Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Romantis
Sansuyu Tumbuh Di Kepalaku
0
Suka
77
Dibaca

“Dua potong stroberi shortcake. Takeaway,” ucapnya pada pelayan toko.

Shin Rami menunjuk ke arah etalase kaca dengan mata berbinar. Embusan napasnya terdengar ringan. Bagaimana ia tidak senang? Hari ini adalah perayaan musim semi Sansuyu yang sudah ia tunggu-tunggu. Kue yang ia beli ini akan menjadi bekal dalam kegiatan piknik bersama suaminya, Shin Jisung.

Perempuan itu tidak berhenti melirik pria yang ada di sampingnya, lalu beralih ke kaca etalase yang menampilkan pantulan wajahnya.

“Bagaimana? Riasanku tidak berlebihan, kan?” Ia menggoyang lengan suaminya, meminta atensi.

Jisung menggeleng dengan senyum teduhnya. “Sudah cukup, Rami. Kamu selalu cantik.”

Seketika pipi Rami merah merona. Untuk menahan diri agar tidak berteriak kegirangan, ia bergerak memilin bandul kalung yang melingkar di lehernya. Pujian Jisung tidak pernah gagal membuat perasaannya membuncah.

Setelah membayar pesanannya di kasir dan keluar dari toko langganan, Pasangan ‘Shin’ itu beranjak ke Terminal Bus Express Seoul. Kali ini perjalanan mereka akan memakan waktu selama satu jam lebih untuk melihat mekarnya Sansuyu di area Icheon.

“Naiklah.” Genggaman tangan Jisung menuntun Rami untuk hati-hati masuk ke dalam bus.

Rami langsung memilih duduk di kursi paling belakang, meski bus belum terisi penuh oleh penumpang. Menurutnya, kursi belakang adalah tempat terbaik untuk menyandarkan punggung. Terlebih lagi ada Jisung di sampingnya.

Bus mulai berangkat. Perjalanan piknik mereka ke taman Sansuyu pun dimulai.

Rami menyandarkan kepalanya di pundak suaminya. “Nyaman sekali. Sudah lama kita tidak begini.”

“Setiap tahun kamu selalu bersandar di pundakku, kok.”

Bibir Rami mengerucut. “Masa, sih?”

Keduanya pun tergelak bersama.

Tangan mereka saling menggenggam erat selama perjalanan. Bagi Rami, mantel tebal yang ia kenakan serta genggaman tangan Jisung belum mampu menghalau dinginnya udara musim semi yang menusuk kulit.

Ia masih penasaran mengapa suaminya tahan menggunakan setelan wide leg-pants dengan sweater rajut tipis yang lengannya digulung sampai siku. Terlebih lagi, motif kotak-kotak dengan perpaduan warna kuning dan putih itu sudah mulai pudar. Tapi Rami tahu, bahwa pakaian itu salah satu kesayangan Jisung.

“Lihat ayah! Bunga Sansuyu-nya sudah mekar.”

Teriakan anak kecil yang tepat berada di kursi depan sontak membuat Rami dan Jisung menoleh ke arah jendela bus.

Benar saja, warna kuning bunga Sansuyu berkilau bagai emas yang menghiasi jalanan kota. Deretan pohon yang tertata rapi menandakan bahwa sebentar lagi mereka akan sampai di tempat tujuan.

Namun, Rami mendadak murung. Ia memalingkan muka saat dihadapkan pada pemandangan keluarga bahagia itu — sepasang suami istri serta anak laki-laki yang tertawa ceria menyambut indahnya Sansuyu.

Jisung mengusap lembut punggung tangan Rami, seperti tahu apa yang dirasakan oleh istrinya itu. “Sudah, jangan dipikirkan.”

Rami berbalik menatapnya. “Tidak bisa, Jisung-ah. Aku pasti mengingatnya sampai kapanpun.” Perempuan itu memejam sesaat, merasakan sakit yang mulai menjalari dada. “Mungkin jika dia masih ada ….”

“Pasti akan seumuran dengan anak itu, kan?” sambung Jisung, suaranya rendah.

Rami mengangguk. Ia menggigit bibir sambil menahan ingatan buruk itu muncul kembali. Akan tetapi, usapan lembut Jisung di kepalanya membuat perasaannya perlahan membaik.

“Sebelum masuk ke area festival, aku ingin mampir ke tempat biasanya. Apa boleh?” tanya Rami sembari memeluk lengan berisi milik Jisung.

“Lakukan semaumu, sayang.”

Mendapat persetujuan, Rami lantas mencuri ciuman di pipi suaminya.

Bus pun berhenti di terminal Icheon. Mereka lantas mampir ke sebuah Jerye-yongpum-jeom.[1]

“Aku tunggu di luar saja, ya,” kata Jisung dengan tangan yang terselip di saku.

Rami mengangguk paham. Saat masuk ke toko itu, bau kayu tua dan pernis langsung menyambutnya. Ia melihat deretan keramik yang terpajang dengan berbagai warna. Tanpa membuang waktu, ia memilih sepasang mangkuk keramik putih yang paling cantik — jenis yang tidak mudah terguling jika diletakkan di tanah yang kasar.

“Permisi, Imo,[2]” sapa Rami ketika berada di kasir.

Si pemilik toko seketika berhenti menghitung uang kembalian saat melihat mangkuk keramik putih sudah di atas meja. Ia menatap wajah Rami, lalu merogoh laci dan mengeluarkan sebuah kantong kain merah berisi Pyeong-an-bu.[3]

“Simpan ini juga,” jawabnya dengan tatapan iba. “Semoga perjalanannya tenang tahun ini, Nak.”

Rami hanya mengangguk kecil dan menyelipkannya ke dalam tas di antara kotak kue stroberinya. “Terima kasih, Imo. Udaranya memang sedang bagus untuk jalan-jalan,” jawabnya singkat.

Ia keluar dari toko tanpa menoleh lagi, meninggalkan si penjual yang masih berdiri mematung menatap punggungnya.

“Kamu mendapatkannya lagi?” Jisung menyusul dari belakang.

“Iya.”

“Lalu Imo berbicara padamu?”

“Seperti biasa. Dia bilang semoga perjalanan kita tenang tahun ini.”

“Sudah kuduga,” tebak Jisung sambil menjentikkan jari dan mengedipkan mata.

Rami menahan diri untuk tidak tertawa gemas.

Tangan Jisung kembali menggenggam tangan istrinya. “Tidak mau naik taksi saja?” tawarnya. Lagipula, Perjalanan ke area Desa Baeksa–tempat festival Sansuyu diselenggarakan masih jauh.

Rami menggeleng, “Lebih baik jalan kaki. Aku mau mampir ke pasar dekat sini untuk beli sesuatu.”

“Nanti kakimu pegal, Rami….”

“Tenang saja, tidak akan. Ayo, kesana!” Rami semangat menarik tangan Jisung. Kaki mereka kembali melangkah ke seberang toko. Kelopak Sansuyu mulai berjatuhan menghiasi aspal jalan. Pasangan suami istri itu lantas berhenti di area pasar tradisional.

Uap panas dari berbagai kedai yang menjajakkan tteokbokki dan gorengan membuat udara di dalam pasar terasa lebih hangat. Dentingan suara antara alat penggorengan dan spatula, hingga teriakan penjual yang menawarkan barang sudah memenuhi telinga. Perut Rami bahkan mulai berbunyi karena menangkap harumnya aroma pancake Sansuyu.

Setelah berkeliling di berbagai toko, Rami dan Jisung memutuskan membeli sekotak plastik gorengan, sebotol teh gandum dan makgeolli sebagai pelengkap hidangan piknik di bawah pohon Sansuyu nanti.

Mereka kembali melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, meninggalkan keramaian pasar yang tergantikan oleh suasana pinggiran desa yang lebih sepi.

Di sepanjang jalan, mereka melewati hamparan tanah kosong yang luas. Tanah itu tampak gersang tanpa tanaman, hanya ada sisa-sisa akar kering dan beberapa tumpukan batu di pinggirnya. Tidak ada bangunan di area ini, sehingga angin berembus lebih kencang langsung ke arah mereka.

Setelah menempuh dua puluh menit berjalan kaki, akhirnya barisan pohon Sansuyu di Desa Baeksa sudah mulai terlihat dari kejauhan. Matahari musim semi menggantung indah di atas festival, menciptakan gradasi warna kuning yang kontras dengan langit yang biru pucat.

Rami sesekali membetulkan pegangan tasnya yang mulai licin karena keringat, sementara kakinya terus melangkah di atas jalan aspal yang mulai retak di beberapa bagian. Meski jemarinya mulai memerah akibat lilitan tas kain dan plastik kresek yang berat, ia tetap bersikeras menolak bantuan Jisung. Ada gengsi yang coba ia pertahankan, walau peluh mulai menetes di pelipisnya.

Begitu memasuki area utama, lautan warna kuning menyambut mereka. Ribuan bunga Sansuyu yang mungil mekar berjejer, menciptakan koridor emas yang memanjakan mata.

“Rami, lihatlah!” Jisung menunjuk setiap pohon Sansuyu yang ada di sana.

Rami sempat tertegun, tapi bukan karena bunga-bunga itu, melainkan saat melihat wajah Jisung yang berubah bungah. Binar di mata suaminya merefleksikan keindahan Sansuyu dengan cara yang tulus. Untuk sejenak, berat di tangannya terlupakan oleh pemandangan itu.

Namun, kelelahan fisik tidak bisa dibohongi. Saat mereka memutuskan menuju area yang lebih tinggi, jalur mulai menanjak tajam. Napas Rami kian memburu. Di tengah usahanya mengatur napas, langkahnya tiba-tiba melambat.

Di depannya, sepasang lansia berjalan perlahan sambil bergandengan tangan erat, saling menopang di jalur pendakian. Pemandangan itu memicu kegelisahan aneh di dada Rami.

Jisung yang berjalan sedikit di depan, sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan Rami tidak tertinggal jauh.

“Rami…” panggil Jisung saat menemukan Rami menghentikan langkah dengan wajah yang sedikit muram.

“Iya, kenapa?”

“Sudah kubilang jangan menggaruk kuku tanganmu.”

“Ah, maaf.” Rami tersadar dari aktivitas yang sudah menjadi kebiasaannya itu.

“Berat, kan?”

“Apanya?”

“Barang yang kamu bawa.”

Rami mulai cemberut, lalu menunjukkan berbagai tentengan kresek yang menggantung di tangannya.

“Makanya jangan keras kepala. Aku sudah menawarkan bantuan, tapi kamu tolak.” Jisung menjulurkan lidah, mengejek Rami yang sedari tadi memaksakan diri.

“Dasar menyebalkan!” Rami berlari menyusul Jisung yang mulai berjalan lebih cepat.

Jalanan semakin menanjak, tapi hal itu tidak menyurutkan semangat mereka untuk sampai ke tempat tujuan.

Akhirnya, mereka tiba juga di Sumokjang[4]. Suasana tempat ini mendadak sunyi, jauh sekali dari hiruk-pikuk festival di bawah sana. Pohon ek dan pinus saling berjajar dengan jarak yang rapi dan tertata.

Uniknya, setiap pohon memiliki plakat kayu yang bertuliskan nomor dan nama seseorang. Aroma kulit pohon dan tanah yang basah menyeruak, bercampur dengan suhu udara yang semakin rendah. Sensasi ini menjadi hal yang paling dirindukan oleh Rami.

Rami melihat Jisung memimpin langkah. Mereka tidak berhenti di salah satu pohon pinus atau ek, melainkan pohon Sansuyu. Satu-satunya pohon Sansuyu yang berdiri di lahan ini. Dahan Sansuyu bernomor 312 itu bahkan lebih rendah dari tinggi Jisung. Kelopak kuningnya telah mekar sempurna, keberadaanya bagaikan mentari di tengah hijaunya taman yang dipenuhi pepohonan rindang.

Rami mengambil kain tipis dari tas-nya sebagai alas duduk. Tangannya cekatan menata stroberi shortcake, teh gandum, pancake sansuyu, gorengan, serta makgeolli di atas sana. Tidak lupa, ia juga mengeluarkan mangkuk keramik putih yang dibelinya dari toko dan kantong merah berisi Pyeong-an-bu.

Setelah semua perlengkapan piknik tertata dengan sempurna, Rami menghela napas lega. Kali ini, waktu yang ia habiskan bersama Jisung akan terasa lebih menyenangkan dari tahun sebelumnya.

Rami membuka botol makgeolli, lantas menyiramkan sebagian isinya di bawah pohon Sansuyu dengan gerakan melingkar dan tenang. “Gousire!”[5]

Tangannya menepuk tempat di sampingnya. “Duduklah, Jisung-ah”.

Rami menggeser mangkuk keramik kepada Jisung, lalu menuangkan teh gandum kesukaannya. Sedangkan, mangkuknya tetap terisi makgeolli. Perempuan itu sangat hafal bahwa suaminya tidak cocok dengan minuman beralkohol.

Namun saat hendak mengajaknya bersulang, pandangan Rami tertahan pada plakat kayu yang tergantung di dahan Sansuyu.

Shin Jisung (1985–2021)

Mata Shin Rami mulai memanas. Udara dingin seakan menekan rongga pernapasannya. Darahnya berdesir hebat. Ada gelenyar aneh yang menyelimuti tubuhnya setiap melihat plakat nama milik suaminya yang bertengger di sana.

Abu milik Shin Jisung telah tertanam di dalam tanah, tepat di bawah pohon Sansuyu favoritnya.

“Shin Rami…”

Rami tersadar ketika suara Jisung terdengar lembut di telinganya.

“Ah, Maaf,” sahutnya dengan suara yang sedikit bergetar. “Apa aku melamun lagi?”

Jisung menggeleng pelan. “Tenangkan dirimu,” ucapnya sembari mendekap tubuh Rami.

Rami membalas pelukan itu lebih erat. “Sudah lima tahun berlalu, tapi aku masih merindukanmu. Sangat merindukanmu.”

Pelukan itu terlepas. Rami mendongak, pandangannya terkunci pada Jisung. Ia sangat sadar bahwa suaminya sudah tiada. Tapi, ia juga meyakini keberadaan pria di depan matanya kini adalah kenyataan.

Tangannya bertengger di pelipis Jisung, mengusapnya lembut, sesekali membenarkan letak rambut yang menjuntai menutupi mata. Jemarinya mulai meraba mata monolid serta bulu mata yang lentik itu. Ia tidak lupa menyentuh cekungan di kedua pipi yang memberikan kombinasi manis di wajah suaminya. Telunjuknya lantas berakhir di bibir penuh yang sedikit kering milik satu-satunya pria yang sangat Rami cintai.

Semuanya sama, tidak ada yang berubah. Penampilan Jisung hari ini persis saat terakhir kali Rami menemukan Jisung tanpa napas di musim semi, lima tahun lalu. Henti jantung menjadi penyebabnya. Katanya, listrik di jantung Jisung seperti mengalami konsleting, tiba-tiba putus dan tidak bisa menyala kembali. Semua perkataan dokter kala itu masih teringat jelas di kepalanya.

Pada akhirnya, Rami tidak hanya kehilangan Jisung, tetapi juga janin yang ada di dalam perutnya. Mereka sudah lama menanti kehadiran seorang anak. Saat Jisung yang mendambakannya telah pergi, anak itu juga turut menyusulnya. Syok berat membuat hidup Rami kacau balau.

Namun bagi perempuan itu, meratapi kepergian Jisung terus-menerus bukanlah hal yang tepat. Lewat kegiatan piknik musim semi Sansuyu yang menjadi rutinitas mereka sejak dulu, Rami ingin menjaga dan menanam kenangan baru tentang Jisung sebanyak mungkin.

Dahan kurus Sansuyu sedikit bergoyang tertiup angin musim semi. Saat melihat dan mendengar nama Sansuyu, Rami pasti teringat tentang Jisung.

“Jisung-ah…”

“Hm?”

Rami menggenggam erat bandul kalung yang ia kenakan. Di dalam bandul itu, ada sebagian diri Jisung yang tersimpan di sana. “Sepertinya, aku semakin menyukai bunga Sansuyu.”

Bibir Jisung melengkung bahagia. “Sungguh?”

“Sansuyu rasanya akan tumbuh di kepalaku setiap kali aku melihatmu, deh,” tawanya terdengar samar.

Tatapan Rami semakin lekat, embusan napasnya mulai memberat. “Ingat, ya. Saat badanku mulai menua dan lelah nanti, memori tentangmu di kepalaku akan terus hidup, Jisung-ah. Cintaku akan bertumbuh, tidak lekang oleh waktu. Mungkin saja, Sansuyu akan gugur dari kepalaku ketika tubuhku sudah membeku dan aku kembali sepenuhnya ke pelukanmu.”

Rami mengangkat mangkuk makgeolli ke arah plakat kayu, lalu mendetingkannya di mangkuk teh gandum yang isinya belum tersentuh sama sekali.

“Jadi…” bisiknya ke telinga Jisung, “terus temani aku di sisa hidupku, ya. Janji?”[]

— Deharuka 2026 —



Catatan:

[1] Jerye-yongpum-jeom: Toko Perlengkapan Ritual. Biasanya tempat ini menyediakan segala sesuatu untuk upacara penghormatan leluhur atau kematian (Jerye).

[2] Imo: Panggilan wanita paruh baya yang lebih akrab (bibi/tante), selain Ahjumma.

[3] Pyeong-an-bu: Jimat keselamatan atau kedamaian. Wujudnya berupa kertas kuning yang bertuliskan tinta merah. Biasanya jimat ini spesifik dipercaya untuk melindungi saat berpergian jauh.

[4] Sumokjang: Pemakaman Pohon (Natural Burials). Pemakaman jenis ini umum di Korea Selatan. Istilah “piknik” atau ziarah santai di Sumokjang sering dilakukan oleh keluarga mendiang.

[5] Gousire: Tradisi penuangan alkohol (biasanya makgeolli atau soju) ke tanah saat berziarah. Ritual ini memberikan “bagian” pertama dari makanan atau minuman kepada roh atau dewa.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Novel
HEART OF STONE
Fatkhiannisa Amalia Rahma
Novel
Crazy Rich
Nuel Lubis
Cerpen
Bronze
Samurai Jepang Mencari Cinta ke Negara Garuda
Mochammad Ikhsan Maulana
Cerpen
Sansuyu Tumbuh Di Kepalaku
Deharuka
Skrip Film
Duda-Duda Durjana
Kinanti WP
Novel
Bronze
Seven Days
ken fauzy
Novel
Sukma! Aku Pulang
Arunika
Novel
Untuk Lio
Hiba
Cerpen
Bronze
Tarian Angsa
Imajinasiku
Cerpen
Bronze
Waktu yang Tepat
Leni Juliany
Novel
Bronze
Shine
trinihutapeaa
Novel
MIREYA
Warosati J.M
Novel
Bronze
PARAGRAF CINTA
Eva yunita
Novel
Bronze
Second Lead
Elhassaries
Novel
Bronze
Another Cinderella Story
Mustika Nur Amalia
Rekomendasi
Cerpen
Sansuyu Tumbuh Di Kepalaku
Deharuka
Cerpen
The Last Place We Belong
Deharuka