Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Romantis
Bronze
Satu Pagi Di Kopitaloka
0
Suka
15
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Keping 1: Saat Masa Lalu dan Masa Kini Berkelindan

8 Tahun lalu, di sebuah Perusahaan...

Langit sore mengalir lembut di balik jendela kaca kantor, membungkus ruang operasional dengan warna oranye keemasan. Ardan berdiri kaku di depan meja Titi, memegang amplop putih yang sedikit kusut di ujung-ujungnya — seperti hatinya sendiri.

Titi, yang biasanya tegas dan sigap membaca situasi, kali ini hanya menatap Ardan dalam diam. Mata mereka bertemu sejenak — cukup untuk menyadari, kata-kata yang nanti akan diucapkan bukan sekadar urusan pekerjaan.

"Ini surat pengunduran diri saya," suara Ardan terdengar lebih berat dari biasanya.

"Saya mau mulai usaha sendiri... buka kedai kopi kecil." Alasan yang terdengar rasional. Masuk akal. Aman.

Titi menerima amplop itu tanpa banyak bicara. Hanya ada anggukan kecil — formal, dingin di luar, padahal di dalam... berantakan. Mereka berdua tahu: Bukan tentang kopi. Bukan tentang ambisi. Tapi tentang luka yang tak bisa lagi mereka perbaiki.

Senyum Titi terukir tipis — profesional, palsu, menyakitkan. "Semoga sukses, Ardan."

Saat Ardan membalikkan badan dan melangkah pergi, Titi masih menatap punggungnya. Ada sesuatu yang ingin ia tahan, sesuatu yang ingin ia tarik kembali. Tapi seperti matahari sore yang perlahan menghilang, ia tahu... beberapa hal memang diciptakan untuk berlalu.

 

Sebuah kedai di Citeureup, Masa Kini...

Aroma kopi panggang menyambut hangat. Di sebuah sudut kota yang dulu asing, kini berdiri Kopitaloka — kedai sederhana dengan lampu-lampu kuning redup dan kayu tua berbau nostalgia. Di balik bar, seorang pria dengan rambut sedikit berantakan dan senyum tenang sedang meracik espresso.

Nama panggilannya kini Sena. Tapi di dalam hatinya, ia masih Ardan yang pernah meninggalkan sesuatu — atau mungkin, seseorang.

 

Maka Kisah Ini Pun Dimulai Pada Suatu Senja...

Kopitaloka sore itu bernafas dalam ketenangan. Aroma robusta dan arabika bercampur dengan tawa kecil yang sesekali pecah dari pojokan ruangan. Di salah satu meja dekat jendela, Egi — barista muda yang selalu berceloteh — sedang bercanda dengan Raya, si mahasiswi magang yang sejak du...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp5.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Cerpen
Bronze
Satu Pagi Di Kopitaloka
Indra Afriza Arsad
Cerpen
Bronze
Eternal Love From The Eternal Spring City
Aspasya
Novel
Rindu, Selau Kejadian Lama
Muhammad Alfi Rahman
Novel
Bronze
Kado Rahasia
silvi budiyanti
Novel
Nikah sama Bos!
Amelia nurfadilla
Flash
SAMPAI JADI DEBU
Deasy Wirastuti
Novel
Bronze
Two Writers
Nurul Lathiffah
Novel
Bronze
DELAYED
Yuji
Novel
Shieraffy & Arsthena
Icha Trezna
Flash
Bronze
Kopi Pahit di Kantin
Risti Windri Pabendan
Novel
Bronze
Di Antara Dua Musim
Indra Afriza Arsad
Novel
Di Perpotongan Senja
Aiyu A gaara
Novel
She
Fuckzarr
Novel
Bronze
THE LAST TIME
Ika Khairunisa
Novel
Bronze
My Mentari
Putri Wahidatussyafa'ah
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Satu Pagi Di Kopitaloka
Indra Afriza Arsad
Novel
Bronze
Penjaga Suara Yang Hilang
Indra Afriza Arsad
Novel
Bronze
Di Antara Dua Musim
Indra Afriza Arsad
Flash
Mei
Indra Afriza Arsad
Flash
N-P-D
Indra Afriza Arsad
Cerpen
Bronze
Untuk Yang Pernah Diam
Indra Afriza Arsad
Novel
Hujan Pertama Di Musim Semi (Buku I: Bramanta)
Indra Afriza Arsad
Novel
Sakanpari: Tempat Kita Pernah Ada
Indra Afriza Arsad
Cerpen
Selembar Puisi Di Musim Hujan
Indra Afriza Arsad
Flash
Pemburu Capung
Indra Afriza Arsad
Cerpen
Kopitaloka: Rumah Yang Kebetulan Menjual Kopi
Indra Afriza Arsad