Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Horor
Bronze
Sawan Mayit
0
Suka
2,453
Dibaca

Bagi Bu Wina, uang adalah segalanya, dan pengeluaran adalah musuh utama. Padahal, rumahnya mentereng, dua tingkat dengan pagar besi menjulang di ujung gang. Namun, semua orang di kampung tahu, kekayaan Bu Wina bukan hasil dari kerja keras yang halal, tapi dari bunganya yang mencekik. Dia adalah rentenir terselubung berkedok tetangga penolong. Sifatnya yang pelit setengah mati berbanding lurus dengan tabiatnya yang suka kepo dan mencampuri urusan orang lain.

Sore itu, suasana kampung mendadak gempar. Jeng Sri, salah satu orang kaya di desa mereka, meninggal dunia secara mendadak. Sebagai orang yang tak mau ketinggalan berita, Bu Wina menjadi orang pertama yang tiba di rumah duka. Bahkan, dia sudah berdiri di depan teras saat mobil ambulans yang membawa jenazah Jeng Sri baru saja mundur di halaman.

Bu Wina tidak beranjak. Dengan dalih ingin membantu, matanya yang jeli terus mengawasi setiap prosesi, hingga tibalah saat jenazah Jeng Sri hendak dimandikan di halaman samping yang ditutup kain jarik keliling. Bu Wina merangsek masuk, ikut menonton.

Di sudut halaman, beberapa ibu-ibu pkk sedang berkerumun sambil berbisik-bisik tegang. Bu Wina yang hobi mengoleksi aib orang langsung memasang telinganya lebar-lebar.

"Iya, jare (katanya) kena serangan jantung mendadak," bisik Bu RT setengah mendongkol. "Padahal ya aslinya stres itu. Jeng Sri kan darah tinggi, lha kok malah dapet kejutan kalau si Doni, anak lanange itu, diam-diam hobi main slot! Kalahnya ratusan juta, mbak!"

"Hah? Mosok toh? Padahal ketoke keluargane kaya raya begitu," timpal warga lain.

"Wong si Doni itu jare (orang si Doni itu katanya) sampai keliling pinjam uang ke mana-mana buat nutup utang judi. Jeng Sri baru tahu kemarin malam, langsung ambruk wes!"

Mendengar kasak-kusuk itu, Bu Wina bukannya berempati, ujung bibirnya malah berkedut sinis. Di dalam hatinya, jiwa julidnya meronta-ronta penuh kepuasan.

"Oalah ... sugih-sugih kok anake bajingan,” batin Bu Wina mencibir. Matanya menatap jeli ke arah tubuh kaku Jeng Sri yang mulai dilepas pakaiannya. "Makanya, jadi orang itu jangan sok pamer baju brokat impor tiap arisan kalau aslinya pusing mikirin utang anak. Rasain itu, mati bawa beban."

Namun, kepuasan batin Bu Wina mendadak sirna. Jantungnya seperti melewatkan satu detakan ketika nama Doni kembali ter...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp6.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Horor
Flash
Tatapan
Ariq Ramadhan Nugraha
Cerpen
Bronze
Sawan Mayit
Zee Lesta
Flash
Arsip Lantai Enam
Penulis N
Flash
Bronze
Bukan Bapak
Tini Ubadipura
Flash
Bronze
Janur di Bawah Pohon Beringin
Risti Windri Pabendan
Cerpen
Bronze
Arwah-Arwah yang Mencari Pintu Surga
Sri Wintala Achmad
Flash
Rahasia Karim
Listian Nova
Flash
Siapa Disana?
D.Agustin
Cerpen
Bronze
Arwah di Sungai Sa'dan'
Risti Windri Pabendan
Skrip Film
ATM Antrian Tengah Malam
Herman Sim
Cerpen
Bronze
Hantu Air
Eki Saputra
Flash
Bronze
Ketukan Bolpoin
Sunarti
Cerpen
Permainan Kematian
Chie Kudo
Flash
Bronze
Penghuni Jembatan
Tini Ubadipura
Cerpen
Kodok Jantan Yang Tak Diundang
Wafa Nabila
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Sawan Mayit
Zee Lesta
Cerpen
Bronze
Lulun Samak
Zee Lesta
Cerpen
Bronze
Artefak yang Terbuang
Zee Lesta
Novel
Bronze
Love Bombing
Zee Lesta
Cerpen
Bronze
Ego di Puncak Bala
Zee Lesta
Cerpen
Bronze
Akhir Sebuah Penantian
Zee Lesta