Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Self Improvement
Salah wujud
0
Suka
7
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Dunia ini terlalu bising untuk sesuatu yang seharusnya hanya berupa getaran.

Nama yang melekat padaku sekarang adalah Aksa. Sebuah nama yang berarti "mata", namun ironisnya, aku benci melihat apa yang ditangkap oleh sepasang bola mata ini. Sejak pertama kali aku bisa mengingat, aku merasa ada yang salah dengan konstruksi daging dan tulang ini. Aku merasa seperti sebuah lagu yang dipaksa menjadi sebuah benda, atau seperti Sungai yang dipaksa menjadi Samudera.

Aku adalah anomali. Aku adalah kesalahan bentuk. Aku adalah "Salah Wujud".

****

Pagi hari adalah waktu yang paling menyiksa. Saat alarm berbunyi pukul 06.00, kesadaranku yang tadinya bebas melayang di alam mimpi harus ditarik paksa kembali ke dalam raga. Aku bisa merasakan beratnya gravitasi yang menekan paru-paruku. Aku harus menghirup oksigen—sebuah aktivitas mekanis yang membosankan dan melelahkan.

"Aksa, sarapan sudah siap!" suara Ibu terdengar dari lantai bawah.

Suara itu merambat melalui udara, masuk ke lubang telingaku, menggetarkan gendang telinga, dan diterjemahkan oleh otak sebagai instruksi. Proses fisik yang sangat rumit hanya untuk sekedar memberi tahu bahwa ada roti bakar di meja. Mengapa manusia harus berkomunikasi dengan suara yang terbatas? Mengapa kita tidak bisa saling bertukar frekuensi perasaan saja tanpa perlu membuka mulut?

Aku turun ke bawah dengan langkah kaki yang terasa berat. Setiap langkah adalah gesekan antara kulit telapak kaki dan lantai dingin. Aku benci sensasi sentuhan. Bagiku, kulit adalah batas yang egois. Ia memisahkan aku dengan dunia luar. Padahal, jauh di dalam lubuk hatiku yang paling dalam, aku ingin menyatu dengan udara, meresap ke dalam pori-pori tembok, atau menguap menjadi embun di daun pepaya depan rumah.

"Kamu pucat sekali, Sa. Kurang tidur lagi?" tanya Ibu sambil mengoleskan selai kacang.

Aku menatap Ibu. Aku menyayanginya, tentu saja, dalam kapasitas yang mampu dilakukan oleh tubuh manusia ini. Namun, terkadang aku melihatnya bukan sebagai manusia, melainkan sebagai sekumpulan atom yang tersusun sedemikian rupa sehingga membentuk sosok wanita paruh baya.

"Aku hanya lelah menjadi manusia, Bu," jawabku pelan.

Ibu tertawa kecil, menganggapnya sebagai lelucon remaja atau sekedar kelelahan karena tugas kuliah. "Ya sudah, habiskan rotinya. Manusia butuh energi untuk bertahan hidup."

Bertahan hidup. Kata-kata itu terdengar seperti hukuman mati bagiku.

*****

Di kampus, semuanya terasa sepuluh kali lipat lebih buruk. Kantin adalah neraka. Aroma minyak goreng sisa, parfum murah yang menyengat, suara tawa yang melengking, dan gesekan kursi-kursi besi. Semua itu menyerangku tanpa ampun.

Aku duduk di sudut paling gelap, mencoba membaca buku hanya agar tidak perlu melakukan kontak mata dengan siapa pun. Menatap mata orang lain rasanya seperti dipaksa melihat ke dalam sebuah sumur yang penuh dengan kekacauan emosi: ambisi, ketakutan, nafsu, dan kesedihan.

"Hei, Aksa! Melamun saja," seorang teman, atau setidaknya seseorang yang menganggap dirinya temanku, menepuk pundakku.

Aku tersentak. Sentuhan itu terasa seperti sengatan listrik yang kotor. Aku segera menarik bahuku.

"Maaf, aku sedang tidak ingin disentuh," kataku datar.

Ia mengerutkan kening, tampak tersinggung. "Kamu aneh, Sa. Kayak orang yang baru pertama kali punya badan aja."

Aku terdiam. Kalimatnya menghujam tepat di titik sarafku. Mungkin dia benar. Mungkin di kehidupan sebelumnya aku adalah awan yang hanya perlu berarak ditiup angin, atau mungkin aku adalah sekilas cahaya yang tidak memiliki bobot. Menjadi manusia berarti harus memiliki beban. Kita harus membawa nama, status sosial, riwayat medis, dan ekspektasi orang lain.

Aku sering membayangkan jika aku adalah seekor burung elang. Tidak, itu masih terlalu konkret. Burung masih memiliki daging yang bisa sakit. Aku ingin menjadi angin yang melintasi samudera. Angin tidak perlu makan, tidak perlu membayar pajak, dan tidak perlu menjelaskan mengapa ia sedang bersedih. Angin hanya ada.

****

Suatu sore, aku pergi ke sebuah taman di pinggiran kota yang jarang dikunjungi orang. Di sana ada sebuah pohon beringin tua yang akarnya sudah menjalar ke mana-mana, merobek aspal jalanan setapak dengan kekuatannya yang sunyi.

Aku menyandarkan punggungku di batangnya. Untuk pertama kalinya dalam hari itu, aku merasa sedikit tenang. Pohon ini tidak menuntutku untuk berbicara. Ia tidak bertanya mengapa aku diam. Ia hanya berdiri di sana, melakukan tugasnya selama puluhan tahun: tumbuh dan bernapas.

"Kau beruntung," bisikku pada kulit kayu yang kasar. "Kau tidak punya otak yang selalu mempertanyakan eksistensimu. Kau tidak punya hati yang bisa patah karena ekspektasi."

Tiba-tiba, aku membayangkan diriku perlahan membeku. Kakiku menjadi akar yang menghujam bumi, mencari air di kegelapan tanah yang dingin. Kulitku mengeras menjadi kayu yang kokoh. Rambutku berubah menjadi daun-daun hijau yang menangkap cahaya matahari. Aku tidak lagi perlu bicara. Aku hanya perlu merasakan aliran nutrisi dari tanah dan belaian angin di pucuk kepalaku.

Alangkah indahnya jika aku salah wujud saat dilahirkan. Seharusnya aku adalah pohon ini. Seharusnya aku adalah bagian dari hutan yang tak terjamah, di mana waktu tidak dihitung dengan jam tangan, melainkan dengan pergantian musim.

Namun, lamunanku pecah saat sebuah notifikasi masuk ke ponsel di sakuku. Pesan dari grup WhatsApp keluarga tentang rencana makan malam. Realitas menarikku kembali. Aku harus kembali menjadi Aksa, mahasiswa marketing yang harus tersenyum dan berperilaku sopan.

****

Malam itu, hujan turun dengan sangat deras. Aku berdiri di balkon kamarku, membiarkan percikan air mengenai wajahku. Dinginnya air hujan adalah satu-satunya sensasi fisik yang aku sukai. Ia terasa jujur. Ia tidak berpura-pura.

Aku mulai berpikir, apakah ada orang lain seperti aku? Orang-orang yang merasa bahwa dunia ini adalah panggung sandiwara yang salah kostum?

Aku merasa lelah. Bukan lelah fisik setelah beraktivitas, tapi lelah eksistensial. Lelah karena harus terus-menerus memelihara tubuh ini. Mandi, makan, memotong kuku, mencukur rambut—semua itu terasa seperti perawatan rutin untuk sebuah mesin yang sebenarnya tidak aku inginkan sejak awal.

Aku memejamkan mata dan berbisik ke kegelapan malam, "Sebenarnya aku tak ingin jadi manusia."

Kata-kata itu keluar begitu saja, ringan namun bermuatan berat. Begitu terucap, aku merasa ada sesuatu yang retak di dalam diriku. Seolah-olah jiwaku sedang mencoba melepaskan diri dari jahitan dagingnya.

Aku membayangkan diriku menjadi cair. Aku mulai membayangkan sel-sel tubuhku meluruh, menyatu dengan air hujan yang mengalir di lantai balkon, masuk ke saluran pembuangan, menuju sungai, dan akhirnya sampai ke laut lepas. Di sana, aku tidak akan lagi memiliki nama. Aku tidak akan lagi memiliki wajah. Aku hanya akan menjadi bagian dari biru yang tak terbatas.

****

Keesokan paginya, aku bangun dan mendapati diriku masih berada di tempat tidur yang sama. Masih dengan tangan yang sama, kaki yang sama, dan rasa berat yang sama di dada.

Dunia tidak berubah hanya karena aku memohon. Matahari tetap terbit dengan egoisnya, menuntutku untuk bangun dan kembali memakai topeng manusia.

Aku berjalan ke arah cermin di kamar mandi. Aku menatap pantulanku. Wajah di dalam cermin itu tampak asing. Siapa Aksa? Dia hanyalah sebuah wadah. Di dalamnya, ada sesuatu yang liar, sesuatu yang tak berbentuk, sesuatu yang merindukan kebebasan tanpa raga.

Namun, saat aku membasuh wajahku dengan air dingin, aku menyadari satu hal. Jika aku bukan manusia, aku tidak akan bisa merasakan dinginnya air ini. Jika aku bukan manusia, aku tidak akan bisa menuliskan kegelisahan ini. Jika aku adalah batu atau angin, aku mungkin bebas dari penderitaan, tapi aku juga akan buta terhadap keindahan dari rasa sakit itu sendiri.

Aku menghela napas panjang. Paru-paruku mengembang, dan untuk sesaat, aku membiarkan diriku merasakan aliran udara itu dengan sadar.

"Baiklah," bisikku pada pantulan di cermin. "Hari ini, aku akan berpura-pura menjadi manusia lagi. Aku akan memakai wujud ini, meskipun aku tahu ini salah. Aku akan berjalan di antara mereka, berbicara dengan bahasa mereka, dan tersenyum pada lelucon mereka."

Aku memakai kemejaku, menyisir rambutku, dan bersiap pergi ke kampus. Aku masih merasa salah wujud. Aku masih merasa bahwa tempatku bukan di sini, di atas dua kaki yang ringkih ini. Namun, selama aku masih terjebak dalam kontrak biologis ini, aku akan mencoba mengamati dunia dari sudut pandang seorang penyusup.

Aku adalah jiwa yang salah wujud, yang sedang melakukan studi banding tentang bagaimana rasanya menjadi manusia yang fana. Dan mungkin, hanya mungkin, suatu hari nanti saat kontrak ini berakhir, aku akan dikembalikan ke wujud asliku: sebuah ketiadaan yang penuh dengan ketenangan.

 *TAMAT*

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Self Improvement
Cerpen
Salah wujud
lilla safira alhasanah
Flash
Bronze
Liminal Euphoria
Silvarani
Cerpen
Aku untuk Diriku Part 2
Dyah
Flash
Nona Pemilik Pesta
Tya Fitria
Cerpen
Bronze
Kampus Impian
T. Filla
Novel
Ketika Langit Tak Lagi Memelukmu
Dyah
Flash
After Taste
Adam Nazar Yasin
Cerpen
Putus, Tapi Nggak Putus Asa
Tresnaning Diah
Cerpen
Bronze
Dari 50 ribu ke 1 miliyar Budidaya Belalang
Putut Dwiffalupi Sukmadewa
Novel
Adi Karsa
E. Karto
Cerpen
Bronze
Takdir Mati
Titin Widyawati
Flash
Biru Merah
lidia afrianti
Flash
Warna Pertama
INeeTha
Cerpen
Bronze
Kisah Simsim yang Pemarah
Lia
Flash
Aku Hanya Ingin Bercerita
Awan ElBiru
Rekomendasi
Cerpen
Salah wujud
lilla safira alhasanah
Flash
Warna pipimu Saat itu
lilla safira alhasanah
Cerpen
Bronze
BAarista Cantik Pujaan hati
lilla safira alhasanah
Cerpen
Goresan Takdir Di Kanvas Usang (Part 1)
lilla safira alhasanah
Novel
Bronze
Yugure no Kisu (ciuman senja)
lilla safira alhasanah
Cerpen
Bronze
Remedi Matematika Bonus Cinta
lilla safira alhasanah
Cerpen
KAMU, AKU DAN KENANGAN
lilla safira alhasanah
Cerpen
Facial Pengikat Jiwa
lilla safira alhasanah