Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
(Bagian 1)
Saya hampir pergi pagi itu.
Bukan hampir karena ragu.
Tiket bus sudah saya beli sejak tiga hari lalu. Tas sudah saya isi setengah. Baju, beberapa buku, dan satu foto lama yang entah kenapa selalu ikut ke mana pun saya pergi.
Semuanya sudah siap.
Kecuali saya.
Saya duduk di tepi tempat tidur, mengikat tali sepatu. Sudah rapi, tapi saya ulang lagi. Lepas. Ikat lagi. Tangan saya butuh pekerjaan. Kepala saya terlalu ramai.
Di luar kamar, terdengar suara sendok menyentuh piring. Pelan. Teratur. Seperti rutinitas yang tidak pernah protes.
Ayah sudah bangun.
Seperti biasa.
Selalu lebih dulu, meskipun sekarang ia sering lupa siapa saya.
"Ayah bikin teh," katanya dengan nada yang hampir bangga.
Saya hanya mengangguk. Tidak tega bilang kalau gula yang ia tuang hampir setengah gelas.
Saya berdiri. Menarik napas sebentar. Lalu keluar kamar.
Ayah duduk di kursi dekat jendela. Cangkir teh di tangannya mengepul tipis. Uapnya naik pelan, seperti sedang mencari arah.
Saya duduk di depannya.
Ia menatap saya.
Lama.
"Kamu siapa?"
Langsung. Tanpa basa-basi.
Saya berhenti.
Tidak kaget. Tidak juga siap.
"...Saya Raka, Yah," jawab saya pelan.
Ia mengangguk. Pelan. Kosong.
"Oh."
Hanya itu.
Seolah nama saya adalah informasi yang tidak perlu disimpan terlalu lama.
Saya tersenyum. Refleks.
Padahal di dalam, rasanya seperti ada sesuatu yang jatuh. Tidak keras. Tapi berulang.
Jam dinding di ruang tengah berdetak lebih jelas dari biasanya.
Atau mungkin saya saja yang baru benar-benar mendengarnya.
Detik.
Detik.
Detik.
Waktu berjalan tanpa menoleh ke belakang.
Saya melirik ke arah meja kecil di sudut ruangan. Tiket bus itu masih di sana. Diam. Rapi. Seolah tahu tugasnya hanya menunggu.
Jakarta. Pukul 08.30.
Sudah lama saya ingin pergi.
Mencoba hidup sendiri. Mencari kerja yang lebih layak. Tidak hanya berkutat di rumah ini, mengulang hari yang sama, dengan pertanyaan yang sama.
Saya ingin punya hidup.
Kalimat itu sering muncul di kepala saya.
Dan selalu ada lanjutan yang tidak pernah saya ucapkan:
...tapi bagaimana dengan Ayah?
"Ayah," saya mencoba membuka percakapan, "nanti siang mau makan apa?"
Ia tidak langsung menjawab. Menatap jendela. Seolah dunia di luar sana lebih mudah dipahami daripada wajah saya.
"Rumah siapa ini?" tanyanya kemudian.
Saya diam.
Pertanyaan yang sama. Dengan kebingungan yang sama.
"Rumah kita, Yah," jawab saya.
Ia tertawa kecil. Ringan. Seperti baru saja menemukan sesuatu yang hilang.
"Oh iya... rumah kita."
Saya mengangguk.
Padahal rasanya seperti saya yang sedang berusaha mengingat, bukan dia.
Di luar, suara motor mulai ramai. Orang-orang berangkat kerja. Anak-anak berangkat sekolah. Dunia berjalan seperti biasa.
Di dalam rumah ini, waktu seperti berjalan lebih pelan.
Atau mungkin hanya berputar di tempat yang sama.
Saya berdiri. Kembali ke kamar.
Tas saya terbuka di atas kasur.
Setengah penuh.
Setengah ragu.
Saya menutupnya.
Lalu membukanya lagi.
Saya duduk di sampingnya. Menatap isi tas itu seperti sedang melihat masa depan yang belum tentu saya jalani.
Saya ingin pergi.
Sungguh.
Saya ingin bangun di tempat baru, dengan orang-orang yang tidak tahu siapa saya sebelumnya.
Saya ingin hidup tanpa harus menjawab pertanyaan yang sama setiap hari.
"Kamu siapa?"
Saya ingin tidak perlu menjawab itu lagi.
Tapi di saat yang sama...
saya juga tidak siap jika suatu hari tidak ada lagi yang bertanya.
Sunyi.
Itu yang saya takutkan.
Bukan tinggal.
Bukan pergi.
Tapi sunyi setelah semuanya benar-benar selesai.
"Raka!"
Suara Ayah memanggil dari ruang tengah. Sebuah keajaiban kecil yang langsung membuat jantung saya berhenti berdetak. Ia mengingat nama saya.
Saya langsung berdiri. "Iya, Yah!"
Saya keluar kamar. Namun, keajaiban itu menguap secepat ia datang. Ia berdiri di dekat pintu, wajahnya terlihat panik, menatap saya seolah nama yang baru saja ia teriakkan hanyalah sebuah kata tanpa makna yang telanjur lepas dari bibirnya.
"Ini... pintu ke mana?"
Saya menahan napas sebentar.
"Ke luar, Yah."
"Oh..."
Ia mengangguk. Lalu duduk lagi. Seolah satu pertanyaan saja sudah cukup melelahkan.
Saya berdiri di sana.
Tidak bergerak.
Jam terus berdetak.
Tiket masih menunggu.
Dan saya...
masih di tempat yang sama.
---
(Bagian 2)
Pukul tujuh lewat lima belas.
Saya mulai menghitung.
Bukan waktu.
Tapi keberanian.
Tiket di meja sudut itu masih menunggu. Masih utuh.
Atau tidak sama sekali.
Saya berdiri di depan wastafel. Air mengalir terlalu lama. Dingin. Jatuh tanpa tujuan. Saya bahkan tidak ingat sejak kapan keran itu saya buka.
Cermin di depan saya memantulkan wajah yang... biasa.
Tidak ada tanda-tanda seseorang sedang berada di persimpangan hidup.
Hanya wajah lelah.
Dan mata yang belum memutuskan.
"Raka?"
Suara itu datang pelan dari belakang.
Saya menoleh.
Ayah berdiri di ambang pintu. Tangannya menempel di dinding. Seolah dinding itu satu-satunya yang ia kenal.
"Iya, Yah?"
Ia menatap saya. Lama. Tidak langsung bertanya.
Ada jeda.
Aneh.
Langka.
"Kamu... lagi sibuk?"
Saya hampir tersenyum.
Pertanyaan sederhana. Tapi terasa asing.
"Enggak, Yah."
Saya mematikan keran. Air berhenti. Tapi kepala saya tidak.
Ayah masuk sedikit. Melihat sekitar. Seperti tamu yang sedang memastikan ia tidak salah tempat.
"Kita... sudah sarapan?"
Belum.
Tapi saya tetap bilang:
"Sudah."
Ia mengangguk. Wajahnya langsung lebih tenang.
Selalu begitu.
Seolah dunia baik-baik saja selama hal-hal kecil masih terasa benar.
Saya berjalan ke meja. Menarik kursi. Duduk.
Ayah ikut duduk di seberang.
Kami diam.
Tidak ada yang ingin dibicarakan.
Atau mungkin... terlalu banyak.
Jam dinding kembali mengambil peran.
Detik.
Detik.
Detik.
Setiap bunyinya seperti dorongan kecil.
Pergi.
Pergi.
Pergi.
Saya menoleh ke arah kamar. Tas saya terlihat dari celah pintu.
Masih di sana.
Seperti menunggu dipilih.
"Raka," suara Ayah lagi.
"Iya, Yah?"
Ia mengernyit.
"Kamu... kerja di mana?"
Saya menelan pelan.
Pertanyaan itu dulu mudah.
Sekarang... tidak.
"Belum kerja tetap, Yah."
"Oh..."
Ia mengangguk. Lalu tersenyum tipis.
"Gapapa. Nanti juga dapat."
Kalimat sederhana.
Tapi pagi itu terasa seperti dorongan.
Atau mungkin... izin.
Di luar, suara kendaraan mulai ramai. Klakson, langkah kaki, suara hidup yang terus berjalan.
Di dalam rumah ini, waktu seperti enggan meninggalkan tempatnya.
Saya berdiri. Kembali ke kamar.
Tas itu masih terbuka.
Menunggu.
Saya menutupnya.
Kali ini benar-benar.
Resleting saya tarik pelan.
Seperti menarik garis yang tidak bisa dihapus lagi.
Saya angkat tas itu.
Berat.
Bukan karena isinya.
Saya berdiri di depan pintu kamar.
Diam.
Satu langkah lagi ke ruang tengah.
Dua langkah lagi ke pintu depan.
Tiga langkah lagi...
saya bisa pergi.
Saya melangkah.
Satu.
Dua.
"Raka!"
Langkah saya terkunci.
Saya membuka mata pelan. Di depan saya, Ayah berdiri di dekat meja.
Saya menutup mata sebentar.
Tarik napas.
Lalu menoleh.
"Iya, Yah?"
Ayah berdiri di dekat meja. Wajahnya berubah.
Bukan lagi tatapan kosong yang biasa.
Lebih runtuh.
Lebih... takut.
"Saya... mau ke mana ya?"
Kalimat itu pelan.
Hampir seperti bisikan.
Tapi rasanya menghantam.
Saya mendekat.
Perlahan.
"Enggak ke mana-mana, Yah."
Ia menatap saya. Lama.
Seperti sedang memutuskan apakah ia percaya.
Atau hanya tidak punya pilihan lain.
"Oh..."
Ia duduk kembali.
Pelan.
Seperti tubuhnya ikut kehilangan arah.
Saya berdiri di depannya.
Tas masih di pundak.
Tangan saya menggenggam talinya terlalu erat.
Saya bisa pergi sekarang.
Bisa.
Sangat bisa.
Pintu hanya beberapa langkah.
Jalan di luar terbuka.
Kesempatan itu nyata.
Tidak akan menunggu selamanya.
Tapi di depan saya...
ada seseorang yang bahkan tidak tahu ia sedang kehilangan dirinya sendiri.
Dan entah kenapa...
saya tidak sanggup jadi orang yang juga meninggalkannya.
Saya menurunkan tas itu.
Pelan.
Hampir tanpa suara.
Seolah tidak ingin waktu menyadarinya.
Jam tetap berdetak.
Tidak peduli.
Tiket masih di meja.
Masih utuh.
Masih menunggu.
Dan saya...
masih di sini.
Belum pergi.
Belum juga benar-benar tinggal.
---
(Bagian 3)
Pukul delapan tepat.
Setengah jam lagi.
Seharusnya saya sudah di jalan.
Saya berdiri di depan pintu.
Tas masih di pundak. Sepatu sudah terpasang. Semua terlihat siap.
Kecuali langkah saya.
Tangan saya sudah menyentuh gagang pintu.
Dingin.
Diam.
Seperti menunggu keputusan yang tidak kunjung datang.
Di belakang saya, rumah ini sunyi.
Tidak benar-benar sunyi.
Ada napas.
Ada detak jam.
Ada seseorang yang masih ada.
Saya menoleh.
Ayah tertidur di kursi.
Kepalanya sedikit miring. Mulutnya terbuka tipis. Napasnya pelan. Teratur. Seperti tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Untuk sesaat... semuanya terlihat damai.
Terlalu damai.
Jam dinding kembali berbunyi.
Detik.
Detik.
Detik.
Seolah mengingatkan: waktu tidak akan berhenti hanya karena saya belum siap.
Saya kembali menatap pintu.
Satu langkah.
Hanya satu langkah.
Saya bisa keluar.
Saya bisa mengejar semua yang selama ini saya tunggu.
Saya bisa punya hidup.
Kalimat itu muncul lagi.
Saya bisa punya hidup.
Tangan saya menekan gagang pintu.
Sedikit lagi.
"Raka..."
Suara itu pelan.
Hampir seperti mimpi.
Saya berhenti.
Perlahan, saya menoleh.
Ayah sudah bangun.
Menatap saya.
Tidak bingung.
Tidak kosong.
Matanya... jernih.
Jarang.
Sangat jarang.
"Kamu... mau pergi ya?"
Saya tidak langsung menjawab.
Tenggorokan saya terasa kering.
"Iya, Yah," akhirnya saya bilang.
Pelan.
Jujur.
Ayah mengangguk.
Tidak kaget.
Tidak juga menahan.
Hanya mengangguk.
Lalu tersenyum.
Senyum yang saya kenal.
Senyum yang dulu sering saya lihat, sebelum semuanya mulai hilang satu per satu.
"Pergilah," katanya.
Saya diam.
Tidak bergerak.
Kalimat itu... seharusnya memudahkan.
Tapi justru membuat semuanya terasa lebih berat.
Ayah menarik napas pelan.
Lalu berkata lagi, lebih lirih:
"Tapi jangan lupa pulang."
Sederhana.
Tidak panjang.
Tidak dramatis.
Tapi tepat.
Terlalu tepat.
Seolah untuk beberapa detik itu, ia benar-benar kembali.
Benar-benar tahu siapa saya.
Dan apa yang sedang terjadi.
Saya berdiri di sana.
Diam.
Tangan saya masih di gagang pintu.
Tapi saya tidak membukanya.
Tidak juga melepaskannya.
Saya hanya berdiri.
Mencoba memahami sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.
Di luar, jalan sudah ramai.
Kesempatan itu masih ada.
Masih menunggu.
Tapi di dalam rumah ini...
ada sesuatu yang tidak bisa saya bawa pergi.
Dan mungkin...
tidak boleh saya tinggalkan.
Saya melepaskan gagang pintu.
Pelan.
Hampir tanpa suara.
Saya melangkah mundur, kembali mendekati kursinya.
Tas di pundak terasa lebih ringan saat saya turunkan.
Saya meletakkannya di lantai.
Ayah masih menatap saya.
Tidak lama.
Matanya kembali kosong.
Perlahan.
Seperti lampu yang redup.
"Kamu siapa?" tanyanya.
Saya tersenyum.
Kali ini lebih pelan.
Lebih... menerima.
"Saya Raka, Yah," jawab saya, pelan.
Hanya itu. Tapi kali ini, saya tidak merasa ada yang jatuh.
Ia mengangguk.
"Oh..."
Hanya itu.
Tapi kali ini, saya tidak merasa ada yang jatuh.
Jam dinding terus berdetak.
Detik.
Detik.
Detik.
Tiket masih di meja.
Masih utuh.
Mungkin tidak akan pernah digunakan.
Atau mungkin... nanti.
Suatu hari.
Saya tidak tahu.
Yang saya tahu, pagi itu saya tidak jadi pergi.
Dan anehnya...
untuk pertama kalinya, saya tidak merasa tertinggal.
---