Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
Bronze
Satu Kursi yang Kosong
6
Suka
23,553
Dibaca

Pagi itu, seperti pagi-pagi lainnya, Danar tiba di kantor pukul 07.53. Tiga menit lebih awal dari jadwal masuk, cukup untuk duduk, menyalakan komputer, dan menghela napas sejenak sebelum dunia mulai menuntut sesuatu darinya.

Langkahnya menyusuri lorong dengan lantai keramik kusam yang kadang memantulkan bayangan tubuhnya. Lampu neon di langit-langit bergemerisik halus, tak ada yang memperbaikinya sejak bulan lalu. Namun suara itu justru menjadi bagian dari rutinitas yang ia kenali, seperti suara sendok bersentuhan dengan cangkir di pantry, atau suara printer yang bergemuruh saat lembur tiba.

Di meja kerjanya, segalanya masih sama. Monitor berukuran 21 inci, peta dunia kecil yang tergantung miring, dan sticky notes berwarna kuning pucat berjejer seperti catatan dari masa lalu yang tidak pernah benar-benar dibaca ulang. Danar duduk, menyandarkan tubuh, lalu membuka laptop. Loading. Wajahnya diam, tapi jari-jarinya mengetuk pelan meja, berirama. Seolah sedang mencoba mengingat bahwa dirinya masih hidup.

"Danar!" suara itu muncul dari balik bilik. Suara Lisa, rekan satu divisinya. “Kopi di pantry baru diseduh. Masih panas!”

Danar melirik jam di pojok layar. 08.07. “Oke, bentar lagi,” sahutnya pendek. Ia tahu kopi itu akan jadi pelarian pertama sebelum tenggelam dalam spreadsheet dan grafik penjualan. Tapi ia juga tahu: rutinitas itu semacam pelindung. Selama masih ada kopi pagi, segalanya terasa biasa-biasa saja.

Di pantry, suasana lebih hangat. Bau kopi robusta menggantung di udara. Di sebelah mesin kopi, Lisa dan dua staf lain dari bagian pemasaran sedang berbincang, tertawa pelan. Bukan tawa yang lepas, tapi cukup untuk membuat pagi tidak beku.

“Kamu kelihatan ngantuk, Nar,” celetuk Lisa sambil menyodorkan gelas kertas. “Lembur lagi semalam?”

Danar hanya tersenyum tipis. “Enggak. Cuma susah tidur.”

“Kenapa? Mikirin kerjaan?” Lisa menyipitkan mata curiga. ..

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp1.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Cerpen
Bronze
Satu Kursi yang Kosong
Muhamad Irfan
Novel
ANOMALI AIR
Mochammad Eko Priambudi
Novel
ENDORFIN
Aga Lesmana
Novel
Bronze
Cahaya dari setitik harapan
Rian feb rino
Novel
Lindung
ambarajati
Novel
Gold
Story of Volley Club
Mizan Publishing
Novel
Bronze
Someday
Ratih Abeey
Novel
Bronze
Kisah Cintaku : Terjebak dalam Cinta
Rigwaldy SInaga
Novel
Para Pencari Cinta
Topan We
Novel
Roti dan Kopi
Rahmi Djafar
Novel
Bronze
MEMOAR SANG PENULIS
Ratna Ning
Novel
The Morning Sky After Pain
Shavrilla
Skrip Film
Sepucuk Surat dari Bumi Untuk Langit
Bond Monosta
Novel
Renaya
chelsea putri ranu
Novel
Arwah Cinta Van der Ham
Ikhwanus Sobirin
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Satu Kursi yang Kosong
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
Tanpa Balasan
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
Jaket Merah yang Tak Pernah Dikembalikan
Muhamad Irfan
Novel
Bronze
LUKA BARA
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
Bayangan yang Tidak Pernah Pulang
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
Terlambat
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
Bunga yang Tak Pernah Ditaruh di Vas
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
Tidak ada Tempat untuk Kita Berteduh
Muhamad Irfan
Cerpen
Bukan Lagi Kita
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
Bayangan di Meja Sebelah
Muhamad Irfan
Cerpen
Sepotong Roti Hangat di Ujung Hujan
Muhamad Irfan
Cerpen
BISU
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
Tersisa di Gaza
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
Jejak yang Hilang di Lorong 4
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
Jejak
Muhamad Irfan