Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
Sang Bunda dan Anak Haramnya
0
Suka
8
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Inka sendirian di tengah hutan, buta, dan dengan rongga mata yang masih mengucurkan darah. Dua orang yang berpapasan dengannya berlari menjauh sambil menjerit begitu melihat wajahnya. Namun, orang ini, yang sengaja datang padanya dengan langkah kaki ringan, justru berkata lembut padanya “Matamu berdarah.”

Inka menoleh ke asal suara. Ia tidak bisa melihat siapa yang berbicara padanya, suaranya pun tidak seperti suara dari orang yang pernah berbincang-bincang padanya. Meski begitu, Inka tahu. Ia tahu kalau orang itu adalah dia, orang yang ucapan pertamanya tidak pernah dilupakan Inka:

“Aku Hondu, putra Daith. Jika memang kematianlah yang kau dambakan, maka kematian yang cepat akan kuhadiahkan padamu. Namun aku tidak bisa menjanjikan kematian tanpa rasa sakit.“

Senyum Inka seperti menyambut kawan lama. “Besok akan sembuh dengan sendirinya," katanya. “Jangan khawatirkan aku.”

“Aku melewati sungai kecil dalam perjalanan kemari. Biar kuantar kau ke sana. Nanti kita bersihkan semua darah itu dari wajahmu. Kau terlihat seperti hantu dari orang yang mati mengenaskan.”

Inka tertawa. Tanpa pikir dua kali, ia membiarkan orang itu meraih tangannya dan menuntunnya. Dia hampir bisa mendengar arwah ibunya berteriak, “Anak bodoh!”

“Suaramu berbeda dari yang kuingat,” kata Inka setelah beberapa saat. “Tanganmu juga.”

Hutan sunyi tidak wajar di sekitar mereka.

“Saat penglihatanku kembali nanti,” kata Inka lagi, “apa kau masih akan tetap sama seperti saat terakhir kali aku melihatmu?”

“Tidak.”

Inka tidak kaget. “Tapi kau masih kau, kan?”

Tidak ada jawaban. Kemudian, “Manusia berubah.”

“Oh, Hondu.” Inka bergumam. “Kita berdua tahu kau manusia di luar saja.”

Hondu menggenggam tangan Inka sedikit lebih erat. “Aku tidak pernah menyangka kau masih di sini.”

Mereka berhenti. Dari suara gesekan daun di tanah, Inka mengira Hondu telah berbalik menghadapnya.

“Kau meminum darahku,” kata Hondu, “tapi kau masih hidup.”

Ada pertanyaan yang tidak diajukan di sana, dan jujur saja Inka juga sudah mempertanyakan hal yang sama bertahun-tahun. “Mungkin orang yang kau tuntun ini cuma seonggok daging tanpa jiwa.”

“Aku serius, Inka.”

“Dan aku sama seriusnya denganmu, Hondu. Aku tidak tahu apa-apa.”

Hondu kembali menuntunnya. “Kalau suatu saat kau tahu sesuatu,” dia bertutur dalam suara yang nyaris berupa bisikan, “panggil aku. Aku akan datang meskipun sedang berada di ujung dunia.”

Samar-samar Inka mulai mendengar gemercik air yang mengalir tidak jauh dari tempat mereka berada, dan tanah yang sebelumnya padat kini bertekstur lembek dan basah di bawah kakinya. Hondu mengarahkan Inka agar tidak salah memijak sambil mengatakan hal-hal seperti, “Hati-hati,” “Angkat kakimu,” “Ada kubangan lumpur. Lompat,” “Jangan takut, aku di sini. Kau tidak akan jatuh.”

Saat mereka akhirnya tiba di tepi sungai yang dimaksud, tangan Inka kebas akibat genggaman Hondu yang terlalu kuat. Setelah mengarahkannya untuk duduk di atas batu, Inka mendengar Hondu merobek sehelai kain, disusul langkah kaki yang terbenam di lumpur serta kecipak air. Ketika ia kembali, Inka merasakan tekstur kain kasar basah mengelap wajahnya. Sensasi dingin yang mengiringinya membuat Inka bergidik.

“Maaf,” gumam Hondu. “Aku tidak punya kain yang lebih lembut. Kalau aku menggosok terlalu keras bilang saja.”

Inka menggeleng. “Tidak apa-apa. Terima kasih.”

Hondu membersihkan darah dari wajah Inka dalam diam, tetapi tak lama kemudian ia meringis.

“Ada apa?” tanya Inka.

“Er, bukan apa-apa. Kau tidak kesakitan?”

“Tidak. Aku sudah terbiasa dengan luka seperti ini. Selalu terjadi setelah aku melakukan sihir.”

“Selalu?” Hondu berdecak. “Ini penyiksaan diri. Kau harus berhenti.”

“Tidak bisa dan tidak mau,” Inka bersikeras. “Itu salah satu sumber penghasilanku.”

“Memangnya hasilnya sepadan dengan penderitaan yang harus kau alami?”

“Sepadan, kok. Kau akan terkejut ada banyak orang yang memilih jalan pintas untuk menyelesaikan semua permasalahan mereka. Aku bisa menyewa kamar di penginapan mahal di kota besar selama sebulan.”

Hondu mendengkus. “Dasar manusia,” cibirnya selagi mengikatkan sehelai kain di sekitar kepala Inka untuk menutup matanya. “Nah, sudah selesai.”

“Terima kasih,” kata Inka lagi.

Jeda sejenak yang datang setelahnya terkesan seolah Hondu tidak tahu lagi harus melakukan apa atau berkata apa padanya. Maka dari itu, setelah berjalan hilir-mudik sebentar, Inka mendengarnya duduk di sebelah kiri tak jauh dari dirinya.

Tak satu pun dari mereka ada yang bersuara hingga akhirnya Hondu berkata, “Aku suka caramu menceritakan kisah bunga seroja bulan itu.”

“Benarkah?”

“Mhm. Baru kali ini aku mendengar versi yang kau ceritakan. Aku lebih sering mendengar versi satunya."

“Ada versi lain dari cerita bunga seroja itu?”

“Ada. Dalam versi itu, seroja bulan adalah perwujudan dari dosa yang diperbuat Lifa.”

“... Lifa?”

“Lifa? Yang Pertama dari Semua Dewa? Ibu dari Semua Makhluk?”

“Aku tahu siapa Lifa. Maksudku, dosa apa yang diperbuatnya sampai diabadikan dalam cerita?”

“Dia mengandung dan melahirkan anaknya sendiri,” kata Hondu. Saat Inka tidak kunjung merespons, dia menambahkan, “Anak haram. Ada yang bilang anak itu adalah anak tunggal. Ada pula yang bilang bahwa anak yang dilahirkan Lifa adalah anak kembar. Mana pun yang benar, anak itu adalah anak terkutuk yang dalam nadinya mengalir darah dewa. Tidak ada makhluk di dunia yang lebih berbahaya daripada anak semacam itu.”

Inka berkedip kalau dia bisa berkedip. “Tapi Lifa tidak bisa mengandung.”

”Justru itu penyebabnya. Lifa adalah Dewi Kehidupan,” lanjut Hondu diiringi suara dari sesuatu yang runcing digoreskan ke atas permukaan batu. “Ia menciptakan semua yang hidup, tetapi dalam wujud aslinya ia tidak bisa mengandung dan melahirkan darah dagingnya sendiri. Karena hal inilah Lifa sering dibuat iri oleh makhluk ciptaannya yang mampu melahirkan banyak keturunan. Maka, untuk mendapatkan apa yang sangat didambakannya, Lifa menyamar sebagai manusia—seorang gadis petani seroja—dan berhasil mengelabui seorang lelaki. Tak lama kemudian ia pun mengandung, lalu melahirkan di tepi danau yang ditumbuhi seroja delima. Saat darah dari proses persalinannya mengalir ke danau, seroja delima yang masih berupa kuncup pun mekar jadi seroja bulan.”

Inka terdiam untuk waktu yang lama. “Sejak kecil orang tuaku mengajarkan agar hanya memuja Sang Bunda Lifa,” Inka berkata. “Ibuku pendeta di kuilnya, dan semua cerita tentangnya ia bacakan padaku. Bagaimana bisa aku tidak pernah mendengar cerita itu sebelumnya?”

Hondu berkata heran, “Saat cerita tentang kesucian Lifa yang telah ternodai tersebar luas, banyak pengikutnya yang merasa malu memilih untuk meninggalkan kepercayaan mereka dan menyembah dewa lain yang dianggap lebih suci. Kuil-kuil dan para pendeta yang mengurusnya sangat bergantung pada sumbangan jemaat agar bisa tetap berdiri, Inka. Pikirkan lagi kenapa bisa kau baru mendengar ceritanya sekarang.”

Inka mengernyit. Itukah sebabnya mereka melihat ke arahku dengan tatapan seperti itu? Itukah sebabnya mereka selalu berbisik “penyembah pelacur” di balik punggungku? Inka menggeleng cepat kemudian bertanya, “Kau percaya pada cerita itu?”

“Aku percaya,” sahut Hondu.

Inka hampir tersedak. “Kau—kau mempercayainya meskipun cerita itu dibuat tanpa dasar yang jelas?”

“Kau yang dikenal dengan julukan si Pendongeng, bukan aku. Seharusnya kau paham bahwa dongeng terliar sekalipun selalu dibangun di atas kebenaran.” Hondu lalu merendahkan suaranya. “Bukankah itu yang kau lakukan pada cerita seroja bulan versimu? Jangan salah paham. Aku suka caramu mengubah peristiwa berdarah jadi cerita yang jauh lebih jinak, tapi tetap saja kau membangkitkan ingatan yang paling ingin kulupakan.”

Inka memalingkan wajah, jantungnya mencelus. “T-tapi itu tidak masuk akal!” dia gelagapan. “Kebenaran macam apa yang ada dalam cerita seperti itu?! Lifa—ia diagung-agungkan sebagai Bunda Lifa Yang Suci bukan tanpa alasan! Ini fitnah! Penistaan! Ia tidak mungkin—buktinya tidak ada—”

“Kalau kau dengan sengaja mencari buktinya, kau tidak akan menemukan apa pun. Biarkan buktinya datang padamu dan kau akan tahu sendiri nantinya. Sekarang tidurlah, Inka. Aku akan menemanimu sampai fajar.”

Inka siap untuk beradu argumen lebih jauh, tetapi rasa kantuk langsung menyerang segera setelah ia merasakan Hondu menepuk lembut pundaknya.

Ketika rasa kantuknya pergi, Inka mendapati bahwa kain linen yang menutupi matanya telah hilang entah ke mana, dan penglihatannya yang baru pulih nyaris dibutakan lagi oleh cahaya matahari yang terang benderang. Ia berkedip beberapa kali. Fajar telah lama berlalu.

Ia bangun sambil menyingkap jubah yang bukan miliknya lalu duduk bersandar pada sebatang pohon. Ke mana pun ia memandang, ia tidak menemukan tanah basah berlumpur, sebongkah batu besar dengan permukaan rata tempatnya duduk semalam, ataupun sungai yang mengalir tenang. Yang dilihatnya hanya pepohonan, jalan setapak serta jejak darah kering di rumput mati di sekeliling Inka. Udara telah mengubah warna darah itu jadi cokelat gelap, tetapi yang perak tetap mempertahankan warna aslinya.

“Hondu?”

Bunyi derak dari ranting yang patah menjawab panggilannya. Inka menoleh. Berdiri di depannya adalah sepasang kaki depan dari seekor rusa berbulu sewarna tanah. Bukan, pikir Inka saat menengadah agar bisa melihat rangga di kepalanya yang bercabang dan melengkung ke belakang. Bukan rusa. Tubuhnya terlalu tinggi untuk seekor rusa.

Elk.

Inka duduk dengan punggung tegak. Tapi apa yang dilakukan seekor elk begitu jauh di selatan? Sendirian tanpa ditemani kawanannya?

Langkah binatang itu menimbulkan suara berkerasak ketika menginjak rumput kering. Tidak seperti kuda yang akan langsung meringkik dan mendompak, si elk dengan tenang menundukkan kepalanya untuk mengendus darah yang berceceran di tanah, dan ketika penciumannya membawanya pada setetes darah perak kering, ia berhenti, menegakkan kepalanya kembali lalu menoleh ke kanan dan kiri, matanya mencari-cari di antara pepohonan. Inka terkesiap.

Dengan jantung berdebar-debar, Inka memberanikan diri untuk berbisik, “Bunda?”

Si elk mengibaskan sebelah telinganya, kemudian ia mengeluarkan lengkingan panjang bagai jeritan perempuan yang menemui ajalnya secara tragis. Gemetar sekujur tubuh, Inka merangkak mundur untuk bersembunyi di antara akar pohon, menantikan tanduk si elk mendarat di tubuhnya. Namun yang ditunggu tak kunjung datang, dan ketika Inka keluar dari tempat persembunyiannya, si elk sudah tidak terlihat lagi.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Skrip Film
EGO YANG BERSUARA
Masella Dwi Lestari
Flash
Bunga untuk Mama
myollaa
Cerpen
Sang Bunda dan Anak Haramnya
Wina Sari Ardini
Novel
Bronze
Pohon Imajinasi
Janeeta Mz
Novel
Blooming Hyacinth
Alline Elia
Novel
Bronze
Hujan Pertama Di Musim Semi (Buku I: Bramanta)
Indra Afriza Arsad
Novel
SEBUTIR NASI DI MEJA MAKAN ORANG-ORANG
Aga Lesmana
Novel
Buat Ibu Bangga
Bilsyah Ifaq
Komik
BUKAN CINTA SEMUSIN
Kamalsyah Indra
Novel
Bronze
in my delusion
Nadia Nurulaini
Novel
Bukan Senja
Laras Frantika Yutama
Skrip Film
Kubayar Pelangi dengan Hujanmu (Skrip)
Anis Maryani
Skrip Film
Romantika
Wahid Irawan
Skrip Film
Gara-gara Istri Muda
Annisa Haroen
Novel
Republik Bandit
Arie Raditya Pradipta
Rekomendasi
Cerpen
Sang Bunda dan Anak Haramnya
Wina Sari Ardini
Cerpen
Seroja Bulan
Wina Sari Ardini
Flash
Gadis Seruling, Koin Perak, dan Penunggang Kuda
Wina Sari Ardini
Flash
Kebakaran di Neda
Wina Sari Ardini
Flash
Darah Perak
Wina Sari Ardini
Flash
Merpati di Pinggir Laut
Wina Sari Ardini
Flash
Neraca, Tiang Pembakaran, dan Burung Gagak
Wina Sari Ardini
Flash
Karnelian
Wina Sari Ardini
Flash
Koin Perak dan Sebutir Apel
Wina Sari Ardini
Flash
Di Balik Tembok Kuil Berlapis Emas
Wina Sari Ardini
Flash
Kehidupan, Kematian, dan Kelahiran Kembali
Wina Sari Ardini
Flash
Hutan Gantung
Wina Sari Ardini
Flash
A Thousand Gods, a Thousand Prayers
Wina Sari Ardini