Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Langit mulai memasuki gelapnya saat azan berkumandang dari balik corong. Anak-anak sekolah berkerumun di barisan saf paling belakang. Hiruk-pikuk jemaah beradu dengan tingkah laku anak kecil yang sulit diatur oleh sang ayah.
Hari itu, tarawih pertama mulai digelar di seluruh masjid di Indonesia.
Aku kembali mengingat momen-momen waktu kecil; perang sarung, berebut tanda tangan imam, lari-larian di dalam masjid, diomeli bapak-bapak, hingga berdandan gagah demi wanita cantik di balik mukena yang entah siapa, aku pun tidak mengenalinya.
Namun, hari telah berganti hari. Jauh sekali rasanya momen itu bisa terulang. Mengingat Ramadan tahun ini terasa lebih dingin dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Assalatu Tarawihi Jami’aturahimakumullah
***
Subhanal Malikul Kuddus
Subhanal Malikul Kuddus
Selesai.
Kuambil sajadah beserta sandal yang terlihat berantakan di balik pintu masjid. Anak-anak sekolah mulai berseteru untuk meminta tanda tangan sang imam. Belum lagi jemaah lain yang sibuk berzikir dan bermunajat di malam pertama bulan suci ini. Beberapa jemaah yang telah bersalaman mulai kembali ke rumahnya masing-masing. Termasuk diriku.
Anehnya, tak ada perasaan apa pun yang aku alami selain berjalan hampa menuju kosan.
Ya. Ini tahun kesekian aku berada di perantauan. Kemarin, setelah menelepon orang di rumah, aku meminta restu dan doa supaya dilancarkan dan dimudahkan segala urusan. Juga kepada keluarga yang lain, aku memohon maaf apabila ada kesalahan yang aku perbuat.
“Besok pulang nggak, Le?” ucap Ibu di balik gawainya.
“Nggak, Buk, soalnya nggak ada libur juga dari atasan,” balasku lirih.
“Ya sudah, nggak apa-apa. Stok beras masih ada kan, Le?” tanya Ibu penuh kekhawatiran.
“Masih kok, Bu,” jawabku sambil tertawa kecil. “Ibu sehat kan?”
Ibu menjawab dengan sopan, “Sehat kok, Le.”
“Alhamdulillah kalau begitu,” balasku.
“Besok jangan lupa sahur ya, Le. Kalau kurang beras sama uang pegangan, nanti Ibu kirim,” balas Ibu lirih.
Aku kembali tertawa kecil. “Ndak perlu, Bu. Wis aman kok. Aku insyaallah pulangnya sebelum Lebaran kok.”
Ibu mengangguk. “Iya,” sambil membalas, “Yang penting ibadahnya jangan lupa. Salatnya, ngajinya juga jangan sampai bolong ya, Le,” balas Ibu mengingatkan.
Aku kembali menjawab, “Iya, Bu.”
Setelah itu, telepon pun dimatikan.
***
Selepas tarawih, aku mulai memasak nasi dan menyeduh kopi sambil menonton kanal YouTube kesukaanku. Sambil kubakar rokok di teras depan kosan.
Huftttt…
“Kalau dipikir-pikir, semakin hari semakin terasa sekali beban kehidupan ya…” ucapku dalam hati.
Memang, tahun kemarin pun aku menjalani puasa hari pertama di perantauan. Namun bedanya, tahun ini tak ada lagi teman yang menemaniku di kala sahur.
Aku yang terbiasa bertukar cerita sambil mendengarkan curhatan penuh tawa dari teman seperjuanganku, kini mulai hening digantikan oleh suara tadarus dari balik toa. Ya, kini hidupku di perantauan hanya tinggal seorang diri.
Arfan dan Hakim, tetangga kosanku yang bersama sejak tahun pertama aku ngekos, kini sudah pulang ke kampung halamannya. Pun dengan Ridho yang terbiasa menemani, kini telah berpuasa bersama istri sahnya yang baru saja menikah beberapa minggu lalu.
Jika kembali mengingat momen di tahun lalu, malam ini kami sudah mulai merencanakan taktik anak kos-kosan dengan mencatat masjid mana saja yang menyediakan sahur dan berbuka gratis. Juga masjid-masjid yang imam tarawihnya sekebut kilat. Pun dengan destinasi tempat nongkrong untuk ngabuburit di keesokan harinya.
Namun sayang, itu semua tinggal cerita belaka. Kini, di kehidupanku yang berusia seperempat abad, aku harus menjalani hidup layaknya orang dewasa.
Tak ada yang bisa membantuku lebih dari diriku sendiri, dan tak ada yang bisa kuharapkan selain apa yang aku usahakan.
***
Sampai akhirnya, jam menunjukkan pukul 12 malam.
Di satu sisi, aku sudah mengantuk sekali. Mata yang layu dan badan yang letih sudah mulai terasa berat. Namun, kalau saja aku lanjutkan dengan begadang, bisa saja aku kecapekan saat besok mulai bekerja. Akhirnya, aku putuskan untuk sahur lebih awal. Sebab, aku tak yakin akan bangun lebih pagi jika aku menunggu waktu sahur.
Srenggg… Srenggg… Srenggg… Srenggg…
Makan pun telah siap. Tak ada hidangan yang cukup mewah kali ini. Bahkan, oseng tempe dan tahu tengah malam ini terasa sangat hambar jika dibandingkan dengan masakan sayur khas Ibu.
Ada kesedihan yang menumpuk dari balik mata. Juga harapan yang tersimpan dari dalam hati. Namun, tak ada pilihan lain selain aku jalani dengan rasa keterpaksaan.
Jikalau sahur pertamamu dibuka dengan banyak hidangan dan penuh semangat, bagiku perasaan rindu akan keluarga jauh lebih berharga dibandingkan hidangan semewah apa pun.
Sampai akhirnya, aku pun terlelap dan azan Subuh pun berkumandang.
Allahu Akbar, Allahu Akbar…
Suara itu menembus dinding tipis kamar kosku. Aku terbangun dengan mata setengah terbuka. Kepala terasa sedikit berat, mungkin karena kopi yang terlalu pekat dan pikiran yang terlalu padat. Beberapa detik aku hanya diam, menatap langit-langit kamar yang mulai menguning termakan usia.
Ramadan hari pertama benar-benar dimulai.
Aku bangkit perlahan. Air wudu yang menyentuh wajah terasa lebih dingin dari biasanya. Entah karena memang udara dini hari yang menusuk, atau karena hati yang belum sepenuhnya hangat menerima kenyataan bahwa aku harus menjalani semuanya sendiri.
Seusai salat, aku tidak langsung kembali ke kasur. Duduk bersandar di dinding, aku menatap sajadah yang terbentang. Sunyi. Tidak ada suara teman menguap sambil bercanda. Tidak ada celetukan iseng yang memecah kekhusyukan. Hanya suara kipas angin yang berdecit pelan dan lantunan tadarus dari masjid yang samar-samar terdengar.
Ramadan dulu terasa seperti perayaan kecil. Sekarang terasa seperti ujian panjang.
Pagi datang lebih cepat dari yang kuinginkan. Alarm berbunyi pukul enam. Dengan langkah berat, aku bersiap untuk bekerja. Kemeja yang kusetrika semalam kini terasa seperti seragam perjuangan. Di depan cermin, aku menatap diriku sendiri. Wajah yang mulai menua sebelum waktunya. Mata yang tidak lagi secerah masa sekolah.
“Semangat,” ucapku pelan pada bayangan sendiri.
Jalanan pagi itu tidak seramai biasanya. Mungkin karena sebagian orang masih menyesuaikan ritme puasa hari pertama. Angin berembus lembut, membawa aroma warung yang biasanya menjual sarapan, kini tertutup rapat. Kota seperti menahan diri.
Di tempat kerja, suasana sedikit berbeda. Beberapa rekan kerja saling menyapa dengan ucapan selamat menunaikan ibadah puasa. Senyum-senyum tipis mengembang, seolah ingin memastikan bahwa hari ini akan baik-baik saja. Aku membalas seperlunya.
Jam demi jam berlalu dengan lambat. Tenggorokan mulai terasa kering menjelang siang. Perut sesekali berbunyi, mengingatkan bahwa sejak dini hari tidak ada lagi yang masuk ke dalamnya. Namun yang lebih terasa bukanlah lapar, melainkan hampa.
Aku teringat rumah.
Terbayang meja makan kayu di ruang tengah. Ibu yang sibuk di dapur sejak sore, menyiapkan kolak, gorengan, dan sayur kesukaanku. Ayah yang duduk di depan televisi sambil sesekali bertanya, “Sudah azan belum?” Lalu aku dan saudara-saudaraku yang mondar-mandir tak sabar menunggu waktu berbuka.
Kini, semua itu hanya hadir dalam kepala.
Waktu menunjukkan pukul empat sore. Biasanya, di jam-jam seperti ini, aku dan teman-teman sudah bersiap mencari takjil termurah. Berburu es buah dengan harga mahasiswa, atau sekadar duduk di trotoar sambil menertawakan hidup yang tak kunjung mapan.
Sekarang, aku berjalan sendirian menyusuri deretan penjual takjil. Lampu-lampu mulai dinyalakan. Aroma gorengan menguar, menggoda siapa saja yang lewat. Aku membeli sekantong kecil kolak dan dua gorengan. Tidak banyak, hanya cukup untuk membatalkan puasa.
Langit berwarna jingga ketika azan Magrib berkumandang. Aku duduk di kamar, membuka plastik kolak perlahan.
Bismillah.
Manisnya gula aren menyentuh lidah. Hangat. Untuk sesaat, ada rasa syukur yang menyelinap di antara rindu dan lelah. Aku masih diberi kesempatan bertemu Ramadan. Masih diberi kesehatan untuk menahan lapar. Masih diberi pekerjaan untuk bertahan hidup.
Mungkin, dewasa memang sesederhana itu: belajar bersyukur tanpa banyak protes.
Seusai berbuka dan salat Magrib, aku kembali terdiam. Tidak ada obrolan panjang. Tidak ada gelak tawa. Hanya suara notifikasi ponsel yang sesekali berbunyi dari grup keluarga. Foto hidangan berbuka di rumah dikirim Ibu. Di bawahnya, pesan singkat:
“Semoga puasanya lancar ya, Le.”
Aku menatap layar cukup lama sebelum membalas, “Amin. Ibu juga.”
Ada getar halus di dada. Bukan tangis, tapi sesuatu yang hampir menyerupainya.
Seperti harapan, pikirku. Tidak perlu banyak. Cukup satu yang benar-benar ingin diperjuangkan.
Aku sadar, hidup tidak lagi tentang perang sarung atau ngabuburit tanpa arah. Hidup kini tentang tanggung jawab. Tentang membuktikan pada orang tua bahwa segala doa yang mereka panjatkan tidak sia-sia. Tentang bertahan meski kadang ingin menyerah.
Ramadan kali ini mungkin terasa lebih dingin. Lebih sepi. Namun di balik sepinya, ada ruang yang lebih luas untuk mengenal diri sendiri. Untuk berdamai dengan kenyataan bahwa waktu terus berjalan dan kita tidak bisa selamanya menjadi anak kecil di saf paling belakang.
Hanya aku, sunyi, dan harapan yang perlahan tumbuh seperti cahaya kecil di ujung lorong.
Ramadan baru saja dimulai. Dan mungkin, di antara lapar, rindu, dan kesendirian ini, aku sedang belajar arti pulang yang sebenarnya. Bukan sekadar kembali ke rumah, tetapi kembali kepada diri yang lebih kuat dari hari kemarin.