Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Sejarah
Sangkal
0
Suka
10
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Siang belum sepenuhnya matang.

Matahari masih tergantung rendah seperti lampu tua yang belum memutuskan ingin menyala terang atau kembali padam. 

Awan berjalan pelan di atas langit, seolah dunia hari itu masih ingin terlihat ramah.

Di tengah hamparan sawah yang luas dan hijau, aku membalik tanah dengan cangkul lusuh di tangan.

Tanah yang basah itu terangkat, lalu jatuh kembali.

Berulang.

Terus berulang.

Kadang aku berpikir hidupku pun tak jauh berbeda.

Dibalik.

Dijatuhkan.

Lalu disuruh berdiri lagi.

Aku petani. Tanganku akrab dengan lumpur, punggungku bersahabat dengan matahari, dan harapanku ditanam lebih sering daripada padi.

Setiap kali mata cangkul menembus tanah, diam-diam aku menanam doa :

Semoga suatu hari nasibku ikut terbalik seperti tanah ini.

Sebab manusia miskin sering kali hanya punya dua warisan:

peluh...

dan harapan yang dipaksa hidup meski berkali-kali dikubur.

Lalu suara itu datang.

Menerobos angin.

Pecah melalui pengeras suara surau yang berdiri tak jauh dari pematang.

“Innalillahi wa inna ilaihi raji'un...”

Tanganku berhenti.

Cangkul menggantung di udara.

Sawah yang sejak tadi berisik oleh suara burung tiba-tiba terasa bisu.

Aku menunduk.

Siapa lagi hari ini yang dipanggil pulang?

Siapa yang akhirnya menyerah pada tubuhnya sendiri?

Kemudian nama itu disebut.

Lengkap.

Disusul usia yang membuat dadaku seolah ditumbuk batu.

Tiga tahun.

Hanya tiga tahun.

Usia ketika seorang anak biasanya baru belajar menyebut nama ayahnya dengan lidah yang masih kaku.

Usia ketika dunia masih sebesar halaman rumah.

Usia ketika luka paling besar seharusnya hanya rasa lapar.

Cangkul itu terlepas dari tanganku.

Aku tidak meletakkannya.

Aku membuangnya.

Lalu berlari.

Menerobos ilalang.

Melewati rumput liar yang mencambuk kaki.

Napas terasa seperti pecahan kaca.

Karena anak itu...

anak sahabatku.

Anak seorang lelaki yang sudah sepuluh tahun menunggu.

Sepuluh tahun.

Waktu yang cukup bagi padi tumbuh dan dipanen puluhan kali.

Cukup bagi rambut hitam berguguran.

Namun tidak cukup untuk memadamkan doanya.

Aku masih ingat wajahnya dulu.

Bagaimana ia tersenyum seperti orang yang baru menemukan langit setelah sekian lama hidup di bawah atap.

Bagaimana ia sujud lama sekali ketika anak itu lahir.

Seolah Tuhan akhirnya membuka pintu yang selama ini hanya ia ketuk dalam diam.

Tetapi rupanya hidup kadang lebih kejam dari musim.

Ia memberi bunga...

hanya agar punya sesuatu untuk dipetik kembali.

Saat tiba di rumah, orang-orang sudah berkumpul.

Tangis berjatuhan seperti hujan yang lupa berhenti.

Udara terasa berat.

Seolah bahkan angin pun enggan lewat.

Di dalam rumah...

seorang ibu duduk lunglai.

Tubuhnya masih di sana.

Tetapi jiwanya seperti sudah ikut dibawa pergi.

Tangannya gemetar di dekat tubuh kecil yang telah tertutup kain.

Anaknya.

Darahnya.

Potongan jantung yang pernah tumbuh di dalam tubuhnya.

Kini diam.

Terlalu diam.

Diam yang membuat dunia terasa salah.

Di sebelahnya duduk seorang lelaki.

Ayahnya.

Sahabatku.

Atau mungkin seseorang yang dulu pernah menjadi sahabatku.

Karena lelaki yang kukenal sudah tidak ada.

Yang tersisa hanya tubuh dengan wajah yang sama.

Matanya kosong.

Bukan kosong seperti orang yang kehilangan.

Tetapi kosong seperti rumah setelah terbakar.

Masih berdiri...

namun seluruh isinya sudah menjadi abu.

Ia tidak menangis keras.

Tidak meraung.

Tidak memukul dada.

Ia hanya menatap.

Terus menatap.

Air mata jatuh tanpa henti.

Seolah tubuhnya sedang mencoba mengeluarkan lautan yang tak sanggup ditampung dadanya.

Aku tak berani mendekat.

Tak berani bertanya.

Apa penyebabnya.

Bagaimana bisa.

Mengapa terjadi.

Karena semua pertanyaan itu mendadak terasa hina.

Tak ada jawaban yang akan mengembalikan seorang anak.

Tak ada alasan yang mampu menjahit dunia yang sudah robek.

Lalu pertanyaan lain datang.

Diam-diam.

Menusuk.

Jika suami kehilangan istri disebut duda.

Jika istri kehilangan suami disebut janda.

Jika anak kehilangan orang tua disebut yatim dan piatu.

Lalu…

Apa nama bagi orang tua yang kehilangan anaknya?

Aku menunduk.

Pertanyaan itu seperti batu yang dijatuhkan ke dalam sumur.

Tak ada gema.

Tak ada jawaban.

Hanya gelap.

Mungkin bukan karena dunia lupa memberi nama.

Mungkin karena rasa itu terlalu besar untuk dimasukkan ke dalam kata.

Bahasa sanggup menamai hujan.

Menamai perang.

Menamai kematian.

Tetapi ia menyerah ketika harus menamai hati orang tua yang melihat anaknya pergi lebih dulu.

Karena bagaimana mungkin kita memberi nama pada manusia yang kehilangan mataharinya?

Bagaimana mungkin kita menjelaskan perasaan seorang ayah yang harus mengubur alasan ia bekerja?

Bagaimana mungkin kita menjabarkan luka seorang ibu yang tubuhnya masih hidup, tetapi sebagian jiwanya sudah dimakamkan?

Tak ada obat.

Tak ada nasihat.

Tak ada pelukan.

Ada luka yang tidak ingin sembuh.

Karena sembuh terasa seperti pengkhianatan.

Dan hari itu aku mengerti...

kadang kematian tidak hanya membawa seseorang pergi.

Kadang ia meninggalkan mayat lain.

Yang masih bernapas.

Masih berjalan.

Masih duduk di ruang tamu.

Tetapi dunianya telah selesai.

Sebab hari itu yang dikuburkan bukan hanya seorang anak.

Melainkan masa depan seorang ayah.

Dan separuh jiwa seorang ibu.

EPILOG

Sore turun pelan.

Langit berubah warna seperti luka yang mulai menghitam setelah terlalu lama disentuh duka.

Di pemakaman, tanah yang sama saat siang tadi ku gali, kini telah menelan satu tubuh kecil.

 Ironis memang. Sejak pagi aku membalik tanah untuk menanam harapan, lalu menjelang petang, tanah itu pula yang dipakai mengubur harapan orang lain. 

Tanah rupanya tidak pernah memilih. Ia menerima benih. Ia menerima air mata. Ia menerima manusia.

Aku pulang melewati sawah dengan langkah berat.

Cangkulku masih tergeletak di tempat tadi.

Kotor.

Diam.

Menunggu.

Aku memungutnya perlahan.

Lalu untuk pertama kalinya, aku tidak lagi berdoa agar nasibku ikut terbalik seperti tanah.

Karena diriku mulai paham...

Miskin ternyata bukan hanya soal perut yang lama kosong.

Kadang seseorang terlihat memiliki segalanya, lalu hidup datang membawa sekop yang lebih besar.

Dan menguburkan seluruh dunianya.

Aku menatap langit yang mulai gelap.

Entah kepada siapa.

Entah untuk apa.

Tetapi diam-diam aku berucap,

"Tuhan... jika besok masih ada matahari, tolong biarkan mereka kuat melihatnya."

Sebab ada orang yang tidak kehilangan hidupnya...

tetapi kehilangan alasan untuk melanjutkannya.

Manusia memang aneh.

Masih sanggup berdiri di atas kaki yang sesungguhnya sudah ikut terkubur.

Besok, sahabatku akan tetap dipanggil dengan namanya.

Tetap dianggap seorang ayah.

Padahal anak yang membuatnya menjadi ayah sudah tidak ada.

Lalu aku kembali teringat pertanyaan itu.

Apa nama bagi orang tua yang kehilangan anaknya?

Tidak ada.

Mungkin memang tidak akan pernah ada.

Karena bahasa hanya mampu menamai keadaan.

Sedangkan duka itu bukan lagi keadaan.

Ia adalah lubang yang terus tinggal di dalam dada, bahkan setelah air mata habis dan pemakaman selesai.

Maka dunia memilih diam.

Sebab ada kehilangan yang bahkan kata-kata pun tak sanggup mendekatinya.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Sejarah
Cerpen
Sangkal
Temu Sunyi
Novel
Bronze
Tarka Sengkalan & Simbol Masa 1997/98
RK Awan
Novel
Bronze
Kisah Gelap Keluarga Terhormat
Ratri Astutiningtyas
Novel
Gold
Go Set a Watchman
Mizan Publishing
Novel
Bronze
Prahara Diakhir Tahta
Fitri Yeni Musollini
Flash
Salah - Benar?
Drew Andre A. Martin
Novel
Bronze
Alauddin Khalji: Sang Penjegal Mongol
Ariel Athahudan Pratama
Flash
MALINGGUNA : The Story Of Wasim.
Nur Rama Data Kapentas
Cerpen
Kujang
Galang Gelar Taqwa
Novel
La Arus
Mer Deliani
Novel
BERNGA
Charlotte Diana
Novel
Bronze
The Red Margin
G Wira Negara
Novel
HARU KEPUNCAK CIREMAI
Rossi Gusti Nugraha
Cerpen
Bronze
NINI TAMBAK
Abdurrazzaq Zanky
Novel
Bronze
Lilin yang Patah
Gia Yaquni
Rekomendasi
Cerpen
Sangkal
Temu Sunyi
Cerpen
Pundak Tanpa Usia
Temu Sunyi
Cerpen
Tangan Kasar Pendidik
Temu Sunyi
Novel
Bronze
Keheningan Ditikam Jeruji
Temu Sunyi
Novel
Keanggunan Dipeluk Takdir
Temu Sunyi
Novel
Tubuhku Tak Salah, Tapi Dunia Menghakimi
Temu Sunyi
Cerpen
Negeri Pemurah Sosial
Temu Sunyi
Cerpen
Sabda Tuan Tanah
Temu Sunyi
Cerpen
Parade Para Domba
Temu Sunyi
Novel
Bersalah Sebelum Bernapas
Temu Sunyi
Cerpen
Anak Di Tanah Konflik
Temu Sunyi
Novel
Pelita Luka Menanti Senja
Temu Sunyi
Cerpen
Hidup Tak Berizin
Temu Sunyi
Cerpen
Takdir Dari Rahim
Temu Sunyi
Novel
Malam Yang Menghapus Nama
Temu Sunyi