Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Komedi
Salah Target
1
Suka
32
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Secara biologis, aku adalah seorang pria dewasa. Namun secara finansial dan asmara, aku adalah sejenis plankton uniseluler yang berada di dasar rantai makanan.

Namaku Heru. Gaji bulananku sebagai admin gudang hanya cukup untuk membayar kosan, makan di warteg dengan lauk telur dadar yang dipotong separuh, dan berlangganan di sebuah tempat kebugaran bernama Bugar Sentosa Gym.

Jangan bayangkan gym ini seperti megagym di mal-mal besar yang ada sauna dan handuk gratisnya. Bugar Sentosa adalah gym hardcore kelas menengah ke bawah yang baunya seperti perpaduan antara karet ban vulkanisir dan keringat bapak-bapak yang habis makan jengkol. Alatnya terbuat dari besi tua yang kalau diangkat bunyinya krek-krek ngeri, seolah mengancam akan mematahkan tulang lehermu kapan saja.

Lalu, pertanyaannya: Kenapa pria kerempeng dengan tulang rusuk yang bisa dipakai buat main gambang kromong sepertiku ini rela membuang uang sisa gajiku di sini? Apakah aku ingin sehat? Ingin punya perut six-pack?

Tentu saja tidak! Aku nge-gym karena sebuah motivasi paling purba yang menggerakkan peradaban umat manusia fana: Naksir Cewek.

Sejak dua bulan lalu, gym yang biasanya hanya diisi oleh om-om berotot ini kedatangan sebuah keajaiban visual. Seorang bidadari turun dari kahyangan dan entah bagaimana nyasar mendaftar membership di sini.

Aku tidak tahu namanya. Aku hanya menyebutnya: Sang Dewi. Dia adalah seorang gadis Chindo (Chinese-Indonesian) yang tingginya semampai bak model papan atas. Kulitnya seputih pualam, mulus tanpa cela seolah dia mandi menggunakan susu unta dan air zam-zam setiap hari. Kalau dia sedang lari di treadmill, rambut ponytail-nya berayun indah, dan body-nya... Ya Tuhan, rasanya aku ingin sungkem pada arsitek genetik yang menciptakannya.

Tapi, ada satu kendala teknis. Sang Dewi tidak pernah datang sendirian.

Dia selalu, dan aku tekankan SELALU, datang berdua dengan ibunya. Ibunya ini, mari kita panggil Tante, usianya mungkin sekitar 45 tahun. Tapi jangan bayangkan ibu-ibu berdaster yang hobinya ngulek sambal di dapur. Tante ini adalah definisi mutlak dari Hot Mom. Kulitnya sama bersihnya dengan putrinya, badannya luar biasa bugar, dan tenaga squat-nya... astagfirullah, beliau bisa jongkok bawa beban 60 kilogram dengan santainya, sementara aku mengangkat galon air saja harus istighfar berkali-kali!

Karena aku tidak punya nyali untuk menyapa langsung, strategiku selama dua bulan ini hanyalah: Mencuri Pandang dari Jauh (Stealth Staring).

Hari ini, aku melancarkan aksiku lagi. Aku sengaja memilih mesin Lat Pulldown yang posisinya sangat strategis. Dari mesin ini, jika aku melihat ke arah cermin besar di depanku, aku bisa melihat pantulan Sang Dewi yang sedang berlatih Dumbbell Curl di seberang ruangan.

Aku duduk di mesin itu, menarik beban yang (hanya) 10 kilogram, tapi aku memasang wajah sangar seolah sedang menarik jangkar kapal Titanic. Sambil menarik beban, mataku melirik tajam menembus cermin. Aku menatap Sang Dewi. Aduh, cantik banget sih lu, Mbak. Senyum kek, nengok kek ke arah cowok melarat yang lagi berjuang narik besi ini, batinku meronta-ronta.

Karena mataku minus silinder dan aku tidak sanggup beli lensa kontak (softlens), aku harus menyipitkan mataku sekecil mungkin agar pantulan Sang Dewi di cermin terlihat jelas. Aku menyipit, mengerutkan dahi, dan sesekali menghela napas panjang (huffff) karena kelelahan mengangkat beban 10 kilo itu. Tatapanku lurus, intens, dan tak berkedip ke arah cermin.

Namun, yang tidak kusadari dalam garis pandang optik fisika adalah... posisi ibu dari Sang Dewi (si Tante) sedang berdiri tepat di sebelah putrinya, melakukan peregangan. Dan karena efek pantulan cermin dan mata sipitku yang minus, sudut pandanganku terlihat seolah-olah mengarah lurus menembus jiwa... sang Tante.

 

[POV: TANTE LINDA (IBU SANG DEWI)]

Menjadi janda mati di usia 45 tahun itu kadang membosankan. Lima tahun sejak almarhum suamiku (seorang pengusaha properti) meninggal dunia akibat serangan jantung, aku menghabiskan waktuku hanya untuk mengurus bisnis peninggalannya, merawat putri semata wayangku (Cindy), dan merawat tubuhku di gym.

Banyak pria mapan dan duda kaya yang mencoba mendekatiku, tapi entah kenapa, mereka terasa hambar. Mereka terlalu kaku, terlalu membosankan, dan perut mereka rata-rata buncit karena kebanyakan wine.

Hari ini, saat aku sedang menemani Cindy latihan trisep di Bugar Sentosa Gym (kami sengaja pilih gym pinggiran agar tidak diganggu pria hidung belang berduit di megagym), aku merasakan sesuatu yang aneh.

Sebuah tatapan. Tatapan yang sangat intens.

Aku melirik ke arah cermin besar di depanku. Di seberang ruangan, duduk di mesin Lat Pulldown, ada seorang pemuda. Umurnya mungkin pertengahan dua puluhan. Kulitnya sawo matang, rambutnya sedikit berantakan karena keringat, dan dia memakai kaos oblong pudar yang jujur saja, terlihat sangat... eksotis dan pekerja keras.

Pemuda itu sedang menarik beban. Tapi matanya... oh my God, matanya! Dia menyipitkan matanya dengan tatapan yang sangat nakal dan membara, menatap lurus ke arah mataku dari pantulan cermin. Setiap kali dia menarik beban, dia menghela napas panjang dan berat. Huffff.... Hnnnghhh...

Jantungku yang sudah lima tahun berdebu tiba-tiba berdetak satu ketukan lebih cepat. Deg.

Astaga... batinku terperanjat. Anak muda ini... dia dari kemarin ngeliatin aku terus. Ya ampun, tatapannya lapar banget.

Aku mencoba menggeser tubuhku sedikit ke kanan, berpura-pura mengambil handuk. Dan benar saja! Saat aku bergerak, mata pemuda itu (narator : yang sebenarnya sedang berusaha menyesuaikan fokus ke arah Cindy) seolah-olah mengikuti pergerakanku di cermin! Dia terus memicingkan matanya dengan gaya seductive smolder (tatapan menggoda) yang sangat agresif.

Pipiku mendadak memanas. Darah remajaku seakan mendidih kembali. Sebagai wanita matang, aku tahu persis apa arti tatapan itu. Itu adalah tatapan seorang pria muda yang menggebu-gebu, yang mendambakan sosok wanita dewasa yang bisa membimbingnya.

Ya ampun, anak muda zaman sekarang emang seleranya liar ya, aku tersenyum simpul dalam hati, menggigit bibir bawahku dengan genit. Berani banget dia godain janda. Tapi jujur... dia lumayan manis juga kalau dilihat dari jauh. Ototnya nggak gede, tapi kelihatan ulet. Pasti orangnya penurut.

Aku menoleh ke arah Cindy yang sedang sibuk main HP di sela-sela set latihannya. "Cindy, sayang," panggilku pelan.

"Ya, Mi? Kenapa?" jawab putriku.

Aku mendekatkan bibirku ke telinga Cindy. "Kamu lihat cowok kurus manis yang lagi main Lat Pulldown di pojok sana? Yang pakai kaos oblong hitam?"

Cindy melirik ke arah Heru (yang kebetulan sedang mengangkat beban dan wajahnya sedang mengkerut jelek banget menahan sakit). "Oh, cowok ngenes itu? Kenapa emangnya, Mi? Dia aneh tahu, dari kemarin ngeliatin ke arah kita terus sambil sipit-sipit gitu. Cindy agak risih ih."

Aku terkekeh elegan. "Ah, kamu ini nggak ngerti bahasa tubuh cowok, Cin. Dia itu nggak ngeliatin kamu. Dia ngeliatin Mami."

"Hah?! Seriusan?!" Cindy melotot tak percaya.

"Iya," aku menyibakkan rambutku dengan percaya diri absolut. "Kamu lihat aja, setiap kali Mami pindah alat, dia pasti nyari angle buat ngeliatin Mami. Mami tahu kok tatapan cowok yang lagi naksir berat. Kasihan dia, kayaknya dia pemalu banget nggak berani nyamperin. Mami jadi gemes deh."

"Ih, Mami! Masa Mami mau sama brondong kucel gitu?!" protes Cindy setengah berbisik.

Aku tersenyum penuh kemenangan. "Cinta itu buta, Sayang. Lagian Mami bosan sama om-om tajir yang kaku. Sekali-sekali Mami pengen ngerasain petualangan sama brondong indie yang lugu. Cin, tolongin Mami dong."

"Tolongin apaan?!"

Aku mengambil smartphone mahalku dari saku legging. Aku membuka layar kontak kosong. "Kamu samperin dia gih. Bilang aja, Mami tahu perasaan dia, dan Mami ngasih lampu hijau. Nih, kasihin nomor WA Mami ke dia. Biar dia nggak usah malu-malu lagi main kucing-kucingan."

Cindy memutar bola matanya pasrah. "Hadeh... Mami ada-ada aja kelakuannya masa puber kedua. Ya udahlah, demi Mami bahagia. Cindy samperin bentar."

 

[POV: HERU]

Siksaan beban 10 kilogram ini akhirnya selesai. Tulang punggungku rasanya mau patah, telapak tanganku kapalan, dan aku kehabisan napas. Tapi tak apa, aku yakin pengorbananku hari ini ditonton oleh Sang Dewi. Aku yakin dia terpesona melihat urat leherku yang menonjol tadi.

Aku berdiri dengan gontai, berjalan menuju dispenser air minum gratisan di sudut gym. Aku mengambil gelas plastik kecil dan meneguk air putih dingin itu dengan rakus.

Tiba-tiba, wangi vanilla dan stroberi yang sangat magis menyerbak menembus bau keringat di udara. Wangi surga!

Aku menoleh ke samping. Duniaku berhenti berputar. Gravitasi kehilangan fungsinya. Waktu membeku. Sang Dewi, bidadari yang selama dua bulan ini hanya berani kutatap dari pantulan cermin berkarat, kini BERDIRI TEPAT DI SEBELAHKU! Jarak kami tidak sampai setengah meter!

Kulitnya memancarkan cahaya. Matanya bulat menatapku. Bibir merah mudanya melengkung membentuk senyuman.

"Hai, Mas," sapanya dengan suara yang begitu merdu hingga rasanya aku ingin menangis sujud syukur di lantai gym yang basah ini.

"H-h-ha-halo... M-mbak..." suaraku terdengar seperti kaset kusut yang diputar terbalik. Jantungku berdetak dengan ritme Double Pedal musik metal. DUG-DUG-DUG-DUG-DUG! Keringat dingin sebesar jagung rebus meluncur dari pelipisku. Tanganku gemetar memegang gelas plastik sampai airnya tumpah ke celanaku.

YA ALLAH! DIA NYAMPERIN GUE! DIA NYAMPERIN GUE DULUAN! INI MIMPI ATAU MUKJIZAT?! batinku berteriak histeris, melakukan sujud syukur, kayang, dan salto secara bersamaan di dalam jiwa.

Sang Dewi tersenyum semakin lebar melihat kegugupanku. "Mas... sendirian aja nge-gymnya?"

"I-iya, Mbak... S-sendiri... Temen saya pada sibuk kerja semua..." (Bohong, temenku pada sibuk main judi slot, nggak ada yang sudi nge-gym).

"Oh gitu..." Sang Dewi melirik ke belakangnya sejenak, lalu menatapku lagi dengan tatapan yang penuh rahasia. "Mas dari kemarin-kemarin ngeliatin ke arah kita terus ya?"

JEGERRRR!!! Petir menyambar ubun-ubunku. Ketahuan! Modus operasi intelijen pengintaianku terbongkar! Wajahku memerah padam layaknya tomat rebus. Skakmat! Aku harus jujur sekarang atau aku akan dianggap psikopat!

"E-eh... a-anu, Mbak... M-maaf banget kalau Mbak risih..." aku menundukkan kepala, memegang dadaku dengan panik. "S-saya nggak bermaksud jelek kok, Mbak... S-saya cuma... cuma..."

Ayo Heru! Ini saatnya! Jadi laki-laki jantan! Tembak dia sekarang! "...Saya cuma kagum aja sama Mbak... Mbak cantik banget... Saya pengen kenalan dari dulu tapi nyali saya ciut..." kataku dalam satu tarikan napas panjang, menunduk pasrah menunggu tamparan atau siraman air dari botol minumnya.

Hening. Satu detik. Dua detik. Tiba-tiba, aku mendengar Sang Dewi tertawa kecil. Tawa yang sangat riang dan tidak ada nada marah sedikit pun!

Aku mendongak perlahan. Sang Dewi menatapku dengan mata berbinar-binar penuh simpati (atau mungkin rasa kasihan, entahlah). "Ya ampun, Mas. Nggak usah sepanik itu kali. Santai aja," katanya lembut.

Lalu, dia mencondongkan tubuhnya ke arahku, mempersempit jarak kami hingga aku bisa melihat pantulan wajah kucelku di bola matanya. Dia berbisik pelan, seolah ini adalah rahasia negara tingkat tinggi. "Mas... Mami aku itu kebetulan udah lima tahun nge-janda lho."

Aku berkedip bingung. Otak UMR-ku loading sangat lambat. Hah? Maminya janda? Terus apa hubungannya sama gue? Oh... mungkin dia mau bilang kalau dia anak yatim, jadi butuh figur cowok pelindung? YA ALLAH, INI KODE KERAS!

"O-oh... T-turut berduka cita ya, Mbak..." balasku dengan wajah penuh empati yang dibuat-buat. "Pasti berat ya buat Mbak..."

"Enggak kok, biasa aja. Justru sekarang Mami lagi happy banget," potong Sang Dewi cepat, senyumnya makin lebar. "Mami bilang, dari kemarin dia merhatiin Mas terus. Mami bilang Mas itu orangnya pemalu, lucu, dan tatapan matanya tuh... kata Mami, 'liar dan penuh hasrat'."

HAH?!?! Telingaku berdenging. Otakku error 404 Page Not Found. Tatapan liar?! Penuh hasrat?! Kapan?! Demi Tuhan, aku cuma nyipitin mata gara-gara silinderku parah! Dan kenapa Maminya yang merhatiin aku?! BUKANNYA GUE NGELIATIN LU, MBAK?!

Sebelum aku bisa memproses kalimat horor tersebut, Sang Dewi meraih tangan kananku. Sentuhan kulitnya yang sejuk membuatku tersentak. Dia meletakkan secarik kertas kecil yang dilipat rapi ke telapak tanganku, lalu menutup jari-jariku.

"Mas jangan malu-malu lagi ya kucing-kucingannya. Ini Mami sendiri yang nyuruh aku ngasih ke Mas," bisik Sang Dewi sambil mengedipkan sebelah matanya padaku. "Ini nomor WhatsApp Mami. Mami bilang, dia nunggu chat dari Mas Heru malam ini. Jangan sampai bikin Mami kecewa ya, Calon Papi."

CALON PAPI?!?!?!

BLLLLAAAAAARRRRRRRRRRRRR!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! Kiamat Sugra meledak di dalam tengkorakku. Meteor jatuh menghantam jiwaku. Tsunami menyapu bersih seluruh sisa-sisa kewarasanku.

Sang Dewi, bidadari yang selama ini kuinginkan siang dan malam, yang menjadi alasan utamaku menahan lapar dan hidup melarat di gym neraka ini, baru saja memanggilku "Calon Papi" dan menyerahkan nomor WhatsApp IBU KANDUNGNYA kepadaku?!

Ibunya mengira aku naksir beliau?! Janda Hot Mom umur 45 tahun itu mengira aku adalah brondong liar pencari kehangatan?!

Sang Dewi melambaikan tangannya dengan ceria, lalu berbalik dan berjalan kembali ke arah ibunya. Dari kejauhan, kulihat Tante Linda (sang Ibu) melambaikan tangannya ke arahku dengan sangat genit, memberikan flying kiss jarak jauh, dan memberikan isyarat telepon menggunakan jari kelingking dan jempolnya di telinga. Call me, bibir Tante Linda bergerak membentuk kata itu tanpa suara, matanya berkedip manja padaku.

Dengkulku langsung kehilangan tulang rawan. Tulang belakangku serasa dicopot. Aku merosot jatuh ke lantai gym yang bau keringat itu. Gelas plastik di tanganku terlepas, airnya tumpah membasahi sepatu KW-ku.

Aku menatap secarik kertas di tanganku. Sederet angka tertulis rapi dengan tinta pena merah muda, lengkap dengan gambar emoticon hati di ujungnya. 0812-XXXX-XXXX (Tante Linda <3 - Tunggu chat-nya ya brondong manis).

Napas keroncongan keluar dari mulutku. Penglihatanku memudar. Dunia ini benar-benar tidak adil. Di saat aku mengincar sang bidadari, aku malah tertangkap jaring radar sang Ratu Janda yang kehausan akan kasih sayang. Kalau aku membalas chat ini, aku akan resmi menjadi "sugar baby" paksaan. Kalau aku tidak membalas, Tante Linda pasti akan melabrakku di gym besok dan menghancurkan tulang leherku pakai dumbbell!

Tidak ada jalan keluar.

Dengan tangan bergetar, aku memasukkan kertas laknat itu ke dalam saku. Aku bangkit berdiri dengan gerakan patah-patah layaknya zombi yang baru bangkit dari kubur. Aku berjalan gontai, melewati meja resepsionis tanpa menoleh ke belakang.

"Eh, Kak Heru, udah selesai? Lho, kok mukanya pucet banget? Sakit?" sapa admin gym laki-laki di meja depan.

Aku tidak menjawab. Aku berjalan menembus pintu kaca Bugar Sentosa Gym, keluar menuju aspal panas ibu kota.

Hari itu juga, aku langsung mampir ke konter pulsa di ujung jalan. Aku mematahkan kartu SIM-ku menjadi dua dan membuangnya ke selokan, aku takut dia nyari nomorku di admin gym. Aku menghapus aplikasi WhatsApp, dan mengganti nomor baru

Aku menyerah. Aku kalah. Mulai besok, aku tidak akan pernah lagi menginjakkan kaki di tempat fitness ini. Lebih baik aku latihan push-up di taman RPTRA kelurahan, bergabung dengan bapak-bapak pos ronda yang latihan pakai kaleng semen bekas. Jauh lebih aman, terhindar dari cougar ganas, dan yang paling penting... dompetku tidak akan menangis lagi.

Tamatlah riwayat asmara si brondong ngenes.

 

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Komedi
Cerpen
Salah Target
cahyo laras
Cerpen
Skakmat Tukang Flexing Saat Lebaran
cahyo laras
Flash
Bronze
Kamis Menangis
Arif Holy
Komik
Alice and friends
Kyota Hamzah
Flash
Bronze
Beautiful Widow 'Sake' Seller
Ceena
Flash
Bronze
Balikan, Yuk!
Dewi Fortuna
Cerpen
Bronze
Diary SMP
Haris Fadilah Hryadi
Komik
Bronze
Petualangan Athan dan Detektif Mammo
Andy widiatma
Flash
Bronze
The End of Joni Oblong
DMRamdhan
Flash
Bronze
Tukang Parkir Gaib
Risti Windri Pabendan
Flash
Penghuni Baru
Afri Meldam
Flash
Bronze
Midnight Market Kolong Jembatan
Silvarani
Cerpen
Kabur
Fazil Abdullah
Cerpen
Bronze
Pacaran bohongan, baper beneran
Fitriani
Cerpen
Lady Ciprut dan Gendhuk Tini
bomo wicaksono
Rekomendasi
Cerpen
Salah Target
cahyo laras
Cerpen
Skakmat Tukang Flexing Saat Lebaran
cahyo laras
Novel
Catatan Harian Budak Korporat
cahyo laras
Cerpen
Mission Impossible : Ngirit Protocol
cahyo laras
Cerpen
Jatuh Hati Pada Guru SD
cahyo laras
Cerpen
Maaf Hanya Bisa Ngasih Ini
cahyo laras
Cerpen
Akibat Mencoba Resep Ala Anak Kost
cahyo laras
Cerpen
Pencitraan Di Depan Mertua
cahyo laras
Cerpen
Temen Papah Zone
cahyo laras
Cerpen
Lolos Tilang, Harga Diri Hilang
cahyo laras
Cerpen
Cemburu
cahyo laras
Cerpen
Datang Bawa Malu, Pulang Bawa Duit (lagi)
cahyo laras
Cerpen
Percaya Mitos Yang Kurang Lengkap
cahyo laras
Cerpen
Nyobain ilmu Pelet
cahyo laras
Cerpen
Ayah Gebetanku Seram
cahyo laras