat mahluk itu diarak keluar rumah, anak perempuan itu berlari ke kamarnya. Tubuhnya yang kecil menyelinap di sela kerumunan, ia tak peduli gelap akan menyandung langkahnya. Yang ia tahu, ibunya terkapar seperti bangkai di kamarnya.
***
Waktu berpacu dengan liar; esok berganti kemarin, purnama berganti sabit; penghujan berganti kemarau. Dan malam yang panjang itu sudah berlalu bertahun-tahun.
Ada banyak yang berubah setelah malam itu. Dada anak perempuan itupun ikut berubah; sedikit mencuat. Kini rumah kecilnya telah terubin, menyapu pergi duka kemarin.
Dulu di setiap pagi anak perempuan itu harus bernyanyi lebih kencang dari suara perutnya. Berbeda dengan hari ini, meja makannya penuh terisi, ia hanya perlu menyingkap tudung saji. Semuanya sudah jauh berbeda, termasuk ibunya.
Tanpa ia sadari dinginnya malam yang panjang itu merasuki ibunya. Ketika hari menyingsing dari timur, ibunya baru melelapkan jiwanya. Dan ketika bulan mengintip dari jendela rumahnya, ibunya tak tau ada di mana.
Adakalanya anak perempuan itu berlari pulang dari sekolah, matanya berbinar dengan raport di tangannya. Sepanjang jalan ia bayangkan bagaimana bibir ibunya tersenyum, ia bayangkan bagaimana mata ibunya berbinar seperti matanya. Namun, ketika melihat dada ibunya kembang-kempis di atas kasur dengan mata terpejam, anak perempuan itu hanya mengulas senyum yang ia paksa, lalu menutup pintu kamar itu pelan-pelan.
Anak perempuan itu kemudian akan berlari ke kamarnya, meringkuk di atas kasur empuknya, menahan sesak yang menikam dadanya.
***
Dada anak perempuan itu kian mencuat, ia telah menjelma menjadi gadis cantik yang digilai. kini ia telah bekerja di sebuah minimarket dengan gaji yang hanya cukup untuk bensin motornya.
Sewaktu gadis itu membaringkan lelahnya di kasur sepulang kerja, sedikit terketuk hatinya untuk mencari pekerjaan lain. Namun, saat ia kembali sadar ijazahnya hanya sampai SMK, ia segera mengubur niatnya.
Di kala gadis itu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru. Rumah yang penuh isi itu kini kosong, tinggal menunggu waktu bagi rumahnya dihuni orang baru. Satu persatu barang-barang dalam rumahnya hilang tak kembali. Raga ibunya yang dulu gempalpun tak kunjung kembali, kini tubuhnya kian ringkih; bukan karena termakan usia, tapi karena termakan sesuatu yang tak ia ketahui.
Sering kali ibunya seperti tersedak, bola matanya memutih dengan lidah terjulur hingga anak gadisnya dapat melihat jamur-jamur yang menghiasi seluruh rongga mulutnya. Kerap kali anak gadis itu memohon agar ibunya bersedia diperiksa. Namun, hanya menangis yang ia bisa di kala ibunya kembali mengibaskan tangan, berkata bahwa semua itu akan percuma.
Waktu bergulir tak kenal lelah, perjalanan wanita itu telah menemukan ujungnya. Dua tiga tahun yang kelam itu dilewati ibunya dengan tertatih. Kini ia telah pulas dengan senyum paling manis yang pernah gadis itu lihat.
Di kala tanah sibuk menimbun wajah indah wanita itu, segelintir bisikan merangsek masuk ke dalam telinga si gadis yang sedang menyeka air matanya.
“Kasian ya, sedari kecil nasib anak itu begitu buruk. Tapi syukurlah ayahnya yang pemabuk itu udah dibui. Lagian ibunya juga sih, kepala batu. Dulu orang-orang kampung larang nikah sama itu, malah nikah. Liatkan sekarang, paling dia sakit gara-gara melonte.”
***
Butuh waktu bertahun-tahun bagi saya menuruti sumpah serapah kalian. Saya katakan bahwa kamu-kamu semua tak perlu memasang raut sedu sedan itu. Taik! Saya akan meyakinkan kamu-kamu semua kalau apa yang kalian lihat, apa yang kamu-kamu semua dengar sedari tadi hanya akan menjadi basa-basi di waktu lain.
Tentu saya juga akan meyakinkan kamu-kamu semua, kalau saya tak benar-benar peduli akan apa yang terjadi di waktu lalu. Seperti kamu-kamu semua yang akan memalingkan wajah jelek kalian ke arah lain, di kala melihat saya terbaring lemah di atas ranjang losmen tua di sudut kota.
Ketika malam membawa saya kembali ke ranjang yang sempit itu, ketika tubuh saya silih berganti ditindih laki-laki bajingan yang tak saya kenal, ketika itu pula kamu-kamu semua akan melihat saya seperti sampah, seperti bangkai, seperti apapun yang sangat menjijikan di benak kalian.
Raut wajah sedu sedan yang kalian tampilkan itu sama saja seperti laki-laki bajingan yang datang ke hidup saya. Para bajingan-bajingan itu akan merogoh sakunya dalam-dalam dan berkata akan membantu, sebelum mereka kembali menumpahkan seluruh hidupnya di antara kedua paha saya.
Tapi ya, jika sebagian dari kamu-kamu semua merasa sedikit iba dengan saya. Saya ingin kamu-kamu semua berlari ke tuhan kalian, katakanlah dengan lantang kepada-Nya bahwa saya ingin pulang, saya ingin pulang, dan saya ingin pulang!
***
Ketika pagi menemukan kembali terangnya, ibu-ibu di kampung gadis itu tengah sibuk mengerumuni mang sayur. Dari kejauhan, wanita bertubuh gemuk yang selalu menutup seluruh tubuhnya dengan kain selain mata berjalan cepat menghampiri kerumunan.
“Eh ibu-ibu, udah dengar yang viral belum?” tanyanya ketika sampai.
“Apa itu?”
“Rugi,rugi, rugi,” kata wanita gemuk sambil menunjuk ibu-ibu itu satu-satu. “Itu loh… anak gadis saudari kita yang merantau ke kota, ditemukan meninggal di kamar mandi kosnya. Dia tusuk perutnya pake piso.”
“innalillahiwainnailaihirojiun,” kata ibu-ibu itu serentak.
“Ih buat apa bilang gitu?” Mata wanita gemuk itu mendelik. “kita itu harusnya kembali sesuai garis yang telah ditakdirkan, bukannya membuat garis sendiri. Kalo kayak gitu, dia mau kembali ke mana? Tapi ya… itu pasti dia kayak ibunya. Jadi ingat ya ibu-ibu, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Meski pohonnya sudah tumbang bertahun-tahun yang lalu.”
Tangan wanita gemuk itu kemudian sibuk membolak-balikan lauk serta sayur di gerobak. Sementara mang sayur dan ibu-ibu lainnya saling menoleh, menggeleng, dan kembali ke aktivitasnya, enggan berdebat dengan wanita gemuk itu. (*)