Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Horor
SAHABAT BEDA ALAM
0
Suka
44
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Sejak kecil, aku selalu merasa berbeda. Di usia lima tahun, aku sudah bisa melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang lain. Awalnya aku mengira itu hanya imajinasi anak kecil, seperti teman khayalan. Tapi semakin aku bertambah besar, aku sadar bahwa apa yang aku lihat itu nyata. Sangat nyata.Namaku Anastasya. Semua orang memanggilku Tasya.Aku tinggal di sebuah desa kecil yang dikelilingi hutan dan kebun mangga yang rimbun di Takalar. Aku tinggal bersama nenekku. Orang tuaku merantau ke kota untuk bekerja, jadi hanya nenek yang merawatku sejak aku bayi. Nenek adalah orang yang paling mengerti aku. Setiap kali aku menangis karena melihat sosok-sosok aneh di sudut kamar, nenek selalu memelukku dan berkata dengan lembut, "Jangan takut, Nak. Mereka hanya ingin berteman. Tidak semua yang berbeda itu jahat."Kelebihan ini membuatku dijauhi teman-teman di sekolah. Mereka menganggapku aneh karena sering bicara sendiri, padahal aku sedang berbicara dengan sosok yang hanya aku yang bisa melihat. Aku sering menyendiri di bawah pohon mangga besar di belakang rumah nenek. Pohon itu sudah sangat tua, akarnya besar, daunnya rimbun, dan buahnya manis sekali. Di sanalah aku merasa paling tenang.Hingga suatu senja, ketika langit berwarna jingga keunguan dan angin berhembus sejuk, aku bertemu dengannya.Aku sedang duduk di atas tikar pandan sambil membaca buku, tiba-tiba aku merasakan hawa dingin yang lembut. Bukan dingin yang menakutkan, tapi dingin yang menenangkan. Aku mendongak. Di depanku berdiri seorang gadis kecil seusiaku, sekitar 10 tahun. Dia mengenakan gaun putih panjang yang sedikit transparan dan bercahaya lembut. Wajahnya pucat bersih, matanya biru jernih seperti air danau, dan rambut hitam panjangnya melayang-layang pelan meskipun tidak ada angin kencang.Aku tertegun. Jantungku berdegup kencang, tapi anehnya aku tidak merasa takut sama sekali."Kamu... kamu bisa melihatku?" tanyanya dengan suara yang sangat lirih, hampir seperti bisikan angin.Aku mengangguk pelan. "Iya. Siapa kamu?"Wajah gadis itu langsung berubah menjadi sangat bahagia. Matanya berkaca-kaca. "Akhirnya... akhirnya ada yang bisa melihatku. Namaku Alifa. Aku sudah sangat lama tinggal di pohon ini. Sudah puluhan tahun tidak ada satu manusia pun yang bisa melihatku... sampai kamu datang."Sejak senja itu, hidupku berubah. Aku tidak lagi merasa kesepian. Alifa selalu datang setiap hari, terutama saat senja tiba dan saat malam mulai datang. Kami duduk berdua di bawah pohon mangga, berbagi cerita.Alifa bercerita tentang dunianya. Dia bukan hantu yang menakutkan seperti di film-film. Dia adalah penjaga. Dia berasal dari alam lain, alam di antara dunia manusia dan dunia gaib. Tugasnya dan keluarganya adalah menjaga keseimbangan. Dia bercerita bahwa selama ini dia dan teman-temannya yang tak terlihat telah banyak menolong manusia tanpa manusia itu sadar. Mereka mengusir makhluk gaib yang jahat yang ingin mengganggu manusia.Aku pun bercerita tentang hidupku. Tentang betapa sepinya aku di sekolah, tentang teman-temanku yang menganggapku aneh, tentang rinduku pada orang tua, dan tentang nenek yang selalu menyayangiku."Kamu tidak aneh, Tasya," kata Alifa suatu malam sambil menggenggam tanganku. Genggamannya dingin, tapi terasa sangat tulus dan hangat di hati. "Kamu itu istimewa. Kamu terpilih menjadi jembatan antara dua alam. Tidak semua orang bisa seperti kamu. Tuhan memilihmu karena hatimu yang bersih dan tulus."Kami belajar banyak hal bersama. Alifa mengajariku cara melihat mana makhluk baik dan mana yang jahat. Dia mengajariku cara berdoa untuk melindungi diri. Dan aku mengajarinya tentang dunia manusia, tentang es krim, tentang lagu-lagu anak, tentang tawa.Persahabatan kami berlangsung selama bertahun-tahun. Delapan tahun kami menjadi sahabat rahasia. Hanya nenek yang tahu. Nenek tidak pernah melarang. Nenek hanya berkata, "Jagalah persahabatan itu, Nak. Persahabatan yang tulus tidak memandang dari alam mana kita berasal."Puncak dari persahabatan kami adalah ketika kami bersama-sama menolong tetangga kami, Bu Siti. Bu Siti sudah berbulan-bulan sakit aneh, badannya panas dingin, sering mengigau, dan dokter tidak bisa menemukan penyakitnya. Orang-orang desa bilang dia diganggu makhluk gaib yang tidak baik yang tinggal di dekat rumahnya.Aku memberanikan diri menceritakan hal itu pada Alifa.Alifa mengangguk serius. "Aku tahu makhluk itu. Dia memang jahat. Ayo kita tolong Bu Siti."Malam itu, dengan panduan Alifa, aku pergi ke rumah Bu Siti. Aku mengikuti semua ajaran Alifa, membacakan doa-doa yang diajarkan nenek dan Alifa. Dengan bantuan kekuatan Alifa yang tidak terlihat oleh Bu Siti, kami berhasil mengusir makhluk jahat itu. Keesokan harinya, Bu Siti sembuh. Wajahnya sudah segar kembali.Saat aku bersiap untuk pulang, keluarga Bu Siti menahanku. Mereka ingin membalas jasa kami. Mereka mengeluarkan uang dan makanan.Namun Alifa yang berdiri di sampingku menggelengkan kepala dan berbisik, "Suruh tolak, Tasya. Kita menolong dengan ikhlas. Jangan mengharapkan balasan. Menolong sesama tanpa melihat dunia mereka, itulah yang paling penting."Aku pun menolak dengan sopan. "Tidak usah, Bu. Saya ikhlas menolong Bu Siti."Tetangga kami itu masih mengingat kejadian itu sampai sekarang. Mereka tidak pernah tahu bahwa yang menolong sebenarnya adalah persahabatan antara seorang manusia dan penjaga dari alam lain.Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung selamanya.Suatu hari, desa kami gempar. Ada pengumuman dari pemerintah kabupaten. Akan ada proyek pembangunan jalan besar yang akan melewati desa kami. Dan pohon mangga besar tempat tinggal Alifa, tempat rahasia kami, harus ditebang.Darahku seakan berhenti mengalir saat mendengar kabar itu. Aku berlari ke nenek sambil menangis.Nenek memelukku dengan mata yang juga berkaca-kaca. "Nenek sudah tahu hari ini akan datang, Nak. Jika pohon itu tumbang, gerbang yang menghubungkan dunia Alifa dan dunia kita akan tertutup selamanya. Alifa harus kembali ke alamnya dan tidak akan bisa kembali lagi."Malam itu adalah malam terakhir kami. Malam terakhir sebelum buldoser datang esok pagi.Aku menemui Alifa di bawah pohon mangga. Langit malam itu penuh bintang, dan kunang-kunang berterbangan di sekitar kami, membuat suasana menjadi sangat magis dan mengharukan. Kami duduk di atas tikar pandan kesayangan kami untuk terakhir kalinya.Alifa sudah tahu. Wajahnya sedih, tapi dia berusaha tersenyum untukku."Waktuku sudah habis, Tasya," ujarnya, air mata yang bercahaya seperti kristal mengalir di pipinya yang pucat. "Aku harus kembali ke duniaku. Gerbang akan tertutup besok. Terima kasih, ya... terima kasih sudah menjadi satu-satunya sahabat terbaikku selama delapan tahun ini. Kamu memberiku arti persahabatan yang sebenarnya."Aku tidak bisa lagi menahan tangis. Aku menangis sejadi-jadinya, memeluk Alifa yang tubuhnya terasa semakin dingin dan ringan. "Jangan pergi, Alifa... Aku mohon jangan pergi. Kamu satu-satunya yang mengerti aku. Siapa lagi yang akan menemaniku di sini?"Alifa membalas pelukanku. "Kita memang sahabat yang beda alam dan dunia, Tasya. Aku dari alam penjaga, kamu dari dunia manusia. Tapi ingatlah ini, persahabatan kita tidak akan pernah hilang ditelan waktu. Fisik kita berpisah, tapi hati kita tetap terhubung."Dia melepaskan pelukannya dan menatapku dalam-dalam. "Ingat janjiku. Setiap kali kamu merasa kesepian, setiap kali kamu merindukanku, lihatlah kunang-kunang di malam hari. Setiap cahaya kunang-kunang yang terbang di sekitar pohon mangga ini, itu adalah aku. Itu adalah aku yang sedang menatapmu, menjagamu dari alamku."Angin tiba-tiba bertiup cukup kencang. Daun-daun mangga berguguran di sekitar kami. Cahaya tubuh Alifa perlahan-lahan menjadi semakin terang, lalu pecah menjadi ribuan partikel cahaya kecil yang indah, yang kemudian berubah menjadi ribuan kunang-kunang yang terbang naik ke langit malam, menghilang di antara bintang-bintang."ALIFA!!!" Aku berteriak, tanganku mencoba meraih cahaya itu, tapi yang tersisa hanyalah tikar kosong dan sepi.Pohon mangga itu tumbang keesokan harinya dengan suara yang menggelegar. Aku hanya bisa melihat dari jauh bersama nenek.Kini, sepuluh tahun telah berlalu. Aku sudah bukan anak kecil lagi. Aku sudah dewasa. Pohon mangga itu sudah tidak ada, tempatnya sudah menjadi jalan aspal yang ramai dilalui motor dan mobil. Nenek sudah tenang di surga.Tapi setiap malam, terutama saat bulan purnama, di tempat di mana dulu pohon mangga itu berdiri kokoh, kunang-kunang selalu datang. Berkerumun, berterbangan dengan cahaya yang berkedip-kedip indah.Orang-orang desa heran, kenapa di atas aspal bisa ada banyak kunang-kunang. Tapi aku tahu jawabannya.Aku akan duduk di pinggir jalan itu sendirian, tersenyum sambil menatap cahaya-cahaya kecil itu.Dan aku tahu, di antara ribuan cahaya itu, ada Alifa. Sahabatku yang beda alam dan dunia. Sahabat yang mengajarkanku arti keikhlasan, arti menolong tanpa pamrih, dan arti bahwa persahabatan sejati tidak akan pernah mengenal batas, bahkan batas antara dunia manusia dan dunia gaib sekalipun.Persahabatan kami abadi, seperti cahaya kunang-kunang yang tak pernah padam.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Horor
Cerpen
SAHABAT BEDA ALAM
nini agustina
Flash
Perempuan di Jendela
irishanna
Flash
Jalan Angker
Roy Rolland
Cerpen
Bronze
Bisikan Gaib Dari Ruang Bawah Tanah
umiyati123
Skrip Film
IMAM
Herman Sim
Cerpen
Bronze
Lonceng Berdentang
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Pak Suryo
Christian Shonda Benyamin
Flash
Bronze
Rere dan Dunia di Luar Sana
Rere Valencia
Novel
MISTERI PAVILIUN KAWEDANAN
Heru Sanjaya
Novel
RUMAH YANG MENELAN PENGHUNINYA
Noferius Laia
Novel
Bronze
Wajah Lain di Lukisan Rumah Majikanku
Bella Paring Gusti
Flash
Pengusiran Setan
Keita Puspa
Novel
Warisan Gelap Penebusan Darah
Achmad Wahyudi
Flash
Gentayangan
Afri Meldam
Flash
Bronze
Bus Hantu
Deandrey Putra
Rekomendasi
Cerpen
SAHABAT BEDA ALAM
nini agustina