Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Romantis
SATU TITIK: TANPA BERTANYA NAMA
1
Suka
7,436
Dibaca

Ketika melihat anak-anak itu berlari dan juga menikmati airnya, aku di sini duduk menunggu akan tiba senja sampai tersenyum secerah bunga, setiap kali menceritakanmu pada bocah-bocah kurus tak terurus itu, mereka bersorak gembira sampai mendengarkan nada jeda suara napasku yang tertunda.

Semangat bocah-bocah pinggir pantai itu sangat kentara di dalam matanya. Bahkan aku, tidak bisa mendeskripsikan secerah apa selain bunga kesukaanmu.

Andai aku bisa menikmati kebahagiaan bersama bocah lugu ingusan itu bersamamu.

Andai waktu tak akan menyita banyak kepingan kelam yang terpatri di benakku.

Suara angin, burung-burung bernyanyi; merdu. Suara para bocah lugu yang tertawa tertimpa panasnya matahari, salah satunya bersuara “Gajah-gajah apa yang bisa ketawa? Ada yang tahu gak!” Yang lainnya memandang dengan menyipitkan mata, karena pada hari itu terik sangat pekat.

“Aku tahu jawabannya!” katamu yang sedang berada di antara mereka, dan juga kamu menambahkan. “Gajahahahaha.”

Semuanya tertawa, kamu juga, aku juga tergelak karena keluguanmu.

Di suatu hari yang lain yang bahkan aku masih bisa melihat wajahmu, kamu mengeluh tentang alam, peradaban dan seisinya denganku. Duduk berdua bersama matahari mencerek di siang hari. Kamu berkata kepadaku, “kamu punya pistol gak?”

“Buat apa?” kutanya balik.

“Buat nuntut kamu. Kenapa bisa ya, ada makhluk unik kaya kamu sefrekuensi sama aku. Eh! Punya gak?!” Aku tertawa saat suara air laut menabrak karang, termasuk dia juga.

“Punyalah,” kataku sombong kemudian sambil pura-pura mengambilnya dalam kantong celana, dia melirik kantong itu dan memandang ke arah tanganku yang sudah memegang pistol.

Kami tertawa, karena pistol yang kukeluarkan adalah tanganku sendiri.

“Ah, kamu payah banget,” katanya pada saat itu, tawanya masih tersisa, senyumnya terlihat sempurna. Bahagia. Aku juga bahagia.

“Cara ampuh mengusir rasa jenuh dari kepala itu bagaimana ya?” tanyaku di lain hari ketika kami masih bisa bertemu, dia melirikku dengan wajahnya yang sudah mencokelat. Akibat duduk bersamaku di pinggir pantai ditemani langit cerah dengan awan menggantung.

“Kamu tanya aku?” tanyamu.

“Tanya orang asing yang lupa caranya bernapas,” ucapku seakan kesal, dia terkekeh dengan menatap kejengkelanku, ah! Lucu.

“Oh, obat jenuh itu biasanya tiga kali jalan-jalan, dua kali shopping, empat kali makan berkalori,” katanya sembari menjentikan tangan. Matanya berbinar-binar. Sempurna.

“Berlakunya mulai kapan?” tanyaku. Dia menghela napas, pura-pura banyak pikiran.

“Mulai kamu kantongin uang berjuta-juta deh,” katanya.

“Aku kerja dulu berarti, kamu mau ikut obat jenuhnya?” tanyaku lagi. Dia menjawabnya dengan lucu, menaruh kedua tangannya di pinggul.

“Boleh, obatku itu kan kamu, yang aku kurang suka cuma belum bisa nyetor perasaannya.”

Andai saja, kamu engga lucu, mungkin akan kubawa kamu ke rumah bertemu Eyang yang suka komedian. Biar lucunya tambah kusayang.

Sampai, aku duduk di kemudian hari ketika semua yang aku rasakan lebih terasa hidup, menikmati kopi Bis Kota yang sangat pahit dan juga menunggumu berjalan di bawah naungan awan cerah.

Namun cerahnya tak membawa dampak pada hatiku yang sekarang menjadi abu-abu. Baru saja memiliki niat untuk mengenalmu, baru saja memiliki niat untuk bertanya di mana rumahmu.

Rasa titik jenuh tergambar jelas saat aku duduk di sana, menunggumu sampai senja menyapa.

Kepala kutegakkan ke atas, mataku memandang awan lepas, sekelebat angin membelai wajahku yang telanjang, bajuku ikut melambai-lambai meski sudah sore. Juga sudah tak banyak pengunjung, aku tetap di sana. Menunggu yang aku tunggu; kamu.

Bunyi merdu yang kudengar dari ombak berdengung dalam inderaku, memikirkan tentang kamu jatuh di dekat tepi pantai, aku tertawa karena pasirnya sampai masuk ke celanamu. Atau saat kamu menikmati jagung bakar, gigimu menghitam dan kamu bilang kepadaku bahwa, “Aku ini dukun lho. Coba kamu tanya aku soal apa saja.”

Aku pun bertanya dengan pertanyaan aneh seperti biasa yang kamu lontarkan.

“Aku lahir di mana? Hehe.”

Sambil tertawa karena melihat gigimu penuh warna hitam jagung, kamu tak sungkan untuk lebih nyengir mengeluarkan gigi-gigi hitammu.

“Di bumi, rumah bersalin, berojolnya pasti kepala duluan.”

“Kalo aku sungsang gimana?” tanyaku.

“Ah, kamu engga ada bakat buat lahir sungsang,” katanya diringi tawa

“Tahu dari mana?” tanyaku lagi melihatnya.

“Dari tadi aku sudah tahu.”

Aku menepuk jidat, sampai jagung yang sedang kumakan itu jatuh ke pasir. Kamu tertawa yang paling keras saat jagungku jatuh. Aku cemberut, kamu tidak. Kamu memberikan jagungmu, kita makan berdua. Ah! Indahnya waktu itu, ya?

Kira-kira kapan kamu di sampingku lagi, aku kangen dengan sifatmu yang lucu menggemaskan bersama bocah-bocah ingusan itu.

Kira-kira kalau kamu menjadi turis lagi dan berjumpa ke pulauku ini, kamu masih ingat aku atau tidak. Aku tidak hanya ingin mendengar suaramu yang: cempreng, bikin pusing, rusuh, pecicilan, engga bisa diam, apalagi saat kamu bernyanyi, suara kamu menciptakan kekonyolan aneh yang membuatku hampir lupa, kalau hari sudah larut malam.

Seharusnya, aku tidak menyuruhmu pulang. Juga tidak menyuruhmu untuk tidur karena malam sudah menjemput, dan seharusnya kamu tidak menoleh ketika kusebut; “Hei kamu! Aku tahu siapa kamu.”

“Siapa?” tanyamu pura-pura cemberut, mulutmu bergetar karena ingin tertawa.

“Kamu, ongol-ongol hijau.”

Kamu langsung menggetok kepalaku dengan halus. Sehalus rambutmu. Sehalus tanganmu dan juga sehalus perlakuanmu. Kamu lucu. Aku suka. Kamu langsung menoleh ke pantai dan berkata dengan lantang, “Hei makhluk laut, kamu tahu gak aku siapa? Aku Angle fish lho! Tadi ada yang bilang aku ongol-ongol hijau, padahal aku bukan kue.”

“Siapa yang bilang?” kutanya padamu, kamu menoleh sambil nyengir.

“Onde-onde lumut.” Gitu, jawabmu. Sampai aku nyengir.

“Onde-onde lumut itu temannya Ande-ande lumut, kan!” katamumu lagi kepadaku, aku tergelak dan menahan malu.

Andai kamu itu jin, aku sudah meminta tiga permintaan. Pertama, kamu selalu ada di sampingku. Kedua, di sampingku selalu ada kamu. Ketiga, selalu ada aku di sampingmu. Itu saja permintaanku selamanya.

Sampai malam tiba dan aku sendirian, tanpa kamu, tanpa suaramu yang merdu bak lumba-lumba yang mencicit. Aku rindu kamu tanpa nama, aku rindu wajah tanpa tanya. Kamu pergi tanpa memberi tanda, kamu pulang ke kampung halamanmu tanpa mengucap cinta. Kamu pergi membawa kerinduan tanpa melihat aku rindu kamu sampai seribu tahun pun aku rindu.

Kamu si orang asing itu, si turis yang akan datang dan pergi tanpa berkata, “Aku pergi.” Seperti salam pisah terakhir dengan sahabat atau kerabat yang dekat. Sayangnya aku adalah si orang asing dalam matamu, kamu pergi dan aku sendiri.

Namamu siapa? Aku tanya.

Tapi, hanya deburan ombak yang menyapa tanyaku saat wangi jagung tercium dalam kebisuan.

Aku pulang.

°

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Novel
Bronze
Atala & Anata
Nabila May Sweetha
Novel
Bronze
Pasienku pasanganku 2
Author WN
Novel
KETIGA
A Story by Fidnaa
Skrip Film
Cara Memutuskan Gadismu
Jelsyah D.
Flash
My Destiny
Melia
Flash
Bronze
Sisca, Aku Menunggumu di Pusara Ini
Nuel Lubis
Cerpen
Boneka Untuk Gabriel
Windi Liesandrianni
Cerpen
SATU TITIK: TANPA BERTANYA NAMA
Wafa Nabila
Novel
Stargazing
tanty
Novel
Bronze
Penantian Dua Tahun
Nita Tesalonika
Novel
JANJI MEMANGGIL KEMBALI
ANNISA JAHRA
Novel
Redum Sekala
Delima Ami
Novel
Dinara
adinda pratiwi
Flash
Bronze
BenciZone
Eva yunita
Cerpen
Rehat Sejenak
Rafael Yanuar
Rekomendasi
Cerpen
SATU TITIK: TANPA BERTANYA NAMA
Wafa Nabila
Novel
PERSETAN: PERJANJIAN MAMA
Wafa Nabila
Cerpen
PASAR SLOKEN
Wafa Nabila
Novel
Alfathan Khairo: A Broken Message
Wafa Nabila
Cerpen
Bronze
Hantu Tanpa Kepala dan Kekasihnya
Wafa Nabila
Cerpen
Kereta Kuda Bersayap dan Pengikutnya
Wafa Nabila
Cerpen
Kodok Jantan Yang Tak Diundang
Wafa Nabila
Cerpen
Aku Si Kucing Otis
Wafa Nabila
Novel
PENCABUT MATA
Wafa Nabila
Flash
Susuk Janda Muda Pemikat Mertua
Wafa Nabila
Cerpen
DUA GELAS DAN PROFESI MAMA
Wafa Nabila